Indonesia Mengantarmu Pulang

Aku terbisu….
Melihat ribuan pelayat pengantar…
Onye….

Mereka berulos
Mereka berjilbab
Mereka berjas penghormatan
Mereka berpeci, bertopi haji
Mereka hitam
Mereka putih sipit
Mereka menangkupkan tangan

Khidmat,
Mereka membuat tanda salib….
Mereka menengadahkan tangan….

Kornel….
Aku takjub, melihat mereka yang mengantarmu…
Mereka adalah Indonesia yang kau impikan…

Aku tak ingin menangis hari ini
Aku, Sahat, dan Jeffrey (sahabat kesayanganmu) tadi malam berjanji
Tidak ada lagi air mata…

Namun aku gagal…
Kembali air mata menetes….
Bukan karena sedih…
Sobatku, bukan karena sedih

Tapi karena haru….
Bangga melihat cinta orang-orang yang mengantarmu hari ini…
Merekalah refleksi cintamu pada mereka…

Seorang Pendeta Buddha dari forum lintas agama
Kulihat di sudut terisak dalam tangan yang memeluk tasbihnya…

Aku melihat saudara-saudara Tionghoaku
Mendoakan dalam tunduk yang dalam

Aku terkejut melihat sahabat-sahabat Muslim
Yang demikian tulus mengantar…

Andai kita bisa melihat Tuhan tersenyum
Berjajar malaikat menjemput ruh yang demikian murni dan lembut
Penuh cahaya cinta… Inilah Indonesia yang sejati
Di mana Tuhan menitipkan cintaNya yang paling rahasia
Di hati manusia-manusia sederhana yang penuh kasih….

Disinilah aku berurai air mata
Bersisian dengan sahabat-sahabat Onye
Berikrar….

Aku bertekad akan meneruskan semangat dan perjuanganmu…
Aku berjanji…
Aku berjanji…

Maafkan air mataku sahabat….
Pulanglah ke pelukan Tuhan yang tak sabar menantimu… Ingin memelukmu…
Pulanglah sayang….
Sahabat sayang…..

Illon,
TPU Pandu, Bandung
24 Mei 2012

Kenangan Terhadap Alm. Bang Kornel dari Keluarga Alm. Capt. Aan

Dear Bang Kornel, keluarga dan kawan-kawannya.

Minggu lalu, saat sekeluarga menerima bukti forensik property milik Ayah saya yang juga korban Sukhoi. Terdapat diantaranya sim, credit card yang sudah terbakar serta dompet kulit yang sudah melepuh.

Yang menjadi menarik dan terkesan adalah adanya dompet khusus kartu nama yang masih utuh beserta isinya. Diantara kartu nama Ayah saya, yang paling depan terdapat kartu nama Bang Kornel. Hanya Bang Kornel seorang. Tidak ada kartu nama milik orang lain.

Menurut kami sekeluarga, Ayah saya hanya bertukar kartu nama saat diminta atau saat menikmati obrolan, saat terkesan dengan orang tersebut sehingga dia ingin mengkontaknya suatu hari nanti, tanpa motif apapun, just friendship, just say hello.

Pada hari itu, menurut kami sekeluarga, Ayah saya dan Bang Kornel duduk berdekatan di atas pesawat. Sama-sama memiliki sifat idealis, sederhana dan loyalis. Ayah saya bertahan di Bouraq, Bang Kornel pun di IPTN.

Salam hormat untuk keluarga yang ditinggalkan. Saya harap ikatan silaturahmi yang baru terjalin beberapa jam oleh kedua orang yang saya hormati tersebut masih dapat tersambung melalui keluarga yang ditinggalkan, juga melalui bang Chandra Sihombing, ikatan silaturahmi antara alumni junior ITB dan alumni senior ITB.

Wassalam,

Angga Tirta (Atir) #SBM 04, PS-IA ITB

Wignu Mughni (Inu) #FI 03, Pilot Garuda Airlines

Distinguished Speech of a Great Lady

Tulisan ini saya buat sekitar 5 hari setelah musibah terjadi. Saat harapan mulai sirna, saya meminta hikmat Tuhan untuk tahu apa yang ingin dinyatakan-Nya melalui peristiwa ini.

