Eulogi: Onyek, Sahabat yang Luar Biasa

Banyak hal yang ingin keluar dari kepala untuk menceritakan siapa Onyek tapi sulit menuturkan dengan teratur. Saya mengenal dekat Onyek hampir sepanjang masa di ITB di tahun 80-an. Dia ada di aula Barat untuk  belajar bersama. Dia ada di lapangan basket saat kami unjuk kekuatan. Dia  selalu hadir tepat waktu saat rapat di ruang ujung student centre. Dia ada di unit kegiatan Sabtu malam dan Minggu pagi. Dia selalu ada di tengah pelatihan kepemimpinan untuk mahasiswa baru. Dia juga ada di dunia olahraga, mau bola atau basket.

Onyek hadir dengan kacamata, senyum, kernyit berpikir, rokok, dan jaket biru himpunan Mesin yang selalu dia banggakan. Dalam diskusi, dia menjadi pendengar dahulu, menunggu dengan sabar ucapan pencetus. Kemudian bertanya untuk validasi dan menempatkan pendapat dalam konteks.

Dia jarang terjebak dengan retorika atau emosi kami untuk melakukan aksi. Segala hal dipikir kritis, bukan karena ragu, tapi dia ingin yakin dahulu. Sekali dia yakin, dia akan bersikap keras, tanpa memaksakan kehendak. Salah satunya, waktu kami forum ketua himpunan akhirnya memutuskan untuk demo menentang dominasi militer ke MPR tahun 1988 dengan resiko tinggi.

Di tengah ‘gerakan’, dia sangat menghormati ‘akademis’. Kebanyakan kami termasuk saya menganggap ‘gerakan’ adalah pembebasan, sedangkan ‘akademis’ adalah kungkungan sistem pendidikan yang memaksa. Bagi dia, hal itu terbalik. ‘Akademis’ adalah jalan menuju pencerahan, yang kemudian menginspirasi ‘gerakan’.

Dia tidak percaya seorang aktivis baik dapat bergerak tanpa intelektualitas yang terasah akademis. Tidak heran tutur katanya dalam dialog sangat terstruktur, sangat ‘sekolahan’. Dia tidak pernah teriak untuk berpidato. Sering kami tidak sabar. Tapi di saat aksi, dia selalu pegang janji untuk membagi selebaran di waktu subuh, sementara sebagian kami datang terlambat ketiduran.

Apa aliran Onyek? Tidak mudah memberi stempel untuknya. Lebih mudah menggambarkan dari hal-hal “bukan”. Dia bukan ‘kanan’ walaupun sangat religius. Dia juga tidak percaya ‘kapitalisme’, karena dia menganggap dirinya jauh di atas akumulasi materi. Dia juga bukan ‘kiri’ karena tidak percaya perjuangan kelas.

Dia bukan ‘ultra nasionalis’, walau dia percaya kekuatan bangsa ini masih bisa membuat pesawat siapapun yang memerintah. Dia bukan ‘teknolog’ buta, karena dia percaya kekuatan sosial menentukan teknologi. Dia bukan ‘politisi’, karena dia tidak bisa bermain di dalam intrik organisasi. Dia bukan ‘moralis’ yang menganggap paling benar, walaupun semua kita tahu dia sangat bermoral.

Baginya dunia ini sederhana, sebuah proses pembentukan yang tidak pernah selesai. Semua berhak membawa kepercayaan dan aliran masing-masing. Dia ingin di tengah arus itu semua tanpa menjadi hanyut. Semua konflik selalu ada jembatan. Dia tunjukkan itu sejak di kampus.

Banyak kawan menjadi saksi di saat konflik antar himpunan, dia jadi jembatan. Di saat konflik tajam antara management dan serikat karyawan di PTDI, dia ada di kedua belah pihak. Dia tidak putus mencari titik temu. Baginya, setiap orang punya keinginan sama, ingin dihormati. Demikian juga dalam agama. Baginya, agama adalah rumah yang seharusnya nyaman, dan rumah-rumah Kristen, Islam, Hindu, Budha harus saling berbagi iman dan membentuk solidaritas satu sama lain.

Saya memilih 3 nilai besar dari hidupnya, yaitu profesional, peduli, dan sederhana. Tidak ada yang meragukan kesetiaannya dalam profesi kedirgantaraan. Dia telah membeli mimpi bahwa suatu waktu bangsa ini akan menjadi raksasa pembuat pesawat. Dia telah membayar sangat mahal dengan setia bekerja di PTDI, walaupun ada pilihan di tempat lain.

Dia bersama beberapa pejuang di PTDI terus mencari peluang menjadi pemasok komponen untuk pabrik pesawat seperti Airbus, demi mencari pendapatan perusahaan dan keahlian teknologi. Saya menduga kehadirannya di pesawat Sukhoi itu demi menjadikan PTDI salah satu pemasok komponen Sukhoi. Jika di negara lain, upaya itu dilakukan pemerintahnya untuk membantu industri dalam negeri, tapi di sini, Onyek dan kawan-kawan melakukannya sendiri demi ‘survival’ PTDI.

Dia sangat peduli. Lingkungan perusahaan, gereja, alumni ITB dan tetangganya adalah saksi hidup. Dia memberi kontribusi dengan otak dan tangannya. Kehadirannya ditunggu banyak orang, tanpa menjadi pusat perhatian. Dia selalu ikuti kegiatan yayasan angkatan ITB 83 kami di Jakarta walau harus datang dari Bandung.

Terakhir, tentang sederhana. Kami tidak habis pikir bagaimana dia mampu berada di atas tekanan kebutuhan hidup yang makin mahal. Dia telah memilih jalan yang mulia, bagaimana hidup cukup dengan penghasilan terbatas, baik rumah, kendaraan, penampilan, dan hal-hal remeh lainnya. Saya tidak pernah melihat Onyek ‘entertain’ untuk dirinya, atau pergi ke restoran mahal, atau membeli anggur. Olahraganya pun yang paling sehat dan murah, yaitu lari pagi.

Namun untuk pendidikan anaknya, dia tidak berkompromi. Dia sangat antusias menceritakan bagaimana perkembangan sekolah kedua anaknya, Korin dan Luhut. Dia ingin mereka bebas memilih hidup nantinya tapi dengan dasar hidup kuat dimulai di rumah. Sering dia merasa kurang waktu bersama anaknya. Keluarga adalah harta utamanya. Dan dia telah berhasil mendidik anaknya untuk tetap sederhana di tengah arus besar konsumtif dan hedonistik.

Bagi Indri (istrinya), Korin, dan Luhut, perkenankanlah saya menyampaikan, “Suami dan ayah kalian sangat luar biasa! Hidupnya adalah kotbahnya. Sungguh Tuhan telah memberi banyak melaluinya. Kami sangat beruntung dapat menjadi sahabatnya.”

Sebentar lagi Onyek akan tidur di peristirahatan yang terakhir. Kita semua masih menangis. Namun saya yakin, inilah awal sebuah era baru. Pemikirannya akan digali banyak orang untuk mencari jawab atas konflik horizontal. Semangatnya akan membakar kembali harga diri bangsa Indonesia untuk berdikari dan membuat pesawat sendiri. Nilai hidupnya akan menjadi panutan baru bagi anak muda.

Kita perlu seorang pahlawan. Mungkin Onyek akan menolak jika disanjung seperti ini. Namun saya memberanikan diri mengatakan bahwa Onyek telah berhasil menyelesaikan pertandingannya, dan dia pantas mendapat gelar dari kita semua ……….”our real hero”.

Selamat jalan, Sahabat!

Hotasi Nababan, Sipil ITB 83

Rabu malam 23 Mei 2012 @ PTDI, Bandung

Kornel Sihombing, Penumpang Sukhoi, Si Pemersatu Keluarga

Sosok Kornel Mandagi Sihombing, 48, korban tragedi Sukhoi, dikenal sebagai pemersatu keluarga. “Dia selalu menyatukan kami semua,” kata Erni, 42 tahun, kakak ipar Kornel yang ditemui di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, kemarin.

Erni mengenang Onyek—sapaannya- sebagai orang yang penuh kepedulian. “Kalau Natal, dia selalu berinisiatif mengumpulkan keluarganya,” kata dia yang datang dari Pontianak. Bahkan tak segan membiayai tiket saudara-saudaranya yang tinggal berjauhan di Papua dan Pontianak.

