Sepucuk Surat untuk Belahan Jiwa

Hai schaat! Mama kangen banget! Sudah lama tidak bertemu….”

Hari-hari terasa sepi tanpa kehadiran papa, tak terdengar suara jantan papa, tegas tapi penuh kelembutan. Air mata tak terbendung saat mama menulis surat ini, dada terasa sesak menahan kepedihan yang dalam, entah kapan akan terhapus.

“Gaat goed schaat?” Mama biasa tulis SMS singkat, kalau papa belum pulang kantor. Biasanya pula papa akan menjawab, “Baik ma, gimana keadaan mama hari ini?” Kadang mama tidak menjawab, tapi balik bertanya, “Papa pulang jam berapa, makan di rumah atau tidak?” Tapi kadang juga mama mengeluhkan banyak hal yang bikin mama kesal hari itu, baik tentang anak-anak yang lagi rewel, marah-marah atau tentang kejenuhan mama dan banyak lagi.

Mama ingat sekali, papa berkata, “Sabar ya ma, jangan lupa bersyukur.” Ah…. mama jadi malu karena mengeluhkan banyak hal, padahal mama tahu beban kerja papa di kantor lebih berat, karena anak buah papa kan jauh lebih banyak daripada jumlah anak kita yang cuma dua.

Pagi tadi mama jalan pagi sendiri. Kangen juga jalan sama papa sambil ngobrol ngalor ngidul tentang berbagai hal. Papa kan janji mau mendengarkan mama, karena selain olah raga, papa memang menyediakan waktu untuk mendengarkan mama. “Kalau malam kan papa biasanya asyik nonton TV untuk mengurangi ketegangan karena pekerjaan di kantor, jadi kalau pagi papa sediakan waktunya untuk mama, begitu selalu papa katakan.

Papa juga pernah bilang, ”Banyak lho yang iri karena mama disayang sama papa, ditemenin jalan pagi,  dipeluk dan jalan bergandengan tangan. Papa memang romantis, tapi juga humoris ya. Mama sering tidak kuat menahan tawa kalau papa sedang melucu dengan mimik muka yang  kocak banget.  🙂

Dada ini masih terasa sesak menahan tangis yang susah dibendung. Terlalu banyak kenangan yang manis yang pernah kita lalui bersama. Mama sering merasa jadi  lady, karena papa memperlakukan mama seperti seorang lady.

Oh ya pa, mama masih simpan SMS papa buat mama yang isinya, ”I have to many mates but you are my best and the only one. Love U. Papa kirim dari HP Simpati, tanggal 3 Februari 2010. Kapan ya kita dinner berdua lagi? Kita pilih cafe yang suasananya temaram, pakai lilin di meja, dan saat itu kita bisa pandang-pandangan sepuasnya tanpa terganggu.

Hari ini hari Minggu, mama beribadah di Jalan Bahureksa jam 09.00. Mama masih belum berani ke Maulana Yusuf, karena selain lebih banyak orang, kenangan akan kehadiran papa di sana masih terasa kuat. Wah! Rasanya berat ya beban mama setelah ditinggal papa.

Eiit , jangan comment dulu dong!  Mama akan berdoa mengandalkan Tuhan, minta Tuhan memberi kekuatan untuk melangkah hari demi hari. Mama juga masih ingat kok pesan singkat papa yang dikirim tanggal 4 Oktober 2010, “Papa berharap pada Tuhan Yesus. Mama tahu kalau saat itu papa sedang menghadapi masalah yang cukup berat di kantor dan menimbulkan kegelisahan papa selama berhari-hari. Beberapa kali papa mengajak mama berdoa pada malam hari untuk mendoakan masalah itu.

Saat anak-anak tidur, mama pandangi muka mereka, dan wajah papa tergambar dalam diri mereka. Thanks ya schaat, karena sudah memberi 2 anak yang luar biasa. Mama akan menjaga dan membesarkan mereka dengan prinsip-prinsip yang papa pernah ajarkan pada mama.

Mereka harus diajar mandiri, jangan terlalu dilayani. Harus diingatkan agar mereka tidak terbiasa untuk menyalahkan orang lain. Mengajarkan mereka untuk berdoa dan mengandalkan Tuhan, belajar  bersyukur untuk banyak hal yang Tuhan sudah kasih buat mereka.

