Kebaktian Penghiburan untuk Indri, Korin, Luhut, dan Keluarga

Gedung PKSN PT DI tidak mampu menampung pelayat yang ingin mengikuti kebaktian penghiburan untuk Indri, Korin, Luhut, dan keluarga. Kapasitas ruangan 600-700 orang, yang lain terpaksa menunggu di luar. Padahal sejak kedatangan jenazah siang harinya, sudah ratusan orang datang melayat dan pulang.

 

 

 

 

 

 

 

Cara Onye Mengabdi pada Sang Pencipta

Teman-teman yang tidak mengenal Onye secara personal, terutama angkatan sebelum 1980 dan sesudah 1988, mungkin bertanya mengapa kita merasa perlu mengenang Onye dengan cara yang sedikit lebih istimewa?

Onye secara positif, telah ikut membentuk diri kami, angkatan 80an. Dia telah meninggalkan jejak pada orang-orang yang mengenalnya. Bahkan, bagi saya, dia telah ikut menentukan arah dan sejarah Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM).

Misalnya, soal keberanian untuk bersikap. Dia yakin betul bahwa setiap orang, apalagi sebagai mahasiswa, harus punya sikap. Terlepas dari sikap itu condong ke kiri atau ke kanan, benar atau salah, sekaligus meyakini pilihan sikapnya itu.

Prinsip harus bersikap ini selalu dia sampaikan dalam berbagai kesempatan, baik di angkatan maupun di HMM. Dari interaksi dialektik selama bertahun-tahun, rasanya sikap Onye itu membekas pada banyak teman-teman, termasuk saya.

Contoh lainnya adalah idealisme Onye mengenai profesionalisme dan materi. Profesionalisme tidak harus diiringi dengan materialisme. Dengan kata lain, tenaga profesional tidak selalu harus mengejar gaji besar. Baginya, profesionalisme adalah bagian dari “mengabdi kepada Sang Pencipta”.

Sebagai manusia, kita harus bermanfaat bagi orang banyak. Bersikap profesional membantu kita memenuhi tujuan itu. Idealisme, sadar atau tidak, sepertinya merasuki kita, walaupun pada akhirnya sejalan waktu, banyak di antara kita yang tidak bisa, atau tidak mampu, atau luntur mewujudkannya; namun tetap menjadikannya sesuatu cita-cita.

Tapi Onye mempraktekkannya dengan sukacita sampai saat terakhirnya. Ia tidak pernah bersikap sinis atau nyinyir kepada rekan-rekan yang beralih ke jalur materialisme, semata-mata karena prinsip bahwa setiap orang berhak—malah harus—mengambil sikap dan meyakininya.

Kesetiaannya pada profesi sebagai mechanical engineer dan PT DI juga merupakan hal langka. Sekitar 2001 – 2002, saat PT DI di posisi terbawahnya, dia masih berdiskusi dengan penuh semangat mengenai PT DI; walaupun saya tahu dia harus nyari tambahan di luar untuk nutup kebutuhan dapurnya.

Sekitar 2008, dia juga semangat menceritakan happy problem yang dihadapinya; bagaimana memenuhi tenggat delivery komponen Airbus—pada saat itu PT DI sudah menjadi salah satu the best vendor dari Airbus—di tengah situasi internal PT DI yang masih banyak tantangan dan hambatan.

Dia menceritakan, sebelum ada film Laskar Pelangi, dia selalu kesulitan menjelaskan kenapa dia masih bertahan di PTDI. Setelah film itu keluar, maka dia selalu bertanya balik: “Sudah liat film Laskar Pelangi? Sudah mengerti kenapa Ibu Guru Mus memilih bertahan di SD reyot itu? Ya kira-kira begitulah kenapa saya masih di PTDI”. Luar biasa, ini suatu sikap profesional yang Merah Putih.

Walaupun Onye itu tegas berprinsip, tapi dia tidak keras kepala; pun tidak menyakiti lawan bicaranya. Gayanya yang khas bila dia sedang memilih kata yang baik, tapi sebenarnya ingin mengatakan lawan bicaranya keliru adalah “senyum-senyum-sambil-garuk-garuk-kepala”.

Karena itulah, kami merasa kehilangan teladan, kehilangan panutan, kehilangan tokoh ideal. Tapi di sisi lain kami juga sadar bahwa kematian itu pasti. Cara Onye pergi seakan-akan menegaskan bahwa pilihan hidupnya direstui Tuhan. Dia meninggal dalam tugas. Karena itulah, kami merasa perlu mengenang dan menghormatinya dengan cara yang agak istimewa.

Selamat jalan Onye. Bagi kami, kamu sudah tuntas/paripuna. You have fulfilled your purpose.

*Hardi M83

 

Alumni ITB Lari 10K Kenang Onye

Di hari Kebangkitan Nasional tahun ini, kota Jakarta menyelenggarakan acara Jakarta International 10K Run yang sudah menjadi tradisi sejak tahun 2004. Pada hari Minggu (20/5), sekitar 35.000 peserta lari menjajal rute Monas-MH. Thamrin-Bundaran Hotel Indonesia-Sudirman-berputar di Jembatan Semanggi-kembali ke Monas.

Sekitar 60 orang alumni ITB plus simpatisan—termasuk seorang anak lelaki bernama Francesco Manuel yang usianya diperkirakan tidak lebih dari 10 tahun—membuat acara resmi kota Jakarta tersebut menjadi lebih gegap-gempita.

Tanpa promosi berlebihan, sekian puluh orang tersebut menjadi aksen di antara ribuan peserta lari. Alih-alih menggunakan seragam kaus hijau pembagian Milo selaku sponsor, mereka menggunakan kaus kutung berwarna putih, bergambar wajah Kornel M. Sihombing alias Onye di bagian depan, plus tulisan solidarity forever yang merupakan semboyan Himpunan Mahasiswa Mesin ITB.

Sementara pada bagian belakang kaus mereka tertulis kata-kata “Profesional | Peduli | Sederhana” yang merupakan tiga kata yang dianggap paling tepat menggambarkan citra seorang Kornel M.Sihombing.

Agar kharisma para pelari berkaus putih ini tidak meredupkan cahaya lautan hijau manusia yang mengikuti acara Jakarta 10K Run, maka mereka pun berbagi tugas. Hotasi Nababan SI83, Heru Setiawan MS83, dan beberapa orang lain yang dirahasiakan namanya diutus untuk mengikuti acara lari 10K tersebut dengan target: jangan sampai menang, karena ini adalah operasi senyap yang tidak boleh ditengarai sebagai yang dapat mengooptasi agenda pemerintah.

Sebagian lain dibagi ke dalam beberapa regu yang ditugaskan untuk berjalan santai namun siaga guna mengamankan jalur Monas hingga Bundaran HI. Segelintir lainnya diposisikan sebagai pasukan penyapu dengan menggunakan sepeda.

Tanpa banyak membuang waktu, operasi pun dilangsungkan bersamaan dengan saat dibunyikannya sinyal berlari pada pukul 06.30. Sesuai dugaan, semua berlangsung lancar sesuai skenario. Tidak ada satu pun aparat Pemerintah yang mengendus kehadiran pasukan istimewa berkaus putih tersebut.

Namun aura mereka yang penuh kharisma ternyata tetap mengundang perhatian, sehingga beberapa Polisi Wanita bersepatu roda pun menyempatkan diri untuk berfoto dengan mereka. (Rekan Mamo MS83 atau Ardjuna TI83 atau Bobby Maengkom MS83 sila menyampaikan foto-foto tersebut sebagai bukti otentik).

Sekitar pukul 08.15, seluruh gerombolan berkaus putih berhimpun kembali di Patung Arjuna Jalan MH. Thamrin. Setelah pasukan khusus pelari melepas lelah sejenak, maka semua anggota gerombolan kaus putih membentuk formasi khas: foto bersama.

Di sini hadir pula Chandra Sihombing MS82, abang dari Onye. Tercatat salah satu relawan pemotret adalah Arya Sinulingga SI89, yang mengerahkan tim pemberita terbaiknya untuk mendokumentasi kegiatan gerombolan kaus putih.

Tuntas berfoto, semua peserta mengheningkan cipta dan berdoa bagi Onye dipimpin oleh Hardianto Darjoto MS83. Selanjutnya seluruh anggota gerombolan melakukan parade penghormatan sambil membentangkan spanduk “Selamat Jalan, Onye” memutari Jalan MH. Thamrin sejak Patung Arjuna hingga Jalan Kebon Sirih, dan akhirnya berbelok ke Jalan Sabang 16, menuju Restoran Sere Manis yang menjadi titik akhir operasi.

Di sini, gerombolan kaus putih langsung dielu-elukan oleh tim penyambutan yang dikomandani oleh Basar Simanjuntak SI83 dan Edward Sihombing PL85 yang tampak asyik ngopi-ngopi sambil merokok.

Setelah saling bersilaturahmi sejenak, semua anggota gerombolan langsung menuju lantai 2 yang sudah disterilkan. Hanya ada satu orang yang tampaknya agak cuek, sehingga masih saja asyik makan cemilan di situ. Untunglah dia segera sadar untuk angkat kaki sebelum tim perusak mengangkat kursi plus meja dan cemilannya ke luar ruangan.

Minuman dan makanan ringan segera dilayankan dengan sigap oleh para petugas restoran bagi para anggota gerombolan yang tampak sekali gairah haus dan laparnya.

Tanpa harus dipandu oleh protokol, acara berbagi kenangan tentang Onye pun mengalir lancar. Diawali oleh Hotasi Nababan, dilanjutkan oleh Chandra Sihombing, Hardianto Darjoto, Edward Sihombing, Ridwan Djamaludin GL82, Sahat Gunawan Sitorus IF83, Arya Sinulingga, Gembong Primadjaja MS86, Illon BI84, Dwi Larso TI84. (Mudah-mudahan semua sudah saya sebutkan namanya walau urutannya tidak sesuai sekuens faktual.)

Para sahabat Onye menyampaikan beberapa hal yang mungkin tidak diketahui oleh banyak orang. Misalnya tentang kiprah Onye saat masih mahasiswa yang bersedia mengutus dirinya sendiri menjadi juru damai jika himpunan mahasiswa Mesin sedang bertikai dengan Geologi.

Saya ingat satu saat Onye pernah menggunakan jaket kuning Gea ke Mesin sehingga kawan-kawan secara bergurau mempertanyakan, “Nyek, loe tuh anggota HMM atau Gea sih? Yang jelas dong!”

Begitu pun keteguhan Onye untuk bertahan di PT Dirgantara Indonesia (PTDI) ketika tidak sedikit koleganya yang memutuskan keluar dari PTDI dan bekerja di perusahaan lain, termasuk industri dirgantara milik negara lain.

Tawaran posisi dari produsen pesawat terbang kelas dunia ditampiknya dengan tegas karena Onye memilih untuk setia mengusung Merah Putih dan Garuda Pancasila dalam segenap karya-baktinya.

Tidak banyak orang yang tahu bahwa Onye, yang mengemban posisi bergengsi sebagai Kepala Divisi Integrasi Bisnis pada Direktorat Aerostructure PTDI, adalah seorang yang ulet mempertahankan hidup PTDI melalui negosiasi-negosiasi bisnis dengan berbagai industri dirgantara kelas dunia agar PTDI dapat bertahan.

Tidaklah mengherankan jika beberapa kalangan menjulukinya sebagai negosiator ulung. Tampaknya, tidak berlebihan pula jika ada orang yang mengatakan bahwa Onye adalah penyelamat PTDI dan industri dirgantara Indonesia pada umumnya. Tak ketinggalan pula kisah tentang komitmen Onye bagi lingkungannya, khususnya bagi gereja, generasi muda, dan komunitas lintas agama.

Fakta lain yang membuat trenyuh adalah kesederhanaan hidup Onye. Tanpa bermaksud mendramatisasi kenyataan, saya mengutip komentar pendek Bobby, “Bahkan hidup seorang pramugari pun lebih mewah dibanding Onye.” Sila dimaknai sendiri

Genap sudah semboyan “Profesional | Peduli | Sederhana” mengejawantah dalam diri seorang Kornel M. Sihombing. Dia adalah contoh par excellence seorang manusia, yang punya kejelasan visi dan misi, serta kegairahan penuh daya dalam menyublimasikan dirinya dalam tindakan.

Itulah sosok Onye dalam berbagai potongan yang dituturkan secara ringkas oleh para sahabat Onye dari berbagai jurusan dan angkatan. Dalam hati saya hanya bisa bergumam, “Betapa besar makna hidupmu bagi banyak orang, kawan. Saya kehilangan dirimu. Kami kehilangan engkau.”

Sekitar jam 12, satu demi satu anggota gerombolan kaus putih meninggalkan lokasi untuk meneruskan hidup masing-masing.

Onye sudah pergi namun jejaknya dalam hidup kita mungkin masih lama akan terukir abadi karena dia sudah menyentuh relung terdalam hidup kita dengan kesungguhan dan totalitas dirinya.

Selamat jalan, Onye. Semoga kau tadi tersenyum tatkala kami, kawan-kawanmu dari Jurusan Mesin, mengumandangkan seruan kebanggaan kita di bawah komando Gembong, Ketua Ikatan Alumni Mesin ITB kita:

Yell, boys! Yeah!

Yell, boys! Yeah!

Yell, boys! Yeah!

Union, union, machine strong!

Union, union, machine strong!

Union, union, machine strong!

Solidarity forever

Solidarity forever

Solidarity forever

For union machine strong!

Yell, boys! Yeah!

 

*Oret-oret di saat ngopi sendiri @Pacific Place

*Rudolph Damanik