1 Mega Volt Arus Kehidupan – Sebuah Eulogi untuk Onyek

Sebuah Dialog (1996)

“Begin with the end in Mind”  Habit 2nd – Steven Covey

“Eko, sini aku tunjukkan padamu workbook yang aku dapat kemarin!” Ujarnya sambil masuk ke kamar.

Aku bergegas masuk ke rumah kayu itu dan dengan penuh tanya menunggu apa gerangan yang akan ditunjukkan bang Onyek kepadaku.

Tak berapa lama sang tuan rumah keluar dan membawa segepok workbook dan membukanya diatas meja didepan kami.

“Nah, ini workbook yang aku dapatkan saat ikut workshop Seven Habit minggu lalu.”

Aku buka-buka workbook itu sambil sedikit iri dengan bang Onyek, saat itu di tahun 1996 aku baru mampu untuk numpang baca buku Seven Habit di toko buku Gramedia jalan Merdeka, sementara dia bahkan sudah mengikuti workshopnya yang aku tahu sangat mahal biayanya.

“Yang paling menarik habit yang mana bang?” Tanyaku penasaran.

“Semuanya sih menarik dan luar biasa, masing-masing habit memiliki kekuatan dan kedalaman sendiri, namun juga saling mendukung satu dengan yang lain. Kalau kamu bertanya mana yang paling menarik, habit ke-2 bisa menjadi pilihan,” panjang lebar bang Onyek menjelaskan.

“Begin with the end in mind” setengah bergumam aku membaca habit ke-2.

“Maksudnya apa ya bang?” Sambil agak malu aku bertanya karena pikiranku belum mampu mencerna kalimat itu.

“Habit ini mengajarkan pada kita untuk memiliki kebiasaan menetapkan tujuan dalam segala hal. Dengan memiliki tujuan yang jelas maka segala sesuatu yang kita lakukan menjadi terarah dan produktif.” Paparnya.

“Contohnya?” Pikiran dan otakku masih berusaha mencerna.

“Ini aku kasih contoh yang diajarkan di workshop, hidup kita sebagai manusia kalau tiba pada saatnya nanti kita mati, kita ingin dikenang sebagai apa? Ekstrimnya, bayangkan dirimu terbaring di peti dan ada banyak orang yang mengelilingi upacara penguburanmu. Ucapan dan memori apa yang kamu inginkan ada dalam pikiran mereka tentang kamu.” Panjang  lebar bang Onyek menjelaskan dan aku masih kebingungan.

Bang Onyek berhenti menerangkan dan tersenyum simpul melihat kebingunganku.

“Memang nggak mudah untuk memahaminya, aku coba terangkan dari sudut pandang kekristenan. Tujuan dari hidup orang Kristen adalah menghasilkan buah-buah roh seperti  yang tertulis pada Galatia 5 22 -23: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Dengan tujuan menghasilkan buah-buah roh itu maka hidup kita sebagai orang Kristen menjadi penuh makna, istilah kerennya so live!”

Bang Onyek mengakhiri penjelasannya dengan senyum lebar setengah tertawa. Dan aku mengangguk-angguk, sebenarnya bukan karena mengerti namun karena kagum akan kemampuannya menjelaskan konsep habit ke-2 dengan menarik bahkan bisa diletakkan dalam konteks kekristenan.

Halaman Sekolah Minggu (2007)

“Anak-anak luar biasa untuk orang tua yang luar biasa pula!” Kornel Sihombing 

Tarikan nafasku masih tersendat-sendat dan dalam, setiap minggu pagi aku dan istriku harus memiliki cadangan kesabaran untuk tetap membawa Tesa dan Jason datang kesekolah minggu. Sebagai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), perilaku dan cara mereka meresponse kondisi sekelilingnya berbeda dibandingkan dengan anak yang lain.

Sama seperti  yang barusan terjadi, Tesa mengamuk di lantai gereja dan butuh waktu yang cukup lama untuk menenangkannya. Tantrumnya memang sudah jarang muncul, tapi hiperaktif dan ngambeknya masih setia muncul termasuk di acara sekolah minggu yang diikutinya.

Seringkali kami berdua hampir jatuh dan putus asa untuk membawa dan mengajak mereka ke ruang publik seperti sekolah minggu, karena kami tahu pasti bahwa kami akan diuji kesabaran kami sampai habis. Namun disisi lain kami menyadari bahwa tugas kami untuk setia membawa mereka keluar dari rumah sebagai bagian dari terapi kehidupan mereka.

“Hi bro pa kabar?” Sebuah tepukan lembut dipundak mengagetkanku dari lamunan.

“Hi bang, baik selalu dong,” jawabku sambil menyodorkan tangan bersalaman ala pemain basket.