Untuk PT DI

23 tahun sudah Kornel berada di tempat ini. Dimulai sebagai karyawan kontrak pada saat masih kuliah, hingga jabatan terakhirnya saat ini sebagai Kepala Divisi Integrasi Usaha.

Banyak hal yang sudah Kornel lakukan dan banyak pula yang sudah dia dapatkan. Kenangan-kenangan tentang dia ada di benak rekan-rekan kerja yang pernah bekerja bersama-sama. Rasa kehilangan kita rasakan bersama.

Kornel sangat mencintai PT Dl, tempat dia bekerja dan berkiprah. Di tengah adanya pandangan yang kurang baik terhadap industri pesawat di Indonesia, ia dapat berkata dengan penuh kebanggaan, “Adalah suatu kekayaan bangsa Indonesia memiliki industri pesawat dan layaklah kita berjuang mempertahankan eksistensinya.”

Karena itu yang ingin saya sampaikan bagi setiap anak buah dan rekan kerja yang selama ini bekerja bersamanya, “Teruslah berjuang untuk mempertahankan eksistensi industri kedirgantaraan di Indonesia. Kornel sudah mentransfer fighting spiritnya pada setiap anak buahnya, seperti dia juga lakukan itu pada saya dan anak-anak kami. Harapan kita semua, PT Dl dapat struggle dan survive, terus exist di Indonesia bahkan juga untuk dunia internasional.

Biarlah semangatnya ada terus bersama-sama dengan kita. Berjuanglah terus mencapai visi yang juga Kornel sering sampaikan.

Allah yang maha besar mengasihi PT Dl. la akan menolong setiap staff dan karyawan yang bekerja dengan kesungguhan hati.

Dalam kesempatan ini, ijinkanlah saya menyampaikan pesan pada Bapak Presiden Republik lndonesia yang saya hormati, kiranya pemerintah memberi perhatian yang lebih lagi untuk PT DI, karena inilah asset bangsa yang sangat berharga, di mana putra-putra terbaik bangsa bekerja untuk mengharumkan nama bangsa Indonesia.

Permohonan maaf juga saya sampaikan, apabila ada hal-hal yang tidak berkenan yang dilakukan almarhum semasa hidupnya.

Terimakasih.

Indriati Ayub

Foto pemakaman klik: Kebaktian Pemakaman Kornel M. Sihombing

Pengiriman ke-2.000 Komponen A320, Sebuah Pencapaian Bersejarah

“Situasi keuangan lagi sulit begini ‘kok’ ada pesta?”

Jakarta (ANTARA News) – Pada Kamis, 20 Oktober 2011 tidak terlihat adanya kegiatan khusus di luar rutinitas di lingkungan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung Jawa Barat, kecuali pelatihan “Media Relations” untuk para kepala divisi dan manajer di salah satu gedung di luar kawasan produksi. Selebihnya di kawasan produksi tidak ada kegiatan yang istimewa.

Namun, di Assembly Line A320 ada aktivitas yang tidak biasa untuk kawasan produksi. Di ruang kosong antara area assembly dan area packaging ada meja-meja yang ditata sederhana dengan tumpeng nasi kuning di atasnya. Beberapa kursi diletakkan agak jauh dari sisi meja.

Kelihatannya seperti ada pesta kecil. “Situasi keuangan lagi sulit begini ‘kok’ ada pesta?” Mungkin itu pikiran yang muncul dari sebagian orang di PTDI. Memang, pada 20 Oktober itu Manajemen Aerostructure memutuskan mengadakan semacam acara syukuran sederhana dan tanpa publikasi.

Syukuran tersebut diadakan karena pada esok harinya, Jumat, 21 Oktober 2011 Direktorat Aerostructure PTDI akan mengirimkan set ke-2.000 dari komponen sayap pesawat Airbus A320 ke Spirit Aerosystem di United Kingdom (Inggris).

Acaranya relatif sederhana mengingat situasi sulit dan prihatin yang sedang dihadapi perusahaan. Namun, pesta kecil itu dipandang perlu dilakukan untuk mesyukuri kemajuan yang telah dicapai, sekaligus untuk mengapresiasi para pekerja yang bekerja bahu-membahu menghasilkan prestasi yang membanggakan.

