Onyek Mewarisi Karakter Kepahlawanan Ibunya

Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, tidak serta merta memberikan kebebasan kepada rakyat Indonesia. Tentara Jepang di Indonesia segera dilucuti oleh tentara Sekutu, menyusul kekalahan Jepang terhadap Amerika di Asia Pasifik pada bulan Agustus 1945. Kedatangan tentara Sekutu ke Indonesia dimanfaatkan oleh tentara Belanda untuk menguasai Indonesia yang ditinggalkannya pada tahun 1942. Tentara sekutu segera menempati kota-kota strategis di Jawa dan Sumatera seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan.

Konsolidasi pasukan Sekutu di Bandung memerlukan logistik, yang dikirim lewat jalur darat dari Jakarta ke Bandung melalui Bogor, Sukabumi, Cianjur. Iring-iringan kendaraan logistik sering mendapat gangguan dari para pejuang tanah air, yang tidak menghendaki kembalinya tentara Belanda. Pertempuran yang terkenal terjadi di Bojong Kokosan, yang terletak antara Cibadak dan Cicurug, Sukabumi. Pertempuran itu menimbulkan korban yang cukup banyak bagi tentara Sekutu.

Untuk mengamankan pengiriman pasukan dan logistik, tentara Belanda yang menjadi bagian tentara Sekutu, menempatkan pasukannya di Sukabumi dan bermarkas di Gedung SOG, yang sekarang menjadi kantor Dinas Pekerjaan Umum Kodya Sukabumi. Gedung SOG ini berbatasan dengan jalur rel kereta api di sebelah selatan dan sungai Cipelang di sebelah barat.

Di sebelah barat daya gedung SOG, ada sebuah kampung bernama kampung Raweuy. Para pejuang kampung Raweuy sering melakukan gangguan terhadap markas tentara Belanda ini melalui serangan “hit and run” pada malam hari. Keesokan harinya, semua kaum bapak, baik pemuda dan orang tua bersembunyi di hutan untuk menghindari razia tentara Belanda.

Tentara Belanda memberikan ultimatum kepada para pejuang untuk menyerahkan diri. Kalau tidak, mereka akan membumihanguskan kampung Raweuy. Sampai batas waktu yang diberikan, tidak ada satupun para pejuang yang menyerahkan diri, dan tentara Belanda kehilangan kesabaran. Segera, pagi-pagi mereka mendatangi kampung Raweuy dengan senjata lengkap.

Untuk masuk ke kampung Raweuy, tentara Belanda harus melewati jalan berbatu, di mana ada satu rumah milik keluarga Jonas Sinagabariang, yang sudah tinggal puluhan tahun di kampung tersebut, merantau dari tanah Batak sejak awal tahun 1900.

Melihat tentara Belanda lewat di depan rumah, seorang anak gadis pak Jonas bernama Lina, yang pada saat itu berusia 18 tahun, menyapa tentara Belanda dengan menggunakan bahasa Belanda. Lina bisa berbahasa Belanda karena mendapat pendidikan di SMP berbahasa Belanda, MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).

Sapaan Lina dalam Bahasa Belanda mengagetkan tentara Belanda, karena mereka tidak menyangka di kampung terpencil seperti itu ada seorang gadis yang bisa berbahasa Belanda. Terjadi dialog dan akhirnya mereka masuk ke rumah keluarga Sinagabariang. Mereka semakin terheran-heran setelah mengetahui bahwa keluarga Sinagabariang adalah perantau dari daerah yang sangat jauh, dari pulau Sumatera bagian utara.

Setelah cukup lama berdialog, akhirnya Lina dengan berani meminta agar tentara Belanda tidak melanjutkan niatnya untuk masuk ke kampung, menangkap para pejuang dan membumihanguskan kampung itu. Pada akhirnya tentara Belanda kembali ke markasnya dan selamatlah seisi kampung itu. Tidak ada yang tahu persis apa alasan tentara Belanda membatalkan rencana mereka, tentunya itu terjadi setelah adanya pembicaraan, perdebatan yang panjang dengan gadis berusia 18 tahun bernama Lina Sinagabariang itu.

Keberanian, keterampilan bernegosiasi, dan kepahlawanan Lina tercermin dalam diri Onyek yang adalah anak keempat dari Lina Sinagabariang. Ya, betul! Onyek mewarisi karakter ibunya yang berani tetapi tetap bisa lembut.

Saat ibunya, Lina Sinagabariang, dipanggil Tuhan di Sukabumi pada tahun 1999, Onyek sedang menjalani tugas belajar program Master di Belanda. Sayang, Onyek tidak sempat kembali ke Sukabumi untuk menghadiri pemakaman ibu yang dikasihinya. Dalam beberapa tahun terakhir, setiap bulan Desember, Onyek dan keluarganya selalu datang ke Sukabumi untuk bertemu dengan keluarga Sinagabariang dan berziarah ke makam ibunya.

