Absurditas!

Pertanyaan absurd ribuan orang ketika menangisi kematian Kornel Sihombing adalah: ”Mengapa Kornel, seorang jujur dan cerdas, penatua gereja yang kreatif, aktivis lintas agama yang cinta damai, dan seorang yang, dengan caranya sendiri, berkomitmen membela kepentingan karyawan dan bahkan kepentingan bangsa melalui PT Dirgantara Indonesia ‘dipanggil’ terlalu cepat oleh Tuhan?”

Bagaimana mungkin orang sebaik Kornel malah dibiarkan Tuhan pulang ke rumahNya mendahului kita? Ini bukan sekedar sebuah pertanyaan, tetapi suatu protes, bahkan kemarahan.

Di wall FB saya, seorang rekan menumpahkan kegusarannya terhadap “kehendak Tuhan” atas diri Kornel. Rekan saya itu protes sangat keras. Dia seperti seorang anak yang menangis sekuat-kuatnya ketika mainan kesayangannya diambil orang tuanya. Pada wall FB itu, ia melontarkan bukan lagi  pertanyaan, tetapi sebuah somasi, gugatan kepada Tuhan.

Saya pernah mendengar rentetan pertanyaan, keluhan bercampur kemarahan yang sama kerasnya ketika Tuhan memanggil Munir, Nurcholis Madjid dan Gus Dur kembali ke haribaan-Nya. Orang-orang ini adalah pejuang kemanusiaan. Mereka berbicara untuk rakyat dan bersama rakyat.

Mereka adalah orang yang mencintai setiap orang dan dicintai siapapun. Mereka adalah perwujudan dari hampir seluruh idealisme bagaimana menjadi manusia yang ideal yang ingin kita raih. Mereka adalah teladan! Pancaran cinta yang mereka lontarkan melalui kata dan aksi meresap hingga ke tulang sumsum kita.

Tetapi, ketika kita tenggelam dalam arus cinta mereka, dan justru ketika kita dan segenap rakyat yang tertindas di negeri ini membutuhkan mereka, Tuhan meraup mereka. Tuhan merebut mereka secara sewenang-wenang, dari tengah-tengah kita. Lalu, kita pun limbung, kehilangan pegangan. Protes keras pun dilontarkan kepada Tuhan yang secara otoritatif menerapkan kebijakanNya.

Kalau boleh jujur, bagi banyak orang, Tuhan telah melanggar prinsip HAM dan demokrasi. Tuhan mengambil secara sewenang-wenang apa yang justru paling kita kasihi. “Blue-Print Tuhan,” mengutip istilah Kornel, sungguh absurd, tidak masuk akal!

Hasrat Reptilian

Sebenarnya, dalam hasrat ‘reptilian’ yang mendorong nafsu dendam, kita berharap mestinya bila Tuhan benar-benar adil, seharusnya Tuhan memberi azab dan sengsara bahkan mencabut nyawa para ratusan koruptor yang menggerogoti kekayaan bangsa kita, bukan mencabut nyawa Kornel Sihombing, manusia jujur yang masih numpang di rumah mertua meski posisinya di PT DI sudah sangat tinggi.

Seharusnya Tuhan mencabut nyawa para penindas dan para pelaku ketidakadilan yang mengotori ranah keIndonesiaan kita, bukan mengambil nyawa Gus Dur atau Cak Nur. Gereja dan Indonesia lebih membutuhkan Kornel Sihombing yang cinta damai daripada pelaku-pelaku anarkisme dan kekerasan.

Dalam hasrat reptilian, kita berharap Tuhan mencabut nyawa orang-orang jahat itu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Yang menyedihkan adalah hasrat reptilian kita tidak diakomodasiNya. Sebaliknya, Tuhan justru memanggil pulang orang-orang baik dan pejuang kemanusiaan yang penuh cinta seperti Munir, Gus Dur, Asmara Nababan, dan Kornel Sihombing dalam kemuliaanNya.

Kalau bisa, kita memprotes kebijakan Tuhan bahwa seharusnya orang-orang baik inilah yang diberi kesehatan dan umur panjang! Bukan dicabut nyawanya secepat itu. Lalu apa maunya Tuhan dengan kebijakan anehNya itu? Sebuah absurditas! Kita berhadapan dengan suatu ketidakmasukakalan!

Berhadapan dengan absurditas Tuhan, kita menjadi ‘stuck’, tidak berdaya. Jangankan mencari jawaban, untuk mengajukan pertanyaan pun kita tidak sanggup. Sesungguhnya teriakan dan tangisan kita terhadap kebijakanNya adalah letupan ketidakberdayaan. Kita merasakan kerapuhan yang luar biasa.

Mungkin kita tidak akan pernah menemukan jawaban atas rencanaNya. Inilah sebentuk ketidakberdayaan kita! Vulnerability! Tetapi, inilah yang juga dialami Paulus ketika dalam kerapuhannya ia mendengar suara Tuhan berkata: ”Justru dalam kelemahanmulah, kuasaKu semakin sempurna.”