Meskipun dirayakan secara sederhana, sesungguhnya pengiriman set ke-2.000 komponen pesawat Airbus A320 itu adalah suatu pencapaian yang “luar biasa” karena dua hal. Pertama, karena program ini adalah salah satu mata rantai penting dari satu rantai pasokan global yang konsisten untuk pesawat yang paling laku di dunia (Airbus), dan Aerostructure PTDI adalah penyuplai tunggal untuk produk yang dikirim.

Kedua, kegiatan itu membuktikan bahwa program pembuatan komponen pesawat A320 tersebut telah mampu dilakukan secara konsisten meskipun dalam situasi keuangan perusahaan yang amat sulit.

Progam A320 itu sendiri, sebelumnya disebut “Progam Paragon” dengan laju produksi tertinggi di dunia. Saat dimulai di tahun 2005 banyak pihak meragukan apakah Aerostructure PTDI mampu mengelola dan memproduksi 28 set per bulan komponen pesawat tersebut.

Pandangan skeptis itu sendiri ada di internal PTDI selain juga di pelanggan sebagai pemilik project. Namun mereka yang percaya PTDI akan mampu melakukannya terus secara konsisten mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk bisa memulai project itu.

Sulit Memang. Kontrak untuk program tersebut ditandatangani pada tahun 2005. Setahun kemudian, tepatnya pada bulan Juni 2006 Aerostructure PTDI baru mencapai pengiriman set ke-100 dengan segala masalahnya. Ini baru sepertiga dari target 300 set per tahun. Namun, perlahan tapi pasti Aerstructure terus mengalami kemajuan. Lima tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 20 Oktober 2011 Aerostructure PTDI berhasil memproduksi set ke-2.000.

Secara rata-rata keberhasilan pencapaian ini sama dengan keberhasilan produksi sekitar 380 set per tahun. Ini prestasi yang membanggakan. Namun tantangan ke depan akan lebih dahsyat, yakni produksi 440 set per tahun!

Dalam kaitan ini, merayakan suatu kemajuan meskipun secara sederhana dipandang memiliki makna yang sangat penting karena kemajuan itu sendiri menurut riset terbaru merupakan motivator utama dalam keseharian para pekerja.

Riset berjudul “What Really Motivate Workers” oleh Teresa M. Amabile & Steven J. Kramer itu menunjukkan bahwa membuat kemajuan (making progress) dalam pekerjaan, bahkan kemajuan kecil (incremental) terbukti menjadi motivator utama pekerja dalam keseharian yang jauh melebihi faktor-faktor lain seperti dukungan peralatan yang lengkap, dukungan rekan sekerja, kolaborasi bahkan insentif.

Bagi segenap personil Aerostructure PTDI, hasil riset itu adalah kabar gembira, karena hal yang dirisetkan tersebut terjadi di Aerostructure perusahaan pembuat pesawat terbang dan persenjataan tersebut.

PTDI adalah industri pesawat terbang yang pertama dan satu-satunya di Indonesia dan bahkan di wilayah Asia Tenggara. Perusahaan ini dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. Perusahaan tersebut didirikan pada 26 April 1976 dengan nama PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio yang kemudian berganti nama menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 11 Oktober 1985. PT IPTN pun kemudian berubah nama menjadi PT Dirgantara Indonesia pada 24 Agustus 2000.

Sejak didirikannya, perusahaan tersebut telah mendeliver lebih dari 300 unit pesawat terbang dan helikopter, 50.000 unit roket dan 150 unit torpedo serta 10.000 unit komponen pesawat terbang (F-16, Boeing, termasuk 2000 komponen untuk Airbus).

Saat ini, di tengah minimnya dukungan peralatan dan sumber daya lainnya, Aerstructure PTDI terus bekerja membuat kemajuan, dan pencapaiannya memberikan motivasi bagi para pekerja di tengah keluhan kurang lengkapnya sarana pendukung.

Syukuran kecil atas pencapaian prestasi itu merupakan pesan untuk semua level manajemen PTDI bahwa dalam kondisi apapun manajemen perlu terus mendorong kemajuan serta harus terus berhati-hati agar tidak melemahkan motivasi para pekerja, sebab bagaimanapun pada akhirnya pencapaian yang membanggakan akan dapat membawa PTDI keluar dari kesulitan yang dihadapi. Semoga…..