Pa, Luhut mulai sering manja, mungkin karena nggak ada yang berani tegas memarahi dia seperti papa. Dia sering gurindam kalau disuruh ini itu. Kemarin malam setelah doa bersama, mama tanya pada anak-anak, Kangen ya sama papa?” Hanya anggukkan kepala tanpa kata, mata mereka berkaca-kaca.

Luhut nggak punya teman bermain dan bercanda “liar” kalau malam, guling-gulingan di tempat tidur, tertawa terpingkal-pingkal bareng-bareng papa. Korin juga kemarin sempat bertanya, “Kalau aku nggak ngerti soal Matematika, tanya siapa dong? Dia kan selalu mengerjakan soal-soal Matematika menjelang malam, di mana papa ada saat itu.

Moment yang juga dirasa hilang adalah saat kita duduk bersama di meja makan pas weekend atau pas papa bisa pulang cepat dari kantor. Papa kan sering cerita macam-macam, dan kami takjub mendengar kisah-kisah papa. Belum lagi acara diskusi yang disukai anak-anak, semua ingin bicara. Kalau mama kan nggak terlalu suka diskusi, pendengar aja deh.

Untuk mengobati rasa kangen, mama sering baca-baca tulisan papa di 5 agenda papa yang masih tersimpan rapih, rasanya papa ada dekat mama saat itu. Mama berencana membuat buku yang isinya adalah tulisan-tulisan papa dari situ. Papa kan selalu mendorong mama untuk belajar mengembangkan diri, belajar mengoperasikan komputer.

Nah, sekaranglah saatnya mama mengembangkan potensi menulis mama dan membiasakan diri dengan perangkat komputer. Mama berharap tulisan-tulisan papa yang bagus itu menginspirasi banyak orang, menggerakkan orang-orang untuk bekerja lebih sungguh lagi dan juga agar semangat berkontribusi terus ada. Ada beberapa saudara dan teman yang menyatakan siap untuk membantu mama.

Papa lagi apa sih sekarang, mungkin juga sedang menulis surat untuk mama ya…. kangen juga ya? Mama sekarang sedang buka-buka kumpulan kartu-kartu kita. Papa ingat kartu-kartu itu? Keren-keren kan gambar dan isinya. Ok pa, sudah dulu ya suratnya. Mama pegang lho janji yang pernah papa tulis di salah satu kartu yang papa kirim dari Delft. Waktu itu mama belum bisa menyusul karena proses visa yang lama.

“Honey, please keep yourself physically strong and mentally awake.

I am waiting forward to meet you here ini Delft.

I am sure that He will help us that we can be together again (in Heaven).”

Daggg papaaaaaaa………..

| Indriati Ayub Sihombing |

9 thoughts on “Sepucuk Surat untuk Belahan Jiwa

  1. In, the power of love yang bukan saja tersirat tapi tersurat nyata membuat tulisanmu menjadi hidup…berarti dan membangun.
    Selamat berkarya, In. Kamu hebat…tegar… dan aku yakin…pasti karena Tuhan Yesus.
    Salam dari Bremen.

  2. Speechless…..
    Kak Indri, How lucky u r 🙂

    Yang slalu saya ingat ketika saya masih di Bandung waktu saat saya pelayanan GSM di GKI dan pada saat pagi hari melihat kakak dan abang didepan Gedung Sate jalan pagi, Abang slalu menggandeng dan merangkul kakak dan ketika aku menyapa…Abang sengaja menggandeng kakak lebih erat atau memeluk kakak lbh erat dan abang mengatakan ga pengen seperti ini??(dengan senyuman abang yg sengaja ngeledek :)) yang ada hanya tawa dan saya balik membalas “ada stock yang seperti abang ga??” hahahahaha rindu canda abang seperti itu 🙂
    Ahhhh kak Indri, how lucky u r have a great husband like Bang Onye *_^.
    He is awesome. He makes many people learning to do something for God 🙂
    And U r a awesome wife, mom and lady, show us how to be a great wife, mom and woman.
    Thanks a lot for ur sharing kak Indri and i wish could be have an awesome husband like Bang Onye hehehehehe 🙂 God always bless u, Korin ‘n Luhut.
    Kiss ‘n big hug to Luhut ‘n Korin. *_^

  3. Kak Indri, terima kasih untuk sharing nya. Sungguh kehidupan K Indri dan B. Onyek banyak memberi berkat dan menolong orang lain untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Salam untuk Korin dan Luhut.