Onyek anak keempat dari enam bersaudara. Ia merupakan Kepala Divisi Integrasi Bisnis PT. Dirgantara Indonesia (DI), yang diundang joy flight Sukhoi Superjet 100, pada Rabu 9 Mei 2012 lalu. Alumni Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung 1983 dan melanjutkan studi Material di Universitas Teknik Delft, Belanda, pada 1997.

Direktur Aircraft Integration PT DI, Budiman Saleh, yang satu angkatan dengan Onyek mengenalnya sebagai orang yang open minded. Hobinya tenis, main basket dan sepak bola. Dia salah satu pelobi untuk kerjasama dengan perusahaan asing. Sobatnya, Sahat Sitorus mengatakan dia aktif kegiatan lintas agama.

Di mata Chandra Sihombing, 50 tahun, adiknya itu periang dan mudah akrab. Menurut dia, Onyek sangat mencintai dunia penerbangan. “Dia tetap di perusahaan (PT DI) meskipun temannya banyak yang keluar,” kata dia. Sebelum terbang, Onyek pernah menelepon dan minta diajarkan main golf.

Kornel meninggalkan seorang istri, Indriyati Ayub, 48 tahun dan dua anak, Corin, 11, dan Luhut, 8. Onyek adalah penatua di GKI Maulana Yusuf (MY), Bandung dan terlibat pelayanan MY Leadership. Kerabat dan rekan korban berdatangan silih berganti ke rumah duka di Jalan Gempol 117, Bandung.

MARTHA WARTA SILABAN|SUBKHAN| ERICK PRIBERKA
Dimuat di Koran Tempo danTempo.co

 

Pengiriman ke-2.000 Komponen A320, Sebuah Pencapaian Bersejarah

“Situasi keuangan lagi sulit begini ‘kok’ ada pesta?”

Jakarta (ANTARA News) – Pada Kamis, 20 Oktober 2011 tidak terlihat adanya kegiatan khusus di luar rutinitas di lingkungan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung Jawa Barat, kecuali pelatihan “Media Relations” untuk para kepala divisi dan manajer di salah satu gedung di luar kawasan produksi. Selebihnya di kawasan produksi tidak ada kegiatan yang istimewa.

Namun, di Assembly Line A320 ada aktivitas yang tidak biasa untuk kawasan produksi. Di ruang kosong antara area assembly dan area packaging ada meja-meja yang ditata sederhana dengan tumpeng nasi kuning di atasnya. Beberapa kursi diletakkan agak jauh dari sisi meja.

Kelihatannya seperti ada pesta kecil. “Situasi keuangan lagi sulit begini ‘kok’ ada pesta?” Mungkin itu pikiran yang muncul dari sebagian orang di PTDI. Memang, pada 20 Oktober itu Manajemen Aerostructure memutuskan mengadakan semacam acara syukuran sederhana dan tanpa publikasi.

Syukuran tersebut diadakan karena pada esok harinya, Jumat, 21 Oktober 2011 Direktorat Aerostructure PTDI akan mengirimkan set ke-2.000 dari komponen sayap pesawat Airbus A320 ke Spirit Aerosystem di United Kingdom (Inggris).

Acaranya relatif sederhana mengingat situasi sulit dan prihatin yang sedang dihadapi perusahaan. Namun, pesta kecil itu dipandang perlu dilakukan untuk mesyukuri kemajuan yang telah dicapai, sekaligus untuk mengapresiasi para pekerja yang bekerja bahu-membahu menghasilkan prestasi yang membanggakan.

Meskipun dirayakan secara sederhana, sesungguhnya pengiriman set ke-2.000 komponen pesawat Airbus A320 itu adalah suatu pencapaian yang “luar biasa” karena dua hal. Pertama, karena program ini adalah salah satu mata rantai penting dari satu rantai pasokan global yang konsisten untuk pesawat yang paling laku di dunia (Airbus), dan Aerostructure PTDI adalah penyuplai tunggal untuk produk yang dikirim.

Kedua, kegiatan itu membuktikan bahwa program pembuatan komponen pesawat A320 tersebut telah mampu dilakukan secara konsisten meskipun dalam situasi keuangan perusahaan yang amat sulit.

Progam A320 itu sendiri, sebelumnya disebut “Progam Paragon” dengan laju produksi tertinggi di dunia. Saat dimulai di tahun 2005 banyak pihak meragukan apakah Aerostructure PTDI mampu mengelola dan memproduksi 28 set per bulan komponen pesawat tersebut.

Pandangan skeptis itu sendiri ada di internal PTDI selain juga di pelanggan sebagai pemilik project. Namun mereka yang percaya PTDI akan mampu melakukannya terus secara konsisten mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk bisa memulai project itu.

Sulit Memang. Kontrak untuk program tersebut ditandatangani pada tahun 2005. Setahun kemudian, tepatnya pada bulan Juni 2006 Aerostructure PTDI baru mencapai pengiriman set ke-100 dengan segala masalahnya. Ini baru sepertiga dari target 300 set per tahun. Namun, perlahan tapi pasti Aerstructure terus mengalami kemajuan. Lima tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 20 Oktober 2011 Aerostructure PTDI berhasil memproduksi set ke-2.000.

Secara rata-rata keberhasilan pencapaian ini sama dengan keberhasilan produksi sekitar 380 set per tahun. Ini prestasi yang membanggakan. Namun tantangan ke depan akan lebih dahsyat, yakni produksi 440 set per tahun!

Dalam kaitan ini, merayakan suatu kemajuan meskipun secara sederhana dipandang memiliki makna yang sangat penting karena kemajuan itu sendiri menurut riset terbaru merupakan motivator utama dalam keseharian para pekerja.

Riset berjudul “What Really Motivate Workers” oleh Teresa M. Amabile & Steven J. Kramer itu menunjukkan bahwa membuat kemajuan (making progress) dalam pekerjaan, bahkan kemajuan kecil (incremental) terbukti menjadi motivator utama pekerja dalam keseharian yang jauh melebihi faktor-faktor lain seperti dukungan peralatan yang lengkap, dukungan rekan sekerja, kolaborasi bahkan insentif.

Bagi segenap personil Aerostructure PTDI, hasil riset itu adalah kabar gembira, karena hal yang dirisetkan tersebut terjadi di Aerostructure perusahaan pembuat pesawat terbang dan persenjataan tersebut.

PTDI adalah industri pesawat terbang yang pertama dan satu-satunya di Indonesia dan bahkan di wilayah Asia Tenggara. Perusahaan ini dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. Perusahaan tersebut didirikan pada 26 April 1976 dengan nama PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio yang kemudian berganti nama menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 11 Oktober 1985. PT IPTN pun kemudian berubah nama menjadi PT Dirgantara Indonesia pada 24 Agustus 2000.

Sejak didirikannya, perusahaan tersebut telah mendeliver lebih dari 300 unit pesawat terbang dan helikopter, 50.000 unit roket dan 150 unit torpedo serta 10.000 unit komponen pesawat terbang (F-16, Boeing, termasuk 2000 komponen untuk Airbus).

Saat ini, di tengah minimnya dukungan peralatan dan sumber daya lainnya, Aerstructure PTDI terus bekerja membuat kemajuan, dan pencapaiannya memberikan motivasi bagi para pekerja di tengah keluhan kurang lengkapnya sarana pendukung.

Syukuran kecil atas pencapaian prestasi itu merupakan pesan untuk semua level manajemen PTDI bahwa dalam kondisi apapun manajemen perlu terus mendorong kemajuan serta harus terus berhati-hati agar tidak melemahkan motivasi para pekerja, sebab bagaimanapun pada akhirnya pencapaian yang membanggakan akan dapat membawa PTDI keluar dari kesulitan yang dihadapi. Semoga…..

* Penulis: Kornel M. Sihombing (Vice President Business Integration, Directorate of Aerostructure PTDI)

*Editor: Ruslan Burhani

Dimuat di www.antaranews.com

 

 

 

Memori Jendral Jeanne Mandagi

Sewaktu kecil, Kornel bersama orang tuannya tinggal bertetangga dengan kami  Jack dan Jeanne Mandagi, di  kompleks  Brimob di Tantui – Ambon, waktu itu Kornel masih berumur sekitar 5 tahun belum sekolah.

