Kornel M. Sihombing Sebagai Sebuah Visi

Sosok inspiratif berdedikasi, konon katanya, akan lebih cepat “pergi” dan meninggalkan kita, daripada individu berkepribadian bobrok. Kami tak mau percaya begitu saja, karena bagi kami, sosok seperti itu yang membuat negeri ini tetap bertahan dari berbagai terpaan dan cobaan.

Gunung Salak, Rabu, 9 Mei 2012, menjadi saksi bisu bahwa kami harus menghadapi kenyataan yang enggan kami percayai. Kami akhirnya harus “ditinggal” oleh seorang ayah, abang, mentor, sekaligus rekan kami, Kornel M. Sihombing.

Bang Onye, begitu ia akrab dipanggil, “pergi” meninggalkan kami ketika ia menunaikan tugasnya di angkasa Nusantara. Kepergiannya membuat kami berpikir ulang. Siapa yang akan menjadi panutan bagi kami di masa mendatang? Siapa yang mampu mengayomi kami? Siapa lagi yang bisa memberi contoh tanpa harus berkesan menggurui?

Berbagai pertanyaan dalam pikiran, membuat kami menelusuri memori kami atas Bang Onye. Kami teringat berbagai motivasi dan inspirasi dari Bang Onye. Dedikasinya kepada negeri melalui kedirgantaraan, pelayanannya kepada jemaat di gereja, hingga komitmennya untuk membangun generasi muda.

Bang Onye pernah berkata bahwa generasi muda membangun dirinya bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi agar bisa memberi lagi kepada orang lain. Kami yang selama ini hanya berorientasi pada diri sendiri akhirnya tersadar, keunggulan individu tidak akan ada artinya jika luput untuk dibagikan kepada orang banyak.

Tak hanya berhenti dalam perkataan, Bang Onye berperan besar dalam membangun berbagai wadah bagi generasi muda, yang sedang berada di persimpangan dan mencari jati diri. Wadah tempat kami bercengkrama, berdiskusi, berbincang, dan mengambil inspirasi dari sosok Bang Onye.

Sungguh luar biasa ketika kami juga melihat konsistensi perkataan dan perbuatan Bang Onye. Kami melihat ia sebagai sosok yang memberi contoh melalui perbuatan dan bukan sekedar ucapan manis di bibir saja.

Sosoknya yang besar, tak membuat Bang Onye menjadi silau. Ia tetap menjalani kesederhanaan dalam kehidupannya, sesuatu yang semakin jarang kita temukan dalam keseharian di negeri ini.

Berbagai memori atas Bang Onye membuat kami tersadar bahwa ia bukan lagi individu belaka. Bang Onye telah bertransformasi menjadi sebuah ide, sebuah visi, dan sebuah konsep.

Kepergiannya membuat kami menangis. Tetapi tangisan ini adalah sebuah titik tolak bagi kami untuk meneruskan ingatan, ucapan, dan inspirasi dari Bang Onye. Tangisan ini akan menjadi awal bagi kami untuk meneruskan Bang Onye sebagai sebuah visi.

| Redaksi fokal.info |