Indonesia Mengantarmu Pulang

Aku terbisu….
Melihat ribuan pelayat pengantar…
Onye….

Mereka berulos
Mereka berjilbab
Mereka berjas penghormatan
Mereka berpeci, bertopi haji
Mereka hitam
Mereka putih sipit
Mereka menangkupkan tangan

Khidmat,
Mereka membuat tanda salib….
Mereka menengadahkan tangan….

Kornel….
Aku takjub, melihat mereka yang mengantarmu…
Mereka adalah Indonesia yang kau impikan…

Aku tak ingin menangis hari ini
Aku, Sahat, dan Jeffrey (sahabat kesayanganmu) tadi malam berjanji
Tidak ada lagi air mata…

Namun aku gagal…
Kembali air mata menetes….
Bukan karena sedih…
Sobatku, bukan karena sedih

Tapi karena haru….
Bangga melihat cinta orang-orang yang mengantarmu hari ini…
Merekalah refleksi cintamu pada mereka…

Seorang Pendeta Buddha dari forum lintas agama
Kulihat di sudut terisak dalam tangan yang memeluk tasbihnya…

Aku melihat saudara-saudara Tionghoaku
Mendoakan dalam tunduk yang dalam

Aku terkejut melihat sahabat-sahabat Muslim
Yang demikian tulus mengantar…

Andai kita bisa melihat Tuhan tersenyum
Berjajar malaikat menjemput ruh yang demikian murni dan lembut
Penuh cahaya cinta… Inilah Indonesia yang sejati
Di mana Tuhan menitipkan cintaNya yang paling rahasia
Di hati manusia-manusia sederhana yang penuh kasih….

Disinilah aku berurai air mata
Bersisian dengan sahabat-sahabat Onye
Berikrar….

Aku bertekad akan meneruskan semangat dan perjuanganmu…
Aku berjanji…
Aku berjanji…

Maafkan air mataku sahabat….
Pulanglah ke pelukan Tuhan yang tak sabar menantimu… Ingin memelukmu…
Pulanglah sayang….
Sahabat sayang…..

Illon,
TPU Pandu, Bandung
24 Mei 2012

Kenangan Terhadap Alm. Bang Kornel dari Keluarga Alm. Capt. Aan

Dear Bang Kornel, keluarga dan kawan-kawannya.

Minggu lalu, saat sekeluarga menerima bukti forensik property milik Ayah saya yang juga korban Sukhoi. Terdapat diantaranya sim, credit card yang sudah terbakar serta dompet kulit yang sudah melepuh.

Yang menjadi menarik dan terkesan adalah adanya dompet khusus kartu nama yang masih utuh beserta isinya. Diantara kartu nama Ayah saya, yang paling depan terdapat kartu nama Bang Kornel. Hanya Bang Kornel seorang. Tidak ada kartu nama milik orang lain.

Menurut kami sekeluarga, Ayah saya hanya bertukar kartu nama saat diminta atau saat menikmati obrolan, saat terkesan dengan orang tersebut sehingga dia ingin mengkontaknya suatu hari nanti, tanpa motif apapun, just friendship, just say hello.

Pada hari itu, menurut kami sekeluarga, Ayah saya dan Bang Kornel duduk berdekatan di atas pesawat. Sama-sama memiliki sifat idealis, sederhana dan loyalis. Ayah saya bertahan di Bouraq, Bang Kornel pun di IPTN.

Salam hormat untuk keluarga yang ditinggalkan. Saya harap ikatan silaturahmi yang baru terjalin beberapa jam oleh kedua orang yang saya hormati tersebut masih dapat tersambung melalui keluarga yang ditinggalkan, juga melalui bang Chandra Sihombing, ikatan silaturahmi antara alumni junior ITB dan alumni senior ITB.