Dia sering datang main di rumah kami, dan juga suka bermain-main  dengan Oma, dia anak yang sangat baik dan sopan. Kornel kecil seringkali disuruh mamanya meminjam korek api untuk nyalakan kompor di rumah mereka

Hubungan keluarga Mandagi dan Sihombing sangat dekat. Kornel waktu kecil dipanggil Ucok, baru kemudian dipanggil Onye.

Dan karena dia sangat disayang oleh keluarga kami, dan karena hubungan baik antara kedua keluarga maka Ucok kecil diberi nama Kornel Mandagi Sihombing

Singkatnya hampir setiap hari Ucok berada di rumah kami  karena selain bertetangga, Ucok sudah kami anggap anak kami sendiri.

Kemudian keluarga Sihombing pindah, dan kami juga pindah ke Jakarta.  Semenjak itu kita jarang ketemu karena kesibukan masing-masing.

Namun pada waktu Kornel diwisuda dan lulus dari ITB, kami diundang dan saya turut menghadiri wisuda tersebut dengan perasaan yang sangat bangga.

Tragedi pesawat Sukhoi ini sangat memukul perasaan kami, sangat menyedihkan bagi saya pribadi.

Kami berdoa semoga Tuhan menerima Kornel di surga sesuai amal baktinya dan diberikan ampunan segala kesalahannya.

Dan kepada keluarga yang ditinggalkan semoga  diberikan kekuatan, penghiburan, dan ketabahan.

(Dari: Jendral Jeanne Mandagi, seperti yang dituturkannya pada Davy Sumolang (TA’82), keponakan kandungnya, yang kebetulan adalah salah seorang sahabat Onye juga).

—————————

Memori Sahabat

Onyek telah menyentuh kita dan menjadikan kita pribadi yang lebih ceria, peduli, tangguh, dan pantang menyerah. Betapa indahnya hidup Onyek; begitu berarti kehadirannya. We miss you, Onyek!

Mungkin kita tidak akan pernah seprofesional, sepeduli, sesederhana Onyek. Namun pasti, Onyek telah membuat kita menjadi manusia yang lebih baik.

(Dwi Larso, TI’84)

————————–

Tolong sampaikan salam ku buat Onyek. Bisikkan sama dia mudah-mudahan aku dapat mantu seperti dia, atau nanti cucu laki-laki  pertama akan aku beri nama: KORNEL.

“Onyek.. Sesekali tengok-tengoklah kami di neraka, kau sudah lulus itu ke surga..”

(Basar Simandjuntak, SI’83)

—————————–

“Kepada sahabatku onyek. Kepergianmu membuat ikatan pertemanan dari sejak SMA di  Medan & di Jurusan Mesin ITB, semakin erat.. Terima kasih sahabat untuk segalanya, selamat jalan.”

(Hendy – M’83)

—————————

Ya Tuhan, tiada kehidupan tanpa kematian, tiada awal tanpa akhir, tiada yang datang tanpa pergi. Itulah sebuah kesempurnaan. Kepergian sahabat kami, Onyek seperti kepergian manusia-manusia lain sebelum dia adalah juga kesempurnaan Karya-Mu. Sama sempurnanya dengan kehadiran Onyek di antara kami yang menyadarkan kami tentang: Diri-Mu, diri kami dan dari mana kami berasal, untuk apa kami dihadirkan di muka bumi ini, serta ke mana kami akan pergi setelah itu.

Terima kasih Ya Tuhan Yang Maha Baik, Engkau telah memberi kehormatan dan kesempatan bagi kami sehingga layak menjadi sahabat dan murid Onyek.

Kami sangat bahagia karena Engkau telah memuliakannya bersama-Mu…

Selamat jalan Onyek, selamat jalan sahabat dan guru kami. Kami bangga dan terhormat menjadi muridmu. Selamat berbahagia dalam kesempurnaan bersama Yang Maha Sempurna.

(Suluh T. Rahardjo, EL-86)

—————————

Onyek,

Aku tahu kau telah berbahagia.

Aku tahu kau telah menari-nari bersama bidadari di surga.

Ceriamu, pedulimu, ketangguhanmu, dan keberanianmu untuk berpihak telah menginspirasi kami, sahabat-sahabat lamamu, kawan-kawan sejawatmu, dan juga rekan2 yang baru mengenalmu.

Inspirasi yang menjadikan setiap kami, pribadi yang lebih baik.

Inspirasi yang mengilhami setiap alumni ITB untuk berbakti bagi negeri.

Inspirasi yang merasuki setiap insan  PTDI untuk bangkitnya industri dirgantara Indonesia.

Onyek, tugasmu telah selesai.

Tuntas menyebarkan kasihNya.

Kamu hadir karena suatu alasan.

Aku tahu jelas apa alasan itu.

Kamu pahlawanku!

Selamat berbahagia, kawan.

Thanks for the dance.

Terima kasih atas segala karyamu.

We miss U.

<Dwilarso, sahabatmu; di bus antara Karawang-Bandung; 23.05.12>

——————————————————————————————

Senyum, adalah kenangan akanmu yang tak akan pernah hilang..

Peduli, adalah titipan darimu yang ingin kami jaga

Kuat, adalah bekal darimu, agar kami ikhlas dan meniru langkahmu

Berjuang, adalah nasehat abadi yang akan kami sampaikan ke generasi sesudahmu

Belajar, adalah cahayamu yang  akan kami ajarkan pada para pemuda, ketika menyusur  jalan gelap tanpa pegangan..

Cinta, adalah awal dan akhirmu, persembahanmu, hadiahmu.. bagi kami semua

Kornel,

Jika waktu bisa sekali saja diputar kembali, aku akan berlari memelukmu dan menyampaikan, “Terima kasih, karena telah menjadi sahabat istimewa bagi setiap kami yang telah mendapat hadiah cintamu…”

(Illon, BI’84)

—————————–

Kepedulian,

Pengabdian, dan Keikhlasan, itulah napas kehidupan almarhum Kornel M. Sihombing (Onyek). Karena itulah Onyek menjadi sahabat dan kepercayaan semua orang dalam setiap aktivitasnya di kampus Ganesha ITB, alumni ITB dan sebagai profesional di PT Dirgantara Indonesia. Onyek terlalu muda meninggalkan kita semua, tetapi hidupnya yang singkat telah menggarami kehidupan kita semua. Onyek hidup selamanya dalam diri kita, keluarganya, alumni ITB, dan rekan-rekan seprofesinya di dunia penerbangan. Onyek Insya Allah menjadi teladan bagi mahasiswa ITB, Alumni ITB, para profesional dan bangsa Indonesia. Onyek yang pergi, meyakinkan kita bahwa hidup dan mati tak pernah sia-sia bila kecerdasan dipadukan dengan  kepedulian, pengabdian dan keikhlasan, sebagai jejak-langkahnya. Onyek yang wafat adalah Onyek yang hidup, hari ini dan selamanya.

(Fadjroel Rachman – Kimia 1982)

——————————–

My Imaginary

Communication on May 9th,2012 ——————————————————–

Tango Alpha Six this is Tango Alpha One calling, Tango Alpha Six this is Tango Alpha One, Tango Alpha Six this is Tango Alpha One, KS this is SD, (no answer)…silent, Absolutely silent, …

and silent, I started to cry, I let my self cry, …

with all of my heart I cry.

(Supra Dekanto)

——————————

Onyek,

Masih tidak menyangka kau pergi begitu cepat di umur yang masih muda, di saat kesempatan masih terbentang luas. Tuhan memang berkehendak lain, Dia ingin engkau kembali kepadaNya.

 

Onyek,

Masih segar di ingatanku saat engkau mengetok-ngetok pintu kamar kosku puluhan tahun yang lalu…

“Laras, please bantu aku ya jadi MC di M-Night”

Kebetulan saat itu engkau menjadi ketua panitia. Aku, mengingat kebaikanmu selama di student centre, tidak kuasa untuk menampik. Jadilah malam itu, malam yang tidak terlupakan seumur hidupku…

Menjadi MC ditengah-tengah pasukan testoteron…OMG..

