Kebaktian Penghiburan untuk Indri, Korin, Luhut, dan Keluarga

Gedung PKSN PT DI tidak mampu menampung pelayat yang ingin mengikuti kebaktian penghiburan untuk Indri, Korin, Luhut, dan keluarga. Kapasitas ruangan 600-700 orang, yang lain terpaksa menunggu di luar. Padahal sejak kedatangan jenazah siang harinya, sudah ratusan orang datang melayat dan pulang.

 

 

 

 

 

 

 

Eulogi: Onyek, Sahabat yang Luar Biasa

Banyak hal yang ingin keluar dari kepala untuk menceritakan siapa Onyek tapi sulit menuturkan dengan teratur. Saya mengenal dekat Onyek hampir sepanjang masa di ITB di tahun 80-an. Dia ada di aula Barat untuk  belajar bersama. Dia ada di lapangan basket saat kami unjuk kekuatan. Dia  selalu hadir tepat waktu saat rapat di ruang ujung student centre. Dia ada di unit kegiatan Sabtu malam dan Minggu pagi. Dia selalu ada di tengah pelatihan kepemimpinan untuk mahasiswa baru. Dia juga ada di dunia olahraga, mau bola atau basket.

Onyek hadir dengan kacamata, senyum, kernyit berpikir, rokok, dan jaket biru himpunan Mesin yang selalu dia banggakan. Dalam diskusi, dia menjadi pendengar dahulu, menunggu dengan sabar ucapan pencetus. Kemudian bertanya untuk validasi dan menempatkan pendapat dalam konteks.

Dia jarang terjebak dengan retorika atau emosi kami untuk melakukan aksi. Segala hal dipikir kritis, bukan karena ragu, tapi dia ingin yakin dahulu. Sekali dia yakin, dia akan bersikap keras, tanpa memaksakan kehendak. Salah satunya, waktu kami forum ketua himpunan akhirnya memutuskan untuk demo menentang dominasi militer ke MPR tahun 1988 dengan resiko tinggi.

Di tengah ‘gerakan’, dia sangat menghormati ‘akademis’. Kebanyakan kami termasuk saya menganggap ‘gerakan’ adalah pembebasan, sedangkan ‘akademis’ adalah kungkungan sistem pendidikan yang memaksa. Bagi dia, hal itu terbalik. ‘Akademis’ adalah jalan menuju pencerahan, yang kemudian menginspirasi ‘gerakan’.

Dia tidak percaya seorang aktivis baik dapat bergerak tanpa intelektualitas yang terasah akademis. Tidak heran tutur katanya dalam dialog sangat terstruktur, sangat ‘sekolahan’. Dia tidak pernah teriak untuk berpidato. Sering kami tidak sabar. Tapi di saat aksi, dia selalu pegang janji untuk membagi selebaran di waktu subuh, sementara sebagian kami datang terlambat ketiduran.

Apa aliran Onyek? Tidak mudah memberi stempel untuknya. Lebih mudah menggambarkan dari hal-hal “bukan”. Dia bukan ‘kanan’ walaupun sangat religius. Dia juga tidak percaya ‘kapitalisme’, karena dia menganggap dirinya jauh di atas akumulasi materi. Dia juga bukan ‘kiri’ karena tidak percaya perjuangan kelas.

Dia bukan ‘ultra nasionalis’, walau dia percaya kekuatan bangsa ini masih bisa membuat pesawat siapapun yang memerintah. Dia bukan ‘teknolog’ buta, karena dia percaya kekuatan sosial menentukan teknologi. Dia bukan ‘politisi’, karena dia tidak bisa bermain di dalam intrik organisasi. Dia bukan ‘moralis’ yang menganggap paling benar, walaupun semua kita tahu dia sangat bermoral.

Baginya dunia ini sederhana, sebuah proses pembentukan yang tidak pernah selesai. Semua berhak membawa kepercayaan dan aliran masing-masing. Dia ingin di tengah arus itu semua tanpa menjadi hanyut. Semua konflik selalu ada jembatan. Dia tunjukkan itu sejak di kampus.

Banyak kawan menjadi saksi di saat konflik antar himpunan, dia jadi jembatan. Di saat konflik tajam antara management dan serikat karyawan di PTDI, dia ada di kedua belah pihak. Dia tidak putus mencari titik temu. Baginya, setiap orang punya keinginan sama, ingin dihormati. Demikian juga dalam agama. Baginya, agama adalah rumah yang seharusnya nyaman, dan rumah-rumah Kristen, Islam, Hindu, Budha harus saling berbagi iman dan membentuk solidaritas satu sama lain.

