Memori Jendral Jeanne Mandagi

Sewaktu kecil, Kornel bersama orang tuannya tinggal bertetangga dengan kami  Jack dan Jeanne Mandagi, di  kompleks  Brimob di Tantui – Ambon, waktu itu Kornel masih berumur sekitar 5 tahun belum sekolah.

Dia sering datang main di rumah kami, dan juga suka bermain-main  dengan Oma, dia anak yang sangat baik dan sopan. Kornel kecil seringkali disuruh mamanya meminjam korek api untuk nyalakan kompor di rumah mereka

Hubungan keluarga Mandagi dan Sihombing sangat dekat. Kornel waktu kecil dipanggil Ucok, baru kemudian dipanggil Onye.

Dan karena dia sangat disayang oleh keluarga kami, dan karena hubungan baik antara kedua keluarga maka Ucok kecil diberi nama Kornel Mandagi Sihombing

Singkatnya hampir setiap hari Ucok berada di rumah kami  karena selain bertetangga, Ucok sudah kami anggap anak kami sendiri.

Kemudian keluarga Sihombing pindah, dan kami juga pindah ke Jakarta.  Semenjak itu kita jarang ketemu karena kesibukan masing-masing.

Namun pada waktu Kornel diwisuda dan lulus dari ITB, kami diundang dan saya turut menghadiri wisuda tersebut dengan perasaan yang sangat bangga.

Tragedi pesawat Sukhoi ini sangat memukul perasaan kami, sangat menyedihkan bagi saya pribadi.

Kami berdoa semoga Tuhan menerima Kornel di surga sesuai amal baktinya dan diberikan ampunan segala kesalahannya.

Dan kepada keluarga yang ditinggalkan semoga  diberikan kekuatan, penghiburan, dan ketabahan.

(Dari: Jendral Jeanne Mandagi, seperti yang dituturkannya pada Davy Sumolang (TA’82), keponakan kandungnya, yang kebetulan adalah salah seorang sahabat Onye juga).

—————————

Kepak Sayap Sang Insinyur

Kritik terhadap miskinnya kepemimpinan inspiratif di Indonesia oleh banyak orang, mungkin dikarenakan luputnya perhatian mereka atas sosok Kornel Mandagi Sihombing. Pria Batak kelahiran Ambon, 15 Juni 1964 ini, dikenal sebagai salah satu putra terbaik di PT Dirgantara Indonesia (PTDI), karena kepemimpinannya di sektor industri penerbangan itu.

Onye, begitu ia biasa dipanggil, memulai karirnya di industri penerbangan pada akhir dekade 1980an, ketika PTDI masih bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), dan ia masih berstatus sebagai pegawai kontrak.

Visi kepemimpinannya sudah bisa dilihat ketika bergabung secara permanen di IPTN pada tahun 1992, karena ia sendiri mengatakan, “Setelah selesai kuliah saya ingin bekerja di PTDI karena selain ilmu saya terpakai, visipun terakomodasi walaupun saya tahu gaji di sana kecil.”

Tak banyak orang memiliki spirit seperti itu ketika mendapat pekerjaan dan mulai meniti karir. Biasanya, pertimbangan meniti karir tak jauh-jauh dari gengsi dan faktor finansial semata. Kesederhanaan serta spirit Onye ketika bergabung di industri penerbangan itu, membuatnya berhasil menduduki posisi kepala biro, satu tahun setelah ia bekerja di sana.

Karirnya tak berhenti sampai di posisi kepala biro. Setelah mendapat pelatihan di Amerika Serikat, alumnus teknik mesin Institut Tekonologi Bandung angkatan 1983 ini, dipercaya sebagai kepala bidang di tahun ketiga ia meniti karir. Kepandaian dan sosoknya sebagai pekerja keras, membuat ia diberikan beasiswa dari IPTN pada tahun 1997.

Melalui beasiswa itu, ia menempuh studi di Technische Universiteit Delft, salah satu perguruan tinggi terbaik di Belanda untuk jurusan teknik. Setelah mendapatkan gelar M.Sc dalam bidang material science, ayah dua anak ini kembali ke Tanah Air untuk kembali mengabdi di PTDI, khususnya lingkungan aerostructure.