Integritas

Saya menangis ketika mendengar kecelakaan pesawat Sukhoi di mana Kornel ada di dalamnya. Saya mengikuti terus, siang dan malam, perkembangan pencarian pesawat Sukhoi dan nasib Kornel. Sulit bagi saya untuk tertidur. Hari-hari itu menjadi sangat meletihkan. Dan tiba-tiba, saya sadar betapa berharganya Kornel bagi saya. Kornel telah menjadi bagian hidup saya, bahkan menjadi bagian hidup kami keluarga.

Sondang, istri saya, menangis berhari-hari saat menantikan kabar tentang Kornel. Belum pernah ia semelankolis ini. Dan nampaknya kami tidak sendirian. Sangat banyak orang yang mencintai Kornel. Banyak orang yang ternyata, sama seperti saya, tidak bisa tidur hingga berhari-hari karena memantau perkembangan Kornel.

Ketika kabar tentang Kornel menjadi jelas bahwa Tuhan memanggilnya pulang, banjir air mata tidak tertahankan lagi. Semua kehilangan sahabat terbaik yang sangat dikasihi. Ketika melihat ribuan orang menangisinya, sempat terbersit pikiran nakal dalam benak saya, “Bila semua orang saja mencintainya, apalagi Tuhan. Pantaslah Tuhan segera mengambilnya. OK Tuhan! Kornel adalah milikmu. Tak ada seorang pun bisa menahannya.”

Bagi saya, Kornel bukan sekedar anggota jemaat atau seorang rekan penatua. Kornel adalah sahabat bahkan saudara yang sangat saya banggakan. Seingat saya inilah kali kedua saya menangis ‘berat’ ketika aktivis GKI Maulana Yusuf dipanggil Tuhan.

Kali pertama ketika Tuhan memanggil ibu Miranti Budiharto kembali kepangkuanNya. Saya menangis meraung-raung seperti anak kecil. Saya tak perduli bila orang menganggap saya cengeng. Memang, saya sangat terpukul karena hubungan saya dengan ibu Miranti sangat dekat bagaikan ibu dan anak. Kami selalu berdiskusi bersama tentang segala hal.

Kali ini, saya mengalaminya lagi. Kornel, sahabat dan saudara yang sangat saya hormati dipanggil oleh Tuhan. Saya menangis seperti anak kecil, tetapi kali ini tidak di depan umat. Saya bertekad tidak mau menangis di depan Indri, Korin dan Luhut karena saya takut akan menambah kesedihan mereka. Meski tekad itu bisa saya lakukan, tetapi kepala menjadi pening setiap kali menahan emosi.

Seminggu sebelum kepergiannya, kami sempat diskusi sambil ngopi bersama. Diskusi dan ngopi adalah aktivitas rutin yang sering saya dan Jeffrey Samosir lakukan bersamanya. Kami bertiga menaruh perhatian besar pada peningkatan kualitas generasi muda, pada kehidupan bergereja, berpolitik dan pada soal-soal lintas agama. Oleh karena itu, diskusi kami selalu meluas kemana-mana.

Kornel, juga Jeffrey, selalu menanggapi setiap persoalan dengan cerdas dan sangat dalam. Tidak ada yang sia-sia ketika berbicara dengan mereka berdua! Kornel, dan juga Jeffrey, adalah gudang inspirasi bagi saya. Kepada mereka, saya katakan, “Kalian berdua adalah pemikir, saya hanyalah tim doa.”

Beberapa hari sebelum kecelakaan Sukhoi, kami berkumpul lagi. Saya besyukur karena saat itu saya sempat mengatakan kepadanya bahwa setiap saya membutuhkan teman berdiskusi, dia adalah salah satu orang yang akan saya kontak. Saya ingin tegaskan saja betapa saya respek pada kecerdasannya, pada komitmen, dan terutama pada integritasnya. Ya, Kornel adalah pribadi yang berintegritas. Saya dan banyak orang mengalaminya!

Kornel sempat menceritakan kepada saya pergumulan beratnya dalam meniti karier di PT DI. Pilihannya hanya dua: bertahan atau hengkang total! Kalau melihat kondisi PT DI yang ketika itu carut-marut tanpa masa depan dibandingkan dengan tawaran yang menggiurkan dari perusahaan lain, siapapun pasti segera memutuskan meninggalkan PT DI.

Tetapi, Kornel memilih bertahan di PT DI. Suatu keputusan yang absurd dalam dunia di mana komitmen tergantung pada seberapa besar benefit yang diterima! Saya penasaran atas keputusannya yang absurd, benar-benar tidak masuk akal! Saya tanyakan alasannya untuk bertahan. Jawaban Kornel luar biasa. Ia bertahan demi membela nasib ratusan anak buahnya. Kagum saya! Kornel tidak ingin menyelamatkan dirinya sendiri. Ia memilih bertahan demi membela anak buahnya.

Ia seperti kapten kapal yang tidak akan pernah meninggalkan kapalnya sebelum yakin semua penumpang sudah selamat. Ditinjau dari teori psikologi kedewasaannya Kohlberg, keputusannya itu menempatkan Kornel sebagai manusia yang matang dan dewasa. Manusia yang lebih memikirkan  kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri. Ia manusia berintegritas!