 

Onyek,

Masih ingat ucapanmu kepadaku, “Laras, mau dikemanakan gerbongku bila aku meninggalkannya? Bagaimana nasib mereka?”

Jawaban itu kudapat saat kutanyakan, “Mengapa masih bertahan di PT DI?”

Onyek,

Kasihmu, dedikasimu, toleransimu tidak akan lekang dimakan jaman

 

Selamat jalan teman

Semoga engkau bahagia disisiNya

(Larasati TK85)

—————————

Kornel Mandagi Sihombing (Onye): Memberi Dalam Kekurangan

Rabu sore tgl 9 Mei 2012 saya & istri menunggumu datang ke rumah sesuai sms siang itu sebelum engkau naik pesawat. Tapi penantian kami dikejutkan oleh telpon dari teman-teman yang menginformasikan namamu ada dalam manifes pesawat. Langsung terbayang kenangan akan keceriaanmu yang khas membawa energi positif dimanapun kau berada.

Engkau tidak pernah lupa memberi ucapan selamat ulang tahun kepadaku meskipun aku selalu lupa tanggal ulang tahunmu. Setiap orang yang pernah tinggal dirumahku (apapun latar belakangnya) selalu kau sapa dan merasa nyaman ngobrol denganmu.

Engkau selalu memberi waktu kepada mereka ditengah jadwalmu yg padat. Siapapun disekitarmu terutama orang kecil adalah penting buatmu. Anak buahmu di PT DI adalah sumber motivasimu mengalahkan tawaran perusahaan asing.

Bibi kita waktu kuliah kau tampung dirumahmu sampai sekarang berumur 70 tahun. Aku juga ingat tengah malam tahun 1985 kau memanjat langit-langit Gedung Serba Guna membantu dekorasi untuk acara Lustrum UKSU meskipun kau bukan panitia. Padahal aku tahu kau sangat sibuk di PSIK, KPM, dll.

Semakin aku ingat kau semakin aku malu betapa kecilnya aku karena memberi dalam kelimpahan saja aku sering gagal. Apalagi memberi dalam kekurangan. Dan ucapan selamat ulang tahun yang terakhir darimu untuk menikmati hidup lebih bermakna menjadi semakin jelas buatku yaitu hidup untuk memberi. Selamat beristirahat sahabat. Teladanmu akan selalu hidup dihati kami.

Sahabat Onye,

Sahat Gunawan Sitorus IF83

———————————–

Kornel M Sihombing biasa saya panggil Lord Onyek nama yang tidak bisa hilang dari ingatan saya, dia salah satu orang yang mengisi perjalanan membangun struktur analisis saya. Dari mentor kemudian jadi lawan diskusi, banyak diskusi sampai perang kecil pernah kami lalui dan kebanyakan diakhiri dengan mengamini argumentasinya karena logis dan berkarakter.

Dia hidup seperti apa yang pernah dikatakannya dulu dalam kesederhanaan dan kesetiaan pada pilihan hidupnya sampai kepergiannya, selamat jalan Lord Onyek  semoga tenang ditempatmu yang baru.

Gembong Primadjaja

Ketua Umum IAM 2011-2015

————————————-

Kornel (Onye) yang saya kenal adalah seorang  engineer yang mempunyai dedikasi dan motivasi yang sangat tinggi untuk mengembangkan industri Dirgantara Nasional.

Seorang engineer yaang patut dibanggakan Indonesia karena kecerdasan, kepemimpinan dan loyalitasnya yang tanpa batas pada bangsa ini.

Semoga tumbuh dan lahir engineer-engineer baru, dengan kapasitas seorang Onye.
(Amir Sambodo, Mesin’78)

—————————–
Saya tidak sempat bertemu dengan Bang Onyek selama kuliah dulu. Saya banyak mendengar almarhum dari senior-senior sejak terjadinya  musibah “Sukhoi”. Semakin banyak informasi dan pertemuan-pertemuan untuk menghormati Bang Onye, semakin saya serasa mengenal almarhum.

Dari berbagai cerita indah tentang Bang Onyek, selayaknya alm. mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan YME.

Seandainya saya jadi anggota keluarga beliau, pasti saya akan bangga memiliki putera, atau ayah, pasangan hidup, saudara atau kerabat beliau. Saat inipun saya bangga mengenal Bang Onye sebagai kakak alumni ITB. Selamat jalan kawan…
(Noor Cholis GD’88)

——————————
Nama Onye pertama kali kudengar namanya di Medan, sebagian temanku bermain adalah teman Onye juga. Tapi aku bertemu Onye baru di Bandung setelah Onye masuk ITB, dan kami bertemu di unit UKSU.

Orangnya kritis, sangat kritis, dan teguh pendirian. Dalam berdiskusi, hampir selalu betekak, tapi tidak pernah memuncak menjadi emosi tak terkendali. Onye penuh kontrol, lurus, visinya bergeming terjaga, dalam bersikap dan bertindak selalu menjaga ‘course of action’. Onye menebarkan aura positif, dan ada saja pelajaran yang dipetik ketika berinteraksi dengan dia.

Selamat jalan Onye, jasadmu sirna, semangat dan karyamu tetap terjaga.
(Ucok Dayat SI’82)

————————

Buat kawanku Onyek (Kornel Sihombing),
Saya kenal Onyek ketika masuk di ITB dan mulai aktif di Student Center tahun 1986. Beliau termasuk Senior yang langsung bersedia menyambut dan berdialog dengan kami para mahasiswa baru. Beliau sangat santun, jauh dari kesan arogan seperti kebiasaan anak ITB kepada para juniornya.

Saya kagum dan terinspirasi dengan pengabdian, perjuangan dan semangatmu
sebagai seorang professional di PTDI, untuk memajukan industri Dirgantara di
negeri ini;

Saya kagum dan terinspirasi bagaimana engkau mau hidup sederhana, penuh
integritas walaupun kesempatan untuk hidup berlebihan sangat banyak;

Saya kagum dan terinspirasi bagaimana engkau melayani Tuhan dengan sepenuh
hati dan melakukan ajaranNya di dalam kehidupan sehari-hari.

Selamat jalan kawan, tugasmu di dunia ini sudah selesai, dan dengan ini kami
antar engkau pulang ke pangkuan Bapa di surga.
Semoga teladan dan sikapmu tetap hidup di dalam jiwa kami.
Tuhan memberkati kita semua

(Batara Purba -ST86)

—————————

Duka yang mendalam atas kehilangan sahabat yang luar biasa santun dan berintegritas, sampai 1 hari sebelum kepergiannya, saya masih telp sahabatku ONYE untuk janjian ketemu di hari berikutnya, namun takdir berbicara lain.

Saya mengenal beliau dari sejak TPB, sama-sama bermain bola dan masuk PPAK 83 Unit Sepakbola. Ketika saya dan teman2 unit sepakbola membuat LIGA SEPAKBOLA ITB tahun 1987, sahabatku ONYE seringkali memberikan semangat dan bersabar agar LIGA SRPAKBOLA ITB bisa berjalan dengan baik, padahal sahabatku tidak masuk dikepengurusan PS ITB pada saat itu.

Kenapa sahabatku ONYE selalu bilang seperti itu, karena pada saat itu dalam setiap pertandingan selalu ada keributan diakhiri dg perkelahian dan sahabatku ONYE yang selalu menjadi juru damai.

Saya ingat betul bagaimana sahabatku ONYE menenangkan saya ketika pembukaan LIGA SEPAKBOLA ITB baru dibuka dengan mempertemukan MS dan GEA. Pertandingan baru berjalan 17 mnts, kericuhanpun terjadi bahkan PR III pada saat itu Prof Joenil Kahar masih ada dilapangan dan meminta pertandingan dihentikan. Berkat bantuan sahabaku ONYE, saya ditemani oleh Elfi EL 82, Johanes TK85 dan Veterano TA79 berhadapan dengan Prof.  Joenil untuk meyakinkan bahwa pertandingan harus diteruskan. Akhirnya pertandingan bisa diteruskan dan bisa diselesaikan dengan baik.

Kita telah kehilangan juru damai, kita telah kehilangan sosok yang mempunyai integritas yang tinggi dan tanpa pamrih. Selamat jalan sahabaku ONYE, damailah di tempat yang kekal. SELAMAT JALAN SAHABATKU.
(Hilman PL 83, mantan Ketua PS ITB 85/86, 86/87, 87/Jan88..)