Saya memilih 3 nilai besar dari hidupnya, yaitu profesional, peduli, dan sederhana. Tidak ada yang meragukan kesetiaannya dalam profesi kedirgantaraan. Dia telah membeli mimpi bahwa suatu waktu bangsa ini akan menjadi raksasa pembuat pesawat. Dia telah membayar sangat mahal dengan setia bekerja di PTDI, walaupun ada pilihan di tempat lain.

Dia bersama beberapa pejuang di PTDI terus mencari peluang menjadi pemasok komponen untuk pabrik pesawat seperti Airbus, demi mencari pendapatan perusahaan dan keahlian teknologi. Saya menduga kehadirannya di pesawat Sukhoi itu demi menjadikan PTDI salah satu pemasok komponen Sukhoi. Jika di negara lain, upaya itu dilakukan pemerintahnya untuk membantu industri dalam negeri, tapi di sini, Onyek dan kawan-kawan melakukannya sendiri demi ‘survival’ PTDI.

Dia sangat peduli. Lingkungan perusahaan, gereja, alumni ITB dan tetangganya adalah saksi hidup. Dia memberi kontribusi dengan otak dan tangannya. Kehadirannya ditunggu banyak orang, tanpa menjadi pusat perhatian. Dia selalu ikuti kegiatan yayasan angkatan ITB 83 kami di Jakarta walau harus datang dari Bandung.

Terakhir, tentang sederhana. Kami tidak habis pikir bagaimana dia mampu berada di atas tekanan kebutuhan hidup yang makin mahal. Dia telah memilih jalan yang mulia, bagaimana hidup cukup dengan penghasilan terbatas, baik rumah, kendaraan, penampilan, dan hal-hal remeh lainnya. Saya tidak pernah melihat Onyek ‘entertain’ untuk dirinya, atau pergi ke restoran mahal, atau membeli anggur. Olahraganya pun yang paling sehat dan murah, yaitu lari pagi.

Namun untuk pendidikan anaknya, dia tidak berkompromi. Dia sangat antusias menceritakan bagaimana perkembangan sekolah kedua anaknya, Korin dan Luhut. Dia ingin mereka bebas memilih hidup nantinya tapi dengan dasar hidup kuat dimulai di rumah. Sering dia merasa kurang waktu bersama anaknya. Keluarga adalah harta utamanya. Dan dia telah berhasil mendidik anaknya untuk tetap sederhana di tengah arus besar konsumtif dan hedonistik.

Bagi Indri (istrinya), Korin, dan Luhut, perkenankanlah saya menyampaikan, “Suami dan ayah kalian sangat luar biasa! Hidupnya adalah kotbahnya. Sungguh Tuhan telah memberi banyak melaluinya. Kami sangat beruntung dapat menjadi sahabatnya.”

Sebentar lagi Onyek akan tidur di peristirahatan yang terakhir. Kita semua masih menangis. Namun saya yakin, inilah awal sebuah era baru. Pemikirannya akan digali banyak orang untuk mencari jawab atas konflik horizontal. Semangatnya akan membakar kembali harga diri bangsa Indonesia untuk berdikari dan membuat pesawat sendiri. Nilai hidupnya akan menjadi panutan baru bagi anak muda.

Kita perlu seorang pahlawan. Mungkin Onyek akan menolak jika disanjung seperti ini. Namun saya memberanikan diri mengatakan bahwa Onyek telah berhasil menyelesaikan pertandingannya, dan dia pantas mendapat gelar dari kita semua ……….”our real hero”.

Selamat jalan, Sahabat!

Hotasi Nababan, Sipil ITB 83

Rabu malam 23 Mei 2012 @ PTDI, Bandung

Cara Onye Mengabdi pada Sang Pencipta

Teman-teman yang tidak mengenal Onye secara personal, terutama angkatan sebelum 1980 dan sesudah 1988, mungkin bertanya mengapa kita merasa perlu mengenang Onye dengan cara yang sedikit lebih istimewa?

Onye secara positif, telah ikut membentuk diri kami, angkatan 80an. Dia telah meninggalkan jejak pada orang-orang yang mengenalnya. Bahkan, bagi saya, dia telah ikut menentukan arah dan sejarah Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM).