“Kapan kita bisa main tenis bareng lagi seperti dulu ya?” Bang Onyek bertanya membangkitkan memoriku dengan kegiatan yang rutin dilakukan beberapa aktivis GKI MY ditahun 90an.

“Iya nih bang, kapan-kapan kita main tenis bareng yuk, mumpung aku sekarang sudah kembali ke Jawa,” jawabku sambil melirik Tesa yang sedang meronta-ronta digendongan Santi istriku.

“Hallo Santi apa kabar? Tesa cantik kenapa menangis?” Bang Onyek menyodorkan tangan ke Santi istriku sambil mengelus kepada Tesa. Tesa sejak bayi merupakan teman Luhut anak bungsu bang Onyek di sekolah  minggu, umur mereka  yang hanya berjarak 3 bulan membuat kami sering bertemu di sekolah minggu termasuk saat sekolah minggu mengungsi di Bahureksa dan di Yahya.

“Yah beginilah bang, Tesa masih suka marah sendiri kalau ada sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya,” ujar Santi istriku.

Halaman di depan sekolah minggu di GKI MY itu sesaat terasa sunyi diantara ocehan dan teriakan anak-anak yang bermain perosotan dan perbincangan orang-orang yang selesai kebaktian. Sesaat kami tenggelam dalam lamunan.

Tesa masih mengumpulkan energi digendongan mamanya sementara tangan bang Onyek masih mengelus kepala anak sulungku itu. Tesa akrab dengan dia karena bertahun-tahun saat aku mengejar sesuap nasi di ujung timur Indonesia, bang Onyek dan mbak Indri banyak membantu Santi dalam beraktivitas termasuk di Pasutri.

“Aku mau share satu hal pada kalian berdua,” bang Onyek memecahkan kesunyian.

Kami berdua bangun dari lamunan tentang panjangnya “jalan perjuangan” membesarkan Tesa dan Jason yang terbentang di depan mata.

“Tesa dan juga Jason adalah anak-anak yang luar biasa.” Kami mencoba mengamini dan mengimani dengan sekuat hati ucapan bang Onyek barusan.

“Dan tahu nggak kalian, bahwa Tuhan hanya menitipkan anak-anak luar biasa kepada orang tua yang luar biasa!” Kami berdua terdiam tanpa kata, karena seakan-akan mendapatkan energi yang luar bisa untuk tetap kuat meneruskan kehidupan kami dan kehidupan anak-anak yang pantas dirayakan karena pasti akan menjadi sebuah kehidupan yang  luar biasa.

Sate Maulana Yusuf (2011)

“Pemimpin sejati adalah mereka yang tidak berhenti bertumbuh dan belajar.”  – Eko Utomo

“Biar aku yang bayar bang!” Ujarku buru-buru sambil mengeluarkan dompet.

“Nggak usah, kami sudah sangat berterimakasih kamu mau mengajarkan ke tim Fasilitator Leadership MY teknik melakukan fasilitasi yang dahsyat tadi,” bang Onyek memaksa dirinya yang mentraktir aku dan Santi di Sate MY.

“Masak dari aku masih mahasiswa sampai sekarang dirimu terus yang bayar bang?” Sambil setengah bercanda aku mencoba menawar.

“Fine, sekali lagi thank you ya sudah sharing ilmu kepada kami. Ntar kita lanjutkan diskusi dan apa yang bisa kita lakukan kedepannya. Kami butuh banyak bantuan dari kamu, bro!” Bang Onyek bersalaman dan pamitan karena sudah ditunggu mbak Indri di Gempol.

“Sama-sama bang, any time just let me know. Dengan senang hati aku akan membantu apapun yang aku bisa bantu,” Jawabku sambil melepas kepergiannya ke seberang jalan.

“Abang itu luar biasa, ma!” Kataku ketika aku kembali ke meja.

“Emang kenapa, pa? Bukannya bang Onyek dari dulu memang hebat dan jadi panutan kita-kita,” Santi menjawab sambil terheran.

“Ada yang lebih hebat lagi aku temukan hari ini.” Tukasku.

“Apa itu?” Semakin bertambah dosis keheranan mantan song leader GKI MY itu.

“Sebagai seorang senior dan panutan, bro Onyek tidak malu dan bahkan sangat bersungguh-sungguh belajar pada workshop hari ini!” Aku merefleksikan yang terjadi hari ini.

Bro Onyek adalah seniorku. Dia aktivis pemuda sejak tahuan 90an, dia sudah menjadi pembicara terkenal diseputaran Bandung, sementara aku baru belajar untuk menjadi MC di persekutuan pemuda dan hari ini, pembicara terkenal itu belajar pada yuniornya.

“Benar juga ya pa, bang Onyek mau belajar dari kamu  yang yuniornya.” Santi menemukan klik dibenaknya.