Ketika kami berpisah, saya memandang kepergiannya sambil berkata dalam hati: “Inilah ciri orang besar! Meski ada peluang untuk pengembangan kariernya di luar sana, ia lebih memikirkan nasib dan masa depan orang lain.” Bagi saya, apa yang dibuatnya adalah sebuah khotbah yang hidup!

Dalam diri dan tindakan Kornel, Firman bukan kata-kata kosong yang sekedar diafal di luar kepala, tetapi telah menjadi aksi nyata! Sikap pelayanannya yang diinspirasikan oleh imannya terus berkobar dalam dadanya. Tak ada satu pun atau apapun yang bisa memadamkannya. Saya bangga kepadanya!

Mencintai Tuhan

Sama seperti kita semua, Kornel pasti punya banyak kelemahan. Betapa pun begitu, Kornel adalah tipe ideal bagaimana seorang Kristen seharusnya bersikap. Bagi orang seperti Kornel, gereja menjadi mata air pelayanan yang membuat cintanya kepada Tuhan tetap berkobar-kobar.

Kornel mencintai Tuhan. Inilah sumber komitmen dan integritasnya dalam segala aktivitasnya di tengah keluarga, di tempat kerjanya dan di tengah masyarakat.  Bagi Kornel, seluruh dunia menjadi gereja, tempat dia melayani dan mengabdi pada kemanusiaan dan kemuliaanNya.

Memang, Kornel telah pergi, tetapi komitmen, cinta dan integritasnya telah mempengaruhi dan menghidupi banyak orang, terutama kaum muda. Kornel dicintai sangat banyak orang. Ia layak dicintai karena ia memberikan diri dan hidupnya untuk mencintai dan untuk berjuang bagi kepentingan banyak orang.

Ketika jenazahnya disemayamkan di aula PT DI, ribuan orang dari berbagai kota, dari berbagai agama, gender dan etnik, berkumpul bersama. Kornel menyatukan kita semua. Saya tahu, semua orang mencintainya karena Kornel memang mencintai setiap orang. Cintanya pada setiap orang didasarkan pada cintanya pada TuhanNya. Di depan peti jenazahnya, tiba-tiba saya teringat lagu karangan David Graham:

In moment like this,

I sing out a song,

I sing out a love song to Jesus.

In moment like this,

I lift up my hands,

I lift up my hands to the Lord.

Singing I love You Lord.

Singing I love You Lord.

Singing I love You Lord.

I love You

Lagu itu membuat saya menangis, tetapi ia memberikan kelegaan spiritual! Kita harus belajar mencintai Tuhan ketika Dia menjalankan “blue printNya.”  Dalam hati saya berdoa: ”Tuhan, buatlah Indri, Korin dan Luhut setegar Ayub yang mampu berkata: Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah Tuhan.” Saya makin percaya itu karena keluarga mereka memiliki darah “Ayub”.

Masih di hadapan peti jenazahnya, saya berbisik: “Kornel, cinta, komitmen dan integritasmu akan terus berkobar di hati setiap orang yang pernah merasakan kehadiran dan pelayananmu.” Pergilah dengan damai sobat! Aku akan tetap merindukanmu! Moga suatu saat kita bertemu sambil berdiskusi dan ngopi bersama lagi!

| Albertus Patty |
Teman diskusi dan ngopi

Indonesia Mengantarmu Pulang

Aku terbisu….
Melihat ribuan pelayat pengantar…
Onye….

Mereka berulos
Mereka berjilbab
Mereka berjas penghormatan
Mereka berpeci, bertopi haji
Mereka hitam
Mereka putih sipit
Mereka menangkupkan tangan

Khidmat,
Mereka membuat tanda salib….
Mereka menengadahkan tangan….

Kornel….
Aku takjub, melihat mereka yang mengantarmu…
Mereka adalah Indonesia yang kau impikan…

Aku tak ingin menangis hari ini
Aku, Sahat, dan Jeffrey (sahabat kesayanganmu) tadi malam berjanji
Tidak ada lagi air mata…

Namun aku gagal…
Kembali air mata menetes….
Bukan karena sedih…
Sobatku, bukan karena sedih

Tapi karena haru….
Bangga melihat cinta orang-orang yang mengantarmu hari ini…
Merekalah refleksi cintamu pada mereka…

Seorang Pendeta Buddha dari forum lintas agama
Kulihat di sudut terisak dalam tangan yang memeluk tasbihnya…

Aku melihat saudara-saudara Tionghoaku
Mendoakan dalam tunduk yang dalam

Aku terkejut melihat sahabat-sahabat Muslim
Yang demikian tulus mengantar…

Andai kita bisa melihat Tuhan tersenyum
Berjajar malaikat menjemput ruh yang demikian murni dan lembut
Penuh cahaya cinta… Inilah Indonesia yang sejati
Di mana Tuhan menitipkan cintaNya yang paling rahasia
Di hati manusia-manusia sederhana yang penuh kasih….