Wassalam,

Angga Tirta (Atir) #SBM 04, PS-IA ITB

Wignu Mughni (Inu) #FI 03, Pilot Garuda Airlines

Memori Jendral Jeanne Mandagi

Sewaktu kecil, Kornel bersama orang tuannya tinggal bertetangga dengan kami  Jack dan Jeanne Mandagi, di  kompleks  Brimob di Tantui – Ambon, waktu itu Kornel masih berumur sekitar 5 tahun belum sekolah.

Dia sering datang main di rumah kami, dan juga suka bermain-main  dengan Oma, dia anak yang sangat baik dan sopan. Kornel kecil seringkali disuruh mamanya meminjam korek api untuk nyalakan kompor di rumah mereka

Hubungan keluarga Mandagi dan Sihombing sangat dekat. Kornel waktu kecil dipanggil Ucok, baru kemudian dipanggil Onye.

Dan karena dia sangat disayang oleh keluarga kami, dan karena hubungan baik antara kedua keluarga maka Ucok kecil diberi nama Kornel Mandagi Sihombing

Singkatnya hampir setiap hari Ucok berada di rumah kami  karena selain bertetangga, Ucok sudah kami anggap anak kami sendiri.

Kemudian keluarga Sihombing pindah, dan kami juga pindah ke Jakarta.  Semenjak itu kita jarang ketemu karena kesibukan masing-masing.

Namun pada waktu Kornel diwisuda dan lulus dari ITB, kami diundang dan saya turut menghadiri wisuda tersebut dengan perasaan yang sangat bangga.

Tragedi pesawat Sukhoi ini sangat memukul perasaan kami, sangat menyedihkan bagi saya pribadi.

Kami berdoa semoga Tuhan menerima Kornel di surga sesuai amal baktinya dan diberikan ampunan segala kesalahannya.

Dan kepada keluarga yang ditinggalkan semoga  diberikan kekuatan, penghiburan, dan ketabahan.

(Dari: Jendral Jeanne Mandagi, seperti yang dituturkannya pada Davy Sumolang (TA’82), keponakan kandungnya, yang kebetulan adalah salah seorang sahabat Onye juga).

—————————

Memori Sahabat

Onyek telah menyentuh kita dan menjadikan kita pribadi yang lebih ceria, peduli, tangguh, dan pantang menyerah. Betapa indahnya hidup Onyek; begitu berarti kehadirannya. We miss you, Onyek!

Mungkin kita tidak akan pernah seprofesional, sepeduli, sesederhana Onyek. Namun pasti, Onyek telah membuat kita menjadi manusia yang lebih baik.

(Dwi Larso, TI’84)

————————–

Tolong sampaikan salam ku buat Onyek. Bisikkan sama dia mudah-mudahan aku dapat mantu seperti dia, atau nanti cucu laki-laki  pertama akan aku beri nama: KORNEL.

“Onyek.. Sesekali tengok-tengoklah kami di neraka, kau sudah lulus itu ke surga..”

(Basar Simandjuntak, SI’83)

—————————–

“Kepada sahabatku onyek. Kepergianmu membuat ikatan pertemanan dari sejak SMA di  Medan & di Jurusan Mesin ITB, semakin erat.. Terima kasih sahabat untuk segalanya, selamat jalan.”

(Hendy – M’83)

—————————

Ya Tuhan, tiada kehidupan tanpa kematian, tiada awal tanpa akhir, tiada yang datang tanpa pergi. Itulah sebuah kesempurnaan. Kepergian sahabat kami, Onyek seperti kepergian manusia-manusia lain sebelum dia adalah juga kesempurnaan Karya-Mu. Sama sempurnanya dengan kehadiran Onyek di antara kami yang menyadarkan kami tentang: Diri-Mu, diri kami dan dari mana kami berasal, untuk apa kami dihadirkan di muka bumi ini, serta ke mana kami akan pergi setelah itu.

Terima kasih Ya Tuhan Yang Maha Baik, Engkau telah memberi kehormatan dan kesempatan bagi kami sehingga layak menjadi sahabat dan murid Onyek.