—————————

Selamat jalan Onyek..

Wajahmu yang selalu tersenyum dengan mata yang sipit sungguh sulit untuk dilupakan. Aku ingat saat diterima jadi pegawai di IPTN dan bertemu denganmu disana, sungguh membuatku kaget.

Saat itu sungguh aneh seorang lulusan ITB mau menjadi pegawai di IPTN dengan gaji yang tergolong kecil, sementara sebagian besar teman2mu memilih bekerja di perusahaan-perusahan swasta atau asing atau BUMN lain yang gajinya jauh lebih besar.

Ada ungkapan yang beredar di lingkungan pegawai IPTN saat itu bagi orang2 yang masih bertahan di sana sampai lebih 5 thun, pasti karena alasan 3 ‘i’, yaitu idealis, iming-iming, idiot. Dan kau bertahan karena idealismemu untuk membangun negeri ini, yang sudah kau tunjukkan sejak di kampus dulu.

Sejak lulus dari ITB, kau seolah menarik diri dari lingkungan teman2mu mantan aktivis kampus.
Kau menjauh dari hiruk pikuk percakapan  ‘politik’ teman2mu yang masih sibuk membicarakan kondisi negara ini yang amburadul,  seolah dengan membicarakannya bisa menjadi lebih baik.

Kau memilih fokus berkarya di IPTN dan di gereja. Pilihanmu untuk tetap di IPTN dan aktivitasmu di gereja dan di forum lintas agama, hanya sayup-sayup terdengar oleh beberapa teman.

Bagi sebagian orang, itu sungguh suatu pilihan yang aneh, karena keduanya tidak menghasilkan uang. Tapi kau tetap bersikukuh berkarya di sana, menapaki jalan sulit demi mewujudkan cita2mu membangun negeri ini.

Kesederhanaan hidupmu menjadikan pilihan tersebut tidak terlalu sulit untuk kau jalani. Idealismemu (untuk membangun industri penerbangan Indonesia), dan kesederhanaan hidupmu sungguh suatu hal yang sangat sulit ditemukan di tengah-tengah masyarakat yang saat ini seolah berlomba mengumpulkan uang.

Selamat jalan kawan.., beristirahatlah dengan tenang bersama Bapa di surga. Semoga idealisme-mu dan kesederhanaan hidupmu menjadi spirit bagi kami yang kau tinggalkan.

Nelson Napitupulu
EL 86
—————————–

Walaupun jauh, saya mengikuti berita mengenai Onye. Ia patut diajukan sebagai pahlawan dirgantara. Anak asuhnya banyak, dan Onye juga seoraang aktivis lintas agama. Sayang kami belum  sempat bekerja sama.

Sampaikan salam untuk Indri dan keluarga, turut berduka cita yang dalam..

(Aftab Lubis, alumni FT ITB 83, ex Dirgantara/Nurtanio Dallas, USA)
——————————

Kami ikut berduka cita atas kepergian Kornel Sihombing. Semoga alm. Kornel M Sihombing diterima disisi Alloh sesuai dg amal bakti & kebaikannya. Keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan & ketabahan dlm menghadapi musibah ini.

Amin
(Bambang Irianto SI’83)
—————————–

We all have the same beginning: birth, and we all have the same end: death.

Sohow different can we be? “Invest in human family. Invest in People”.

Hope the children and his family will live stronger…
(Nuryanto, M’78)
———————–

Sahabatku Onyek,

Engkau telah mengajarkan banyak hal pada kami dengan tindakan dan pilihan hidupmu. Sebagian dari kami mungkin tidak terlalu paham mengapa begitu setianya engkau bertahan di PTDI. Pilihan itu ternyata mewakili mimpi mu yang visioner.

Meski dengan segala kesulitan dan tantangan yang menghadang, bagimu sebuah negeri harus memiliki modal SDM yang tangguh, menguasai teknologi, memperkuat riset dan kapasitas inovasi domestik, serta, mengembangkan pendidikan yang berkualitas.

Melalui PTDI engkau seakan ingin mengatakan beginilah mestinya Indonesia dibangun. Beginilah roadmap masa

depan Indonesia …..

(Riawandi Yakub, SI’82)

—————————-

“Saya sempat menjadi junior Onye ketika di ITB dulu. Jiwa pengabdian kepada Republik dia lakukan dengan mengabdi sepenuh jiwa kepada pembangunan industri Dirgantara.

Walau kita tahu bahwa banyak kepentingan yang tidak menyetujui kokohnya industri Indonesia di bidang dirgantara, tetapi Onye tetap setia mengabdi.

Semangat ini harus menjadi inspirasi kita semua dalam membangun industri nasional Indonesia di segala bidang, walau harus berhadapan dengan kaum komprador atau kaki tangan asing yg mengeruk sebanyak-banyaknya kekayaan kita sambil terus membodohi bangsa.

Semua alumni ITB harus terinspirasi oleh pengabdian Onye yg tiada henti sampai dipenghujung hayatnya atau bila tidak, mari kita tunjuk hidung mereka itu sebagai kaum komprador pengkhianat bangsa!”.

(Moh Jumhur Hidayat alias Dency, FT’86)

—————————————————

Buat Rekan Onye,

“Melihat rasa kehilangan yg sangat besar di hati kawan-kawan mantan  aktivis Student Centre ITB, menunjukkan  betapa mereka sangat kehilangan atas kepergianmu.

Kau tentunya begitu berarti bagi mereka. Teladanmu dengan bertahan untuk setia mengembangkan Dirgantara Indonesia, sungguh sebuah sikap yang patriotik, menepis semua tawaran yang jauh lebih baik dari berbagai negara.

Semoga semangatmu tetap hidup di jiwa anak-anak muda Indonesia, adik-adik alumni ITB dan khususnya di setiap hati anak muda yang berkiprah di dunia penerbangan Indonesia.

Terakhir, semoga jiwamu tenang di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.

Amin..

M.Danil Daud (AR”84)

 ————————–

“Kami Warga IAM sangat berduka… Kami akan datang utk memberikan

penghormatan terakhir dan doa setulus hati bagi Bang Onyek..”

(Sigit Soedarsono, M’86)

——————————

Kornel M Sihombing is one of the best sons of ITB who eventually

died and left us all when on duty.

As a fellow alumni of ITB we are proud and salutes, his dedication and professionalism during this late. He should be a role model for us all!

Family and friends that left behind must be proud of the figure of the deceased.

Goodbye my friend Kornel M Sihombing, our prayer is always prayer for you ..Amien!

(Bobby Maengkom, MS 83)

 ——————————–

Kornel M Sihombing adalah salah satu putra terbaik ITB yang akhirnya gugur dan meninggalkan kita semua ketika sedang bertugas.

Sebagai sesama alumni ITB,kami salut dan bangga atas dedikasi dan profesionalitas almarhum selama ini dan patut menjadi suri tauladan bagi kita semua.

Keluarga dan handai taulan yang ditinggalkan pasti bangga akan sosok almarhum. Selamat jalan Kawan Kornel M Sihombing, doaoa kami selalu untukmu .. Amien !

(Bambang Susantono, Wamenhub, SI’82)

 —————————————————

Teramat berduka atas kehilangan satu lagi orang baik. Saya mengenal Onye sejak TPB.

Sebagai anak GEA, kami seringkali bertikai dengan anak mesin terutama saat bermain bola, bahkan saya sempat berkelahi habis-habisan dengan rekan-rekan jurusan Mesin.

Namun saya tak akan melupakan, ada satu mahasiswa Mesin’83 yang mendamaikan kami dengan senyumnya, dialah Onye.

Mungkin hanya Onye satu satunya anak mesin yang mau nyapa dan tersenyum pada saya pada waktu itu… Luar biasa!

Indonesia butuh banyak orang seperti Onye, yang berintegritas pada

profesinya, memiliki leadership yang tinggi, kepedulian, serta hati yang baik.

Selamat jalan Sang Pendamai.

(Novi Ganefianto, GL’83, Auckland, NZ)

————————————————

Banyak sekali kenangan tentang Kornel “Onyek” M Sihombing ini. Tapi satu saja yg ingin dishare buat kita semua. Mengenai nama ‘Onyek”-nya.