Disinilah aku berurai air mata
Bersisian dengan sahabat-sahabat Onye
Berikrar….

Aku bertekad akan meneruskan semangat dan perjuanganmu…
Aku berjanji…
Aku berjanji…

Maafkan air mataku sahabat….
Pulanglah ke pelukan Tuhan yang tak sabar menantimu… Ingin memelukmu…
Pulanglah sayang….
Sahabat sayang…..

Illon,
TPU Pandu, Bandung
24 Mei 2012

Bang Onye Menerima Siapapun Apa Adanya

“… namun saya menerima Tommy apa adanya …”

Simple yet powerful, dua kata tersebut yang bisa saya gunakan untuk menggambarkan bagaimana dahsyatnya kekuatan dari “menerima seseorang apa adanya” berdasarkan pengalaman saya bersama Alm. Kornel Sihombing atau bisa dipanggil Onye.

Simple, karena kita bisa mengatakannya dengan mudah kepada orang lain, pacar kita, atau siapapun yang kita kasihi. Powerful, karena begitu dilakukan dan ditunjukkan, kehidupan seseorang bisa berubah dengan drastisnya, bahkan 180 derajat. Ya, selama saya kenal Bang Onye hampir 10 tahun, ternyata dia mampu menerima saya apa adanya.

Penerimaan dia bukan hanya sekedar omongan belaka. Dia membuktikan penerimaannya dengan perbuatan. Melalui proses ini dia telah menunjukkan dirinya sebagai pemimpin yang efektif. Menerima saya apa adanya, dan kemudian mempengaruhi saya dengan hal-hal yang positif.

Inilah yang saya ingin ceritakan, proses kepemimpinan yang efektif yang saya alami bersama Bang Onye sampai akhir hayatnya; menerima apa adanya, mengenal kelebihan dan kelemahan, serta mengajak untuk berkembang sambil membantu memenuhi kebutuhan orang yang dipimpin.

Kornel M. Sihombing, seorang profesional yang sangat menjiwai pekerjaannya sebagai panggilan Tuhan dan memiliki peran yang penting di PT DI, kepala rumah tangga yang sangat mengasihi istri dan kedua anaknya, dan aktivis yang memiliki peran vital, terutama dalam pengembangan pemuda di gereja. Dia juga terlibat aktif dalam forum kerukunan umat beragama.

Bang Onye mampu masuk ke dalam lingkungan yang berbeda dengan tantangan yang beragam, tetapi ajaibnya dia berhasil masuk ke dalam lingkungan yang berbeda tersebut. Bukan hanya masuk tetapi mampu mempengaruhi dan bahkan tidak sedikit hidup orang diubahkan olehnya.

Mungkin Anda dan saya bertanya, “Kok bisa ya?” Menurut saya, yang paling mendasar, dia mampu menerima manusia di sekitarnya apa adanya. Bahkan, manusia yang paling aneh sekalipun dari kacamata orang lain, seorang Bang Onye mampu melihat dari sudut pandang yang berbeda dan menunjukkan kemampuan dalam menerima orang lain dalam kondisinya sendiri.

Ya, menerima apa adanya, dan artinya dia jarang sekali merasa bahwa dia lebih baik dari orang lain. Bahkan kondisi ini seringkali mendorong Bang Onye untuk mau belajar dari kondisi orang lain. Bang Onye selalu sadar dan mengajarkan bahwa dia tidak pernah sempurna, oleh karena itu dia selalu berusaha untuk bertumbuh untuk menjadi sempurna sama seperti Penciptanya yang adalah sempurna.

Dalam ketidaksempurnaan seorang Bang Onye dan motivasi yang kuat untuk terus bertumbuh, dia tidak pernah sekalipun menghakimi orang lain dalam kelemahan mereka. Dia justru mampu melihat bahkan membantu orang lain, untuk melihat kelebihan mereka serta mengembangkan diri.

Inilah alasan utama kenapa banyak orang mengagumi beliau dan tanpa disadari menjadi pengikutnya juga, karena mereka dan saya diterima oleh beliau atas apa adanya diri kami, sembari menunjukkan kepada kami bahwa dia juga sama seperti manusia yang lain, tidak sempurna dengan segala kekuatan dan kelemahan yang dia miliki sebagai seorang manusia.

Pertanyaannya, tidak banyak pribadi seperti ini bukan? Ada berapa banyak orang yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari kita dengan karakter unggul seperti ini? Mungkin masih bisa dihitung dengan jari kita dan ternyata, manusia-manusia seperti Kornel Sihombing lah yang kita butuhkan untuk mengatasi masalah sosial yang terjadi di negara kita ini.

Kenapa kasus-kasus terhadap kaum minoritas yang sampai mengakibatkan kehilangan nyawa manusia lain masih terjadi di negara ini, hanya karena tidak setuju dengan kaum tertentu? Jawabannya hanya satu, karena kita belum bisa menerima orang lain dengan apa adanya mereka.

Kebanyakan orang-orang yang memegang peranan penting di negara ini, yang sering kita sebut pemimpin, masih memiliki paradigma atau cara pandang yang belum bisa melihat manusia sebagai makhluk yang setara. Sebuah pekerjaan rumah yang perlu kita selesaikan bersama demi kemajuan bangsa.

Saya sangat yakin kita bisa melakukannya, karena Kornel M. Sihombing sudah lebih dulu membuktikan bahwa dia bisa. Kalau kita ingin melihat bangsa ini maju, tentu perubahan tersebut harus dimulai dari diri kita sendiri dan di lingkungan sekitar. Mari bangun diri kita menjadi calon-calon pemimpin bangsa ini dengan memiliki mental dan cara pandang positif.

Terima kasih Kornel M. Sihombing. Secara fisik engkau telah tiada, tetapi hidup serta ajaranmu akan menjadi warisan yang sangat berharga dan akan selalu diceritakan kepada generasi berikutnya. Grace and Serve!

| Albert Tommy |

 

Kenangan Terhadap Alm. Bang Kornel dari Keluarga Alm. Capt. Aan

Dear Bang Kornel, keluarga dan kawan-kawannya.

Minggu lalu, saat sekeluarga menerima bukti forensik property milik Ayah saya yang juga korban Sukhoi. Terdapat diantaranya sim, credit card yang sudah terbakar serta dompet kulit yang sudah melepuh.

Yang menjadi menarik dan terkesan adalah adanya dompet khusus kartu nama yang masih utuh beserta isinya. Diantara kartu nama Ayah saya, yang paling depan terdapat kartu nama Bang Kornel. Hanya Bang Kornel seorang. Tidak ada kartu nama milik orang lain.

Menurut kami sekeluarga, Ayah saya hanya bertukar kartu nama saat diminta atau saat menikmati obrolan, saat terkesan dengan orang tersebut sehingga dia ingin mengkontaknya suatu hari nanti, tanpa motif apapun, just friendship, just say hello.

Pada hari itu, menurut kami sekeluarga, Ayah saya dan Bang Kornel duduk berdekatan di atas pesawat. Sama-sama memiliki sifat idealis, sederhana dan loyalis. Ayah saya bertahan di Bouraq, Bang Kornel pun di IPTN.

Salam hormat untuk keluarga yang ditinggalkan. Saya harap ikatan silaturahmi yang baru terjalin beberapa jam oleh kedua orang yang saya hormati tersebut masih dapat tersambung melalui keluarga yang ditinggalkan, juga melalui bang Chandra Sihombing, ikatan silaturahmi antara alumni junior ITB dan alumni senior ITB.

Wassalam,

Angga Tirta (Atir) #SBM 04, PS-IA ITB

Wignu Mughni (Inu) #FI 03, Pilot Garuda Airlines

1 Mega Volt Arus Kehidupan – Sebuah Eulogi untuk Onyek

Sebuah Dialog (1996)

“Begin with the end in Mind”  Habit 2nd – Steven Covey

“Eko, sini aku tunjukkan padamu workbook yang aku dapat kemarin!” Ujarnya sambil masuk ke kamar.

Aku bergegas masuk ke rumah kayu itu dan dengan penuh tanya menunggu apa gerangan yang akan ditunjukkan bang Onyek kepadaku.

Tak berapa lama sang tuan rumah keluar dan membawa segepok workbook dan membukanya diatas meja didepan kami.

“Nah, ini workbook yang aku dapatkan saat ikut workshop Seven Habit minggu lalu.”

Aku buka-buka workbook itu sambil sedikit iri dengan bang Onyek, saat itu di tahun 1996 aku baru mampu untuk numpang baca buku Seven Habit di toko buku Gramedia jalan Merdeka, sementara dia bahkan sudah mengikuti workshopnya yang aku tahu sangat mahal biayanya.

“Yang paling menarik habit yang mana bang?” Tanyaku penasaran.

“Semuanya sih menarik dan luar biasa, masing-masing habit memiliki kekuatan dan kedalaman sendiri, namun juga saling mendukung satu dengan yang lain. Kalau kamu bertanya mana yang paling menarik, habit ke-2 bisa menjadi pilihan,” panjang lebar bang Onyek menjelaskan.

“Begin with the end in mind” setengah bergumam aku membaca habit ke-2.

“Maksudnya apa ya bang?” Sambil agak malu aku bertanya karena pikiranku belum mampu mencerna kalimat itu.

“Habit ini mengajarkan pada kita untuk memiliki kebiasaan menetapkan tujuan dalam segala hal. Dengan memiliki tujuan yang jelas maka segala sesuatu yang kita lakukan menjadi terarah dan produktif.” Paparnya.

“Contohnya?” Pikiran dan otakku masih berusaha mencerna.

“Ini aku kasih contoh yang diajarkan di workshop, hidup kita sebagai manusia kalau tiba pada saatnya nanti kita mati, kita ingin dikenang sebagai apa? Ekstrimnya, bayangkan dirimu terbaring di peti dan ada banyak orang yang mengelilingi upacara penguburanmu. Ucapan dan memori apa yang kamu inginkan ada dalam pikiran mereka tentang kamu.” Panjang  lebar bang Onyek menjelaskan dan aku masih kebingungan.