Kami sangat bahagia karena Engkau telah memuliakannya bersama-Mu…

Selamat jalan Onyek, selamat jalan sahabat dan guru kami. Kami bangga dan terhormat menjadi muridmu. Selamat berbahagia dalam kesempurnaan bersama Yang Maha Sempurna.

(Suluh T. Rahardjo, EL-86)

—————————

Onyek,

Aku tahu kau telah berbahagia.

Aku tahu kau telah menari-nari bersama bidadari di surga.

Ceriamu, pedulimu, ketangguhanmu, dan keberanianmu untuk berpihak telah menginspirasi kami, sahabat-sahabat lamamu, kawan-kawan sejawatmu, dan juga rekan2 yang baru mengenalmu.

Inspirasi yang menjadikan setiap kami, pribadi yang lebih baik.

Inspirasi yang mengilhami setiap alumni ITB untuk berbakti bagi negeri.

Inspirasi yang merasuki setiap insan  PTDI untuk bangkitnya industri dirgantara Indonesia.

Onyek, tugasmu telah selesai.

Tuntas menyebarkan kasihNya.

Kamu hadir karena suatu alasan.

Aku tahu jelas apa alasan itu.

Kamu pahlawanku!

Selamat berbahagia, kawan.

Thanks for the dance.

Terima kasih atas segala karyamu.

We miss U.

<Dwilarso, sahabatmu; di bus antara Karawang-Bandung; 23.05.12>

——————————————————————————————

Senyum, adalah kenangan akanmu yang tak akan pernah hilang..

Peduli, adalah titipan darimu yang ingin kami jaga

Kuat, adalah bekal darimu, agar kami ikhlas dan meniru langkahmu

Berjuang, adalah nasehat abadi yang akan kami sampaikan ke generasi sesudahmu

Belajar, adalah cahayamu yang  akan kami ajarkan pada para pemuda, ketika menyusur  jalan gelap tanpa pegangan..

Cinta, adalah awal dan akhirmu, persembahanmu, hadiahmu.. bagi kami semua

Kornel,

Jika waktu bisa sekali saja diputar kembali, aku akan berlari memelukmu dan menyampaikan, “Terima kasih, karena telah menjadi sahabat istimewa bagi setiap kami yang telah mendapat hadiah cintamu…”

(Illon, BI’84)

—————————–

Kepedulian,

Pengabdian, dan Keikhlasan, itulah napas kehidupan almarhum Kornel M. Sihombing (Onyek). Karena itulah Onyek menjadi sahabat dan kepercayaan semua orang dalam setiap aktivitasnya di kampus Ganesha ITB, alumni ITB dan sebagai profesional di PT Dirgantara Indonesia. Onyek terlalu muda meninggalkan kita semua, tetapi hidupnya yang singkat telah menggarami kehidupan kita semua. Onyek hidup selamanya dalam diri kita, keluarganya, alumni ITB, dan rekan-rekan seprofesinya di dunia penerbangan. Onyek Insya Allah menjadi teladan bagi mahasiswa ITB, Alumni ITB, para profesional dan bangsa Indonesia. Onyek yang pergi, meyakinkan kita bahwa hidup dan mati tak pernah sia-sia bila kecerdasan dipadukan dengan  kepedulian, pengabdian dan keikhlasan, sebagai jejak-langkahnya. Onyek yang wafat adalah Onyek yang hidup, hari ini dan selamanya.

(Fadjroel Rachman – Kimia 1982)

——————————–

My Imaginary

Communication on May 9th,2012 ——————————————————–

Tango Alpha Six this is Tango Alpha One calling, Tango Alpha Six this is Tango Alpha One, Tango Alpha Six this is Tango Alpha One, KS this is SD, (no answer)…silent, Absolutely silent, …

and silent, I started to cry, I let my self cry, …

with all of my heart I cry.

(Supra Dekanto)

——————————

Onyek,

Masih tidak menyangka kau pergi begitu cepat di umur yang masih muda, di saat kesempatan masih terbentang luas. Tuhan memang berkehendak lain, Dia ingin engkau kembali kepadaNya.