* Penulis: Kornel M. Sihombing (Vice President Business Integration, Directorate of Aerostructure PTDI)

*Editor: Ruslan Burhani

Dimuat di www.antaranews.com

 

 

 

Memori Jendral Jeanne Mandagi

Sewaktu kecil, Kornel bersama orang tuannya tinggal bertetangga dengan kami  Jack dan Jeanne Mandagi, di  kompleks  Brimob di Tantui – Ambon, waktu itu Kornel masih berumur sekitar 5 tahun belum sekolah.

Dia sering datang main di rumah kami, dan juga suka bermain-main  dengan Oma, dia anak yang sangat baik dan sopan. Kornel kecil seringkali disuruh mamanya meminjam korek api untuk nyalakan kompor di rumah mereka

Hubungan keluarga Mandagi dan Sihombing sangat dekat. Kornel waktu kecil dipanggil Ucok, baru kemudian dipanggil Onye.

Dan karena dia sangat disayang oleh keluarga kami, dan karena hubungan baik antara kedua keluarga maka Ucok kecil diberi nama Kornel Mandagi Sihombing

Singkatnya hampir setiap hari Ucok berada di rumah kami  karena selain bertetangga, Ucok sudah kami anggap anak kami sendiri.

Kemudian keluarga Sihombing pindah, dan kami juga pindah ke Jakarta.  Semenjak itu kita jarang ketemu karena kesibukan masing-masing.

Namun pada waktu Kornel diwisuda dan lulus dari ITB, kami diundang dan saya turut menghadiri wisuda tersebut dengan perasaan yang sangat bangga.

Tragedi pesawat Sukhoi ini sangat memukul perasaan kami, sangat menyedihkan bagi saya pribadi.

Kami berdoa semoga Tuhan menerima Kornel di surga sesuai amal baktinya dan diberikan ampunan segala kesalahannya.

Dan kepada keluarga yang ditinggalkan semoga  diberikan kekuatan, penghiburan, dan ketabahan.

(Dari: Jendral Jeanne Mandagi, seperti yang dituturkannya pada Davy Sumolang (TA’82), keponakan kandungnya, yang kebetulan adalah salah seorang sahabat Onye juga).

—————————

Cara Onye Mengabdi pada Sang Pencipta

Teman-teman yang tidak mengenal Onye secara personal, terutama angkatan sebelum 1980 dan sesudah 1988, mungkin bertanya mengapa kita merasa perlu mengenang Onye dengan cara yang sedikit lebih istimewa?

Onye secara positif, telah ikut membentuk diri kami, angkatan 80an. Dia telah meninggalkan jejak pada orang-orang yang mengenalnya. Bahkan, bagi saya, dia telah ikut menentukan arah dan sejarah Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM).

Misalnya, soal keberanian untuk bersikap. Dia yakin betul bahwa setiap orang, apalagi sebagai mahasiswa, harus punya sikap. Terlepas dari sikap itu condong ke kiri atau ke kanan, benar atau salah, sekaligus meyakini pilihan sikapnya itu.

Prinsip harus bersikap ini selalu dia sampaikan dalam berbagai kesempatan, baik di angkatan maupun di HMM. Dari interaksi dialektik selama bertahun-tahun, rasanya sikap Onye itu membekas pada banyak teman-teman, termasuk saya.

Contoh lainnya adalah idealisme Onye mengenai profesionalisme dan materi. Profesionalisme tidak harus diiringi dengan materialisme. Dengan kata lain, tenaga profesional tidak selalu harus mengejar gaji besar. Baginya, profesionalisme adalah bagian dari “mengabdi kepada Sang Pencipta”.

Sebagai manusia, kita harus bermanfaat bagi orang banyak. Bersikap profesional membantu kita memenuhi tujuan itu. Idealisme, sadar atau tidak, sepertinya merasuki kita, walaupun pada akhirnya sejalan waktu, banyak di antara kita yang tidak bisa, atau tidak mampu, atau luntur mewujudkannya; namun tetap menjadikannya sesuatu cita-cita.

Tapi Onye mempraktekkannya dengan sukacita sampai saat terakhirnya. Ia tidak pernah bersikap sinis atau nyinyir kepada rekan-rekan yang beralih ke jalur materialisme, semata-mata karena prinsip bahwa setiap orang berhak—malah harus—mengambil sikap dan meyakininya.