Sepertinya Onyek belum puas menyatakan kasih kepada orangtuanya, tetapi kasih yang melimpah itu Onyek berikan dengan tulus kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Onyek meninggalkan warisan yang berharga, yaitu; sikap hidup rela berkorban, peduli, berani bersikap dan hidup sederhana.

Sampai saat ini keluarga Sinagabariang masih tinggal di kampung Raweuy dan hidup berdampingan dengan damai bersama penduduk kampung.

Sumber: cerita lisan dari saksi mata, Bapak Nicolas Sinagabariang (Om Nick), adik dari Lina Sinagabariang.

Perkasa Sinagabariang,
VP Operation di CNOOC

Proses Menjadi Seorang Hamba

“Onye yang superior”, begitulah kesimpulan dari semua tulisan, komentar, kesan dan kenangan dari orang-orang yang mengenal maupun dekat dengan kehidupan Onye.

Sebagai adik (bungsu laki-laki), saya sangat bersyukur memiliki abang seperti Onye, Cican dan Iwan. Bagi saya, mereka bertiga konsisten mengikuti prinsip yang sudah menjadi semboyan keluarga; Menjadi manusia yang “physically strong, morally straight, dan mentally awake”.

Motto itu pernah ditulis dengan spidol hitam pada softboard di dinding kamar rumah kontrakan Onye dan teman-teman di Ciheulang. Semboyan itu sepertinya tumbuh perlahan di dasar hati kami anak-anak keluarga HT. Sihombing, sampai semua beranjak dewasa.

Semboyan itu melekat karena papi, yang selama hidupnya sangat sering membagikan pengalaman, prinsip, dan cara-caranya dalam menyikapi hidup. Hampir setiap hari, setelah selesai makan malam, kami berkumpul sebentar mendengarkan papi bercerita. Onye terlihat antusias setiap kali mendengarkan cerita papi.

Saya sudah terbiasa dengan superioritas Onye, karena kami memang tumbuh bersama. Saat bersekolah di SD Santo Yoseph Medan, Onye sudah menunjukkan bahwa dia memang cemerlang dan populer.

Saya masih ingat sewaktu kami berdua mengikuti kelas katekisasi, yang waktu itu dibina oleh Pendeta Iskandar dan Albertus Patty. Saa itu Onye sangat sibuk, mengikuti berbagai kegiatan di kampus ITB, sehingga beberapa kali dia tidak bisa hadir di kelas katekisasi. Tak lama setelah itu, kami dibaptis – waktu itu GKI MY masih di SMAK Dago. Setelah sidi, saya meninggalkan Bandung, melanjutkan kuliah di Yogya.

Saya bisa merasakan masa-masa sulit yang dijalani Onye. Karena memang sangat berat bagi seorang yang terbiasa menjadi unggul kemudian hidup dengan mentalitas hamba (Tuhan). Karena seorang yang superior akan selalu menyatakan diri “mampu mewujudkan apa yang saya mau”, sedangkan seorang hamba Tuhan akan selalu “memohon supaya mampu melakukan apa yang Tuhan mau”.

Kenyataannya, Onye sudah melampaui harapan papi. Tidak hanya physically strong, morally straight, mentally awake, tetapi juga setia dan taat kepada Tuhan yang dia sembah sampai akhir hidupnya.

Bagi saya pribadi, sebagai adik sekaligus sahabat, saya belajar untuk memahami bahwa  peristiwa yang terjadi di Gunung Salak, 9 Mei 2012 silam, bukanlah suatu tragedi, tetapi itulah cara Tuhan memanggil hambaNya pulang.

Seusai acara Memorial Service: Grace and Serve, 15 Juni lalu, yang bertepatan dengan tanggal lahir Onye, saya sudah menguatkan hati. Tak ada lagi yang perlu dirisaukan, Onye meninggalkan istri yang saleh dan tangguh, serta anak-anak yang hebat.

Kami akan mendukung Kak Indri dalam melanjutkan kehidupan, juga dalam membimbing serta merawat Korin dan Luhut, karena mereka adalah anak-anak kami juga.

Selamat jalan abang terkasih, selamat jalan sahabat yang hebat. Sampai berjumpa lagi kelak di tempat yang sempurna….

Uca’ (Musa Sihombing – Sihombing Junior IV)

Bang Onye Meninggalkan Semangat Baru

Masih terasa di relung kalbu
Saat itu kami kelompok Pasutri GKI MY
Berkemah di Gunung Puntang

Terlihat kemesraanmu dengan Tante Indri
Kedekatanmu dengan buah hatimu
Sesosok ayah yang sangat mencintai keluarga

Sampai saat pesawat Sukhoi Superjet 100
Yang Tuhan rencanakan
Menabrak Gunung Salak
Dan engkau turut di dalamnya

Kami semua menangis
Melihat berita berita di televisi
Yang sungguh menusuk hati

Tapi ketika melihat Tante Indri yang tetap tegar
Melihat Korin dan Luhut yang masih ceria
Kami ikut bertahan, kami berusaha tegar