Bang Onyek berhenti menerangkan dan tersenyum simpul melihat kebingunganku.

“Memang nggak mudah untuk memahaminya, aku coba terangkan dari sudut pandang kekristenan. Tujuan dari hidup orang Kristen adalah menghasilkan buah-buah roh seperti  yang tertulis pada Galatia 5 22 -23: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Dengan tujuan menghasilkan buah-buah roh itu maka hidup kita sebagai orang Kristen menjadi penuh makna, istilah kerennya so live!”

Bang Onyek mengakhiri penjelasannya dengan senyum lebar setengah tertawa. Dan aku mengangguk-angguk, sebenarnya bukan karena mengerti namun karena kagum akan kemampuannya menjelaskan konsep habit ke-2 dengan menarik bahkan bisa diletakkan dalam konteks kekristenan.

Halaman Sekolah Minggu (2007)

“Anak-anak luar biasa untuk orang tua yang luar biasa pula!” Kornel Sihombing 

Tarikan nafasku masih tersendat-sendat dan dalam, setiap minggu pagi aku dan istriku harus memiliki cadangan kesabaran untuk tetap membawa Tesa dan Jason datang kesekolah minggu. Sebagai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), perilaku dan cara mereka meresponse kondisi sekelilingnya berbeda dibandingkan dengan anak yang lain.

Sama seperti  yang barusan terjadi, Tesa mengamuk di lantai gereja dan butuh waktu yang cukup lama untuk menenangkannya. Tantrumnya memang sudah jarang muncul, tapi hiperaktif dan ngambeknya masih setia muncul termasuk di acara sekolah minggu yang diikutinya.

Seringkali kami berdua hampir jatuh dan putus asa untuk membawa dan mengajak mereka ke ruang publik seperti sekolah minggu, karena kami tahu pasti bahwa kami akan diuji kesabaran kami sampai habis. Namun disisi lain kami menyadari bahwa tugas kami untuk setia membawa mereka keluar dari rumah sebagai bagian dari terapi kehidupan mereka.

“Hi bro pa kabar?” Sebuah tepukan lembut dipundak mengagetkanku dari lamunan.

“Hi bang, baik selalu dong,” jawabku sambil menyodorkan tangan bersalaman ala pemain basket.

“Kapan kita bisa main tenis bareng lagi seperti dulu ya?” Bang Onyek bertanya membangkitkan memoriku dengan kegiatan yang rutin dilakukan beberapa aktivis GKI MY ditahun 90an.

“Iya nih bang, kapan-kapan kita main tenis bareng yuk, mumpung aku sekarang sudah kembali ke Jawa,” jawabku sambil melirik Tesa yang sedang meronta-ronta digendongan Santi istriku.

“Hallo Santi apa kabar? Tesa cantik kenapa menangis?” Bang Onyek menyodorkan tangan ke Santi istriku sambil mengelus kepada Tesa. Tesa sejak bayi merupakan teman Luhut anak bungsu bang Onyek di sekolah  minggu, umur mereka  yang hanya berjarak 3 bulan membuat kami sering bertemu di sekolah minggu termasuk saat sekolah minggu mengungsi di Bahureksa dan di Yahya.

“Yah beginilah bang, Tesa masih suka marah sendiri kalau ada sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya,” ujar Santi istriku.

Halaman di depan sekolah minggu di GKI MY itu sesaat terasa sunyi diantara ocehan dan teriakan anak-anak yang bermain perosotan dan perbincangan orang-orang yang selesai kebaktian. Sesaat kami tenggelam dalam lamunan.

Tesa masih mengumpulkan energi digendongan mamanya sementara tangan bang Onyek masih mengelus kepala anak sulungku itu. Tesa akrab dengan dia karena bertahun-tahun saat aku mengejar sesuap nasi di ujung timur Indonesia, bang Onyek dan mbak Indri banyak membantu Santi dalam beraktivitas termasuk di Pasutri.

“Aku mau share satu hal pada kalian berdua,” bang Onyek memecahkan kesunyian.

Kami berdua bangun dari lamunan tentang panjangnya “jalan perjuangan” membesarkan Tesa dan Jason yang terbentang di depan mata.

“Tesa dan juga Jason adalah anak-anak yang luar biasa.” Kami mencoba mengamini dan mengimani dengan sekuat hati ucapan bang Onyek barusan.

“Dan tahu nggak kalian, bahwa Tuhan hanya menitipkan anak-anak luar biasa kepada orang tua yang luar biasa!” Kami berdua terdiam tanpa kata, karena seakan-akan mendapatkan energi yang luar bisa untuk tetap kuat meneruskan kehidupan kami dan kehidupan anak-anak yang pantas dirayakan karena pasti akan menjadi sebuah kehidupan yang  luar biasa.

Sate Maulana Yusuf (2011)

“Pemimpin sejati adalah mereka yang tidak berhenti bertumbuh dan belajar.”  – Eko Utomo

“Biar aku yang bayar bang!” Ujarku buru-buru sambil mengeluarkan dompet.