Kesetiaannya pada profesi sebagai mechanical engineer dan PT DI juga merupakan hal langka. Sekitar 2001 – 2002, saat PT DI di posisi terbawahnya, dia masih berdiskusi dengan penuh semangat mengenai PT DI; walaupun saya tahu dia harus nyari tambahan di luar untuk nutup kebutuhan dapurnya.

Sekitar 2008, dia juga semangat menceritakan happy problem yang dihadapinya; bagaimana memenuhi tenggat delivery komponen Airbus—pada saat itu PT DI sudah menjadi salah satu the best vendor dari Airbus—di tengah situasi internal PT DI yang masih banyak tantangan dan hambatan.

Dia menceritakan, sebelum ada film Laskar Pelangi, dia selalu kesulitan menjelaskan kenapa dia masih bertahan di PTDI. Setelah film itu keluar, maka dia selalu bertanya balik: “Sudah liat film Laskar Pelangi? Sudah mengerti kenapa Ibu Guru Mus memilih bertahan di SD reyot itu? Ya kira-kira begitulah kenapa saya masih di PTDI”. Luar biasa, ini suatu sikap profesional yang Merah Putih.

Walaupun Onye itu tegas berprinsip, tapi dia tidak keras kepala; pun tidak menyakiti lawan bicaranya. Gayanya yang khas bila dia sedang memilih kata yang baik, tapi sebenarnya ingin mengatakan lawan bicaranya keliru adalah “senyum-senyum-sambil-garuk-garuk-kepala”.

Karena itulah, kami merasa kehilangan teladan, kehilangan panutan, kehilangan tokoh ideal. Tapi di sisi lain kami juga sadar bahwa kematian itu pasti. Cara Onye pergi seakan-akan menegaskan bahwa pilihan hidupnya direstui Tuhan. Dia meninggal dalam tugas. Karena itulah, kami merasa perlu mengenang dan menghormatinya dengan cara yang agak istimewa.

Selamat jalan Onye. Bagi kami, kamu sudah tuntas/paripuna. You have fulfilled your purpose.

*Hardi M83

 

Kepak Sayap Sang Insinyur

Kritik terhadap miskinnya kepemimpinan inspiratif di Indonesia oleh banyak orang, mungkin dikarenakan luputnya perhatian mereka atas sosok Kornel Mandagi Sihombing. Pria Batak kelahiran Ambon, 15 Juni 1964 ini, dikenal sebagai salah satu putra terbaik di PT Dirgantara Indonesia (PTDI), karena kepemimpinannya di sektor industri penerbangan itu.

Onye, begitu ia biasa dipanggil, memulai karirnya di industri penerbangan pada akhir dekade 1980an, ketika PTDI masih bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), dan ia masih berstatus sebagai pegawai kontrak.

Visi kepemimpinannya sudah bisa dilihat ketika bergabung secara permanen di IPTN pada tahun 1992, karena ia sendiri mengatakan, “Setelah selesai kuliah saya ingin bekerja di PTDI karena selain ilmu saya terpakai, visipun terakomodasi walaupun saya tahu gaji di sana kecil.”

Tak banyak orang memiliki spirit seperti itu ketika mendapat pekerjaan dan mulai meniti karir. Biasanya, pertimbangan meniti karir tak jauh-jauh dari gengsi dan faktor finansial semata. Kesederhanaan serta spirit Onye ketika bergabung di industri penerbangan itu, membuatnya berhasil menduduki posisi kepala biro, satu tahun setelah ia bekerja di sana.

Karirnya tak berhenti sampai di posisi kepala biro. Setelah mendapat pelatihan di Amerika Serikat, alumnus teknik mesin Institut Tekonologi Bandung angkatan 1983 ini, dipercaya sebagai kepala bidang di tahun ketiga ia meniti karir. Kepandaian dan sosoknya sebagai pekerja keras, membuat ia diberikan beasiswa dari IPTN pada tahun 1997.

Melalui beasiswa itu, ia menempuh studi di Technische Universiteit Delft, salah satu perguruan tinggi terbaik di Belanda untuk jurusan teknik. Setelah mendapatkan gelar M.Sc dalam bidang material science, ayah dua anak ini kembali ke Tanah Air untuk kembali mengabdi di PTDI, khususnya lingkungan aerostructure.

Krisis ekonomi hebat yang menerpa Indonesia di akhir dekade 1990an, mau tak mau berdampak pada keberlangsungan IPTN. Ketika IPTN hampir dinyatakan bangkrut dan ditinggalkan insinyur-insinyurnya, Onye justru memilih untuk bertahan di IPTN dengan modal pendidikan dan pengetahuannya.

Harapan industri penerbangan Indonesia nampaknya harus pupus, ketika IPTN—yang kemudian diubah menjadi PTDI di tahun 2000—harus merumahkan sebagian besar karyawannya, akibat dampak krisis ekonomi. Tetapi keterpurukan ini tidak membuat Onye menyerah.

Keterbatasan PTDI untuk kembali membuat pesawat terbang nasional, tak membuat kesempatan tertutup total. PTDI justru mampu bertahan secara perlahan, dengan derasnya pesanan komponen pesawat terbang dari industri penerbangan luar negeri. Banjir order ini menjadi bukti kiprah kepemimpinan Onye, yang menjabat sebagai Vice President Business Integration di PTDI.

Misalnya, berkat peranan Onye, PTDI berhasil menjalin kontrak antara lain dengan Airbus untuk memproduksi inboard outboard fixed leading edge; dengan Eurocopter untuk memproduksi fuslage dan tail boom; dan juga kontrak dengan EADS Casa (Spanyol), Bombardier (Jepang), Korean Air Line (Korea Selatan), CTRM (Malaysia), dan SMEA (Malaysia). Rekan-rekan sekerjanya menjuluki ia sebagai “negosiator ulung”.

Kepemimpinan dan pengabdian Onye tak berhenti di sektor penerbangan saja. Meski berlatar belakang sebagai seorang engineer, Onye masih tetap berkegiatan di sektor sosial seperti pengembangan kepemudaan dan lintas agama.

Komitmennya untuk pengembangan kualitas pemuda, dibuktikan dengan keterlibatannya sebagai instruktur dalam pelatihan kepemimpinan pemuda dan pembicara dalam berbagai seminar. Antara lain: Leadership Development Program (LDP) yang digagasnya bersama rekan-rekanya sejak tahun 2005, telah memfasilitasi 7 angkatan dan melahirkan ratusan pemimpin muda Indonesia. Ia juga giat mengisi Leadership Training di organisasi-organisasi kemahasiswaan seperti GMKI, UKSU ITB, dan yang lainnya.

Tak hanya itu, ia juga berperan besar sejak tahun 2009 lalu membentuk serta mengembangkan Fokal.info, media berbasis internet yang menjadi wadah pengembangan kemampuan menulis pemuda di Bandung. Terbukti, gemblengan Fokal.info dan peranan Onye, telah melahirkan sejumlah penulis muda di tingkat nasional, hingga jurnalis di media terkemuka.

Dalam dunia lintas agama, beliau juga aktif mendukung berbagai kegiatan Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang (FLADS) Kota Bandung. Sejak berdiri tahun 2007 lalu, FLADS telah menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti: buka puasa bersama, aksi damai Natal, pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu, diskusi-diskusi, dan sebagainya.

Kiprah Onye yang inspiratif ini, hendaknya bisa menjadi panutan bagi kita bersama. Onye memimpin bukan dengan sekedar retorika dan perkataan saja. Ia menjadi sosok pemimpin yang memberi contoh konkret dengan kepandaiannya, kesederhanaannya, dan kemampuannya untuk berkomunikasi dengan semua kalangan.

Nusantara yang sedang mengalami krisis kepemimpinan, bisa berkaca pada pengalaman kepemimpinan Onye di bidang penerbangan dan juga sektor sosial. Kerja kerasnya untuk mempertahankan eksistensi PTDI dan pengabdiannya di sektor sosial, menjadi bukti bahwa Onye sangat mencintai Merah Putih. Masa mendatang, pemuda-pemudi binaannya akan meneruskan model kepemimpinan yang sudah ia teladankan, dan itu pertanda bahwa Indonesia masih memiliki harapan.

Basar Daniel | Pirhot Nababan