Krisis ekonomi hebat yang menerpa Indonesia di akhir dekade 1990an, mau tak mau berdampak pada keberlangsungan IPTN. Ketika IPTN hampir dinyatakan bangkrut dan ditinggalkan insinyur-insinyurnya, Onye justru memilih untuk bertahan di IPTN dengan modal pendidikan dan pengetahuannya.

Harapan industri penerbangan Indonesia nampaknya harus pupus, ketika IPTN—yang kemudian diubah menjadi PTDI di tahun 2000—harus merumahkan sebagian besar karyawannya, akibat dampak krisis ekonomi. Tetapi keterpurukan ini tidak membuat Onye menyerah.

Keterbatasan PTDI untuk kembali membuat pesawat terbang nasional, tak membuat kesempatan tertutup total. PTDI justru mampu bertahan secara perlahan, dengan derasnya pesanan komponen pesawat terbang dari industri penerbangan luar negeri. Banjir order ini menjadi bukti kiprah kepemimpinan Onye, yang menjabat sebagai Vice President Business Integration di PTDI.

Misalnya, berkat peranan Onye, PTDI berhasil menjalin kontrak antara lain dengan Airbus untuk memproduksi inboard outboard fixed leading edge; dengan Eurocopter untuk memproduksi fuslage dan tail boom; dan juga kontrak dengan EADS Casa (Spanyol), Bombardier (Jepang), Korean Air Line (Korea Selatan), CTRM (Malaysia), dan SMEA (Malaysia). Rekan-rekan sekerjanya menjuluki ia sebagai “negosiator ulung”.

Kepemimpinan dan pengabdian Onye tak berhenti di sektor penerbangan saja. Meski berlatar belakang sebagai seorang engineer, Onye masih tetap berkegiatan di sektor sosial seperti pengembangan kepemudaan dan lintas agama.

Komitmennya untuk pengembangan kualitas pemuda, dibuktikan dengan keterlibatannya sebagai instruktur dalam pelatihan kepemimpinan pemuda dan pembicara dalam berbagai seminar. Antara lain: Leadership Development Program (LDP) yang digagasnya bersama rekan-rekanya sejak tahun 2005, telah memfasilitasi 7 angkatan dan melahirkan ratusan pemimpin muda Indonesia. Ia juga giat mengisi Leadership Training di organisasi-organisasi kemahasiswaan seperti GMKI, UKSU ITB, dan yang lainnya.

Tak hanya itu, ia juga berperan besar sejak tahun 2009 lalu membentuk serta mengembangkan Fokal.info, media berbasis internet yang menjadi wadah pengembangan kemampuan menulis pemuda di Bandung. Terbukti, gemblengan Fokal.info dan peranan Onye, telah melahirkan sejumlah penulis muda di tingkat nasional, hingga jurnalis di media terkemuka.

Dalam dunia lintas agama, beliau juga aktif mendukung berbagai kegiatan Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang (FLADS) Kota Bandung. Sejak berdiri tahun 2007 lalu, FLADS telah menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti: buka puasa bersama, aksi damai Natal, pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu, diskusi-diskusi, dan sebagainya.

Kiprah Onye yang inspiratif ini, hendaknya bisa menjadi panutan bagi kita bersama. Onye memimpin bukan dengan sekedar retorika dan perkataan saja. Ia menjadi sosok pemimpin yang memberi contoh konkret dengan kepandaiannya, kesederhanaannya, dan kemampuannya untuk berkomunikasi dengan semua kalangan.

Nusantara yang sedang mengalami krisis kepemimpinan, bisa berkaca pada pengalaman kepemimpinan Onye di bidang penerbangan dan juga sektor sosial. Kerja kerasnya untuk mempertahankan eksistensi PTDI dan pengabdiannya di sektor sosial, menjadi bukti bahwa Onye sangat mencintai Merah Putih. Masa mendatang, pemuda-pemudi binaannya akan meneruskan model kepemimpinan yang sudah ia teladankan, dan itu pertanda bahwa Indonesia masih memiliki harapan.

Basar Daniel | Pirhot Nababan