Misalnya, soal keberanian untuk bersikap. Dia yakin betul bahwa setiap orang, apalagi sebagai mahasiswa, harus punya sikap. Terlepas dari sikap itu condong ke kiri atau ke kanan, benar atau salah, sekaligus meyakini pilihan sikapnya itu.

Prinsip harus bersikap ini selalu dia sampaikan dalam berbagai kesempatan, baik di angkatan maupun di HMM. Dari interaksi dialektik selama bertahun-tahun, rasanya sikap Onye itu membekas pada banyak teman-teman, termasuk saya.

Contoh lainnya adalah idealisme Onye mengenai profesionalisme dan materi. Profesionalisme tidak harus diiringi dengan materialisme. Dengan kata lain, tenaga profesional tidak selalu harus mengejar gaji besar. Baginya, profesionalisme adalah bagian dari “mengabdi kepada Sang Pencipta”.

Sebagai manusia, kita harus bermanfaat bagi orang banyak. Bersikap profesional membantu kita memenuhi tujuan itu. Idealisme, sadar atau tidak, sepertinya merasuki kita, walaupun pada akhirnya sejalan waktu, banyak di antara kita yang tidak bisa, atau tidak mampu, atau luntur mewujudkannya; namun tetap menjadikannya sesuatu cita-cita.

Tapi Onye mempraktekkannya dengan sukacita sampai saat terakhirnya. Ia tidak pernah bersikap sinis atau nyinyir kepada rekan-rekan yang beralih ke jalur materialisme, semata-mata karena prinsip bahwa setiap orang berhak—malah harus—mengambil sikap dan meyakininya.

Kesetiaannya pada profesi sebagai mechanical engineer dan PT DI juga merupakan hal langka. Sekitar 2001 – 2002, saat PT DI di posisi terbawahnya, dia masih berdiskusi dengan penuh semangat mengenai PT DI; walaupun saya tahu dia harus nyari tambahan di luar untuk nutup kebutuhan dapurnya.

Sekitar 2008, dia juga semangat menceritakan happy problem yang dihadapinya; bagaimana memenuhi tenggat delivery komponen Airbus—pada saat itu PT DI sudah menjadi salah satu the best vendor dari Airbus—di tengah situasi internal PT DI yang masih banyak tantangan dan hambatan.

Dia menceritakan, sebelum ada film Laskar Pelangi, dia selalu kesulitan menjelaskan kenapa dia masih bertahan di PTDI. Setelah film itu keluar, maka dia selalu bertanya balik: “Sudah liat film Laskar Pelangi? Sudah mengerti kenapa Ibu Guru Mus memilih bertahan di SD reyot itu? Ya kira-kira begitulah kenapa saya masih di PTDI”. Luar biasa, ini suatu sikap profesional yang Merah Putih.

Walaupun Onye itu tegas berprinsip, tapi dia tidak keras kepala; pun tidak menyakiti lawan bicaranya. Gayanya yang khas bila dia sedang memilih kata yang baik, tapi sebenarnya ingin mengatakan lawan bicaranya keliru adalah “senyum-senyum-sambil-garuk-garuk-kepala”.

Karena itulah, kami merasa kehilangan teladan, kehilangan panutan, kehilangan tokoh ideal. Tapi di sisi lain kami juga sadar bahwa kematian itu pasti. Cara Onye pergi seakan-akan menegaskan bahwa pilihan hidupnya direstui Tuhan. Dia meninggal dalam tugas. Karena itulah, kami merasa perlu mengenang dan menghormatinya dengan cara yang agak istimewa.

Selamat jalan Onye. Bagi kami, kamu sudah tuntas/paripuna. You have fulfilled your purpose.

*Hardi M83

 

Pahlawan Kemanusiaan dari Gempol 117

Onye adalah pahlawan kemanusiaan yang mengembara di tempat sepi, jalan yang jarang dilalui orang. Dia menjadikan semua manusia istimewa sebagaimana yang diyakininya tentang apa yang dilakukan oleh Sang Pencipta.

Onye tidak pernah lelah dalam meyakini dan menjalankan “misinya di dunia” untuk mengasihi dan mendahulukan orang lain. Sampai saat terakhir, misi itu terlihat jelas. Dia menggantikan posisi orang lain di flight demonstration Sukhoi SuperJet 100. Dia paham benar, untuk menjadikan orang lain istimewa, dia memberi “till it hurts”.