  4. Dear Indri,
    My deepest empathy for you Korin and Luhut.One thing I know Jesus is the GREATEST PERSON in your life, you all count on HIM,depend on HIM ,trust HIM.You believe HE always with you, hold your hands,wuipe your tears where there is none of anyfriends cant do that.I read your letter to Onye as the gist, best part,awesome thought about how you run your life with Him.A brilliant and sincere hands writing which is flowing smoothlu from the botton of your heart,the freshness/the sweetest of your memories about Onye,a simply cheerful routines you are both doing together.I cant stop reading and reading it ,cos i follow and as Im be the part of drama you play.all nmemories come to the surface, it seems real.very touchy,tears come down I wanna there with you and be there for you as Novy always do.I envy her, Indri? You are the luckiest woman in the world where do you need friend there is a friend indeed.as Onye wants you to practise using computer for writing I might think this will be a good start and you’ll be the best writer coz you write from the heart whereas technic Isnt needed at all. So everyone will feel beauty of your writing.Be strong Indri I believe you can!Big Hug from me in Oz.

  5. Bang Onye memang hebat, dan dia sdh menunjukkan kehebatannya selama ini. Tidak semua orang bisa seperti dia.

    Bang Onye memang hebat, karena dia mempunyai istri ( Kak Indri) yang tak kalah hebat. Tidak semua orang bisa seperti Kak Indri dalam menghadapi guncangan.

    Bang Onye memang sangat hebat, karena saat ini sosoknya pasti menjadi inspirasi bagi banyak orang.

    Terima kasih Bang Onye.
    Terima kasih Kak Indri.
    Salam buat Korin dan Luhut.

    Dari kami,
    Roland-Harti-Nadya.

  6. ternyata quote “behind every great man there’s a great woman” itu bener ya.
    keep on going ya nangtulang..
    God will always be with you, Korin and Luhut.

  7. Mba Indri..
    Saya teman Onye dari kelas I SMA sampai kelas II. Saya turut berduka sedalam-dalamnya.
    Saya sangat kagum sama Onye yg begitu bersahaja dan idealis..
    Kita semua jg sangat kehilangan Onye..
    Saya yakin Mba Indri adalah seorang wanita tangguh yang dipilih Tuhan untuk mendampingi Onye dan membesarkan Korin dan Luhut..
    Saat ini Korin dan Luhut hanya bersandar pada Mba Indri, maka harapan kita ke Mba Indri selalu diberi kekuatan dalam mengemban tugas membesarkan dan mendidik Korin dan Luhut untuk menjadi insan yang hebat kelak..
    Saya yakin Mba adalah seorang lady pilihan.. Tetap semangat ?ªãª
    Salam,
    Tatam.

  8. Walau saya secara pribadi tidak mengenalmu (bang Onye), setelah membaca ( Sepucuk Surat Belahan Jiwa ). Saya sangat terharu dan betapa bahagianya mempunyai seorang tulang rusuk seperti Mbak Indriati Ayub Sihombing. Mbak Indri sy sendiri pernah jalan2 disurga dan disana suasananya sangat luar biasa indahnya dan masing2 kita mempunyai rumah yang begitu indah dan besar khusus bagi orang2 yang percaya padanya. Jadi berbahagialah mempunyai seorang suami seperti bang Onye karena saya sangat yakin dan percaya bang Onyepun mempunyai tempat yg sangat indah dan megah ( tak dapat dibandingkan dgn apapun yg ada di Bumi ).
    3 tahun yang lalupun saya BERSUKACITA karena ayah saya seorang pelayan Tuhan di Bandung sudah menempati salah satu rumah yang indah itu seperti bang Onye saat ini.
    Untuk saudara2ku seiman jangan pernah kendor dalam melayani Tuhan karena upah kita besar di Surga.
    God Bless All.
    Budianto.S
    Denpasar – Bali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *