Lilin Harapan Bang Onye

Di tengah banyaknya persoalan di Indonesia, wajar saja jika banyak yang bercita-cita untuk segera pindah ke luar negeri dan meninggalkan negeri ini. Berita keterpurukan negeri yang “ditembakkan” berbagai media massa secara membabi buta, mematikan satu hal: Harapan. Banyak yang beranggapan bahwa tak ada lagi harapan bagi negeri ini.

Wajar saja, di mana-mana diberitakan tentang gerbang-gerbang kehancuran. Dunia politik yang semakin mementingkan kepentingan diri sendiri dan kelompok. Dunia hukum yang diobral. Dunia ekonomi yang kian ganas. Semua orang hanya memberlakukan prinsip SDM, Selamatkan Diri Masing-masing.

Tapi kemudian pada awal Maret 2012, saya bertemu sosok sederhana, sosok inspiratif. Tak sampai satu jam saya berbincang dengannya, namun banyak hal yang menggugah saya. Sosok itu adalah Bang Onye, demikian sapaan akrab Kornel Mandagi Sihombing.

Negara yang kian tenggelam dalam kebobrokan ini tak dilihatnya sebagai petaka. Justru ia memilih berpikir positif dalam melihat keadaan negara Indonesia, bahwa inilah pintu kebangkitan, bukan ambang kehancuran. “Hidup itu adalah pilihan,” katanya. Ya, kita bisa memilih untuk berpikir positif atau negatif. Terus berharap atau mematikan harapan. Bang Onye memilih untuk terus menyalakan lilin harapannya.

Ketika itu ia berbicara tentang pentingnya kebangkitan kaum muda yang dapat menginspirasi banyak orang. Menurutnya, inilah waktu yang tepat bagi generasi muda untuk melakukan tindakan kongkrit bagi bangsa ini, anak-anak ibu Pertiwi. Ada banyak hal yang bisa dilakukan, salah satunya melalui menulis.

Kasih dan cintanya akan Indonesia diwujudkan Bang Onye salah satunya lewat ikut mendirikan www.fokal.info. Di situs ini, visi-visi yang baik dan mulia tentang Indonesia yang lebih baik disebarluaskan melalui tulisan ke berbagai penjuru negeri. Tulisan karya putra-putri bangsa yang memiliki harapan yang baik atas Indonesia.

Visi-visi tersebut diucapkan Bang Onye dalam kalimat-kalimat sederhana yang menggugah saya. Dalam perbincangan singkat tersebut, saya dapat menilai bahwa ia merupakan sosok cerdas, kreatif, dan rendah hati. Pribadi Bang Onye juga sempat saya tanyakan pada kakak saya yang cukup mengenalnya. “Dia orang yang baik, dan peduli pada anak-anak muda,” ungkap kakak saya melalui SMS singkat.

Satu hal yang paling saya ingat dari percakapan dengan Bang Onye, bahwa cinta dan kasih diwujudkan dengan tindakan nyata. “Kehadiran kita di tengah-tengah mereka mewujudkan kasih kita. Dengan hadir berarti kita mengasihi,” demikian ungkapnya. Ucapannya terbukti ketika ia hadir di Pelatihan Menulis Fokal.info, Sabtu (5/5) silam. Di sana ia membagikan semangat menulis bagi beberapa anak muda yang menjadi peserta pelatihan.

Meskipun sosok Bang Onye tak lagi hadir di tengah-tengah kita, namun kasih, pemikiran, dan visinya akan selalu hadir dan menjadi motivasi untuk terus menyebarluaskan visi yang baik dan menginspirasi orang lain.***

| Destyananda Helen |