Tuhan telah memberikan Bang Onye di tengah-tengah kami
Sebagai motivator, sebagai orang yang bijaksana, sebagai pemersatu keluarga
Tuhan pula yang boleh memanggil engkau

Pesawat Sukhoi yang boleh mengantarmu ke kota indah itu
Engkau kini sudah bahagia dan tenang
Engkau kini sudah mendarat ke pangkuan Bapa

| Yohanna Novathalia |

Lilin Harapan Bang Onye

Di tengah banyaknya persoalan di Indonesia, wajar saja jika banyak yang bercita-cita untuk segera pindah ke luar negeri dan meninggalkan negeri ini. Berita keterpurukan negeri yang “ditembakkan” berbagai media massa secara membabi buta, mematikan satu hal: Harapan. Banyak yang beranggapan bahwa tak ada lagi harapan bagi negeri ini.

Wajar saja, di mana-mana diberitakan tentang gerbang-gerbang kehancuran. Dunia politik yang semakin mementingkan kepentingan diri sendiri dan kelompok. Dunia hukum yang diobral. Dunia ekonomi yang kian ganas. Semua orang hanya memberlakukan prinsip SDM, Selamatkan Diri Masing-masing.

Tapi kemudian pada awal Maret 2012, saya bertemu sosok sederhana, sosok inspiratif. Tak sampai satu jam saya berbincang dengannya, namun banyak hal yang menggugah saya. Sosok itu adalah Bang Onye, demikian sapaan akrab Kornel Mandagi Sihombing.

Negara yang kian tenggelam dalam kebobrokan ini tak dilihatnya sebagai petaka. Justru ia memilih berpikir positif dalam melihat keadaan negara Indonesia, bahwa inilah pintu kebangkitan, bukan ambang kehancuran. “Hidup itu adalah pilihan,” katanya. Ya, kita bisa memilih untuk berpikir positif atau negatif. Terus berharap atau mematikan harapan. Bang Onye memilih untuk terus menyalakan lilin harapannya.

Ketika itu ia berbicara tentang pentingnya kebangkitan kaum muda yang dapat menginspirasi banyak orang. Menurutnya, inilah waktu yang tepat bagi generasi muda untuk melakukan tindakan kongkrit bagi bangsa ini, anak-anak ibu Pertiwi. Ada banyak hal yang bisa dilakukan, salah satunya melalui menulis.

Kasih dan cintanya akan Indonesia diwujudkan Bang Onye salah satunya lewat ikut mendirikan www.fokal.info. Di situs ini, visi-visi yang baik dan mulia tentang Indonesia yang lebih baik disebarluaskan melalui tulisan ke berbagai penjuru negeri. Tulisan karya putra-putri bangsa yang memiliki harapan yang baik atas Indonesia.

Visi-visi tersebut diucapkan Bang Onye dalam kalimat-kalimat sederhana yang menggugah saya. Dalam perbincangan singkat tersebut, saya dapat menilai bahwa ia merupakan sosok cerdas, kreatif, dan rendah hati. Pribadi Bang Onye juga sempat saya tanyakan pada kakak saya yang cukup mengenalnya. “Dia orang yang baik, dan peduli pada anak-anak muda,” ungkap kakak saya melalui SMS singkat.

Satu hal yang paling saya ingat dari percakapan dengan Bang Onye, bahwa cinta dan kasih diwujudkan dengan tindakan nyata. “Kehadiran kita di tengah-tengah mereka mewujudkan kasih kita. Dengan hadir berarti kita mengasihi,” demikian ungkapnya. Ucapannya terbukti ketika ia hadir di Pelatihan Menulis Fokal.info, Sabtu (5/5) silam. Di sana ia membagikan semangat menulis bagi beberapa anak muda yang menjadi peserta pelatihan.

Meskipun sosok Bang Onye tak lagi hadir di tengah-tengah kita, namun kasih, pemikiran, dan visinya akan selalu hadir dan menjadi motivasi untuk terus menyebarluaskan visi yang baik dan menginspirasi orang lain.***

| Destyananda Helen |

Abang yang Cerdas dan Sederhana

Di salah satu sudut tempat parkir motor, terlihat seorang pria dengan jaket hitam bersiap-siap mengendarai motornya. Sambil mempersiapkan motor, ia terlihat berbincang dengan beberapa orang kawan dengan asiknya. Parasnya yang ceria dan bersemangat menutup kelelahannya setelah hampir seminggu bekerja. Ketika saya mendekat, dengan senyum ramah ia menyapa dan menanyakan kabar.

Itulah saat-saat terakhir saya bertemu dengannya di Bandung. Kornel Mandagi Sihombing atau yang akrab dipanggil Bang Onye. Seorang petinggi PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI) yang bervisi memajukan industri pesawat terbang di Indonesia.

Sosoknya yang sederhana walaupun ia seorang Vice President Bussines Integration membuatnya disukai banyak orang termasuk keluarga, rekan kerja, mahasiswa bimbingannya, bahkan rekan-rekannya di gereja dan kegiatan lintas agama.