“Kualitas inilah yang membuktikan dirinya pemimpin sejati yang tidak pernah berhenti tumbuh dan belajar bahkan dari Yunior. Aku angkat topi tinggi-tinggi untuknya!”

Merayakan Kehidupan (2012)

“Mas Eko, bang Onyek salah satu penumpang Sukhoi,“ Aku baca sms yang baru masuk dari Richard.

Sesaat aku terdiam dan hanyut dalam seribu satu kenangan dan kecemasan akan keberadaan bro Onyek. Hanya doa yang bisa aku panjatkan saat itu, mengharap keajaiban muncul buat orang yang begitu setia dengan pengabdiannya.

“Pray for Sukhoi.” Aku tulis status di fbku.

“Lord, kalau boleh aku meminta, lindungi seluruh penumpang Sukhoi dan berikan keselamatan pada mereka. Namun aku tahu bahwa aku harus mengimani semua rencanaMu dan tidak satu peristiwapun terjadi tanpa ijinMu. Dalam segala kelemahan ini aku memohon belas kasihMu bagi mereka.”

“#Prayer for Sukhoi and my best friend bro Kornel “Onyek” Sihombing.” Statusku satu hari kemudian.

“Lord is your shepherd bro.” Statusku membaca informasi  penemuan jenazah bro Onyek yang sudah aku anggap seperti kakak sendiri.

Minggu malam aku dan Santi duduk berdua di ruang TV. Sunyi karena Tesa dan Jason sudah terbang di alam mimpi sesudah kecapaian karena perjalanan pulang-pergi kami dari Bandung.

“Aku lega sekarang, ma.” Aku membuka pembicaraan.

“Kenapa, Pa?” Istriku bertanya sambil bersender dibahu.

“Mbak Indri tegar banget, bahkan terlihat lebih tegar dari kita. Kemarin aku malah mendapatkan kekuatan dari dia agar tidak menangis saat bertemu dan bersalaman,” desisku setengah terharu.

“Betul pa, aku kemarin juga nggak jadi menangis. Aku juga mendapatkan kekuatan dari dia,” ujar Santi istriku menimpali.

Ruangan itu menjadi hening beberapa saat, hanya bunyi TV yang menjadi aksesoris malam yang dingin.

“Kalau mengingat bang Onyek, aku melihat begitu banyak hidup dan kehidupan yang ada didalam dirinya,” kataku pelan.

“Maksud papa?” Ujar Santi lembut sambil menoleh.

“Hidup si abang, banyak menjadi sumber semangat dan kehidupan orang-orang yang bersentuhan dengannya. Dari anak kecil sampai orang tua. Dari anaknya Douglas sampai ke almarhum pak Sukardi,” aku  mencoba melontarkan pikiranku.

“Betul sekali pa, aku juga merasakan hal itu,” istriku menganguk setuju.

“Mengenang kejadian 16 tahun lalu saat bro Onyek mengajariku tentang Seven Habit, apa yang diajarkan dia bukan hanya ada dikata namun menjadi nafas kehidupannya juga. Semua buah-buah roh itu ada pada dirinya dan semua orang mendapatkan semangat kehidupan darinya,” sambungku. Santi merespon dengan mengelus tanganku.

“Kehidupan bang Onyek patut dirayakan! Hidup dan kehidupannya begitu luar biasa dipakai Tuhan sehingga menjadi berkat bagi kita dan banyak orang,” dan suasana makin hening, sesekali bunyi jengkerik di taman menimpali bunyi  TV.

“Tugas selanjutnya ditangan kita,” ujarku singkat.

“Maksud papa?” Santi menggeliat sedikit heran.

“Ya untuk membawa obor yang dibawa bro Onyek, untuk gantian kita bawa dan angkat tinggi-tinggi.”

 

Sebuah Eulogy untuk merayakan hidup dan kehidupan bro Kornel “Onyek” Sihombing

BSD City dipagi hari, May 2012

Untuk anda yang merasakan dan merayakan kehidupan Kornel Sihombing

 

“Selamat jalan bro, sampai ketemu nanti dirumah bapa di Surga.

Sampaikan salamku untuk pak Sukardi.

Kalau ada lapangan tenis disana, kita teruskan pertandingan persahabatan kita nanti.”

| Eko Utomo |

One thought on “1 Mega Volt Arus Kehidupan – Sebuah Eulogi untuk Onyek

  1. Tidak ada habis2nya klo membicarakan abang satu ini…
    yang pasti dia sllu mengingatkan kita untuk menentukan apa tujuan kita hidup..
    dan selalu memotivasi n menginsirasi kita..
    Selamat Jalan Bang Onye..
    We miss n love U..sampai jumpa di kehidupan selanjutnya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *