Absurditas!

Pertanyaan absurd ribuan orang ketika menangisi kematian Kornel Sihombing adalah: ”Mengapa Kornel, seorang jujur dan cerdas, penatua gereja yang kreatif, aktivis lintas agama yang cinta damai, dan seorang yang, dengan caranya sendiri, berkomitmen membela kepentingan karyawan dan bahkan kepentingan bangsa melalui PT Dirgantara Indonesia ‘dipanggil’ terlalu cepat oleh Tuhan?”

Bagaimana mungkin orang sebaik Kornel malah dibiarkan Tuhan pulang ke rumahNya mendahului kita? Ini bukan sekedar sebuah pertanyaan, tetapi suatu protes, bahkan kemarahan.

Di wall FB saya, seorang rekan menumpahkan kegusarannya terhadap “kehendak Tuhan” atas diri Kornel. Rekan saya itu protes sangat keras. Dia seperti seorang anak yang menangis sekuat-kuatnya ketika mainan kesayangannya diambil orang tuanya. Pada wall FB itu, ia melontarkan bukan lagi  pertanyaan, tetapi sebuah somasi, gugatan kepada Tuhan.

Saya pernah mendengar rentetan pertanyaan, keluhan bercampur kemarahan yang sama kerasnya ketika Tuhan memanggil Munir, Nurcholis Madjid dan Gus Dur kembali ke haribaan-Nya. Orang-orang ini adalah pejuang kemanusiaan. Mereka berbicara untuk rakyat dan bersama rakyat.

Mereka adalah orang yang mencintai setiap orang dan dicintai siapapun. Mereka adalah perwujudan dari hampir seluruh idealisme bagaimana menjadi manusia yang ideal yang ingin kita raih. Mereka adalah teladan! Pancaran cinta yang mereka lontarkan melalui kata dan aksi meresap hingga ke tulang sumsum kita.

Tetapi, ketika kita tenggelam dalam arus cinta mereka, dan justru ketika kita dan segenap rakyat yang tertindas di negeri ini membutuhkan mereka, Tuhan meraup mereka. Tuhan merebut mereka secara sewenang-wenang, dari tengah-tengah kita. Lalu, kita pun limbung, kehilangan pegangan. Protes keras pun dilontarkan kepada Tuhan yang secara otoritatif menerapkan kebijakanNya.

Kalau boleh jujur, bagi banyak orang, Tuhan telah melanggar prinsip HAM dan demokrasi. Tuhan mengambil secara sewenang-wenang apa yang justru paling kita kasihi. “Blue-Print Tuhan,” mengutip istilah Kornel, sungguh absurd, tidak masuk akal!

Hasrat Reptilian

Sebenarnya, dalam hasrat ‘reptilian’ yang mendorong nafsu dendam, kita berharap mestinya bila Tuhan benar-benar adil, seharusnya Tuhan memberi azab dan sengsara bahkan mencabut nyawa para ratusan koruptor yang menggerogoti kekayaan bangsa kita, bukan mencabut nyawa Kornel Sihombing, manusia jujur yang masih numpang di rumah mertua meski posisinya di PT DI sudah sangat tinggi.

Seharusnya Tuhan mencabut nyawa para penindas dan para pelaku ketidakadilan yang mengotori ranah keIndonesiaan kita, bukan mengambil nyawa Gus Dur atau Cak Nur. Gereja dan Indonesia lebih membutuhkan Kornel Sihombing yang cinta damai daripada pelaku-pelaku anarkisme dan kekerasan.

Dalam hasrat reptilian, kita berharap Tuhan mencabut nyawa orang-orang jahat itu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Yang menyedihkan adalah hasrat reptilian kita tidak diakomodasiNya. Sebaliknya, Tuhan justru memanggil pulang orang-orang baik dan pejuang kemanusiaan yang penuh cinta seperti Munir, Gus Dur, Asmara Nababan, dan Kornel Sihombing dalam kemuliaanNya.

Kalau bisa, kita memprotes kebijakan Tuhan bahwa seharusnya orang-orang baik inilah yang diberi kesehatan dan umur panjang! Bukan dicabut nyawanya secepat itu. Lalu apa maunya Tuhan dengan kebijakan anehNya itu? Sebuah absurditas! Kita berhadapan dengan suatu ketidakmasukakalan!

Berhadapan dengan absurditas Tuhan, kita menjadi ‘stuck’, tidak berdaya. Jangankan mencari jawaban, untuk mengajukan pertanyaan pun kita tidak sanggup. Sesungguhnya teriakan dan tangisan kita terhadap kebijakanNya adalah letupan ketidakberdayaan. Kita merasakan kerapuhan yang luar biasa.

Mungkin kita tidak akan pernah menemukan jawaban atas rencanaNya. Inilah sebentuk ketidakberdayaan kita! Vulnerability! Tetapi, inilah yang juga dialami Paulus ketika dalam kerapuhannya ia mendengar suara Tuhan berkata: ”Justru dalam kelemahanmulah, kuasaKu semakin sempurna.”

Integritas

Saya menangis ketika mendengar kecelakaan pesawat Sukhoi di mana Kornel ada di dalamnya. Saya mengikuti terus, siang dan malam, perkembangan pencarian pesawat Sukhoi dan nasib Kornel. Sulit bagi saya untuk tertidur. Hari-hari itu menjadi sangat meletihkan. Dan tiba-tiba, saya sadar betapa berharganya Kornel bagi saya. Kornel telah menjadi bagian hidup saya, bahkan menjadi bagian hidup kami keluarga.

Sondang, istri saya, menangis berhari-hari saat menantikan kabar tentang Kornel. Belum pernah ia semelankolis ini. Dan nampaknya kami tidak sendirian. Sangat banyak orang yang mencintai Kornel. Banyak orang yang ternyata, sama seperti saya, tidak bisa tidur hingga berhari-hari karena memantau perkembangan Kornel.

Ketika kabar tentang Kornel menjadi jelas bahwa Tuhan memanggilnya pulang, banjir air mata tidak tertahankan lagi. Semua kehilangan sahabat terbaik yang sangat dikasihi. Ketika melihat ribuan orang menangisinya, sempat terbersit pikiran nakal dalam benak saya, “Bila semua orang saja mencintainya, apalagi Tuhan. Pantaslah Tuhan segera mengambilnya. OK Tuhan! Kornel adalah milikmu. Tak ada seorang pun bisa menahannya.”

Bagi saya, Kornel bukan sekedar anggota jemaat atau seorang rekan penatua. Kornel adalah sahabat bahkan saudara yang sangat saya banggakan. Seingat saya inilah kali kedua saya menangis ‘berat’ ketika aktivis GKI Maulana Yusuf dipanggil Tuhan.

Kali pertama ketika Tuhan memanggil ibu Miranti Budiharto kembali kepangkuanNya. Saya menangis meraung-raung seperti anak kecil. Saya tak perduli bila orang menganggap saya cengeng. Memang, saya sangat terpukul karena hubungan saya dengan ibu Miranti sangat dekat bagaikan ibu dan anak. Kami selalu berdiskusi bersama tentang segala hal.

Kali ini, saya mengalaminya lagi. Kornel, sahabat dan saudara yang sangat saya hormati dipanggil oleh Tuhan. Saya menangis seperti anak kecil, tetapi kali ini tidak di depan umat. Saya bertekad tidak mau menangis di depan Indri, Korin dan Luhut karena saya takut akan menambah kesedihan mereka. Meski tekad itu bisa saya lakukan, tetapi kepala menjadi pening setiap kali menahan emosi.

Seminggu sebelum kepergiannya, kami sempat diskusi sambil ngopi bersama. Diskusi dan ngopi adalah aktivitas rutin yang sering saya dan Jeffrey Samosir lakukan bersamanya. Kami bertiga menaruh perhatian besar pada peningkatan kualitas generasi muda, pada kehidupan bergereja, berpolitik dan pada soal-soal lintas agama. Oleh karena itu, diskusi kami selalu meluas kemana-mana.

Kornel, juga Jeffrey, selalu menanggapi setiap persoalan dengan cerdas dan sangat dalam. Tidak ada yang sia-sia ketika berbicara dengan mereka berdua! Kornel, dan juga Jeffrey, adalah gudang inspirasi bagi saya. Kepada mereka, saya katakan, “Kalian berdua adalah pemikir, saya hanyalah tim doa.”

Beberapa hari sebelum kecelakaan Sukhoi, kami berkumpul lagi. Saya besyukur karena saat itu saya sempat mengatakan kepadanya bahwa setiap saya membutuhkan teman berdiskusi, dia adalah salah satu orang yang akan saya kontak. Saya ingin tegaskan saja betapa saya respek pada kecerdasannya, pada komitmen, dan terutama pada integritasnya. Ya, Kornel adalah pribadi yang berintegritas. Saya dan banyak orang mengalaminya!

Kornel sempat menceritakan kepada saya pergumulan beratnya dalam meniti karier di PT DI. Pilihannya hanya dua: bertahan atau hengkang total! Kalau melihat kondisi PT DI yang ketika itu carut-marut tanpa masa depan dibandingkan dengan tawaran yang menggiurkan dari perusahaan lain, siapapun pasti segera memutuskan meninggalkan PT DI.

Tetapi, Kornel memilih bertahan di PT DI. Suatu keputusan yang absurd dalam dunia di mana komitmen tergantung pada seberapa besar benefit yang diterima! Saya penasaran atas keputusannya yang absurd, benar-benar tidak masuk akal! Saya tanyakan alasannya untuk bertahan. Jawaban Kornel luar biasa. Ia bertahan demi membela nasib ratusan anak buahnya. Kagum saya! Kornel tidak ingin menyelamatkan dirinya sendiri. Ia memilih bertahan demi membela anak buahnya.

Ia seperti kapten kapal yang tidak akan pernah meninggalkan kapalnya sebelum yakin semua penumpang sudah selamat. Ditinjau dari teori psikologi kedewasaannya Kohlberg, keputusannya itu menempatkan Kornel sebagai manusia yang matang dan dewasa. Manusia yang lebih memikirkan  kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri. Ia manusia berintegritas!

Ketika kami berpisah, saya memandang kepergiannya sambil berkata dalam hati: “Inilah ciri orang besar! Meski ada peluang untuk pengembangan kariernya di luar sana, ia lebih memikirkan nasib dan masa depan orang lain.” Bagi saya, apa yang dibuatnya adalah sebuah khotbah yang hidup!

Dalam diri dan tindakan Kornel, Firman bukan kata-kata kosong yang sekedar diafal di luar kepala, tetapi telah menjadi aksi nyata! Sikap pelayanannya yang diinspirasikan oleh imannya terus berkobar dalam dadanya. Tak ada satu pun atau apapun yang bisa memadamkannya. Saya bangga kepadanya!

Mencintai Tuhan

Sama seperti kita semua, Kornel pasti punya banyak kelemahan. Betapa pun begitu, Kornel adalah tipe ideal bagaimana seorang Kristen seharusnya bersikap. Bagi orang seperti Kornel, gereja menjadi mata air pelayanan yang membuat cintanya kepada Tuhan tetap berkobar-kobar.

Kornel mencintai Tuhan. Inilah sumber komitmen dan integritasnya dalam segala aktivitasnya di tengah keluarga, di tempat kerjanya dan di tengah masyarakat.  Bagi Kornel, seluruh dunia menjadi gereja, tempat dia melayani dan mengabdi pada kemanusiaan dan kemuliaanNya.

Memang, Kornel telah pergi, tetapi komitmen, cinta dan integritasnya telah mempengaruhi dan menghidupi banyak orang, terutama kaum muda. Kornel dicintai sangat banyak orang. Ia layak dicintai karena ia memberikan diri dan hidupnya untuk mencintai dan untuk berjuang bagi kepentingan banyak orang.

Ketika jenazahnya disemayamkan di aula PT DI, ribuan orang dari berbagai kota, dari berbagai agama, gender dan etnik, berkumpul bersama. Kornel menyatukan kita semua. Saya tahu, semua orang mencintainya karena Kornel memang mencintai setiap orang. Cintanya pada setiap orang didasarkan pada cintanya pada TuhanNya. Di depan peti jenazahnya, tiba-tiba saya teringat lagu karangan David Graham:

In moment like this,

I sing out a song,

I sing out a love song to Jesus.

In moment like this,

I lift up my hands,

I lift up my hands to the Lord.

Singing I love You Lord.

Singing I love You Lord.

Singing I love You Lord.

I love You

Lagu itu membuat saya menangis, tetapi ia memberikan kelegaan spiritual! Kita harus belajar mencintai Tuhan ketika Dia menjalankan “blue printNya.”  Dalam hati saya berdoa: ”Tuhan, buatlah Indri, Korin dan Luhut setegar Ayub yang mampu berkata: Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah Tuhan.” Saya makin percaya itu karena keluarga mereka memiliki darah “Ayub”.

Masih di hadapan peti jenazahnya, saya berbisik: “Kornel, cinta, komitmen dan integritasmu akan terus berkobar di hati setiap orang yang pernah merasakan kehadiran dan pelayananmu.” Pergilah dengan damai sobat! Aku akan tetap merindukanmu! Moga suatu saat kita bertemu sambil berdiskusi dan ngopi bersama lagi!

| Albertus Patty |
Teman diskusi dan ngopi