“Nggak usah, kami sudah sangat berterimakasih kamu mau mengajarkan ke tim Fasilitator Leadership MY teknik melakukan fasilitasi yang dahsyat tadi,” bang Onyek memaksa dirinya yang mentraktir aku dan Santi di Sate MY.

“Masak dari aku masih mahasiswa sampai sekarang dirimu terus yang bayar bang?” Sambil setengah bercanda aku mencoba menawar.

“Fine, sekali lagi thank you ya sudah sharing ilmu kepada kami. Ntar kita lanjutkan diskusi dan apa yang bisa kita lakukan kedepannya. Kami butuh banyak bantuan dari kamu, bro!” Bang Onyek bersalaman dan pamitan karena sudah ditunggu mbak Indri di Gempol.

“Sama-sama bang, any time just let me know. Dengan senang hati aku akan membantu apapun yang aku bisa bantu,” Jawabku sambil melepas kepergiannya ke seberang jalan.

“Abang itu luar biasa, ma!” Kataku ketika aku kembali ke meja.

“Emang kenapa, pa? Bukannya bang Onyek dari dulu memang hebat dan jadi panutan kita-kita,” Santi menjawab sambil terheran.

“Ada yang lebih hebat lagi aku temukan hari ini.” Tukasku.

“Apa itu?” Semakin bertambah dosis keheranan mantan song leader GKI MY itu.

“Sebagai seorang senior dan panutan, bro Onyek tidak malu dan bahkan sangat bersungguh-sungguh belajar pada workshop hari ini!” Aku merefleksikan yang terjadi hari ini.

Bro Onyek adalah seniorku. Dia aktivis pemuda sejak tahuan 90an, dia sudah menjadi pembicara terkenal diseputaran Bandung, sementara aku baru belajar untuk menjadi MC di persekutuan pemuda dan hari ini, pembicara terkenal itu belajar pada yuniornya.

“Benar juga ya pa, bang Onyek mau belajar dari kamu  yang yuniornya.” Santi menemukan klik dibenaknya.

“Kualitas inilah yang membuktikan dirinya pemimpin sejati yang tidak pernah berhenti tumbuh dan belajar bahkan dari Yunior. Aku angkat topi tinggi-tinggi untuknya!”

Merayakan Kehidupan (2012)

“Mas Eko, bang Onyek salah satu penumpang Sukhoi,“ Aku baca sms yang baru masuk dari Richard.

Sesaat aku terdiam dan hanyut dalam seribu satu kenangan dan kecemasan akan keberadaan bro Onyek. Hanya doa yang bisa aku panjatkan saat itu, mengharap keajaiban muncul buat orang yang begitu setia dengan pengabdiannya.

“Pray for Sukhoi.” Aku tulis status di fbku.

“Lord, kalau boleh aku meminta, lindungi seluruh penumpang Sukhoi dan berikan keselamatan pada mereka. Namun aku tahu bahwa aku harus mengimani semua rencanaMu dan tidak satu peristiwapun terjadi tanpa ijinMu. Dalam segala kelemahan ini aku memohon belas kasihMu bagi mereka.”

“#Prayer for Sukhoi and my best friend bro Kornel “Onyek” Sihombing.” Statusku satu hari kemudian.

“Lord is your shepherd bro.” Statusku membaca informasi  penemuan jenazah bro Onyek yang sudah aku anggap seperti kakak sendiri.

Minggu malam aku dan Santi duduk berdua di ruang TV. Sunyi karena Tesa dan Jason sudah terbang di alam mimpi sesudah kecapaian karena perjalanan pulang-pergi kami dari Bandung.

“Aku lega sekarang, ma.” Aku membuka pembicaraan.

“Kenapa, Pa?” Istriku bertanya sambil bersender dibahu.

“Mbak Indri tegar banget, bahkan terlihat lebih tegar dari kita. Kemarin aku malah mendapatkan kekuatan dari dia agar tidak menangis saat bertemu dan bersalaman,” desisku setengah terharu.

“Betul pa, aku kemarin juga nggak jadi menangis. Aku juga mendapatkan kekuatan dari dia,” ujar Santi istriku menimpali.

Ruangan itu menjadi hening beberapa saat, hanya bunyi TV yang menjadi aksesoris malam yang dingin.

“Kalau mengingat bang Onyek, aku melihat begitu banyak hidup dan kehidupan yang ada didalam dirinya,” kataku pelan.

“Maksud papa?” Ujar Santi lembut sambil menoleh.

“Hidup si abang, banyak menjadi sumber semangat dan kehidupan orang-orang yang bersentuhan dengannya. Dari anak kecil sampai orang tua. Dari anaknya Douglas sampai ke almarhum pak Sukardi,” aku  mencoba melontarkan pikiranku.

“Betul sekali pa, aku juga merasakan hal itu,” istriku menganguk setuju.