Keceriaan dan semangatnya seakan bisa menular kepada orang-orang disekitarnya dikala rekannya menghadapi kesulitan. Salah satunya ketika bisnis BUMN itu pernah dinyatakan bangkrut sewaktu bernama IPTN. Ia meminta saya membantu dalam doa agar bisnis tersebut bisa bangkit lewat kerja kerasnya bersama teman-teman.

Kata-kata yang paling mengena dan diingat sampai sekarang, Kalau Tuhan mengijinkan saya menjadi orang nomor satu dalam bidang bisnis aero-structure atau buka bisnis disitu, saya akan mempersiapkan diri ketika amanah itu diberikan.” Kata-kata ini terlontar saat sedang diwawancarai untuk dimuat dalam salah satu media internet.

Bang Onye memiliki cita-cita besar untuk membangun bisnis kedirgantaraan. Ia juga sangat mencintai Indonesia, hal ini dibuktikan dengan bertahan dan justru terus mengembangkan bisnis aero-stucture di PT DI saat banyak temannya yang memilih untuk keluar.

Keberhasilannya dalam pekerjaan juga tidak lepas dari kerja keras, kecerdasan, dan komitmen yang diembannya. Ia mendasarkan kehidupannya pada SHAPE yang diutarakan oleh Rick Warren. SHAPE adalah singkatan dari spirituality, heart, ability, dan experience.

Teori ini menjelaskan bahwa setiap orang harus mengetahui tujuan hidupnya yang bisa terlihat dari kegemaran yang dicocokan dengan kemampuan lalu mengembangkannya agar bisa mewujudkan visi. Beranjak dari itulah, ia menjadi sosok yang tekun dan bertanggung jawab.

“Saya memilih jadi apa dan mau kemana dilihat dari kontribusi saya terhadap orang lain. Kalau kontribusi saya semakin signifikan, berarti saya merasa di tempat yang benar. Kalau saya ada di suatu posisi dan terus bertumbuh, saya percaya itu tempatnya. Nah misi yang saya inginkan saat ini adalah membuat industri pesawat terbang dan menjadikan PT DI sebagai salah satu industri yang bisa diandalkan di Indonesia.” Ungkapnya dengan penuh semangat saat saya wawancarai tahun lalu.

Selain aktif dalam pekerjaannya, ia juga dikenal sebagai sosok yang berperan penting dalam dunia pendidikan, pluralisme, dan keagamaan. Kegemarannya dalam membagikan ilmu dan pengalaman yang ia dapatkan telah mengantarnya untuk mengajar di Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB), Bandung.

Bukan hanya itu saja, ia juga pernah menjadi pembicara dan pelatih pada tujuh Leadership Training di GKI Maulana Yusuf, Bandung. Salah satu ilmu yang selalu ia tekankan kepada anak didiknya adalah plan, do, check, action .Karena ia sendiri menggunakan dalam pekerjaan dan kegiatannya sehari-hari. Ia tidak pernah membagikan ilmu maupun pengalaman yang didapatkannya setengah-setengah. Ia bahkan seringkali memotivasi anak didiknya.

Bang Onye juga adalah orang yang memiliki pikiran terbuka dan mendukung adanya pluralisme. Tidak heran jika ia bergabung bersama dengan rekannya, Jeffrey Samosir dalam mendukung Deklarasi Sancang. Semenjak tahun 2007, ia aktif mendukung kegiatan-kegiatan lintas agama.

Tidak hanya hubungannya dengan orang-orang di luar saja yang terjalin dan berjalan dengan baik. Hubungan dalam keluarganyapun dapat dikatakan sangat baik. Sebagai anak ke-4 dari 6 bersaudara, Bang Onye kerap kali membantu saudaranya dan mengumpulkan mereka saat event keluarga tertentu. Misalnya Natal. Bang Onye juga sangat menyayangi keluarganya dan rindu untuk berkumpul dengan anak-anaknya setiap pulang kerja.

“Saya senang sekali saat ini, akhirnya bisa pulang kerja cepat dan bisa bertemu anak-anak lebih lama. Kan biasanya kalau saya berangkat kerja, baru bertemu sebentar, dan kalau saya pulang anak-anak pasti sudah tidur. Ternyata membawa kerjaan ke rumah dan mengerjakan bersama anak justru lebih menyenangkan walaupun mereka suka tanya-tanya,” ungkapnya dengan penuh kebahagiaan saat berbincang ringan dengan saya.

Kini, sosok Bang Onye menjadi kenangan terindah bagi setiap orang yang mengenalnya. Tragedi Sukhoi mengingatkan akan segala kiprahnya dalam bisnis kedirgantaraan, kesukaannya terhadap pesawat terbang, dan sosok pria sederhana serta cerdas yang dimiliki bangsa ini.

