Cara Onye Mengabdi pada Sang Pencipta

Teman-teman yang tidak mengenal Onye secara personal, terutama angkatan sebelum 1980 dan sesudah 1988, mungkin bertanya mengapa kita merasa perlu mengenang Onye dengan cara yang sedikit lebih istimewa?

Onye secara positif, telah ikut membentuk diri kami, angkatan 80an. Dia telah meninggalkan jejak pada orang-orang yang mengenalnya. Bahkan, bagi saya, dia telah ikut menentukan arah dan sejarah Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM).

Misalnya, soal keberanian untuk bersikap. Dia yakin betul bahwa setiap orang, apalagi sebagai mahasiswa, harus punya sikap. Terlepas dari sikap itu condong ke kiri atau ke kanan, benar atau salah, sekaligus meyakini pilihan sikapnya itu.

Prinsip harus bersikap ini selalu dia sampaikan dalam berbagai kesempatan, baik di angkatan maupun di HMM. Dari interaksi dialektik selama bertahun-tahun, rasanya sikap Onye itu membekas pada banyak teman-teman, termasuk saya.

Contoh lainnya adalah idealisme Onye mengenai profesionalisme dan materi. Profesionalisme tidak harus diiringi dengan materialisme. Dengan kata lain, tenaga profesional tidak selalu harus mengejar gaji besar. Baginya, profesionalisme adalah bagian dari “mengabdi kepada Sang Pencipta”.

Sebagai manusia, kita harus bermanfaat bagi orang banyak. Bersikap profesional membantu kita memenuhi tujuan itu. Idealisme, sadar atau tidak, sepertinya merasuki kita, walaupun pada akhirnya sejalan waktu, banyak di antara kita yang tidak bisa, atau tidak mampu, atau luntur mewujudkannya; namun tetap menjadikannya sesuatu cita-cita.

Tapi Onye mempraktekkannya dengan sukacita sampai saat terakhirnya. Ia tidak pernah bersikap sinis atau nyinyir kepada rekan-rekan yang beralih ke jalur materialisme, semata-mata karena prinsip bahwa setiap orang berhak—malah harus—mengambil sikap dan meyakininya.

Kesetiaannya pada profesi sebagai mechanical engineer dan PT DI juga merupakan hal langka. Sekitar 2001 – 2002, saat PT DI di posisi terbawahnya, dia masih berdiskusi dengan penuh semangat mengenai PT DI; walaupun saya tahu dia harus nyari tambahan di luar untuk nutup kebutuhan dapurnya.

Sekitar 2008, dia juga semangat menceritakan happy problem yang dihadapinya; bagaimana memenuhi tenggat delivery komponen Airbus—pada saat itu PT DI sudah menjadi salah satu the best vendor dari Airbus—di tengah situasi internal PT DI yang masih banyak tantangan dan hambatan.

Dia menceritakan, sebelum ada film Laskar Pelangi, dia selalu kesulitan menjelaskan kenapa dia masih bertahan di PTDI. Setelah film itu keluar, maka dia selalu bertanya balik: “Sudah liat film Laskar Pelangi? Sudah mengerti kenapa Ibu Guru Mus memilih bertahan di SD reyot itu? Ya kira-kira begitulah kenapa saya masih di PTDI”. Luar biasa, ini suatu sikap profesional yang Merah Putih.

Walaupun Onye itu tegas berprinsip, tapi dia tidak keras kepala; pun tidak menyakiti lawan bicaranya. Gayanya yang khas bila dia sedang memilih kata yang baik, tapi sebenarnya ingin mengatakan lawan bicaranya keliru adalah “senyum-senyum-sambil-garuk-garuk-kepala”.

Karena itulah, kami merasa kehilangan teladan, kehilangan panutan, kehilangan tokoh ideal. Tapi di sisi lain kami juga sadar bahwa kematian itu pasti. Cara Onye pergi seakan-akan menegaskan bahwa pilihan hidupnya direstui Tuhan. Dia meninggal dalam tugas. Karena itulah, kami merasa perlu mengenang dan menghormatinya dengan cara yang agak istimewa.

Selamat jalan Onye. Bagi kami, kamu sudah tuntas/paripuna. You have fulfilled your purpose.

*Hardi M83