Di teras Student Centre Timur ITB pertengahan  80-an,  aku pernah tanya namanya, “Kenapa ‘Onyek’? Bukannya, Kornel lbh bagus? ‘Onyek’ nama panggilan kecil ya?”

Dia tertawa dengan mata sipitnya yang menghilang, ‘Iya, kalok lebih kecil lagi dipanggilnya  ‘inyik’.  Kami ketawa cengengesan berdua. Aku sering  iseng memanggil dia  ‘inyik-inyik’.

Kornel kini ada dalam kenangan. Inyik kecil yang menjadi “orang besar” di hati kita semua, dan kita akan tetap memanggil dengan “Onyek”. Nama sederhana kesukaannya. Kenangan sederhana dari seorang sahabat.

(Lian Lubiz, BI’84)

 ———————-

Onye menjadi inspirasi buat kita yang ditinggalkan, seorang sahabat yang patut diteladani dalam banyak hal, kesetiakawanan, kepemimpinan, dan integritasnya sebagai anak Tuhan.

(Danny Talaar, Mesin 83)

——————————

Yang saya ingat dari Onyek adalah ketika meng-“OS” angkatan ’84. Dia

mengatakan mengapa alumni ITB hanya sedikit yang ingin berkarir sebagai Pegawai Negeri atau bekerja di BUMN untuk mengabdi kepada Negara.

Onyek berprinsip, akan mengabdikan diri bagi bangsa, dengan ilmunya.

Dan memang ternyata  Onyek konsisten dengan apa yang diucapkannya sejak muda dengan tetap bersemangat mengabdi di dunia dirgantara, meskipun di saat-saat sulit. Semoga semangat pengabdian kepada negara ini bisa menular kepada alumni ITB

dan generasi muda lainnya.

(Harris Priatama, Mesin ’84)

———————————-

Saya tidak mengenal secara  langsung sosok  Onye, namun dari berbagai komentar yang saya dengar dan baca, saya bangga ada alumni ITB seperti Kornel (Onye) ini. Saya mendapat kesan yang sangat kuat bahwa kehadiran Onye di dunia ini walapun singkat namun sangat bermakna.

Kita semua akan kehilangan seorang sosok yang berhasil memampukan orang lain

dengan segala talentanya…

(Satyo Fatwan, GM78 – Managing Partner Dunamis Org. Svcs.)

—————————————————————————

Onyek bagaikan lem perekat dalam keberagaman komunitas, termasuk di ITB. Kebaikan Onyek selama hidupnya tercermin jelas dari penghormatan yg ia terima dari masyarakat di akhir hayatnya…

Selamat jalan, sahabat..

(RidwanDjamaludin, GL82)

———————————

Cara Onye Mengabdi pada Sang Pencipta

Teman-teman yang tidak mengenal Onye secara personal, terutama angkatan sebelum 1980 dan sesudah 1988, mungkin bertanya mengapa kita merasa perlu mengenang Onye dengan cara yang sedikit lebih istimewa?

Onye secara positif, telah ikut membentuk diri kami, angkatan 80an. Dia telah meninggalkan jejak pada orang-orang yang mengenalnya. Bahkan, bagi saya, dia telah ikut menentukan arah dan sejarah Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM).

Misalnya, soal keberanian untuk bersikap. Dia yakin betul bahwa setiap orang, apalagi sebagai mahasiswa, harus punya sikap. Terlepas dari sikap itu condong ke kiri atau ke kanan, benar atau salah, sekaligus meyakini pilihan sikapnya itu.

Prinsip harus bersikap ini selalu dia sampaikan dalam berbagai kesempatan, baik di angkatan maupun di HMM. Dari interaksi dialektik selama bertahun-tahun, rasanya sikap Onye itu membekas pada banyak teman-teman, termasuk saya.

Contoh lainnya adalah idealisme Onye mengenai profesionalisme dan materi. Profesionalisme tidak harus diiringi dengan materialisme. Dengan kata lain, tenaga profesional tidak selalu harus mengejar gaji besar. Baginya, profesionalisme adalah bagian dari “mengabdi kepada Sang Pencipta”.

Sebagai manusia, kita harus bermanfaat bagi orang banyak. Bersikap profesional membantu kita memenuhi tujuan itu. Idealisme, sadar atau tidak, sepertinya merasuki kita, walaupun pada akhirnya sejalan waktu, banyak di antara kita yang tidak bisa, atau tidak mampu, atau luntur mewujudkannya; namun tetap menjadikannya sesuatu cita-cita.

Tapi Onye mempraktekkannya dengan sukacita sampai saat terakhirnya. Ia tidak pernah bersikap sinis atau nyinyir kepada rekan-rekan yang beralih ke jalur materialisme, semata-mata karena prinsip bahwa setiap orang berhak—malah harus—mengambil sikap dan meyakininya.

Kesetiaannya pada profesi sebagai mechanical engineer dan PT DI juga merupakan hal langka. Sekitar 2001 – 2002, saat PT DI di posisi terbawahnya, dia masih berdiskusi dengan penuh semangat mengenai PT DI; walaupun saya tahu dia harus nyari tambahan di luar untuk nutup kebutuhan dapurnya.

Sekitar 2008, dia juga semangat menceritakan happy problem yang dihadapinya; bagaimana memenuhi tenggat delivery komponen Airbus—pada saat itu PT DI sudah menjadi salah satu the best vendor dari Airbus—di tengah situasi internal PT DI yang masih banyak tantangan dan hambatan.

Dia menceritakan, sebelum ada film Laskar Pelangi, dia selalu kesulitan menjelaskan kenapa dia masih bertahan di PTDI. Setelah film itu keluar, maka dia selalu bertanya balik: “Sudah liat film Laskar Pelangi? Sudah mengerti kenapa Ibu Guru Mus memilih bertahan di SD reyot itu? Ya kira-kira begitulah kenapa saya masih di PTDI”. Luar biasa, ini suatu sikap profesional yang Merah Putih.

Walaupun Onye itu tegas berprinsip, tapi dia tidak keras kepala; pun tidak menyakiti lawan bicaranya. Gayanya yang khas bila dia sedang memilih kata yang baik, tapi sebenarnya ingin mengatakan lawan bicaranya keliru adalah “senyum-senyum-sambil-garuk-garuk-kepala”.

Karena itulah, kami merasa kehilangan teladan, kehilangan panutan, kehilangan tokoh ideal. Tapi di sisi lain kami juga sadar bahwa kematian itu pasti. Cara Onye pergi seakan-akan menegaskan bahwa pilihan hidupnya direstui Tuhan. Dia meninggal dalam tugas. Karena itulah, kami merasa perlu mengenang dan menghormatinya dengan cara yang agak istimewa.

Selamat jalan Onye. Bagi kami, kamu sudah tuntas/paripuna. You have fulfilled your purpose.

*Hardi M83

 

Pahlawan Kemanusiaan dari Gempol 117

Onye adalah pahlawan kemanusiaan yang mengembara di tempat sepi, jalan yang jarang dilalui orang. Dia menjadikan semua manusia istimewa sebagaimana yang diyakininya tentang apa yang dilakukan oleh Sang Pencipta.

Onye tidak pernah lelah dalam meyakini dan menjalankan “misinya di dunia” untuk mengasihi dan mendahulukan orang lain. Sampai saat terakhir, misi itu terlihat jelas. Dia menggantikan posisi orang lain di flight demonstration Sukhoi SuperJet 100. Dia paham benar, untuk menjadikan orang lain istimewa, dia memberi “till it hurts”.

Sebagai sahabat, berita kecelakaan yang disampaikan oleh kawan Sonny Ibrahim, hingga masa penantian pengumuman, adalah masa yang sulit bagi saya. Di satu sisi, nalar saya mengatakan ada yang jelas terpampang dalam benak, setelah tim SAR tidak mampu menjangkau para korban dalam tiga hari. Di sisi lain, setelah bertemu langsung, saya paham situasi kebatinan Indri sebagai istri yang terus berharap.

Dari pengalaman di gunung Salak yang dingin dan selalu hujan, rasanya orang yang selamat pun tidak bisa bertahan dengan suhu dingin, tanpa makan dan minum selama tiga hari. Maaf untuk Onye dan Indri, sebagai sahabat, saya memutuskan tak memberi komentar sampai semua dinyatakan secara resmi.

Dengan diumumkannya bahwa seluruh korban yang teridentifikasi cocok dengan manifest penerbangan, semua penumpang pesawat dinyatakan SSJ-100 meninggal dunia. Onye telah mendahului kita untuk menghadap Sang Pencipta karena telah selesai menjalankan misinya di dunia. Semoga misi Onye di dunia telah benar-benar tuntas sehingga dia di sana disambut sebagai pemenang medali emas.

Kenangan Studi dan PTDI

Perjalanan dengan Onye dimulai saat menjadi mahasiswa teknik mesin, Institut Teknologi Bandung, angkatan 1983. Di kampus, pertemanan dengan Onye biasa-biasa saja, bahkan cenderung berbeda warna.

Saya mengutamakan hasil akademis, sementara dia sudah terlihat sebagai calon pahlawan kemanusiaan. Pembicaraan di kemudian hari dengan teman-temannya di SMA dan ketika dia sekolah di Belanda mempunyai kesamaan dalam kesan terhadap Onye.

Sekian tahun setelah lulus dari Bandung, kami bertemu dengan intensitas tinggi dalam situasi persoalan kelangsungan hidup IPTN/PTDI yang berada pada titik kritis. Pada waktu itu, analoginya adalah biduk akan tenggelam, sehingga baik penumpang maupun barang yang tak perlu harus dikeluarkan.

Saya cenderung melihat upaya pemecahan  persoalan IPTN/PTDI pada waktu itu dari sudut manajemen dan keekonomian usaha. Onye, di lain pihak, melihat nasib 6.000 karyawan yang akan diberhentikan. Dia mengatakan memang ada “bad apples” di antara 6.000 karyawan, tetapi dia tetap berupaya untuk menyampaikan solusi bagaimana kalau dilakukan “out placement” dalam proses eksodus paksa itu.

Di tengah kritik terhadap keberadaan PTDI, kami berdua sepakat dan mengagumi gagasan B. J. Habibie untuk membangun industri pesawat terbang di Indonesia yang terdiri dari banyak pulau. Bahkan, di negara-negara yg bersifat kontinental pun, pesawat commuter adalah pilihan yang lebih ekonomis dibandingkan kereta api.

Jadi, bagi Onye mempertahankan PTDI adalah jalan yang harus ditempuh. PTDI bukan pesaing bagi raksasa EADS (Airbus) dan Boeing. PTDI hanya perlu mengambil ceruk pasar pesawat dengan kursi maksimum 100 penumpang.

Persahabatan dengan Onye semakin intensif setelah saya menjadi konsultan manajemen pribadi secara “pro-bono” bagi dia. Kami berdua hanya mesem-mesem ketika seorang Senior Manager dari EADS mengatakan, “Well, that’s not a good proposition for PTDI, is it?

Pada saat itu PTDI hanya mampu jadi tukang jahit bagi pembelinya. Bahan-bahan komponen yang akan diproduksi, dipasok oleh pembeli karena dana PTDI tertahan di BPPN/PPA, dan lagipula sebagai pasien BPPN/PPA, PTDI tak bisa meminjam dari lembaga keuangan.

Onye dengan gusar mengatakan bahwa PTDI perlu mengambil nilai tambah yang “easy money” dari penyediaan bahan-bahan. Bukan hanya dari biaya atas pemakaian jam mesin (orang). Sebagai “tukang jahit”, juga ada masalah dengan limbah PTDI yang harus diekspor ulang atau membayar bea masuk.

Hasil diskusi kami pada waktu itu, PTDI perlu mengupayakan opsi spin-off bagi unit Aerostructure yg relatif “lebih bisa” jualan, dibandingkan unit-unit usaha PTDI yg lain. Sampai sekarang, gagasan ini belum terlaksana.

Memoar Seorang Sahabat

Bagi saya, persahabatan dan pendampingan kepada seorang teman yang menghadapi persoalan berat adalah hal baru tapi menarik. Pada waktu itu, kami sering berdiskusi dengan makan malam, ditemani kopi atau bir sampai lewat tengah malam. Saya lebih sering langsung kembali ke Jakarta karena paham ritme Onye di pagi hari yang sibuk.

Suatu saat, saya pernah menerima tawarannya untuk menginap di rumahnya. Ketika pagi hari dia mau menyediakan air panas, saya bilang tak usah karena zaman kita masih culun mandi pagi dengan air dingin sudah biasa.

Onye adalah mitra yang baik dalam diskusi tentang pemikiran atas kehidupan. Bagi saya, Onye juga adalah teman untuk uji kewarasan. Di tengah-tengah pertempuran paham di dunia ini, kami perlu menguji apakah kami masih waras.

Analoginya, Onye adalah pemain kungfu dan saya pemain silat. Kami tidak pernah mempraktekkan ilmu di arena “pertandingan” resmi, karena peraturannya yang berbeda, tetapi kami saling mengisi dalam jurus-jurus.

Dia pernah menceritakan kegusarannya ketika ditawari pekerjaan dengan kompensasi tinggi. Saya sarankan dia untuk mengambil kesempatan itu, walau hanya sementara, untuk perbaikan ekonomi dan reputasi dia sebagai profesional. Tetapi, Onye mengkhawatirkan orang-orang yang bekerja dalam tanggung jawabnya di PTDI.

Akhirnya, Onye tidak jadi menerima tawaran itu. Dapat saya bayangkan, bagaimana peranan Indri sebagai istri dalam pengambilan keputusan, yang sepintas mengabaikan persoalan ekonomi keluarga. Jadi, bagi saya, Indri adalah juga pahlawan kemanusiaan dan dia menjadi pasangan yang tepat bagi Onye dari Sang Pencipta.

Kesetiaan pada misi di dunia yg “dipilihkan” oleh Sang Pencipta kepada kita manusia bisa saja kita pahami dengan cara yang salah. Tetapi, Onye tetap percaya bahwa Sang Pencipta akan selalu membawa manusia ke jalan yang sesuai dengan misi yang sesungguhnya. Saya agak melankolis dalam melihat pilihan Onye, berbanding dengan dia yang tegar dalam pilihannya.

Onye juga adalah sahabat saya yang toleran dan sudah tentu rendah hati. Dia seorang yang tekun dalam ibadah pribadinya dan hal itu tercermin dalam perilakunya sehari-hari. Namun, dia tetap nyaman dengan perbedaan agama.

Dia mengambil bagian penting dalam diskusi lintas agama untuk kerukunan dan menjembatani pengertian. Sikap demikian perlu kita kembangkan di tengah-tengah persoalan bangsa Indonesia saat ini, yang sebagian anggota masyarakatnya sulit menerima keberadaan keyakinan orang lain yang berbeda.

Saya yakin bahwa Onye telah dipakai oleh Sang Pencipta untuk menyebarkan benih-benih damai di antara orang-orang yang pernah bertemu dengannya.

Sahabat Onye, layar pertunjukan sudah diturunkan. Semoga para penonton mengingat peran yang engkau jalankan. Tetapi, seperti yang engkau katakan, lebih penting bagi penonton untuk mengingat Sang Penulis cerita dan ceritanya. Kita hanya kebetulan dipilih sebagai pemeran dalam cerita itu

Adios Amigo, sampai jumpa di seberang sana.

*Artissa Panjaitan, M83.

 

 

Alumni ITB Lari 10K Kenang Onye

Di hari Kebangkitan Nasional tahun ini, kota Jakarta menyelenggarakan acara Jakarta International 10K Run yang sudah menjadi tradisi sejak tahun 2004. Pada hari Minggu (20/5), sekitar 35.000 peserta lari menjajal rute Monas-MH. Thamrin-Bundaran Hotel Indonesia-Sudirman-berputar di Jembatan Semanggi-kembali ke Monas.

Sekitar 60 orang alumni ITB plus simpatisan—termasuk seorang anak lelaki bernama Francesco Manuel yang usianya diperkirakan tidak lebih dari 10 tahun—membuat acara resmi kota Jakarta tersebut menjadi lebih gegap-gempita.

