Kornel Sihombing, Penumpang Sukhoi, Si Pemersatu Keluarga

Sosok Kornel Mandagi Sihombing, 48, korban tragedi Sukhoi, dikenal sebagai pemersatu keluarga. “Dia selalu menyatukan kami semua,” kata Erni, 42 tahun, kakak ipar Kornel yang ditemui di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, kemarin.

Erni mengenang Onyek—sapaannya- sebagai orang yang penuh kepedulian. “Kalau Natal, dia selalu berinisiatif mengumpulkan keluarganya,” kata dia yang datang dari Pontianak. Bahkan tak segan membiayai tiket saudara-saudaranya yang tinggal berjauhan di Papua dan Pontianak.

Onyek anak keempat dari enam bersaudara. Ia merupakan Kepala Divisi Integrasi Bisnis PT. Dirgantara Indonesia (DI), yang diundang joy flight Sukhoi Superjet 100, pada Rabu 9 Mei 2012 lalu. Alumni Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung 1983 dan melanjutkan studi Material di Universitas Teknik Delft, Belanda, pada 1997.

Direktur Aircraft Integration PT DI, Budiman Saleh, yang satu angkatan dengan Onyek mengenalnya sebagai orang yang open minded. Hobinya tenis, main basket dan sepak bola. Dia salah satu pelobi untuk kerjasama dengan perusahaan asing. Sobatnya, Sahat Sitorus mengatakan dia aktif kegiatan lintas agama.

Di mata Chandra Sihombing, 50 tahun, adiknya itu periang dan mudah akrab. Menurut dia, Onyek sangat mencintai dunia penerbangan. “Dia tetap di perusahaan (PT DI) meskipun temannya banyak yang keluar,” kata dia. Sebelum terbang, Onyek pernah menelepon dan minta diajarkan main golf.

Kornel meninggalkan seorang istri, Indriyati Ayub, 48 tahun dan dua anak, Corin, 11, dan Luhut, 8. Onyek adalah penatua di GKI Maulana Yusuf (MY), Bandung dan terlibat pelayanan MY Leadership. Kerabat dan rekan korban berdatangan silih berganti ke rumah duka di Jalan Gempol 117, Bandung.

MARTHA WARTA SILABAN|SUBKHAN| ERICK PRIBERKA
Dimuat di Koran Tempo danTempo.co