Bang Onye Selalu Optimis dan Semangat

“Saya telah berduka, karena saya kehilangan salah satu abang hebat saya…

Saya tidak pernah menyangka, kalau saya akan kehilangan abang hebat saya secepat ini. Di kepala saya hanya ingin membayangkan segala kemungkinan terbaik yang terjadi. Tapi ternyata badai itu tetap datang, menerjang di saat yang kita tidak ketahui. Terasa sangat pahit saat membayangkan tidak akan bertemu lagi dengan abang saya ini.

Bang Onye sangat sederhana, walaupun begitu hidupnya sangat bahagia dengan istri dan dua anaknya. Dia  bisa memilih untuk hidup di rumah mewah dan megah, tetapi hal itu tidak dilakukannya.

Dia memilih tinggal di rumah yang sederhana tapi terasa megah dengan kasih sayang di dalamnya. Layaknya seorang abang, dia merangkul semua orang dan menjadi pendengar serta seorang motivator yang baik. Ia selalu bersemangat dan optimis.

Pergumulan datang terus-menerus menyesahnya, tetapi dia semakin berkembang. Bukan menjauhi Tuhan, tetapi semakin erat denganNya. Di tengah pergumulan dan di tengah masalah yang dihadapinya, dia masih tetap bisa memotivasi sekelilingnya. Betapa beruntungnya saya mengenal Bang Onye!

Satu hal yang sangat saya ingat di kepala saya hingga kini. Saat itu saya masih duduk di bangku SMA. Abang saya itu bilang, “Seseorang harus mengenali betul apa yang Tuhan mau dihidupnya, dari situ ia punya tujuan dan bisa tahan proses karena tahu tujuan hidupnya. Tipsnya supaya sanggup hadapin proses hidup coba setiap saat kita buat plan, do, check, and action. Coba terus, evaluasi terus hingga nanti kita nemu jalan keluar.”

Bang Onye salah satu pendiri fokal.info, sebuah media online non profit. Mungkin kalau diukur dengan media-media lain pasti kalah telak dalam hal cari keuntungan. Tapi, ada satu alasan penting mengapa Bang Onye, Om Albertus Patty, dan Bang Jeffrey Samosir mendirikan media ini. Mereka ingin anak muda berkembang, lewat tulisan.

Lewat tulisan, seseorang bisa berbagi ilmu dan lewat tulisan seseorang dikenal dunia. Bukan untuk memperkaya diri, bukan untuk menjadikan diri jutawan, tetapi memikirkan anak muda supaya bisa berkembang dan diingat sebagai agen pencerdas bangsa.

Kata-kata terakhirnya saat itu yang saya ingat, Nggak ada artinya undang motivator paling ulung di dunia, paling mahal sekalipun untuk kasih sesi khusus buat kita kalau masalahnya ada di dalam diri kita. Kitanya yang nggak mau berkembang ya bakal gitu-gitu terus. Coba berkarya, lewat tulisan. Minimal dengan nulis, kita mengembangkan diri kita.”

Saya memang telah berduka, tetapi saya mau punya harapan baru. Harapan yang tidak pernah terbatas. Selalu optimis dan bersemangat, seperti abang hebat saya, Kornel Mandagi Sihombing.

“Bang, makasih ya udah ingetin aku supaya nggak lihat kanan kiri untuk tahu maunya Tuhan di hidupku. Aku mau seperti abang, jadi seperti apa yang Tuhan mau. Aku mau kembangin diriku…”

| Sorta Lidia Caroline |