Indonesia patut berbangga dan mengenang seorang Onye yang sudah berperan penting dalam kemajuan industri pesawat di Indonesia. Kini anak-anak didikannyalah yang akan melanjutkan visinya kedepan.

| Contasia Christie |

Bang Onye Selalu Optimis dan Semangat

“Saya telah berduka, karena saya kehilangan salah satu abang hebat saya…

Saya tidak pernah menyangka, kalau saya akan kehilangan abang hebat saya secepat ini. Di kepala saya hanya ingin membayangkan segala kemungkinan terbaik yang terjadi. Tapi ternyata badai itu tetap datang, menerjang di saat yang kita tidak ketahui. Terasa sangat pahit saat membayangkan tidak akan bertemu lagi dengan abang saya ini.

Bang Onye sangat sederhana, walaupun begitu hidupnya sangat bahagia dengan istri dan dua anaknya. Dia  bisa memilih untuk hidup di rumah mewah dan megah, tetapi hal itu tidak dilakukannya.

Dia memilih tinggal di rumah yang sederhana tapi terasa megah dengan kasih sayang di dalamnya. Layaknya seorang abang, dia merangkul semua orang dan menjadi pendengar serta seorang motivator yang baik. Ia selalu bersemangat dan optimis.

Pergumulan datang terus-menerus menyesahnya, tetapi dia semakin berkembang. Bukan menjauhi Tuhan, tetapi semakin erat denganNya. Di tengah pergumulan dan di tengah masalah yang dihadapinya, dia masih tetap bisa memotivasi sekelilingnya. Betapa beruntungnya saya mengenal Bang Onye!

Satu hal yang sangat saya ingat di kepala saya hingga kini. Saat itu saya masih duduk di bangku SMA. Abang saya itu bilang, “Seseorang harus mengenali betul apa yang Tuhan mau dihidupnya, dari situ ia punya tujuan dan bisa tahan proses karena tahu tujuan hidupnya. Tipsnya supaya sanggup hadapin proses hidup coba setiap saat kita buat plan, do, check, and action. Coba terus, evaluasi terus hingga nanti kita nemu jalan keluar.”

Bang Onye salah satu pendiri fokal.info, sebuah media online non profit. Mungkin kalau diukur dengan media-media lain pasti kalah telak dalam hal cari keuntungan. Tapi, ada satu alasan penting mengapa Bang Onye, Om Albertus Patty, dan Bang Jeffrey Samosir mendirikan media ini. Mereka ingin anak muda berkembang, lewat tulisan.

Lewat tulisan, seseorang bisa berbagi ilmu dan lewat tulisan seseorang dikenal dunia. Bukan untuk memperkaya diri, bukan untuk menjadikan diri jutawan, tetapi memikirkan anak muda supaya bisa berkembang dan diingat sebagai agen pencerdas bangsa.

Kata-kata terakhirnya saat itu yang saya ingat, Nggak ada artinya undang motivator paling ulung di dunia, paling mahal sekalipun untuk kasih sesi khusus buat kita kalau masalahnya ada di dalam diri kita. Kitanya yang nggak mau berkembang ya bakal gitu-gitu terus. Coba berkarya, lewat tulisan. Minimal dengan nulis, kita mengembangkan diri kita.”

Saya memang telah berduka, tetapi saya mau punya harapan baru. Harapan yang tidak pernah terbatas. Selalu optimis dan bersemangat, seperti abang hebat saya, Kornel Mandagi Sihombing.

“Bang, makasih ya udah ingetin aku supaya nggak lihat kanan kiri untuk tahu maunya Tuhan di hidupku. Aku mau seperti abang, jadi seperti apa yang Tuhan mau. Aku mau kembangin diriku…”

| Sorta Lidia Caroline |

 

Kornel M. Sihombing Sebagai Sebuah Visi

Sosok inspiratif berdedikasi, konon katanya, akan lebih cepat “pergi” dan meninggalkan kita, daripada individu berkepribadian bobrok. Kami tak mau percaya begitu saja, karena bagi kami, sosok seperti itu yang membuat negeri ini tetap bertahan dari berbagai terpaan dan cobaan.

Gunung Salak, Rabu, 9 Mei 2012, menjadi saksi bisu bahwa kami harus menghadapi kenyataan yang enggan kami percayai. Kami akhirnya harus “ditinggal” oleh seorang ayah, abang, mentor, sekaligus rekan kami, Kornel M. Sihombing.

Bang Onye, begitu ia akrab dipanggil, “pergi” meninggalkan kami ketika ia menunaikan tugasnya di angkasa Nusantara. Kepergiannya membuat kami berpikir ulang. Siapa yang akan menjadi panutan bagi kami di masa mendatang? Siapa yang mampu mengayomi kami? Siapa lagi yang bisa memberi contoh tanpa harus berkesan menggurui?

Berbagai pertanyaan dalam pikiran, membuat kami menelusuri memori kami atas Bang Onye. Kami teringat berbagai motivasi dan inspirasi dari Bang Onye. Dedikasinya kepada negeri melalui kedirgantaraan, pelayanannya kepada jemaat di gereja, hingga komitmennya untuk membangun generasi muda.

Bang Onye pernah berkata bahwa generasi muda membangun dirinya bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi agar bisa memberi lagi kepada orang lain. Kami yang selama ini hanya berorientasi pada diri sendiri akhirnya tersadar, keunggulan individu tidak akan ada artinya jika luput untuk dibagikan kepada orang banyak.