“Mengenang kejadian 16 tahun lalu saat bro Onyek mengajariku tentang Seven Habit, apa yang diajarkan dia bukan hanya ada dikata namun menjadi nafas kehidupannya juga. Semua buah-buah roh itu ada pada dirinya dan semua orang mendapatkan semangat kehidupan darinya,” sambungku. Santi merespon dengan mengelus tanganku.

“Kehidupan bang Onyek patut dirayakan! Hidup dan kehidupannya begitu luar biasa dipakai Tuhan sehingga menjadi berkat bagi kita dan banyak orang,” dan suasana makin hening, sesekali bunyi jengkerik di taman menimpali bunyi  TV.

“Tugas selanjutnya ditangan kita,” ujarku singkat.

“Maksud papa?” Santi menggeliat sedikit heran.

“Ya untuk membawa obor yang dibawa bro Onyek, untuk gantian kita bawa dan angkat tinggi-tinggi.”

 

Sebuah Eulogy untuk merayakan hidup dan kehidupan bro Kornel “Onyek” Sihombing

BSD City dipagi hari, May 2012

Untuk anda yang merasakan dan merayakan kehidupan Kornel Sihombing

 

“Selamat jalan bro, sampai ketemu nanti dirumah bapa di Surga.

Sampaikan salamku untuk pak Sukardi.

Kalau ada lapangan tenis disana, kita teruskan pertandingan persahabatan kita nanti.”

| Eko Utomo |

Pahlawan Iman dalam Pekerjaan

Banyak yang merasa kehilangan ketika mendengar berita bahwa rekan dan sahabat kita, Kornel Sihombing (yang biasa disapa Onye) ada dalam pesawat Sukhoi Superjet 100 yang mengalami musibah.

Kita merasakan bahwa ada bagian hidup kita yang diambil karena sosoknya yang sangat unik di antara kita.

Ketika banyak orang memisahkan kehidupan beragama dari kehidupan pekerjaan atau bisnis, dia justru begitu semangat menebar visi integritas iman dalam pekerjaan/bisnis. Dengan visi ini, dia bekerja sebagai profesional yang membawa berkah bagi banyak orang, bukan untuk mencari keuntungan pribadi. Dia menjadi profesional dengan intelektualitas dan integritas tinggi.

Sebagai pejabat, dia punya fakta integritas yang terpatri dalam hatinya, tidak hanya di atas kertas. Dia telah memimpin para pekerja di PT DI untuk menjadi pahlawan devisa (mendatangkan dolar dan euro) bagi Indonesia.

Saat ini dia pergi dan meninggalkan suatu warisan yang tidak bisa dinilai dengan uang, yaitu suatu integritas iman dalam kehidupan sehari-hari, dalam pekerjaan dan dalam dunia bisnis. Warisan ini akan menjadi berkah bagi semua jika kita meneruskan visi dan sikap kejuangannya.

Selamat jalan Onye, pahlawan iman dalam pekerjaan!

Dari sahabat yang pernah bersama melewati masa sulit di PT DI, khususnya pada periode 1998-2003 (Muis, Mei 2012)

Kebaktian Pemakaman Kornel M. Sihombing

23 tahun sudah Kornel berada di tempat ini. Dimulai sebagai karyawan kontrak pada saat masih kuliah, hingga jabatan terakhirnya saat ini sebagai Kepala Divisi Integrasi Usaha.

Banyak hal yang sudah Kornel lakukan dan banyak pula yang sudah dia dapatkan. Kenangan-kenangan tentang dia ada di benak rekan-rekan kerja yang pernah bekerja bersama-sama. Rasa kehilangan kita rasakan bersama.

Kornel sangat mencintai PT Dl, tempat dia bekerja dan berkiprah. Di tengah adanya pandangan yang kurang baik terhadap industri pesawat di Indonesia, ia dapat berkata dengan penuh kebanggaan, “Adalah suatu kekayaan bangsa Indonesia memiliki industri pesawat dan layaklah kita berjuang mempertahankan eksistensinya.”

Karena itu yang ingin saya sampaikan bagi setiap anak buah dan rekan kerja yang selama ini bekerja bersamanya, “Teruslah berjuang untuk mempertahankan eksistensi industri kedirgantaraan di Indonesia. Kornel sudah mentransfer fighting spiritnya pada setiap anak buahnya, seperti dia juga lakukan itu pada saya dan anak-anak kami. Harapan kita semua, PT Dl dapat struggle dan survive, terus exist di Indonesia bahkan juga untuk dunia internasional. (Indriati Ayub, Pemakaman Kornel M. Sihombing, PKSN PT DI, Kamis (24/5)).

Pidato lengkapnya klik: Distinguished Speech of a Great Lady

Kebaktian Penghiburan untuk Indri, Korin, Luhut, dan Keluarga

Gedung PKSN PT DI tidak mampu menampung pelayat yang ingin mengikuti kebaktian penghiburan untuk Indri, Korin, Luhut, dan keluarga. Kapasitas ruangan 600-700 orang, yang lain terpaksa menunggu di luar. Padahal sejak kedatangan jenazah siang harinya, sudah ratusan orang datang melayat dan pulang.