Absurditas!

Pertanyaan absurd ribuan orang ketika menangisi kematian Kornel Sihombing adalah: ”Mengapa Kornel, seorang jujur dan cerdas, penatua gereja yang kreatif, aktivis lintas agama yang cinta damai, dan seorang yang, dengan caranya sendiri, berkomitmen membela kepentingan karyawan dan bahkan kepentingan bangsa melalui PT Dirgantara Indonesia ‘dipanggil’ terlalu cepat oleh Tuhan?”

Bagaimana mungkin orang sebaik Kornel malah dibiarkan Tuhan pulang ke rumahNya mendahului kita? Ini bukan sekedar sebuah pertanyaan, tetapi suatu protes, bahkan kemarahan.

Di wall FB saya, seorang rekan menumpahkan kegusarannya terhadap “kehendak Tuhan” atas diri Kornel. Rekan saya itu protes sangat keras. Dia seperti seorang anak yang menangis sekuat-kuatnya ketika mainan kesayangannya diambil orang tuanya. Pada wall FB itu, ia melontarkan bukan lagi  pertanyaan, tetapi sebuah somasi, gugatan kepada Tuhan.

Saya pernah mendengar rentetan pertanyaan, keluhan bercampur kemarahan yang sama kerasnya ketika Tuhan memanggil Munir, Nurcholis Madjid dan Gus Dur kembali ke haribaan-Nya. Orang-orang ini adalah pejuang kemanusiaan. Mereka berbicara untuk rakyat dan bersama rakyat.

Mereka adalah orang yang mencintai setiap orang dan dicintai siapapun. Mereka adalah perwujudan dari hampir seluruh idealisme bagaimana menjadi manusia yang ideal yang ingin kita raih. Mereka adalah teladan! Pancaran cinta yang mereka lontarkan melalui kata dan aksi meresap hingga ke tulang sumsum kita.

Tetapi, ketika kita tenggelam dalam arus cinta mereka, dan justru ketika kita dan segenap rakyat yang tertindas di negeri ini membutuhkan mereka, Tuhan meraup mereka. Tuhan merebut mereka secara sewenang-wenang, dari tengah-tengah kita. Lalu, kita pun limbung, kehilangan pegangan. Protes keras pun dilontarkan kepada Tuhan yang secara otoritatif menerapkan kebijakanNya.

Kalau boleh jujur, bagi banyak orang, Tuhan telah melanggar prinsip HAM dan demokrasi. Tuhan mengambil secara sewenang-wenang apa yang justru paling kita kasihi. “Blue-Print Tuhan,” mengutip istilah Kornel, sungguh absurd, tidak masuk akal!

Hasrat Reptilian

Sebenarnya, dalam hasrat ‘reptilian’ yang mendorong nafsu dendam, kita berharap mestinya bila Tuhan benar-benar adil, seharusnya Tuhan memberi azab dan sengsara bahkan mencabut nyawa para ratusan koruptor yang menggerogoti kekayaan bangsa kita, bukan mencabut nyawa Kornel Sihombing, manusia jujur yang masih numpang di rumah mertua meski posisinya di PT DI sudah sangat tinggi.

Seharusnya Tuhan mencabut nyawa para penindas dan para pelaku ketidakadilan yang mengotori ranah keIndonesiaan kita, bukan mengambil nyawa Gus Dur atau Cak Nur. Gereja dan Indonesia lebih membutuhkan Kornel Sihombing yang cinta damai daripada pelaku-pelaku anarkisme dan kekerasan.

Dalam hasrat reptilian, kita berharap Tuhan mencabut nyawa orang-orang jahat itu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Yang menyedihkan adalah hasrat reptilian kita tidak diakomodasiNya. Sebaliknya, Tuhan justru memanggil pulang orang-orang baik dan pejuang kemanusiaan yang penuh cinta seperti Munir, Gus Dur, Asmara Nababan, dan Kornel Sihombing dalam kemuliaanNya.

Kalau bisa, kita memprotes kebijakan Tuhan bahwa seharusnya orang-orang baik inilah yang diberi kesehatan dan umur panjang! Bukan dicabut nyawanya secepat itu. Lalu apa maunya Tuhan dengan kebijakan anehNya itu? Sebuah absurditas! Kita berhadapan dengan suatu ketidakmasukakalan!

Berhadapan dengan absurditas Tuhan, kita menjadi ‘stuck’, tidak berdaya. Jangankan mencari jawaban, untuk mengajukan pertanyaan pun kita tidak sanggup. Sesungguhnya teriakan dan tangisan kita terhadap kebijakanNya adalah letupan ketidakberdayaan. Kita merasakan kerapuhan yang luar biasa.

Mungkin kita tidak akan pernah menemukan jawaban atas rencanaNya. Inilah sebentuk ketidakberdayaan kita! Vulnerability! Tetapi, inilah yang juga dialami Paulus ketika dalam kerapuhannya ia mendengar suara Tuhan berkata: ”Justru dalam kelemahanmulah, kuasaKu semakin sempurna.”

Integritas

Saya menangis ketika mendengar kecelakaan pesawat Sukhoi di mana Kornel ada di dalamnya. Saya mengikuti terus, siang dan malam, perkembangan pencarian pesawat Sukhoi dan nasib Kornel. Sulit bagi saya untuk tertidur. Hari-hari itu menjadi sangat meletihkan. Dan tiba-tiba, saya sadar betapa berharganya Kornel bagi saya. Kornel telah menjadi bagian hidup saya, bahkan menjadi bagian hidup kami keluarga.

Sondang, istri saya, menangis berhari-hari saat menantikan kabar tentang Kornel. Belum pernah ia semelankolis ini. Dan nampaknya kami tidak sendirian. Sangat banyak orang yang mencintai Kornel. Banyak orang yang ternyata, sama seperti saya, tidak bisa tidur hingga berhari-hari karena memantau perkembangan Kornel.

Ketika kabar tentang Kornel menjadi jelas bahwa Tuhan memanggilnya pulang, banjir air mata tidak tertahankan lagi. Semua kehilangan sahabat terbaik yang sangat dikasihi. Ketika melihat ribuan orang menangisinya, sempat terbersit pikiran nakal dalam benak saya, “Bila semua orang saja mencintainya, apalagi Tuhan. Pantaslah Tuhan segera mengambilnya. OK Tuhan! Kornel adalah milikmu. Tak ada seorang pun bisa menahannya.”

Bagi saya, Kornel bukan sekedar anggota jemaat atau seorang rekan penatua. Kornel adalah sahabat bahkan saudara yang sangat saya banggakan. Seingat saya inilah kali kedua saya menangis ‘berat’ ketika aktivis GKI Maulana Yusuf dipanggil Tuhan.

Kali pertama ketika Tuhan memanggil ibu Miranti Budiharto kembali kepangkuanNya. Saya menangis meraung-raung seperti anak kecil. Saya tak perduli bila orang menganggap saya cengeng. Memang, saya sangat terpukul karena hubungan saya dengan ibu Miranti sangat dekat bagaikan ibu dan anak. Kami selalu berdiskusi bersama tentang segala hal.

Kali ini, saya mengalaminya lagi. Kornel, sahabat dan saudara yang sangat saya hormati dipanggil oleh Tuhan. Saya menangis seperti anak kecil, tetapi kali ini tidak di depan umat. Saya bertekad tidak mau menangis di depan Indri, Korin dan Luhut karena saya takut akan menambah kesedihan mereka. Meski tekad itu bisa saya lakukan, tetapi kepala menjadi pening setiap kali menahan emosi.