Tak hanya berhenti dalam perkataan, Bang Onye berperan besar dalam membangun berbagai wadah bagi generasi muda, yang sedang berada di persimpangan dan mencari jati diri. Wadah tempat kami bercengkrama, berdiskusi, berbincang, dan mengambil inspirasi dari sosok Bang Onye.

Sungguh luar biasa ketika kami juga melihat konsistensi perkataan dan perbuatan Bang Onye. Kami melihat ia sebagai sosok yang memberi contoh melalui perbuatan dan bukan sekedar ucapan manis di bibir saja.

Sosoknya yang besar, tak membuat Bang Onye menjadi silau. Ia tetap menjalani kesederhanaan dalam kehidupannya, sesuatu yang semakin jarang kita temukan dalam keseharian di negeri ini.

Berbagai memori atas Bang Onye membuat kami tersadar bahwa ia bukan lagi individu belaka. Bang Onye telah bertransformasi menjadi sebuah ide, sebuah visi, dan sebuah konsep.

Kepergiannya membuat kami menangis. Tetapi tangisan ini adalah sebuah titik tolak bagi kami untuk meneruskan ingatan, ucapan, dan inspirasi dari Bang Onye. Tangisan ini akan menjadi awal bagi kami untuk meneruskan Bang Onye sebagai sebuah visi.

| Redaksi fokal.info |

Absurditas!

Pertanyaan absurd ribuan orang ketika menangisi kematian Kornel Sihombing adalah: ”Mengapa Kornel, seorang jujur dan cerdas, penatua gereja yang kreatif, aktivis lintas agama yang cinta damai, dan seorang yang, dengan caranya sendiri, berkomitmen membela kepentingan karyawan dan bahkan kepentingan bangsa melalui PT Dirgantara Indonesia ‘dipanggil’ terlalu cepat oleh Tuhan?”

Bagaimana mungkin orang sebaik Kornel malah dibiarkan Tuhan pulang ke rumahNya mendahului kita? Ini bukan sekedar sebuah pertanyaan, tetapi suatu protes, bahkan kemarahan.

Di wall FB saya, seorang rekan menumpahkan kegusarannya terhadap “kehendak Tuhan” atas diri Kornel. Rekan saya itu protes sangat keras. Dia seperti seorang anak yang menangis sekuat-kuatnya ketika mainan kesayangannya diambil orang tuanya. Pada wall FB itu, ia melontarkan bukan lagi  pertanyaan, tetapi sebuah somasi, gugatan kepada Tuhan.

Saya pernah mendengar rentetan pertanyaan, keluhan bercampur kemarahan yang sama kerasnya ketika Tuhan memanggil Munir, Nurcholis Madjid dan Gus Dur kembali ke haribaan-Nya. Orang-orang ini adalah pejuang kemanusiaan. Mereka berbicara untuk rakyat dan bersama rakyat.

Mereka adalah orang yang mencintai setiap orang dan dicintai siapapun. Mereka adalah perwujudan dari hampir seluruh idealisme bagaimana menjadi manusia yang ideal yang ingin kita raih. Mereka adalah teladan! Pancaran cinta yang mereka lontarkan melalui kata dan aksi meresap hingga ke tulang sumsum kita.

Tetapi, ketika kita tenggelam dalam arus cinta mereka, dan justru ketika kita dan segenap rakyat yang tertindas di negeri ini membutuhkan mereka, Tuhan meraup mereka. Tuhan merebut mereka secara sewenang-wenang, dari tengah-tengah kita. Lalu, kita pun limbung, kehilangan pegangan. Protes keras pun dilontarkan kepada Tuhan yang secara otoritatif menerapkan kebijakanNya.

Kalau boleh jujur, bagi banyak orang, Tuhan telah melanggar prinsip HAM dan demokrasi. Tuhan mengambil secara sewenang-wenang apa yang justru paling kita kasihi. “Blue-Print Tuhan,” mengutip istilah Kornel, sungguh absurd, tidak masuk akal!

Hasrat Reptilian

Sebenarnya, dalam hasrat ‘reptilian’ yang mendorong nafsu dendam, kita berharap mestinya bila Tuhan benar-benar adil, seharusnya Tuhan memberi azab dan sengsara bahkan mencabut nyawa para ratusan koruptor yang menggerogoti kekayaan bangsa kita, bukan mencabut nyawa Kornel Sihombing, manusia jujur yang masih numpang di rumah mertua meski posisinya di PT DI sudah sangat tinggi.

Seharusnya Tuhan mencabut nyawa para penindas dan para pelaku ketidakadilan yang mengotori ranah keIndonesiaan kita, bukan mengambil nyawa Gus Dur atau Cak Nur. Gereja dan Indonesia lebih membutuhkan Kornel Sihombing yang cinta damai daripada pelaku-pelaku anarkisme dan kekerasan.

Dalam hasrat reptilian, kita berharap Tuhan mencabut nyawa orang-orang jahat itu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Yang menyedihkan adalah hasrat reptilian kita tidak diakomodasiNya. Sebaliknya, Tuhan justru memanggil pulang orang-orang baik dan pejuang kemanusiaan yang penuh cinta seperti Munir, Gus Dur, Asmara Nababan, dan Kornel Sihombing dalam kemuliaanNya.

Kalau bisa, kita memprotes kebijakan Tuhan bahwa seharusnya orang-orang baik inilah yang diberi kesehatan dan umur panjang! Bukan dicabut nyawanya secepat itu. Lalu apa maunya Tuhan dengan kebijakan anehNya itu? Sebuah absurditas! Kita berhadapan dengan suatu ketidakmasukakalan!

Berhadapan dengan absurditas Tuhan, kita menjadi ‘stuck’, tidak berdaya. Jangankan mencari jawaban, untuk mengajukan pertanyaan pun kita tidak sanggup. Sesungguhnya teriakan dan tangisan kita terhadap kebijakanNya adalah letupan ketidakberdayaan. Kita merasakan kerapuhan yang luar biasa.

Mungkin kita tidak akan pernah menemukan jawaban atas rencanaNya. Inilah sebentuk ketidakberdayaan kita! Vulnerability! Tetapi, inilah yang juga dialami Paulus ketika dalam kerapuhannya ia mendengar suara Tuhan berkata: ”Justru dalam kelemahanmulah, kuasaKu semakin sempurna.”

Integritas

Saya menangis ketika mendengar kecelakaan pesawat Sukhoi di mana Kornel ada di dalamnya. Saya mengikuti terus, siang dan malam, perkembangan pencarian pesawat Sukhoi dan nasib Kornel. Sulit bagi saya untuk tertidur. Hari-hari itu menjadi sangat meletihkan. Dan tiba-tiba, saya sadar betapa berharganya Kornel bagi saya. Kornel telah menjadi bagian hidup saya, bahkan menjadi bagian hidup kami keluarga.

Sondang, istri saya, menangis berhari-hari saat menantikan kabar tentang Kornel. Belum pernah ia semelankolis ini. Dan nampaknya kami tidak sendirian. Sangat banyak orang yang mencintai Kornel. Banyak orang yang ternyata, sama seperti saya, tidak bisa tidur hingga berhari-hari karena memantau perkembangan Kornel.

Ketika kabar tentang Kornel menjadi jelas bahwa Tuhan memanggilnya pulang, banjir air mata tidak tertahankan lagi. Semua kehilangan sahabat terbaik yang sangat dikasihi. Ketika melihat ribuan orang menangisinya, sempat terbersit pikiran nakal dalam benak saya, “Bila semua orang saja mencintainya, apalagi Tuhan. Pantaslah Tuhan segera mengambilnya. OK Tuhan! Kornel adalah milikmu. Tak ada seorang pun bisa menahannya.”

Bagi saya, Kornel bukan sekedar anggota jemaat atau seorang rekan penatua. Kornel adalah sahabat bahkan saudara yang sangat saya banggakan. Seingat saya inilah kali kedua saya menangis ‘berat’ ketika aktivis GKI Maulana Yusuf dipanggil Tuhan.

Kali pertama ketika Tuhan memanggil ibu Miranti Budiharto kembali kepangkuanNya. Saya menangis meraung-raung seperti anak kecil. Saya tak perduli bila orang menganggap saya cengeng. Memang, saya sangat terpukul karena hubungan saya dengan ibu Miranti sangat dekat bagaikan ibu dan anak. Kami selalu berdiskusi bersama tentang segala hal.

Kali ini, saya mengalaminya lagi. Kornel, sahabat dan saudara yang sangat saya hormati dipanggil oleh Tuhan. Saya menangis seperti anak kecil, tetapi kali ini tidak di depan umat. Saya bertekad tidak mau menangis di depan Indri, Korin dan Luhut karena saya takut akan menambah kesedihan mereka. Meski tekad itu bisa saya lakukan, tetapi kepala menjadi pening setiap kali menahan emosi.

Seminggu sebelum kepergiannya, kami sempat diskusi sambil ngopi bersama. Diskusi dan ngopi adalah aktivitas rutin yang sering saya dan Jeffrey Samosir lakukan bersamanya. Kami bertiga menaruh perhatian besar pada peningkatan kualitas generasi muda, pada kehidupan bergereja, berpolitik dan pada soal-soal lintas agama. Oleh karena itu, diskusi kami selalu meluas kemana-mana.

Kornel, juga Jeffrey, selalu menanggapi setiap persoalan dengan cerdas dan sangat dalam. Tidak ada yang sia-sia ketika berbicara dengan mereka berdua! Kornel, dan juga Jeffrey, adalah gudang inspirasi bagi saya. Kepada mereka, saya katakan, “Kalian berdua adalah pemikir, saya hanyalah tim doa.”

Beberapa hari sebelum kecelakaan Sukhoi, kami berkumpul lagi. Saya besyukur karena saat itu saya sempat mengatakan kepadanya bahwa setiap saya membutuhkan teman berdiskusi, dia adalah salah satu orang yang akan saya kontak. Saya ingin tegaskan saja betapa saya respek pada kecerdasannya, pada komitmen, dan terutama pada integritasnya. Ya, Kornel adalah pribadi yang berintegritas. Saya dan banyak orang mengalaminya!

Kornel sempat menceritakan kepada saya pergumulan beratnya dalam meniti karier di PT DI. Pilihannya hanya dua: bertahan atau hengkang total! Kalau melihat kondisi PT DI yang ketika itu carut-marut tanpa masa depan dibandingkan dengan tawaran yang menggiurkan dari perusahaan lain, siapapun pasti segera memutuskan meninggalkan PT DI.

Tetapi, Kornel memilih bertahan di PT DI. Suatu keputusan yang absurd dalam dunia di mana komitmen tergantung pada seberapa besar benefit yang diterima! Saya penasaran atas keputusannya yang absurd, benar-benar tidak masuk akal! Saya tanyakan alasannya untuk bertahan. Jawaban Kornel luar biasa. Ia bertahan demi membela nasib ratusan anak buahnya. Kagum saya! Kornel tidak ingin menyelamatkan dirinya sendiri. Ia memilih bertahan demi membela anak buahnya.

Ia seperti kapten kapal yang tidak akan pernah meninggalkan kapalnya sebelum yakin semua penumpang sudah selamat. Ditinjau dari teori psikologi kedewasaannya Kohlberg, keputusannya itu menempatkan Kornel sebagai manusia yang matang dan dewasa. Manusia yang lebih memikirkan  kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri. Ia manusia berintegritas!

Ketika kami berpisah, saya memandang kepergiannya sambil berkata dalam hati: “Inilah ciri orang besar! Meski ada peluang untuk pengembangan kariernya di luar sana, ia lebih memikirkan nasib dan masa depan orang lain.” Bagi saya, apa yang dibuatnya adalah sebuah khotbah yang hidup!

Dalam diri dan tindakan Kornel, Firman bukan kata-kata kosong yang sekedar diafal di luar kepala, tetapi telah menjadi aksi nyata! Sikap pelayanannya yang diinspirasikan oleh imannya terus berkobar dalam dadanya. Tak ada satu pun atau apapun yang bisa memadamkannya. Saya bangga kepadanya!

Mencintai Tuhan

Sama seperti kita semua, Kornel pasti punya banyak kelemahan. Betapa pun begitu, Kornel adalah tipe ideal bagaimana seorang Kristen seharusnya bersikap. Bagi orang seperti Kornel, gereja menjadi mata air pelayanan yang membuat cintanya kepada Tuhan tetap berkobar-kobar.

Kornel mencintai Tuhan. Inilah sumber komitmen dan integritasnya dalam segala aktivitasnya di tengah keluarga, di tempat kerjanya dan di tengah masyarakat.  Bagi Kornel, seluruh dunia menjadi gereja, tempat dia melayani dan mengabdi pada kemanusiaan dan kemuliaanNya.

Memang, Kornel telah pergi, tetapi komitmen, cinta dan integritasnya telah mempengaruhi dan menghidupi banyak orang, terutama kaum muda. Kornel dicintai sangat banyak orang. Ia layak dicintai karena ia memberikan diri dan hidupnya untuk mencintai dan untuk berjuang bagi kepentingan banyak orang.

Ketika jenazahnya disemayamkan di aula PT DI, ribuan orang dari berbagai kota, dari berbagai agama, gender dan etnik, berkumpul bersama. Kornel menyatukan kita semua. Saya tahu, semua orang mencintainya karena Kornel memang mencintai setiap orang. Cintanya pada setiap orang didasarkan pada cintanya pada TuhanNya. Di depan peti jenazahnya, tiba-tiba saya teringat lagu karangan David Graham:

In moment like this,

I sing out a song,

I sing out a love song to Jesus.

In moment like this,

I lift up my hands,

I lift up my hands to the Lord.

Singing I love You Lord.

Singing I love You Lord.

Singing I love You Lord.

I love You

Lagu itu membuat saya menangis, tetapi ia memberikan kelegaan spiritual! Kita harus belajar mencintai Tuhan ketika Dia menjalankan “blue printNya.”  Dalam hati saya berdoa: ”Tuhan, buatlah Indri, Korin dan Luhut setegar Ayub yang mampu berkata: Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah Tuhan.” Saya makin percaya itu karena keluarga mereka memiliki darah “Ayub”.

Masih di hadapan peti jenazahnya, saya berbisik: “Kornel, cinta, komitmen dan integritasmu akan terus berkobar di hati setiap orang yang pernah merasakan kehadiran dan pelayananmu.” Pergilah dengan damai sobat! Aku akan tetap merindukanmu! Moga suatu saat kita bertemu sambil berdiskusi dan ngopi bersama lagi!

| Albertus Patty |
Teman diskusi dan ngopi