Tanpa promosi berlebihan, sekian puluh orang tersebut menjadi aksen di antara ribuan peserta lari. Alih-alih menggunakan seragam kaus hijau pembagian Milo selaku sponsor, mereka menggunakan kaus kutung berwarna putih, bergambar wajah Kornel M. Sihombing alias Onye di bagian depan, plus tulisan solidarity forever yang merupakan semboyan Himpunan Mahasiswa Mesin ITB.

Sementara pada bagian belakang kaus mereka tertulis kata-kata “Profesional | Peduli | Sederhana” yang merupakan tiga kata yang dianggap paling tepat menggambarkan citra seorang Kornel M.Sihombing.

Agar kharisma para pelari berkaus putih ini tidak meredupkan cahaya lautan hijau manusia yang mengikuti acara Jakarta 10K Run, maka mereka pun berbagi tugas. Hotasi Nababan SI83, Heru Setiawan MS83, dan beberapa orang lain yang dirahasiakan namanya diutus untuk mengikuti acara lari 10K tersebut dengan target: jangan sampai menang, karena ini adalah operasi senyap yang tidak boleh ditengarai sebagai yang dapat mengooptasi agenda pemerintah.

Sebagian lain dibagi ke dalam beberapa regu yang ditugaskan untuk berjalan santai namun siaga guna mengamankan jalur Monas hingga Bundaran HI. Segelintir lainnya diposisikan sebagai pasukan penyapu dengan menggunakan sepeda.

Tanpa banyak membuang waktu, operasi pun dilangsungkan bersamaan dengan saat dibunyikannya sinyal berlari pada pukul 06.30. Sesuai dugaan, semua berlangsung lancar sesuai skenario. Tidak ada satu pun aparat Pemerintah yang mengendus kehadiran pasukan istimewa berkaus putih tersebut.

Namun aura mereka yang penuh kharisma ternyata tetap mengundang perhatian, sehingga beberapa Polisi Wanita bersepatu roda pun menyempatkan diri untuk berfoto dengan mereka. (Rekan Mamo MS83 atau Ardjuna TI83 atau Bobby Maengkom MS83 sila menyampaikan foto-foto tersebut sebagai bukti otentik).

Sekitar pukul 08.15, seluruh gerombolan berkaus putih berhimpun kembali di Patung Arjuna Jalan MH. Thamrin. Setelah pasukan khusus pelari melepas lelah sejenak, maka semua anggota gerombolan kaus putih membentuk formasi khas: foto bersama.

Di sini hadir pula Chandra Sihombing MS82, abang dari Onye. Tercatat salah satu relawan pemotret adalah Arya Sinulingga SI89, yang mengerahkan tim pemberita terbaiknya untuk mendokumentasi kegiatan gerombolan kaus putih.

Tuntas berfoto, semua peserta mengheningkan cipta dan berdoa bagi Onye dipimpin oleh Hardianto Darjoto MS83. Selanjutnya seluruh anggota gerombolan melakukan parade penghormatan sambil membentangkan spanduk “Selamat Jalan, Onye” memutari Jalan MH. Thamrin sejak Patung Arjuna hingga Jalan Kebon Sirih, dan akhirnya berbelok ke Jalan Sabang 16, menuju Restoran Sere Manis yang menjadi titik akhir operasi.

Di sini, gerombolan kaus putih langsung dielu-elukan oleh tim penyambutan yang dikomandani oleh Basar Simanjuntak SI83 dan Edward Sihombing PL85 yang tampak asyik ngopi-ngopi sambil merokok.

Setelah saling bersilaturahmi sejenak, semua anggota gerombolan langsung menuju lantai 2 yang sudah disterilkan. Hanya ada satu orang yang tampaknya agak cuek, sehingga masih saja asyik makan cemilan di situ. Untunglah dia segera sadar untuk angkat kaki sebelum tim perusak mengangkat kursi plus meja dan cemilannya ke luar ruangan.

Minuman dan makanan ringan segera dilayankan dengan sigap oleh para petugas restoran bagi para anggota gerombolan yang tampak sekali gairah haus dan laparnya.

Tanpa harus dipandu oleh protokol, acara berbagi kenangan tentang Onye pun mengalir lancar. Diawali oleh Hotasi Nababan, dilanjutkan oleh Chandra Sihombing, Hardianto Darjoto, Edward Sihombing, Ridwan Djamaludin GL82, Sahat Gunawan Sitorus IF83, Arya Sinulingga, Gembong Primadjaja MS86, Illon BI84, Dwi Larso TI84. (Mudah-mudahan semua sudah saya sebutkan namanya walau urutannya tidak sesuai sekuens faktual.)

Para sahabat Onye menyampaikan beberapa hal yang mungkin tidak diketahui oleh banyak orang. Misalnya tentang kiprah Onye saat masih mahasiswa yang bersedia mengutus dirinya sendiri menjadi juru damai jika himpunan mahasiswa Mesin sedang bertikai dengan Geologi.

Saya ingat satu saat Onye pernah menggunakan jaket kuning Gea ke Mesin sehingga kawan-kawan secara bergurau mempertanyakan, “Nyek, loe tuh anggota HMM atau Gea sih? Yang jelas dong!”

Begitu pun keteguhan Onye untuk bertahan di PT Dirgantara Indonesia (PTDI) ketika tidak sedikit koleganya yang memutuskan keluar dari PTDI dan bekerja di perusahaan lain, termasuk industri dirgantara milik negara lain.

Tawaran posisi dari produsen pesawat terbang kelas dunia ditampiknya dengan tegas karena Onye memilih untuk setia mengusung Merah Putih dan Garuda Pancasila dalam segenap karya-baktinya.

Tidak banyak orang yang tahu bahwa Onye, yang mengemban posisi bergengsi sebagai Kepala Divisi Integrasi Bisnis pada Direktorat Aerostructure PTDI, adalah seorang yang ulet mempertahankan hidup PTDI melalui negosiasi-negosiasi bisnis dengan berbagai industri dirgantara kelas dunia agar PTDI dapat bertahan.

Tidaklah mengherankan jika beberapa kalangan menjulukinya sebagai negosiator ulung. Tampaknya, tidak berlebihan pula jika ada orang yang mengatakan bahwa Onye adalah penyelamat PTDI dan industri dirgantara Indonesia pada umumnya. Tak ketinggalan pula kisah tentang komitmen Onye bagi lingkungannya, khususnya bagi gereja, generasi muda, dan komunitas lintas agama.

Fakta lain yang membuat trenyuh adalah kesederhanaan hidup Onye. Tanpa bermaksud mendramatisasi kenyataan, saya mengutip komentar pendek Bobby, “Bahkan hidup seorang pramugari pun lebih mewah dibanding Onye.” Sila dimaknai sendiri

Genap sudah semboyan “Profesional | Peduli | Sederhana” mengejawantah dalam diri seorang Kornel M. Sihombing. Dia adalah contoh par excellence seorang manusia, yang punya kejelasan visi dan misi, serta kegairahan penuh daya dalam menyublimasikan dirinya dalam tindakan.

Itulah sosok Onye dalam berbagai potongan yang dituturkan secara ringkas oleh para sahabat Onye dari berbagai jurusan dan angkatan. Dalam hati saya hanya bisa bergumam, “Betapa besar makna hidupmu bagi banyak orang, kawan. Saya kehilangan dirimu. Kami kehilangan engkau.”

Sekitar jam 12, satu demi satu anggota gerombolan kaus putih meninggalkan lokasi untuk meneruskan hidup masing-masing.

Onye sudah pergi namun jejaknya dalam hidup kita mungkin masih lama akan terukir abadi karena dia sudah menyentuh relung terdalam hidup kita dengan kesungguhan dan totalitas dirinya.

Selamat jalan, Onye. Semoga kau tadi tersenyum tatkala kami, kawan-kawanmu dari Jurusan Mesin, mengumandangkan seruan kebanggaan kita di bawah komando Gembong, Ketua Ikatan Alumni Mesin ITB kita:

Yell, boys! Yeah!

Yell, boys! Yeah!

Yell, boys! Yeah!

Union, union, machine strong!

Union, union, machine strong!

Union, union, machine strong!

Solidarity forever

Solidarity forever

Solidarity forever

For union machine strong!

Yell, boys! Yeah!

 

*Oret-oret di saat ngopi sendiri @Pacific Place

*Rudolph Damanik