Seminggu sebelum kepergiannya, kami sempat diskusi sambil ngopi bersama. Diskusi dan ngopi adalah aktivitas rutin yang sering saya dan Jeffrey Samosir lakukan bersamanya. Kami bertiga menaruh perhatian besar pada peningkatan kualitas generasi muda, pada kehidupan bergereja, berpolitik dan pada soal-soal lintas agama. Oleh karena itu, diskusi kami selalu meluas kemana-mana.

Kornel, juga Jeffrey, selalu menanggapi setiap persoalan dengan cerdas dan sangat dalam. Tidak ada yang sia-sia ketika berbicara dengan mereka berdua! Kornel, dan juga Jeffrey, adalah gudang inspirasi bagi saya. Kepada mereka, saya katakan, “Kalian berdua adalah pemikir, saya hanyalah tim doa.”

Beberapa hari sebelum kecelakaan Sukhoi, kami berkumpul lagi. Saya besyukur karena saat itu saya sempat mengatakan kepadanya bahwa setiap saya membutuhkan teman berdiskusi, dia adalah salah satu orang yang akan saya kontak. Saya ingin tegaskan saja betapa saya respek pada kecerdasannya, pada komitmen, dan terutama pada integritasnya. Ya, Kornel adalah pribadi yang berintegritas. Saya dan banyak orang mengalaminya!

Kornel sempat menceritakan kepada saya pergumulan beratnya dalam meniti karier di PT DI. Pilihannya hanya dua: bertahan atau hengkang total! Kalau melihat kondisi PT DI yang ketika itu carut-marut tanpa masa depan dibandingkan dengan tawaran yang menggiurkan dari perusahaan lain, siapapun pasti segera memutuskan meninggalkan PT DI.

Tetapi, Kornel memilih bertahan di PT DI. Suatu keputusan yang absurd dalam dunia di mana komitmen tergantung pada seberapa besar benefit yang diterima! Saya penasaran atas keputusannya yang absurd, benar-benar tidak masuk akal! Saya tanyakan alasannya untuk bertahan. Jawaban Kornel luar biasa. Ia bertahan demi membela nasib ratusan anak buahnya. Kagum saya! Kornel tidak ingin menyelamatkan dirinya sendiri. Ia memilih bertahan demi membela anak buahnya.

Ia seperti kapten kapal yang tidak akan pernah meninggalkan kapalnya sebelum yakin semua penumpang sudah selamat. Ditinjau dari teori psikologi kedewasaannya Kohlberg, keputusannya itu menempatkan Kornel sebagai manusia yang matang dan dewasa. Manusia yang lebih memikirkan  kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri. Ia manusia berintegritas!

Ketika kami berpisah, saya memandang kepergiannya sambil berkata dalam hati: “Inilah ciri orang besar! Meski ada peluang untuk pengembangan kariernya di luar sana, ia lebih memikirkan nasib dan masa depan orang lain.” Bagi saya, apa yang dibuatnya adalah sebuah khotbah yang hidup!

Dalam diri dan tindakan Kornel, Firman bukan kata-kata kosong yang sekedar diafal di luar kepala, tetapi telah menjadi aksi nyata! Sikap pelayanannya yang diinspirasikan oleh imannya terus berkobar dalam dadanya. Tak ada satu pun atau apapun yang bisa memadamkannya. Saya bangga kepadanya!

Mencintai Tuhan

Sama seperti kita semua, Kornel pasti punya banyak kelemahan. Betapa pun begitu, Kornel adalah tipe ideal bagaimana seorang Kristen seharusnya bersikap. Bagi orang seperti Kornel, gereja menjadi mata air pelayanan yang membuat cintanya kepada Tuhan tetap berkobar-kobar.

Kornel mencintai Tuhan. Inilah sumber komitmen dan integritasnya dalam segala aktivitasnya di tengah keluarga, di tempat kerjanya dan di tengah masyarakat.  Bagi Kornel, seluruh dunia menjadi gereja, tempat dia melayani dan mengabdi pada kemanusiaan dan kemuliaanNya.

Memang, Kornel telah pergi, tetapi komitmen, cinta dan integritasnya telah mempengaruhi dan menghidupi banyak orang, terutama kaum muda. Kornel dicintai sangat banyak orang. Ia layak dicintai karena ia memberikan diri dan hidupnya untuk mencintai dan untuk berjuang bagi kepentingan banyak orang.

Ketika jenazahnya disemayamkan di aula PT DI, ribuan orang dari berbagai kota, dari berbagai agama, gender dan etnik, berkumpul bersama. Kornel menyatukan kita semua. Saya tahu, semua orang mencintainya karena Kornel memang mencintai setiap orang. Cintanya pada setiap orang didasarkan pada cintanya pada TuhanNya. Di depan peti jenazahnya, tiba-tiba saya teringat lagu karangan David Graham:

In moment like this,

I sing out a song,

I sing out a love song to Jesus.

In moment like this,

I lift up my hands,

I lift up my hands to the Lord.

Singing I love You Lord.

Singing I love You Lord.

Singing I love You Lord.

I love You

Lagu itu membuat saya menangis, tetapi ia memberikan kelegaan spiritual! Kita harus belajar mencintai Tuhan ketika Dia menjalankan “blue printNya.”  Dalam hati saya berdoa: ”Tuhan, buatlah Indri, Korin dan Luhut setegar Ayub yang mampu berkata: Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah Tuhan.” Saya makin percaya itu karena keluarga mereka memiliki darah “Ayub”.

Masih di hadapan peti jenazahnya, saya berbisik: “Kornel, cinta, komitmen dan integritasmu akan terus berkobar di hati setiap orang yang pernah merasakan kehadiran dan pelayananmu.” Pergilah dengan damai sobat! Aku akan tetap merindukanmu! Moga suatu saat kita bertemu sambil berdiskusi dan ngopi bersama lagi!

| Albertus Patty |
Teman diskusi dan ngopi

Indonesia Mengantarmu Pulang

Aku terbisu….
Melihat ribuan pelayat pengantar…
Onye….

Mereka berulos
Mereka berjilbab
Mereka berjas penghormatan
Mereka berpeci, bertopi haji
Mereka hitam
Mereka putih sipit
Mereka menangkupkan tangan

Khidmat,
Mereka membuat tanda salib….
Mereka menengadahkan tangan….

Kornel….
Aku takjub, melihat mereka yang mengantarmu…
Mereka adalah Indonesia yang kau impikan…

Aku tak ingin menangis hari ini
Aku, Sahat, dan Jeffrey (sahabat kesayanganmu) tadi malam berjanji
Tidak ada lagi air mata…

Namun aku gagal…
Kembali air mata menetes….
Bukan karena sedih…
Sobatku, bukan karena sedih

Tapi karena haru….
Bangga melihat cinta orang-orang yang mengantarmu hari ini…
Merekalah refleksi cintamu pada mereka…

Seorang Pendeta Buddha dari forum lintas agama
Kulihat di sudut terisak dalam tangan yang memeluk tasbihnya…

Aku melihat saudara-saudara Tionghoaku
Mendoakan dalam tunduk yang dalam

Aku terkejut melihat sahabat-sahabat Muslim
Yang demikian tulus mengantar…

Andai kita bisa melihat Tuhan tersenyum
Berjajar malaikat menjemput ruh yang demikian murni dan lembut
Penuh cahaya cinta… Inilah Indonesia yang sejati
Di mana Tuhan menitipkan cintaNya yang paling rahasia
Di hati manusia-manusia sederhana yang penuh kasih….

Disinilah aku berurai air mata
Bersisian dengan sahabat-sahabat Onye
Berikrar….

Aku bertekad akan meneruskan semangat dan perjuanganmu…
Aku berjanji…
Aku berjanji…

Maafkan air mataku sahabat….
Pulanglah ke pelukan Tuhan yang tak sabar menantimu… Ingin memelukmu…
Pulanglah sayang….
Sahabat sayang…..

Illon,
TPU Pandu, Bandung
24 Mei 2012

Bang Onye Menerima Siapapun Apa Adanya

“… namun saya menerima Tommy apa adanya …”

Simple yet powerful, dua kata tersebut yang bisa saya gunakan untuk menggambarkan bagaimana dahsyatnya kekuatan dari “menerima seseorang apa adanya” berdasarkan pengalaman saya bersama Alm. Kornel Sihombing atau bisa dipanggil Onye.

Simple, karena kita bisa mengatakannya dengan mudah kepada orang lain, pacar kita, atau siapapun yang kita kasihi. Powerful, karena begitu dilakukan dan ditunjukkan, kehidupan seseorang bisa berubah dengan drastisnya, bahkan 180 derajat. Ya, selama saya kenal Bang Onye hampir 10 tahun, ternyata dia mampu menerima saya apa adanya.

Penerimaan dia bukan hanya sekedar omongan belaka. Dia membuktikan penerimaannya dengan perbuatan. Melalui proses ini dia telah menunjukkan dirinya sebagai pemimpin yang efektif. Menerima saya apa adanya, dan kemudian mempengaruhi saya dengan hal-hal yang positif.

Inilah yang saya ingin ceritakan, proses kepemimpinan yang efektif yang saya alami bersama Bang Onye sampai akhir hayatnya; menerima apa adanya, mengenal kelebihan dan kelemahan, serta mengajak untuk berkembang sambil membantu memenuhi kebutuhan orang yang dipimpin.

Kornel M. Sihombing, seorang profesional yang sangat menjiwai pekerjaannya sebagai panggilan Tuhan dan memiliki peran yang penting di PT DI, kepala rumah tangga yang sangat mengasihi istri dan kedua anaknya, dan aktivis yang memiliki peran vital, terutama dalam pengembangan pemuda di gereja. Dia juga terlibat aktif dalam forum kerukunan umat beragama.

Bang Onye mampu masuk ke dalam lingkungan yang berbeda dengan tantangan yang beragam, tetapi ajaibnya dia berhasil masuk ke dalam lingkungan yang berbeda tersebut. Bukan hanya masuk tetapi mampu mempengaruhi dan bahkan tidak sedikit hidup orang diubahkan olehnya.

Mungkin Anda dan saya bertanya, “Kok bisa ya?” Menurut saya, yang paling mendasar, dia mampu menerima manusia di sekitarnya apa adanya. Bahkan, manusia yang paling aneh sekalipun dari kacamata orang lain, seorang Bang Onye mampu melihat dari sudut pandang yang berbeda dan menunjukkan kemampuan dalam menerima orang lain dalam kondisinya sendiri.

Ya, menerima apa adanya, dan artinya dia jarang sekali merasa bahwa dia lebih baik dari orang lain. Bahkan kondisi ini seringkali mendorong Bang Onye untuk mau belajar dari kondisi orang lain. Bang Onye selalu sadar dan mengajarkan bahwa dia tidak pernah sempurna, oleh karena itu dia selalu berusaha untuk bertumbuh untuk menjadi sempurna sama seperti Penciptanya yang adalah sempurna.

Dalam ketidaksempurnaan seorang Bang Onye dan motivasi yang kuat untuk terus bertumbuh, dia tidak pernah sekalipun menghakimi orang lain dalam kelemahan mereka. Dia justru mampu melihat bahkan membantu orang lain, untuk melihat kelebihan mereka serta mengembangkan diri.

Inilah alasan utama kenapa banyak orang mengagumi beliau dan tanpa disadari menjadi pengikutnya juga, karena mereka dan saya diterima oleh beliau atas apa adanya diri kami, sembari menunjukkan kepada kami bahwa dia juga sama seperti manusia yang lain, tidak sempurna dengan segala kekuatan dan kelemahan yang dia miliki sebagai seorang manusia.

Pertanyaannya, tidak banyak pribadi seperti ini bukan? Ada berapa banyak orang yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari kita dengan karakter unggul seperti ini? Mungkin masih bisa dihitung dengan jari kita dan ternyata, manusia-manusia seperti Kornel Sihombing lah yang kita butuhkan untuk mengatasi masalah sosial yang terjadi di negara kita ini.

Kenapa kasus-kasus terhadap kaum minoritas yang sampai mengakibatkan kehilangan nyawa manusia lain masih terjadi di negara ini, hanya karena tidak setuju dengan kaum tertentu? Jawabannya hanya satu, karena kita belum bisa menerima orang lain dengan apa adanya mereka.

Kebanyakan orang-orang yang memegang peranan penting di negara ini, yang sering kita sebut pemimpin, masih memiliki paradigma atau cara pandang yang belum bisa melihat manusia sebagai makhluk yang setara. Sebuah pekerjaan rumah yang perlu kita selesaikan bersama demi kemajuan bangsa.

Saya sangat yakin kita bisa melakukannya, karena Kornel M. Sihombing sudah lebih dulu membuktikan bahwa dia bisa. Kalau kita ingin melihat bangsa ini maju, tentu perubahan tersebut harus dimulai dari diri kita sendiri dan di lingkungan sekitar. Mari bangun diri kita menjadi calon-calon pemimpin bangsa ini dengan memiliki mental dan cara pandang positif.

Terima kasih Kornel M. Sihombing. Secara fisik engkau telah tiada, tetapi hidup serta ajaranmu akan menjadi warisan yang sangat berharga dan akan selalu diceritakan kepada generasi berikutnya. Grace and Serve!

| Albert Tommy |

 

Kenangan Terhadap Alm. Bang Kornel dari Keluarga Alm. Capt. Aan

Dear Bang Kornel, keluarga dan kawan-kawannya.

Minggu lalu, saat sekeluarga menerima bukti forensik property milik Ayah saya yang juga korban Sukhoi. Terdapat diantaranya sim, credit card yang sudah terbakar serta dompet kulit yang sudah melepuh.

Yang menjadi menarik dan terkesan adalah adanya dompet khusus kartu nama yang masih utuh beserta isinya. Diantara kartu nama Ayah saya, yang paling depan terdapat kartu nama Bang Kornel. Hanya Bang Kornel seorang. Tidak ada kartu nama milik orang lain.

Menurut kami sekeluarga, Ayah saya hanya bertukar kartu nama saat diminta atau saat menikmati obrolan, saat terkesan dengan orang tersebut sehingga dia ingin mengkontaknya suatu hari nanti, tanpa motif apapun, just friendship, just say hello.

Pada hari itu, menurut kami sekeluarga, Ayah saya dan Bang Kornel duduk berdekatan di atas pesawat. Sama-sama memiliki sifat idealis, sederhana dan loyalis. Ayah saya bertahan di Bouraq, Bang Kornel pun di IPTN.

Salam hormat untuk keluarga yang ditinggalkan. Saya harap ikatan silaturahmi yang baru terjalin beberapa jam oleh kedua orang yang saya hormati tersebut masih dapat tersambung melalui keluarga yang ditinggalkan, juga melalui bang Chandra Sihombing, ikatan silaturahmi antara alumni junior ITB dan alumni senior ITB.

Wassalam,

Angga Tirta (Atir) #SBM 04, PS-IA ITB

Wignu Mughni (Inu) #FI 03, Pilot Garuda Airlines

Sepucuk Surat untuk Belahan Jiwa

Hai schaat! Mama kangen banget! Sudah lama tidak bertemu….”

Hari-hari terasa sepi tanpa kehadiran papa, tak terdengar suara jantan papa, tegas tapi penuh kelembutan. Air mata tak terbendung saat mama menulis surat ini, dada terasa sesak menahan kepedihan yang dalam, entah kapan akan terhapus.

“Gaat goed schaat?” Mama biasa tulis SMS singkat, kalau papa belum pulang kantor. Biasanya pula papa akan menjawab, “Baik ma, gimana keadaan mama hari ini?” Kadang mama tidak menjawab, tapi balik bertanya, “Papa pulang jam berapa, makan di rumah atau tidak?” Tapi kadang juga mama mengeluhkan banyak hal yang bikin mama kesal hari itu, baik tentang anak-anak yang lagi rewel, marah-marah atau tentang kejenuhan mama dan banyak lagi.

Mama ingat sekali, papa berkata, “Sabar ya ma, jangan lupa bersyukur.” Ah…. mama jadi malu karena mengeluhkan banyak hal, padahal mama tahu beban kerja papa di kantor lebih berat, karena anak buah papa kan jauh lebih banyak daripada jumlah anak kita yang cuma dua.

Pagi tadi mama jalan pagi sendiri. Kangen juga jalan sama papa sambil ngobrol ngalor ngidul tentang berbagai hal. Papa kan janji mau mendengarkan mama, karena selain olah raga, papa memang menyediakan waktu untuk mendengarkan mama. “Kalau malam kan papa biasanya asyik nonton TV untuk mengurangi ketegangan karena pekerjaan di kantor, jadi kalau pagi papa sediakan waktunya untuk mama, begitu selalu papa katakan.

Papa juga pernah bilang, ”Banyak lho yang iri karena mama disayang sama papa, ditemenin jalan pagi,  dipeluk dan jalan bergandengan tangan. Papa memang romantis, tapi juga humoris ya. Mama sering tidak kuat menahan tawa kalau papa sedang melucu dengan mimik muka yang  kocak banget.  🙂

Dada ini masih terasa sesak menahan tangis yang susah dibendung. Terlalu banyak kenangan yang manis yang pernah kita lalui bersama. Mama sering merasa jadi  lady, karena papa memperlakukan mama seperti seorang lady.

Oh ya pa, mama masih simpan SMS papa buat mama yang isinya, ”I have to many mates but you are my best and the only one. Love U. Papa kirim dari HP Simpati, tanggal 3 Februari 2010. Kapan ya kita dinner berdua lagi? Kita pilih cafe yang suasananya temaram, pakai lilin di meja, dan saat itu kita bisa pandang-pandangan sepuasnya tanpa terganggu.

Hari ini hari Minggu, mama beribadah di Jalan Bahureksa jam 09.00. Mama masih belum berani ke Maulana Yusuf, karena selain lebih banyak orang, kenangan akan kehadiran papa di sana masih terasa kuat. Wah! Rasanya berat ya beban mama setelah ditinggal papa.

Eiit , jangan comment dulu dong!  Mama akan berdoa mengandalkan Tuhan, minta Tuhan memberi kekuatan untuk melangkah hari demi hari. Mama juga masih ingat kok pesan singkat papa yang dikirim tanggal 4 Oktober 2010, “Papa berharap pada Tuhan Yesus. Mama tahu kalau saat itu papa sedang menghadapi masalah yang cukup berat di kantor dan menimbulkan kegelisahan papa selama berhari-hari. Beberapa kali papa mengajak mama berdoa pada malam hari untuk mendoakan masalah itu.

Saat anak-anak tidur, mama pandangi muka mereka, dan wajah papa tergambar dalam diri mereka. Thanks ya schaat, karena sudah memberi 2 anak yang luar biasa. Mama akan menjaga dan membesarkan mereka dengan prinsip-prinsip yang papa pernah ajarkan pada mama.

Mereka harus diajar mandiri, jangan terlalu dilayani. Harus diingatkan agar mereka tidak terbiasa untuk menyalahkan orang lain. Mengajarkan mereka untuk berdoa dan mengandalkan Tuhan, belajar  bersyukur untuk banyak hal yang Tuhan sudah kasih buat mereka.

Pa, Luhut mulai sering manja, mungkin karena nggak ada yang berani tegas memarahi dia seperti papa. Dia sering gurindam kalau disuruh ini itu. Kemarin malam setelah doa bersama, mama tanya pada anak-anak, Kangen ya sama papa?” Hanya anggukkan kepala tanpa kata, mata mereka berkaca-kaca.

Luhut nggak punya teman bermain dan bercanda “liar” kalau malam, guling-gulingan di tempat tidur, tertawa terpingkal-pingkal bareng-bareng papa. Korin juga kemarin sempat bertanya, “Kalau aku nggak ngerti soal Matematika, tanya siapa dong? Dia kan selalu mengerjakan soal-soal Matematika menjelang malam, di mana papa ada saat itu.

Moment yang juga dirasa hilang adalah saat kita duduk bersama di meja makan pas weekend atau pas papa bisa pulang cepat dari kantor. Papa kan sering cerita macam-macam, dan kami takjub mendengar kisah-kisah papa. Belum lagi acara diskusi yang disukai anak-anak, semua ingin bicara. Kalau mama kan nggak terlalu suka diskusi, pendengar aja deh.

Untuk mengobati rasa kangen, mama sering baca-baca tulisan papa di 5 agenda papa yang masih tersimpan rapih, rasanya papa ada dekat mama saat itu. Mama berencana membuat buku yang isinya adalah tulisan-tulisan papa dari situ. Papa kan selalu mendorong mama untuk belajar mengembangkan diri, belajar mengoperasikan komputer.

Nah, sekaranglah saatnya mama mengembangkan potensi menulis mama dan membiasakan diri dengan perangkat komputer. Mama berharap tulisan-tulisan papa yang bagus itu menginspirasi banyak orang, menggerakkan orang-orang untuk bekerja lebih sungguh lagi dan juga agar semangat berkontribusi terus ada. Ada beberapa saudara dan teman yang menyatakan siap untuk membantu mama.

Papa lagi apa sih sekarang, mungkin juga sedang menulis surat untuk mama ya…. kangen juga ya? Mama sekarang sedang buka-buka kumpulan kartu-kartu kita. Papa ingat kartu-kartu itu? Keren-keren kan gambar dan isinya. Ok pa, sudah dulu ya suratnya. Mama pegang lho janji yang pernah papa tulis di salah satu kartu yang papa kirim dari Delft. Waktu itu mama belum bisa menyusul karena proses visa yang lama.

“Honey, please keep yourself physically strong and mentally awake.

I am waiting forward to meet you here ini Delft.

I am sure that He will help us that we can be together again (in Heaven).”

Daggg papaaaaaaa………..

| Indriati Ayub Sihombing |

1 Mega Volt Arus Kehidupan – Sebuah Eulogi untuk Onyek

Sebuah Dialog (1996)

“Begin with the end in Mind”  Habit 2nd – Steven Covey

“Eko, sini aku tunjukkan padamu workbook yang aku dapat kemarin!” Ujarnya sambil masuk ke kamar.

Aku bergegas masuk ke rumah kayu itu dan dengan penuh tanya menunggu apa gerangan yang akan ditunjukkan bang Onyek kepadaku.

Tak berapa lama sang tuan rumah keluar dan membawa segepok workbook dan membukanya diatas meja didepan kami.

“Nah, ini workbook yang aku dapatkan saat ikut workshop Seven Habit minggu lalu.”

Aku buka-buka workbook itu sambil sedikit iri dengan bang Onyek, saat itu di tahun 1996 aku baru mampu untuk numpang baca buku Seven Habit di toko buku Gramedia jalan Merdeka, sementara dia bahkan sudah mengikuti workshopnya yang aku tahu sangat mahal biayanya.

“Yang paling menarik habit yang mana bang?” Tanyaku penasaran.

“Semuanya sih menarik dan luar biasa, masing-masing habit memiliki kekuatan dan kedalaman sendiri, namun juga saling mendukung satu dengan yang lain. Kalau kamu bertanya mana yang paling menarik, habit ke-2 bisa menjadi pilihan,” panjang lebar bang Onyek menjelaskan.

“Begin with the end in mind” setengah bergumam aku membaca habit ke-2.

“Maksudnya apa ya bang?” Sambil agak malu aku bertanya karena pikiranku belum mampu mencerna kalimat itu.

“Habit ini mengajarkan pada kita untuk memiliki kebiasaan menetapkan tujuan dalam segala hal. Dengan memiliki tujuan yang jelas maka segala sesuatu yang kita lakukan menjadi terarah dan produktif.” Paparnya.

“Contohnya?” Pikiran dan otakku masih berusaha mencerna.

“Ini aku kasih contoh yang diajarkan di workshop, hidup kita sebagai manusia kalau tiba pada saatnya nanti kita mati, kita ingin dikenang sebagai apa? Ekstrimnya, bayangkan dirimu terbaring di peti dan ada banyak orang yang mengelilingi upacara penguburanmu. Ucapan dan memori apa yang kamu inginkan ada dalam pikiran mereka tentang kamu.” Panjang  lebar bang Onyek menjelaskan dan aku masih kebingungan.

Bang Onyek berhenti menerangkan dan tersenyum simpul melihat kebingunganku.

“Memang nggak mudah untuk memahaminya, aku coba terangkan dari sudut pandang kekristenan. Tujuan dari hidup orang Kristen adalah menghasilkan buah-buah roh seperti  yang tertulis pada Galatia 5 22 -23: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Dengan tujuan menghasilkan buah-buah roh itu maka hidup kita sebagai orang Kristen menjadi penuh makna, istilah kerennya so live!”

Bang Onyek mengakhiri penjelasannya dengan senyum lebar setengah tertawa. Dan aku mengangguk-angguk, sebenarnya bukan karena mengerti namun karena kagum akan kemampuannya menjelaskan konsep habit ke-2 dengan menarik bahkan bisa diletakkan dalam konteks kekristenan.

Halaman Sekolah Minggu (2007)

“Anak-anak luar biasa untuk orang tua yang luar biasa pula!” Kornel Sihombing 

Tarikan nafasku masih tersendat-sendat dan dalam, setiap minggu pagi aku dan istriku harus memiliki cadangan kesabaran untuk tetap membawa Tesa dan Jason datang kesekolah minggu. Sebagai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), perilaku dan cara mereka meresponse kondisi sekelilingnya berbeda dibandingkan dengan anak yang lain.

Sama seperti  yang barusan terjadi, Tesa mengamuk di lantai gereja dan butuh waktu yang cukup lama untuk menenangkannya. Tantrumnya memang sudah jarang muncul, tapi hiperaktif dan ngambeknya masih setia muncul termasuk di acara sekolah minggu yang diikutinya.

Seringkali kami berdua hampir jatuh dan putus asa untuk membawa dan mengajak mereka ke ruang publik seperti sekolah minggu, karena kami tahu pasti bahwa kami akan diuji kesabaran kami sampai habis. Namun disisi lain kami menyadari bahwa tugas kami untuk setia membawa mereka keluar dari rumah sebagai bagian dari terapi kehidupan mereka.

“Hi bro pa kabar?” Sebuah tepukan lembut dipundak mengagetkanku dari lamunan.

“Hi bang, baik selalu dong,” jawabku sambil menyodorkan tangan bersalaman ala pemain basket.

“Kapan kita bisa main tenis bareng lagi seperti dulu ya?” Bang Onyek bertanya membangkitkan memoriku dengan kegiatan yang rutin dilakukan beberapa aktivis GKI MY ditahun 90an.

“Iya nih bang, kapan-kapan kita main tenis bareng yuk, mumpung aku sekarang sudah kembali ke Jawa,” jawabku sambil melirik Tesa yang sedang meronta-ronta digendongan Santi istriku.

“Hallo Santi apa kabar? Tesa cantik kenapa menangis?” Bang Onyek menyodorkan tangan ke Santi istriku sambil mengelus kepada Tesa. Tesa sejak bayi merupakan teman Luhut anak bungsu bang Onyek di sekolah  minggu, umur mereka  yang hanya berjarak 3 bulan membuat kami sering bertemu di sekolah minggu termasuk saat sekolah minggu mengungsi di Bahureksa dan di Yahya.

“Yah beginilah bang, Tesa masih suka marah sendiri kalau ada sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya,” ujar Santi istriku.

Halaman di depan sekolah minggu di GKI MY itu sesaat terasa sunyi diantara ocehan dan teriakan anak-anak yang bermain perosotan dan perbincangan orang-orang yang selesai kebaktian. Sesaat kami tenggelam dalam lamunan.

Tesa masih mengumpulkan energi digendongan mamanya sementara tangan bang Onyek masih mengelus kepala anak sulungku itu. Tesa akrab dengan dia karena bertahun-tahun saat aku mengejar sesuap nasi di ujung timur Indonesia, bang Onyek dan mbak Indri banyak membantu Santi dalam beraktivitas termasuk di Pasutri.

“Aku mau share satu hal pada kalian berdua,” bang Onyek memecahkan kesunyian.

Kami berdua bangun dari lamunan tentang panjangnya “jalan perjuangan” membesarkan Tesa dan Jason yang terbentang di depan mata.

“Tesa dan juga Jason adalah anak-anak yang luar biasa.” Kami mencoba mengamini dan mengimani dengan sekuat hati ucapan bang Onyek barusan.

“Dan tahu nggak kalian, bahwa Tuhan hanya menitipkan anak-anak luar biasa kepada orang tua yang luar biasa!” Kami berdua terdiam tanpa kata, karena seakan-akan mendapatkan energi yang luar bisa untuk tetap kuat meneruskan kehidupan kami dan kehidupan anak-anak yang pantas dirayakan karena pasti akan menjadi sebuah kehidupan yang  luar biasa.

Sate Maulana Yusuf (2011)

“Pemimpin sejati adalah mereka yang tidak berhenti bertumbuh dan belajar.”  – Eko Utomo

“Biar aku yang bayar bang!” Ujarku buru-buru sambil mengeluarkan dompet.

“Nggak usah, kami sudah sangat berterimakasih kamu mau mengajarkan ke tim Fasilitator Leadership MY teknik melakukan fasilitasi yang dahsyat tadi,” bang Onyek memaksa dirinya yang mentraktir aku dan Santi di Sate MY.

“Masak dari aku masih mahasiswa sampai sekarang dirimu terus yang bayar bang?” Sambil setengah bercanda aku mencoba menawar.

“Fine, sekali lagi thank you ya sudah sharing ilmu kepada kami. Ntar kita lanjutkan diskusi dan apa yang bisa kita lakukan kedepannya. Kami butuh banyak bantuan dari kamu, bro!” Bang Onyek bersalaman dan pamitan karena sudah ditunggu mbak Indri di Gempol.

“Sama-sama bang, any time just let me know. Dengan senang hati aku akan membantu apapun yang aku bisa bantu,” Jawabku sambil melepas kepergiannya ke seberang jalan.

“Abang itu luar biasa, ma!” Kataku ketika aku kembali ke meja.

“Emang kenapa, pa? Bukannya bang Onyek dari dulu memang hebat dan jadi panutan kita-kita,” Santi menjawab sambil terheran.

“Ada yang lebih hebat lagi aku temukan hari ini.” Tukasku.

“Apa itu?” Semakin bertambah dosis keheranan mantan song leader GKI MY itu.

“Sebagai seorang senior dan panutan, bro Onyek tidak malu dan bahkan sangat bersungguh-sungguh belajar pada workshop hari ini!” Aku merefleksikan yang terjadi hari ini.

Bro Onyek adalah seniorku. Dia aktivis pemuda sejak tahuan 90an, dia sudah menjadi pembicara terkenal diseputaran Bandung, sementara aku baru belajar untuk menjadi MC di persekutuan pemuda dan hari ini, pembicara terkenal itu belajar pada yuniornya.

“Benar juga ya pa, bang Onyek mau belajar dari kamu  yang yuniornya.” Santi menemukan klik dibenaknya.

“Kualitas inilah yang membuktikan dirinya pemimpin sejati yang tidak pernah berhenti tumbuh dan belajar bahkan dari Yunior. Aku angkat topi tinggi-tinggi untuknya!”

Merayakan Kehidupan (2012)

“Mas Eko, bang Onyek salah satu penumpang Sukhoi,“ Aku baca sms yang baru masuk dari Richard.

Sesaat aku terdiam dan hanyut dalam seribu satu kenangan dan kecemasan akan keberadaan bro Onyek. Hanya doa yang bisa aku panjatkan saat itu, mengharap keajaiban muncul buat orang yang begitu setia dengan pengabdiannya.

“Pray for Sukhoi.” Aku tulis status di fbku.

“Lord, kalau boleh aku meminta, lindungi seluruh penumpang Sukhoi dan berikan keselamatan pada mereka. Namun aku tahu bahwa aku harus mengimani semua rencanaMu dan tidak satu peristiwapun terjadi tanpa ijinMu. Dalam segala kelemahan ini aku memohon belas kasihMu bagi mereka.”

“#Prayer for Sukhoi and my best friend bro Kornel “Onyek” Sihombing.” Statusku satu hari kemudian.

“Lord is your shepherd bro.” Statusku membaca informasi  penemuan jenazah bro Onyek yang sudah aku anggap seperti kakak sendiri.

Minggu malam aku dan Santi duduk berdua di ruang TV. Sunyi karena Tesa dan Jason sudah terbang di alam mimpi sesudah kecapaian karena perjalanan pulang-pergi kami dari Bandung.

“Aku lega sekarang, ma.” Aku membuka pembicaraan.

“Kenapa, Pa?” Istriku bertanya sambil bersender dibahu.

“Mbak Indri tegar banget, bahkan terlihat lebih tegar dari kita. Kemarin aku malah mendapatkan kekuatan dari dia agar tidak menangis saat bertemu dan bersalaman,” desisku setengah terharu.

“Betul pa, aku kemarin juga nggak jadi menangis. Aku juga mendapatkan kekuatan dari dia,” ujar Santi istriku menimpali.

Ruangan itu menjadi hening beberapa saat, hanya bunyi TV yang menjadi aksesoris malam yang dingin.

“Kalau mengingat bang Onyek, aku melihat begitu banyak hidup dan kehidupan yang ada didalam dirinya,” kataku pelan.

“Maksud papa?” Ujar Santi lembut sambil menoleh.

“Hidup si abang, banyak menjadi sumber semangat dan kehidupan orang-orang yang bersentuhan dengannya. Dari anak kecil sampai orang tua. Dari anaknya Douglas sampai ke almarhum pak Sukardi,” aku  mencoba melontarkan pikiranku.

“Betul sekali pa, aku juga merasakan hal itu,” istriku menganguk setuju.

“Mengenang kejadian 16 tahun lalu saat bro Onyek mengajariku tentang Seven Habit, apa yang diajarkan dia bukan hanya ada dikata namun menjadi nafas kehidupannya juga. Semua buah-buah roh itu ada pada dirinya dan semua orang mendapatkan semangat kehidupan darinya,” sambungku. Santi merespon dengan mengelus tanganku.

“Kehidupan bang Onyek patut dirayakan! Hidup dan kehidupannya begitu luar biasa dipakai Tuhan sehingga menjadi berkat bagi kita dan banyak orang,” dan suasana makin hening, sesekali bunyi jengkerik di taman menimpali bunyi  TV.

“Tugas selanjutnya ditangan kita,” ujarku singkat.

“Maksud papa?” Santi menggeliat sedikit heran.

“Ya untuk membawa obor yang dibawa bro Onyek, untuk gantian kita bawa dan angkat tinggi-tinggi.”

 

Sebuah Eulogy untuk merayakan hidup dan kehidupan bro Kornel “Onyek” Sihombing

BSD City dipagi hari, May 2012

Untuk anda yang merasakan dan merayakan kehidupan Kornel Sihombing

 

“Selamat jalan bro, sampai ketemu nanti dirumah bapa di Surga.

Sampaikan salamku untuk pak Sukardi.

Kalau ada lapangan tenis disana, kita teruskan pertandingan persahabatan kita nanti.”

| Eko Utomo |

Merawat Rumah Bersama

Di tengah kesibukan yang luar biasa, Onye memberikan waktu dan gagasan terbaiknya dalam membangun, merawat, dan mengembangkan kebersamaan lintas agama.

Deklarasi Sancang 2007

Ulang Tahun Deklarasi Sancang 2010

Bersama Prof Henning dan Tokoh NU-MAKIN-PHDI

Pahlawan Iman dalam Pekerjaan

Banyak yang merasa kehilangan ketika mendengar berita bahwa rekan dan sahabat kita, Kornel Sihombing (yang biasa disapa Onye) ada dalam pesawat Sukhoi Superjet 100 yang mengalami musibah.

Kita merasakan bahwa ada bagian hidup kita yang diambil karena sosoknya yang sangat unik di antara kita.

Ketika banyak orang memisahkan kehidupan beragama dari kehidupan pekerjaan atau bisnis, dia justru begitu semangat menebar visi integritas iman dalam pekerjaan/bisnis. Dengan visi ini, dia bekerja sebagai profesional yang membawa berkah bagi banyak orang, bukan untuk mencari keuntungan pribadi. Dia menjadi profesional dengan intelektualitas dan integritas tinggi.

Sebagai pejabat, dia punya fakta integritas yang terpatri dalam hatinya, tidak hanya di atas kertas. Dia telah memimpin para pekerja di PT DI untuk menjadi pahlawan devisa (mendatangkan dolar dan euro) bagi Indonesia.

Saat ini dia pergi dan meninggalkan suatu warisan yang tidak bisa dinilai dengan uang, yaitu suatu integritas iman dalam kehidupan sehari-hari, dalam pekerjaan dan dalam dunia bisnis. Warisan ini akan menjadi berkah bagi semua jika kita meneruskan visi dan sikap kejuangannya.

Selamat jalan Onye, pahlawan iman dalam pekerjaan!

Dari sahabat yang pernah bersama melewati masa sulit di PT DI, khususnya pada periode 1998-2003 (Muis, Mei 2012)

Pandangan GKI Tentang Kerja dan Karir

Dari tulisan sebelumnya tentang beberapa pandangan tentang kerja, sudahkah Saudara mengambil kesimpulan pandangan yang mewakili Saudara? Apakah pandangan sekuler, “kristiani” ataukah “pandangan yang seimbang?” Bagaimana dengan “Pandangan GKI?” Berikut rangkuman dan kutipan dari pokok-pokok pikiran Bina Profesional yang dilaksanakan di GKI Maulana Yusuf beberapa waktu yang lalu.

Dasar pandangan ini adalah mengalami dan menjalankan hidup berdasarkan panggilan memberi orientasi dasariah bagi totalitas kehidupan sehari-hari. Panggilan yang dimaksud adalah panggilan universal dari Allah (Vocation–Vocatio). Ini berarti kehidupan kita dijalankan begitu rupa sehingga nilai dan pengajaran Firman Allah menjadi ungkapan kepribadian serta pengungkapan karunia spiritual dan talenta kita. Di kalangan profesional dan penggemar buku management, Steven Covey dalam The 8th Habit menggunakan istilah Voice untuk panggilan yang dimaksud.

Panggilan juga berarti kehidupan kita tidak terarah pada diri sendiri, kepentingan keluarga, bisnis, karir/pekerjaan atau kemanusiaan semata-mata, melainkan terarah kepada Allah. Itulah sebabnya, mengutip istilah dalam The 8th Habit, kita bergerak dari Effectiveness menuju Greatness. Dengan menemukan panggilan kita ikut ambil bagian dalam pekerjaan dan rencana Allah yang maha besar dan karenanya memberikan dampak yang luar biasa.

Pandangan yang beranggapan bahwa setiap orang kristen “awam” yang serius dengan panggilannya mesti beralih ke dalam kelompok “rohaniwan” adalah keliru. Berkomitmen kepada panggilan Allah bukanlah kewajiban untuk selalu tergabung ke dalam kalangan “rohaniwan/ti” (pendeta, penginjil) sebagaimana yang lazim dipahami oleh pandangan “Kristiani” yang menganggap profesi-profesi di luar rohaniwan/ti lebih rendah, tidak sakral dan tidak mengandung unsur panggilan Allah.

Paulus dalam Surat Pertama kepada Jemaat Korintus mengemukakan ada rupa-rupa karunia dan Allah “memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.” (1 Kor. 12:11). Ini berarti walaupun semua orang dipanggil oleh Allah namun setiap orang menerima panggilan yang khas. Rick Waren dalam The Purpose Driven Life memakai istilah SHAPE (spirituality, Heart, Ability, Personality, Experience) sebagai dasar dari panggilan yang khas tersebut.

Tokoh-tokoh Alkitab yang dipanggil oleh Allah tidak selalu menjadi rohaniwan/ti dalam arti profesi imam yang sempit. Abraham, Bapa orang beriman, tidak dipanggil menjadi imam, Ishak dan Yakub juga tidak. Yusuf malahan dipanggil menjadi pakar analisis masa depan sekelas John Naisbit, pakar manajemen persediaan sekaligus pakar manajemen resiko. Hakim-hakim lebih terpanggil menjadi pembela dan pembebas Israel dari ketertindasan ketimbang menjadi imam. Raja-raja dipanggil untuk menjadi pemimpin bangsa, tapi bukan selaku imam. Musa tidak dipanggil menjadi nabi, melainkan menjadi representasi Israel di hadapan Firaun, kemudian ia menjadi tour leader Israel di padang gurun dan menjadi pengembang hukum (Torah). Yosua dipanggil menjadi pemimpin perjuangan, bukan selaku imam. Panggilan Allah adalah kepada setiap orang percaya.

Dalam situasi ekonomi yang semakin membuat dada sesak, para profesional dan pekerja merasa perlu mengamankan dan memperbesar tingkat penghasilan mereka. Banyak pekerjaan tidak lagi memberikan hasil yang cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga. Didorong oleh pandangan sekuler bahwa kerja adalah kerja satu-satunya cara untuk mencapai kepuasan diri melalui pemenuhan kebutuhan materi, emosional dan intelektual, orang mulai, dengan sekuat tenaga, mencoba mengambil pekerjaan yang bergaji lebih besar, bahkan mencari yang kedua atau bekerja lembur. Yang juga umum dilakukan saat ini suami-istri bekerja untuk mempertahankan standar kebutuhan, kepuasan dan kehidupan. Dalam kondisi macam itu pastilah sulit melihat, apalagi menghayati panggilan Tuhan melalui kerja yang begitu menguras tenaga dan waktu, tapi menghasilkan begitu “sedikit.”

Namun kerja menurut alkitab, merupakan kerangka utama dari eksistensi manusia ketika ia diciptakan, sebagaimana dikemukakan dalam Kej. 2:15; “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Kerja dalam konteks ini adalah amanah dari Allah sendiri. Oleh sebab itu, dalam kerja sehari-hari kita berjumpa dengan Allah, yang mendorong sekaligus meminta pertanggungjawaban atas kerja yang dipercayakan. Karena itu, berlawanan dengan “pandangan yang seimbang,” kerja dalam dirinya sendiri memiliki nilai intrinsik karena amanah yang mendasarinya.

Jadi mestinya kerja profesional adalah ibadah, yaitu penyembahan kepada Allah. Bukan sekedar sarana untuk penginjilan atau menyatakan iman. Tempat kerja adalah tempat dan proses di mana kita berjumpa dengan Allah. Kerja adalah wahana respons manusia kepada Allah. Kita memuliakan Allah melalui kerja kita. Kerja adalah bahasa utama dalam merespons panggilan Allah, juga wahana bagi kehidupan beriman. Kerja adalah keutamaan ungkapan dari iman yang otentik. Mengalami panggilan Allah dalam kerja berarti setiap individu dipimpin oleh Allah dan diajak untuk hidup, bekerja dan melayani dalam terang kearifan dan Roh Allah.

‘Profesi sebagai ritual’ mau mendorong setiap orang percaya untuk melihat pekerjaannya sebagai profesi yang sakral atau kait-mengait dengan Allah yang kudus, yakni sebagaimana pendeta melihat profesinya sakral dan berkaitan dengan Allah.

Meja kerja adalah ‘altar’ tempat kita berjumpa dengan Allah. Keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan kita adalah wahana nilai-nilai pengajaran dan penyembuhan Kristus mewujud nyata. Metode profesional dan aplikasinya adalah pekerjaan yang diilhami oleh Roh Kudus dan dikerjakan dengan rasa hormat dan tanggung jawab. Karya-karya hasil profesi adalah wujud-wujud kesaksian dan pemeliharaan Allah di mana di dalamnya terkandung iman kristiani kita. Jika profesi menjadi ritual macam ini, maka nafsu kita untuk menang dan maju sendiri akan mereda, sebab bukan niat kita yang paling utama dalam ritus ini, melainkan niat Allah yang Mahabaik. Banyak hal yang dalam pandangan sekuler disebut sebagai ukuran kebahagiaan, semisal besaran harta, jenjang pangkat, ukiran prestasi, nama baik, keunggulan kompetisi, pencapaian target, besaran profit, pengakuan, bukan lagi sesuatu yang dicari, melainkan sesuatu yang diberi. “Apakah yang ada padamu yang tidak kamu terima,” begitu pertanyaan Paulus yang menantang mereka yang membanggakan apa pun yang dimilikinya.

Paradigma demikian pada setiap kerja profesional ataupun non-profesional akan menjauhkan orang dari kesia-siaan, kebosanan, keluhan, dan tekanan. Sebaliknya, membebaskan dan menyegarkan. Mari kita menekuni dan menjalani profesi masing-masing dengan penuh gairah dan penuh rasa hormat dan tanggung jawab dengan memahami bahwa pekerjaan kita adalah amanah Allah dan keikutsertaan yang penuh sukacita dalam pekerjaan pemeliharaan Allah di dunia ini.

Oleh: Pnt. Kornel Sihombing
Sumber: www.gkimy.or.id

Bagaimana Kita Memandang Kerja?

Pekerjaan kita adalah hidup kita. Selain waktu tidur, yang mengambil sepertiga waktu hidup, maka waktu kerja dapat mengambil lebih dari sepertiga waktu hidup kita. Kecenderungan (trend) para pekerja sekarang, khususnya para knowledge worker, menggunakan rata-rata 10 sampai 12 jam sehari, bahkan lebih jika waktu perjalanan ke tempat kerja masuk dalam hitungan. Ini artinya lebih dari setengah waktu hidup untuk bekerja.
Bagaimana kita memandang pekerjaan karenanya menentukan bagaimana kita hidup. Kita akan mencoba melihat bagaimana umumnya orang memandang atau menilai kerja dan apa implikasinya dalam hidup.

Ada banyak variasi pandangan tentang kerja, namun untuk maksud keseluruhan dari rangkaian tulisan akan dikemukakan tiga yang utama:

  1. Pandangan sekuler
  2. Pandangan “gereja”
  3. Pandangan “yang lebih seimbang”

Pandangan yang pertama tentang pekerjaan kita sebut saja sebagai pandangan sekuler. Pandangan sekuler dianggap mewakili pandangan umum dalam masyarakat.

Dalam pandangan masyarakat umum, khususnya para profesional, pekerjaan telah dianggap sebagai satu-satunya cara untuk mencapai kepuasan atau pemenuhan diri. Melalui pekerjaan kebutuhan materi, emosional dan intelektual dipenuhi. Tidak heran jika hal mencari pekerjaan menjadi pergumulan utama setelah menyelesaikan sekolah. Umumnya pencari kerja mencari pekerjaan yang dapat memberikan penghasilan sebesar-besarnya. Pekerjaan berpenghasilan besar ini memberikan rasa aman secara finansial sekaligus memberikan kebanggaan karena merupakan pengakuan terhadap kompetensinya. Situasi kerja yang kompetitif juga memberikan rangsangan untuk terus bertumbuh secara wawasan dan intelektual. Melalui pekerjaan orang merasa intelektualnya tidak hanya terpakai tapi juga diakui oleh komunitas berbasis pengetahuan.

Jargon sukses menjadi kata kunci kedua dalam pandangan ini. Ukuran sukses seseorang diukur melalui pencapaian materi dan pengakuan terhadap prestasi yang dicapai. Sukses adalah suatu pengakuan yang telah menjadi kebutuhan berikutnya setelah hal-hal mendasar seperti sandang, pangan dan papan terpenuhi. Sukes dalam hidup dicapai melalui sukses dalam pekerjaan karena itu harus dipertahankan dengan sekuat tenaga. Sebaliknya kegagalan dalam pekerjaan adalah kegagalan total dalam hidup karena itu harus diperjuangkan dengan sekuat tenaga walaupun harus menahan berbagai penderitaan, deraan dan kompetisi yang tidak tertahankan.

Tidak heran kalau pembicaraan tentang stress, kerusakan dalam rumah tangga, rusaknya hubungan dengan anak ataupun putusnya hubungan dengan rekan sejawat sampai pada permusuhan dengan kompetitor menjadi percakapan biasa di antara para pekerja. Semua itu dibicarakan sebagai harga yang harus dibayar oleh para profesional yang mencoba meraih sukses, meraih pekerjaan yang lebih baik, bergengsi atau berpenghasilan lebih tinggi. Yang lain melihatnya sebagai usaha untuk tetap bertahan dalam rimba kompetisi atau sekedar bisa tetap bertahan dalam pekerjaan. Sebuah perusahaan yang terkenal dan meng-global, tiap tahunnya memecat 10% karyawan terjeleknya dan meggantikannya dengan karyawan baru yang lebih segar dan lebih kompeten. Karir dalam pandangan masyarakat profesional telah menjadi berhala modern.

Pandangan yang kedua adalah pandangan “gereja” atau pandangan yang “kristiani” terhadap kerja.

Dalam pandangan ini pekerjaan penginjil dan pendeta adalah pekerjaan dan/atau panggilan yang lebih tinggi atau lebih mulia. Jenis pekerjaan seperti inilah yang seharusnya dijalani oleh orang-orang kristen yang sudah lahir baru. Jenis pekerjaan seperti yang diperintahkan oleh Alkitab, yang langsung jelas kaitannya dengan rencana Allah untuk dunia ini.

Akibat pandangan ini banyak profesional yang merasa bersalah karena terlalu sibuk bekerja dan tidak bisa ikut ambil bagian dalam pelayanan gereja. Sebagian lagi kemudian memutuskan untuk keluar dari pekerjaan “sekuler”nya untuk kemudian menjadi pelayan Tuhan full timer. Di kampus, mahasiswa-mahasiswa kristen memilih aktif dalam pelayanan di gereja atau badan-badan pelayanan dari pada menghabiskan waktu dalam kelompok-kelompok diskusi sekuler, senat mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau organisasi politik. Mengapa pilihannya seperti itu? Sepakat atau tidak, disinyalir ada kaitannya dengan pandangan mahasiswa kristen tentang pekerjaan yang sekuler dan yang kristiani.

Implikasi lain dari pandangan ini adalah bahwa pekerjaan yang berlabel kristen lebih rohani dari pekerjaan yang tidak kristen. Sebagian dari para pekerja memilih untuk tetap di profesi “sekulernya” tetapi dengan tambahan label kristen. Mereka menjadi pengusaha kristen, menjadi dokter kristen di rumah sakit kristen atau pengacara kristen. Jangan kaget kalau suatu saat, mungkin malah sudah, kita akan melihat atau mendengar tentang fitness center kristen atau salon kristen.

Pandangan yang ketiga adalah pandangan “yang lebih seimbang” tentang pekerjaan. Pandangan ini mencoba memberi arti rohani dalam pekerjaan sekuler. Dalam pandangan ini pekerjaan adalah sarana untuk penginjilan atau sarana menyatakan iman.

Dalam pandangan ini, kita bukan lagi guru, pengusaha, dokter, insinyur atau pengacara, tetapi penginjil di bidang pendidikan, bisnis, kedokteran, teknik dan hukum. Hal ini seperti saudara-saudara kita dari luar negeri yang terpanggil menjadi penginjil. Masuk ke Indonesia dengan mencantumkan profesinya sebagai penginjil adalah mustahil. Karena itu mereka berusaha menguasai satu bidang profesional tertentu seperti guru, dokter, atau konsultan sebagai tiket masuk ke Indonesia. Pada intinya, yang menjadi fokus utama adalah penginjilan.

Jika kita melirik ke dalam Alkitab, kita bisa bercermin pada rasul Paulus yang memiliki keahlian membuat tenda dan membiayai perjalanan penginjilannya melalui profesi membuat tenda.

Manakah di antara tiga pandangan ini yang mewakili pandangan saudara? Mungkin tidak tiga-tiganya! Baik sekali, nantikan tulisan berikutnya.

Oleh: Pnt. Kornel Sihombing

Sumber: www.gkimy.or.id