 

Onyek,

Masih segar di ingatanku saat engkau mengetok-ngetok pintu kamar kosku puluhan tahun yang lalu…

“Laras, please bantu aku ya jadi MC di M-Night”

Kebetulan saat itu engkau menjadi ketua panitia. Aku, mengingat kebaikanmu selama di student centre, tidak kuasa untuk menampik. Jadilah malam itu, malam yang tidak terlupakan seumur hidupku…

Menjadi MC ditengah-tengah pasukan testoteron…OMG..

 

Onyek,

Masih ingat ucapanmu kepadaku, “Laras, mau dikemanakan gerbongku bila aku meninggalkannya? Bagaimana nasib mereka?”

Jawaban itu kudapat saat kutanyakan, “Mengapa masih bertahan di PT DI?”

Onyek,

Kasihmu, dedikasimu, toleransimu tidak akan lekang dimakan jaman

 

Selamat jalan teman

Semoga engkau bahagia disisiNya

(Larasati TK85)

—————————

Kornel Mandagi Sihombing (Onye): Memberi Dalam Kekurangan

Rabu sore tgl 9 Mei 2012 saya & istri menunggumu datang ke rumah sesuai sms siang itu sebelum engkau naik pesawat. Tapi penantian kami dikejutkan oleh telpon dari teman-teman yang menginformasikan namamu ada dalam manifes pesawat. Langsung terbayang kenangan akan keceriaanmu yang khas membawa energi positif dimanapun kau berada.

Engkau tidak pernah lupa memberi ucapan selamat ulang tahun kepadaku meskipun aku selalu lupa tanggal ulang tahunmu. Setiap orang yang pernah tinggal dirumahku (apapun latar belakangnya) selalu kau sapa dan merasa nyaman ngobrol denganmu.

Engkau selalu memberi waktu kepada mereka ditengah jadwalmu yg padat. Siapapun disekitarmu terutama orang kecil adalah penting buatmu. Anak buahmu di PT DI adalah sumber motivasimu mengalahkan tawaran perusahaan asing.

Bibi kita waktu kuliah kau tampung dirumahmu sampai sekarang berumur 70 tahun. Aku juga ingat tengah malam tahun 1985 kau memanjat langit-langit Gedung Serba Guna membantu dekorasi untuk acara Lustrum UKSU meskipun kau bukan panitia. Padahal aku tahu kau sangat sibuk di PSIK, KPM, dll.

Semakin aku ingat kau semakin aku malu betapa kecilnya aku karena memberi dalam kelimpahan saja aku sering gagal. Apalagi memberi dalam kekurangan. Dan ucapan selamat ulang tahun yang terakhir darimu untuk menikmati hidup lebih bermakna menjadi semakin jelas buatku yaitu hidup untuk memberi. Selamat beristirahat sahabat. Teladanmu akan selalu hidup dihati kami.

Sahabat Onye,

Sahat Gunawan Sitorus IF83

———————————–

Kornel M Sihombing biasa saya panggil Lord Onyek nama yang tidak bisa hilang dari ingatan saya, dia salah satu orang yang mengisi perjalanan membangun struktur analisis saya. Dari mentor kemudian jadi lawan diskusi, banyak diskusi sampai perang kecil pernah kami lalui dan kebanyakan diakhiri dengan mengamini argumentasinya karena logis dan berkarakter.

Dia hidup seperti apa yang pernah dikatakannya dulu dalam kesederhanaan dan kesetiaan pada pilihan hidupnya sampai kepergiannya, selamat jalan Lord Onyek  semoga tenang ditempatmu yang baru.

Gembong Primadjaja

Ketua Umum IAM 2011-2015

————————————-

Kornel (Onye) yang saya kenal adalah seorang  engineer yang mempunyai dedikasi dan motivasi yang sangat tinggi untuk mengembangkan industri Dirgantara Nasional.

Seorang engineer yaang patut dibanggakan Indonesia karena kecerdasan, kepemimpinan dan loyalitasnya yang tanpa batas pada bangsa ini.

Semoga tumbuh dan lahir engineer-engineer baru, dengan kapasitas seorang Onye.
(Amir Sambodo, Mesin’78)

—————————–
Saya tidak sempat bertemu dengan Bang Onyek selama kuliah dulu. Saya banyak mendengar almarhum dari senior-senior sejak terjadinya  musibah “Sukhoi”. Semakin banyak informasi dan pertemuan-pertemuan untuk menghormati Bang Onye, semakin saya serasa mengenal almarhum.

Dari berbagai cerita indah tentang Bang Onyek, selayaknya alm. mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan YME.

Seandainya saya jadi anggota keluarga beliau, pasti saya akan bangga memiliki putera, atau ayah, pasangan hidup, saudara atau kerabat beliau. Saat inipun saya bangga mengenal Bang Onye sebagai kakak alumni ITB. Selamat jalan kawan…
(Noor Cholis GD’88)

——————————
Nama Onye pertama kali kudengar namanya di Medan, sebagian temanku bermain adalah teman Onye juga. Tapi aku bertemu Onye baru di Bandung setelah Onye masuk ITB, dan kami bertemu di unit UKSU.

Orangnya kritis, sangat kritis, dan teguh pendirian. Dalam berdiskusi, hampir selalu betekak, tapi tidak pernah memuncak menjadi emosi tak terkendali. Onye penuh kontrol, lurus, visinya bergeming terjaga, dalam bersikap dan bertindak selalu menjaga ‘course of action’. Onye menebarkan aura positif, dan ada saja pelajaran yang dipetik ketika berinteraksi dengan dia.

Selamat jalan Onye, jasadmu sirna, semangat dan karyamu tetap terjaga.
(Ucok Dayat SI’82)

————————

Buat kawanku Onyek (Kornel Sihombing),
Saya kenal Onyek ketika masuk di ITB dan mulai aktif di Student Center tahun 1986. Beliau termasuk Senior yang langsung bersedia menyambut dan berdialog dengan kami para mahasiswa baru. Beliau sangat santun, jauh dari kesan arogan seperti kebiasaan anak ITB kepada para juniornya.

Saya kagum dan terinspirasi dengan pengabdian, perjuangan dan semangatmu
sebagai seorang professional di PTDI, untuk memajukan industri Dirgantara di
negeri ini;

Saya kagum dan terinspirasi bagaimana engkau mau hidup sederhana, penuh
integritas walaupun kesempatan untuk hidup berlebihan sangat banyak;

Saya kagum dan terinspirasi bagaimana engkau melayani Tuhan dengan sepenuh
hati dan melakukan ajaranNya di dalam kehidupan sehari-hari.

Selamat jalan kawan, tugasmu di dunia ini sudah selesai, dan dengan ini kami
antar engkau pulang ke pangkuan Bapa di surga.
Semoga teladan dan sikapmu tetap hidup di dalam jiwa kami.
Tuhan memberkati kita semua

(Batara Purba -ST86)

—————————

Duka yang mendalam atas kehilangan sahabat yang luar biasa santun dan berintegritas, sampai 1 hari sebelum kepergiannya, saya masih telp sahabatku ONYE untuk janjian ketemu di hari berikutnya, namun takdir berbicara lain.

Saya mengenal beliau dari sejak TPB, sama-sama bermain bola dan masuk PPAK 83 Unit Sepakbola. Ketika saya dan teman2 unit sepakbola membuat LIGA SEPAKBOLA ITB tahun 1987, sahabatku ONYE seringkali memberikan semangat dan bersabar agar LIGA SRPAKBOLA ITB bisa berjalan dengan baik, padahal sahabatku tidak masuk dikepengurusan PS ITB pada saat itu.

Kenapa sahabatku ONYE selalu bilang seperti itu, karena pada saat itu dalam setiap pertandingan selalu ada keributan diakhiri dg perkelahian dan sahabatku ONYE yang selalu menjadi juru damai.

Saya ingat betul bagaimana sahabatku ONYE menenangkan saya ketika pembukaan LIGA SEPAKBOLA ITB baru dibuka dengan mempertemukan MS dan GEA. Pertandingan baru berjalan 17 mnts, kericuhanpun terjadi bahkan PR III pada saat itu Prof Joenil Kahar masih ada dilapangan dan meminta pertandingan dihentikan. Berkat bantuan sahabaku ONYE, saya ditemani oleh Elfi EL 82, Johanes TK85 dan Veterano TA79 berhadapan dengan Prof.  Joenil untuk meyakinkan bahwa pertandingan harus diteruskan. Akhirnya pertandingan bisa diteruskan dan bisa diselesaikan dengan baik.

Kita telah kehilangan juru damai, kita telah kehilangan sosok yang mempunyai integritas yang tinggi dan tanpa pamrih. Selamat jalan sahabaku ONYE, damailah di tempat yang kekal. SELAMAT JALAN SAHABATKU.
(Hilman PL 83, mantan Ketua PS ITB 85/86, 86/87, 87/Jan88..)

—————————

Selamat jalan Onyek..

Wajahmu yang selalu tersenyum dengan mata yang sipit sungguh sulit untuk dilupakan. Aku ingat saat diterima jadi pegawai di IPTN dan bertemu denganmu disana, sungguh membuatku kaget.

Saat itu sungguh aneh seorang lulusan ITB mau menjadi pegawai di IPTN dengan gaji yang tergolong kecil, sementara sebagian besar teman2mu memilih bekerja di perusahaan-perusahan swasta atau asing atau BUMN lain yang gajinya jauh lebih besar.

Ada ungkapan yang beredar di lingkungan pegawai IPTN saat itu bagi orang2 yang masih bertahan di sana sampai lebih 5 thun, pasti karena alasan 3 ‘i’, yaitu idealis, iming-iming, idiot. Dan kau bertahan karena idealismemu untuk membangun negeri ini, yang sudah kau tunjukkan sejak di kampus dulu.

Sejak lulus dari ITB, kau seolah menarik diri dari lingkungan teman2mu mantan aktivis kampus.
Kau menjauh dari hiruk pikuk percakapan  ‘politik’ teman2mu yang masih sibuk membicarakan kondisi negara ini yang amburadul,  seolah dengan membicarakannya bisa menjadi lebih baik.

Kau memilih fokus berkarya di IPTN dan di gereja. Pilihanmu untuk tetap di IPTN dan aktivitasmu di gereja dan di forum lintas agama, hanya sayup-sayup terdengar oleh beberapa teman.

Bagi sebagian orang, itu sungguh suatu pilihan yang aneh, karena keduanya tidak menghasilkan uang. Tapi kau tetap bersikukuh berkarya di sana, menapaki jalan sulit demi mewujudkan cita2mu membangun negeri ini.

Kesederhanaan hidupmu menjadikan pilihan tersebut tidak terlalu sulit untuk kau jalani. Idealismemu (untuk membangun industri penerbangan Indonesia), dan kesederhanaan hidupmu sungguh suatu hal yang sangat sulit ditemukan di tengah-tengah masyarakat yang saat ini seolah berlomba mengumpulkan uang.

Selamat jalan kawan.., beristirahatlah dengan tenang bersama Bapa di surga. Semoga idealisme-mu dan kesederhanaan hidupmu menjadi spirit bagi kami yang kau tinggalkan.

Nelson Napitupulu
EL 86
—————————–

Walaupun jauh, saya mengikuti berita mengenai Onye. Ia patut diajukan sebagai pahlawan dirgantara. Anak asuhnya banyak, dan Onye juga seoraang aktivis lintas agama. Sayang kami belum  sempat bekerja sama.

Sampaikan salam untuk Indri dan keluarga, turut berduka cita yang dalam..

(Aftab Lubis, alumni FT ITB 83, ex Dirgantara/Nurtanio Dallas, USA)
——————————

Kami ikut berduka cita atas kepergian Kornel Sihombing. Semoga alm. Kornel M Sihombing diterima disisi Alloh sesuai dg amal bakti & kebaikannya. Keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan & ketabahan dlm menghadapi musibah ini.

Amin
(Bambang Irianto SI’83)
—————————–

We all have the same beginning: birth, and we all have the same end: death.

Sohow different can we be? “Invest in human family. Invest in People”.

Hope the children and his family will live stronger…
(Nuryanto, M’78)
———————–

Sahabatku Onyek,

Engkau telah mengajarkan banyak hal pada kami dengan tindakan dan pilihan hidupmu. Sebagian dari kami mungkin tidak terlalu paham mengapa begitu setianya engkau bertahan di PTDI. Pilihan itu ternyata mewakili mimpi mu yang visioner.

Meski dengan segala kesulitan dan tantangan yang menghadang, bagimu sebuah negeri harus memiliki modal SDM yang tangguh, menguasai teknologi, memperkuat riset dan kapasitas inovasi domestik, serta, mengembangkan pendidikan yang berkualitas.

Melalui PTDI engkau seakan ingin mengatakan beginilah mestinya Indonesia dibangun. Beginilah roadmap masa

depan Indonesia …..

(Riawandi Yakub, SI’82)

—————————-

“Saya sempat menjadi junior Onye ketika di ITB dulu. Jiwa pengabdian kepada Republik dia lakukan dengan mengabdi sepenuh jiwa kepada pembangunan industri Dirgantara.

Walau kita tahu bahwa banyak kepentingan yang tidak menyetujui kokohnya industri Indonesia di bidang dirgantara, tetapi Onye tetap setia mengabdi.

Semangat ini harus menjadi inspirasi kita semua dalam membangun industri nasional Indonesia di segala bidang, walau harus berhadapan dengan kaum komprador atau kaki tangan asing yg mengeruk sebanyak-banyaknya kekayaan kita sambil terus membodohi bangsa.

Semua alumni ITB harus terinspirasi oleh pengabdian Onye yg tiada henti sampai dipenghujung hayatnya atau bila tidak, mari kita tunjuk hidung mereka itu sebagai kaum komprador pengkhianat bangsa!”.

(Moh Jumhur Hidayat alias Dency, FT’86)

—————————————————

Buat Rekan Onye,

“Melihat rasa kehilangan yg sangat besar di hati kawan-kawan mantan  aktivis Student Centre ITB, menunjukkan  betapa mereka sangat kehilangan atas kepergianmu.

Kau tentunya begitu berarti bagi mereka. Teladanmu dengan bertahan untuk setia mengembangkan Dirgantara Indonesia, sungguh sebuah sikap yang patriotik, menepis semua tawaran yang jauh lebih baik dari berbagai negara.

Semoga semangatmu tetap hidup di jiwa anak-anak muda Indonesia, adik-adik alumni ITB dan khususnya di setiap hati anak muda yang berkiprah di dunia penerbangan Indonesia.

Terakhir, semoga jiwamu tenang di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.

Amin..

M.Danil Daud (AR”84)

 ————————–

“Kami Warga IAM sangat berduka… Kami akan datang utk memberikan

penghormatan terakhir dan doa setulus hati bagi Bang Onyek..”

(Sigit Soedarsono, M’86)

——————————

Kornel M Sihombing is one of the best sons of ITB who eventually

died and left us all when on duty.

As a fellow alumni of ITB we are proud and salutes, his dedication and professionalism during this late. He should be a role model for us all!

Family and friends that left behind must be proud of the figure of the deceased.

Goodbye my friend Kornel M Sihombing, our prayer is always prayer for you ..Amien!

(Bobby Maengkom, MS 83)

 ——————————–

Kornel M Sihombing adalah salah satu putra terbaik ITB yang akhirnya gugur dan meninggalkan kita semua ketika sedang bertugas.

Sebagai sesama alumni ITB,kami salut dan bangga atas dedikasi dan profesionalitas almarhum selama ini dan patut menjadi suri tauladan bagi kita semua.

Keluarga dan handai taulan yang ditinggalkan pasti bangga akan sosok almarhum. Selamat jalan Kawan Kornel M Sihombing, doaoa kami selalu untukmu .. Amien !

(Bambang Susantono, Wamenhub, SI’82)

 —————————————————

Teramat berduka atas kehilangan satu lagi orang baik. Saya mengenal Onye sejak TPB.

Sebagai anak GEA, kami seringkali bertikai dengan anak mesin terutama saat bermain bola, bahkan saya sempat berkelahi habis-habisan dengan rekan-rekan jurusan Mesin.

Namun saya tak akan melupakan, ada satu mahasiswa Mesin’83 yang mendamaikan kami dengan senyumnya, dialah Onye.

Mungkin hanya Onye satu satunya anak mesin yang mau nyapa dan tersenyum pada saya pada waktu itu… Luar biasa!

Indonesia butuh banyak orang seperti Onye, yang berintegritas pada

profesinya, memiliki leadership yang tinggi, kepedulian, serta hati yang baik.

Selamat jalan Sang Pendamai.

(Novi Ganefianto, GL’83, Auckland, NZ)

————————————————

Banyak sekali kenangan tentang Kornel “Onyek” M Sihombing ini. Tapi satu saja yg ingin dishare buat kita semua. Mengenai nama ‘Onyek”-nya.

Di teras Student Centre Timur ITB pertengahan  80-an,  aku pernah tanya namanya, “Kenapa ‘Onyek’? Bukannya, Kornel lbh bagus? ‘Onyek’ nama panggilan kecil ya?”

Dia tertawa dengan mata sipitnya yang menghilang, ‘Iya, kalok lebih kecil lagi dipanggilnya  ’inyik’.  Kami ketawa cengengesan berdua. Aku sering  iseng memanggil dia  ’inyik-inyik’.

Kornel kini ada dalam kenangan. Inyik kecil yang menjadi “orang besar” di hati kita semua, dan kita akan tetap memanggil dengan “Onyek”. Nama sederhana kesukaannya. Kenangan sederhana dari seorang sahabat.

(Lian Lubiz, BI’84)

 ———————-

Onye menjadi inspirasi buat kita yang ditinggalkan, seorang sahabat yang patut diteladani dalam banyak hal, kesetiakawanan, kepemimpinan, dan integritasnya sebagai anak Tuhan.

(Danny Talaar, Mesin 83)

——————————

Yang saya ingat dari Onyek adalah ketika meng-”OS” angkatan ’84. Dia

mengatakan mengapa alumni ITB hanya sedikit yang ingin berkarir sebagai Pegawai Negeri atau bekerja di BUMN untuk mengabdi kepada Negara.

Onyek berprinsip, akan mengabdikan diri bagi bangsa, dengan ilmunya.

Dan memang ternyata  Onyek konsisten dengan apa yang diucapkannya sejak muda dengan tetap bersemangat mengabdi di dunia dirgantara, meskipun di saat-saat sulit. Semoga semangat pengabdian kepada negara ini bisa menular kepada alumni ITB

dan generasi muda lainnya.

(Harris Priatama, Mesin ’84)

———————————-

Saya tidak mengenal secara  langsung sosok  Onye, namun dari berbagai komentar yang saya dengar dan baca, saya bangga ada alumni ITB seperti Kornel (Onye) ini. Saya mendapat kesan yang sangat kuat bahwa kehadiran Onye di dunia ini walapun singkat namun sangat bermakna.

Kita semua akan kehilangan seorang sosok yang berhasil memampukan orang lain

dengan segala talentanya…

(Satyo Fatwan, GM78 – Managing Partner Dunamis Org. Svcs.)

—————————————————————————

Onyek bagaikan lem perekat dalam keberagaman komunitas, termasuk di ITB. Kebaikan Onyek selama hidupnya tercermin jelas dari penghormatan yg ia terima dari masyarakat di akhir hayatnya…

Selamat jalan, sahabat..

(RidwanDjamaludin, GL82)

———————————