Sebagai sahabat, berita kecelakaan yang disampaikan oleh kawan Sonny Ibrahim, hingga masa penantian pengumuman, adalah masa yang sulit bagi saya. Di satu sisi, nalar saya mengatakan ada yang jelas terpampang dalam benak, setelah tim SAR tidak mampu menjangkau para korban dalam tiga hari. Di sisi lain, setelah bertemu langsung, saya paham situasi kebatinan Indri sebagai istri yang terus berharap.

Dari pengalaman di gunung Salak yang dingin dan selalu hujan, rasanya orang yang selamat pun tidak bisa bertahan dengan suhu dingin, tanpa makan dan minum selama tiga hari. Maaf untuk Onye dan Indri, sebagai sahabat, saya memutuskan tak memberi komentar sampai semua dinyatakan secara resmi.

Dengan diumumkannya bahwa seluruh korban yang teridentifikasi cocok dengan manifest penerbangan, semua penumpang pesawat dinyatakan SSJ-100 meninggal dunia. Onye telah mendahului kita untuk menghadap Sang Pencipta karena telah selesai menjalankan misinya di dunia. Semoga misi Onye di dunia telah benar-benar tuntas sehingga dia di sana disambut sebagai pemenang medali emas.

Kenangan Studi dan PTDI

Perjalanan dengan Onye dimulai saat menjadi mahasiswa teknik mesin, Institut Teknologi Bandung, angkatan 1983. Di kampus, pertemanan dengan Onye biasa-biasa saja, bahkan cenderung berbeda warna.

Saya mengutamakan hasil akademis, sementara dia sudah terlihat sebagai calon pahlawan kemanusiaan. Pembicaraan di kemudian hari dengan teman-temannya di SMA dan ketika dia sekolah di Belanda mempunyai kesamaan dalam kesan terhadap Onye.

Sekian tahun setelah lulus dari Bandung, kami bertemu dengan intensitas tinggi dalam situasi persoalan kelangsungan hidup IPTN/PTDI yang berada pada titik kritis. Pada waktu itu, analoginya adalah biduk akan tenggelam, sehingga baik penumpang maupun barang yang tak perlu harus dikeluarkan.

Saya cenderung melihat upaya pemecahan  persoalan IPTN/PTDI pada waktu itu dari sudut manajemen dan keekonomian usaha. Onye, di lain pihak, melihat nasib 6.000 karyawan yang akan diberhentikan. Dia mengatakan memang ada “bad apples” di antara 6.000 karyawan, tetapi dia tetap berupaya untuk menyampaikan solusi bagaimana kalau dilakukan “out placement” dalam proses eksodus paksa itu.

Di tengah kritik terhadap keberadaan PTDI, kami berdua sepakat dan mengagumi gagasan B. J. Habibie untuk membangun industri pesawat terbang di Indonesia yang terdiri dari banyak pulau. Bahkan, di negara-negara yg bersifat kontinental pun, pesawat commuter adalah pilihan yang lebih ekonomis dibandingkan kereta api.

Jadi, bagi Onye mempertahankan PTDI adalah jalan yang harus ditempuh. PTDI bukan pesaing bagi raksasa EADS (Airbus) dan Boeing. PTDI hanya perlu mengambil ceruk pasar pesawat dengan kursi maksimum 100 penumpang.

Persahabatan dengan Onye semakin intensif setelah saya menjadi konsultan manajemen pribadi secara “pro-bono” bagi dia. Kami berdua hanya mesem-mesem ketika seorang Senior Manager dari EADS mengatakan, “Well, that’s not a good proposition for PTDI, is it?

Pada saat itu PTDI hanya mampu jadi tukang jahit bagi pembelinya. Bahan-bahan komponen yang akan diproduksi, dipasok oleh pembeli karena dana PTDI tertahan di BPPN/PPA, dan lagipula sebagai pasien BPPN/PPA, PTDI tak bisa meminjam dari lembaga keuangan.

Onye dengan gusar mengatakan bahwa PTDI perlu mengambil nilai tambah yang “easy money” dari penyediaan bahan-bahan. Bukan hanya dari biaya atas pemakaian jam mesin (orang). Sebagai “tukang jahit”, juga ada masalah dengan limbah PTDI yang harus diekspor ulang atau membayar bea masuk.

Hasil diskusi kami pada waktu itu, PTDI perlu mengupayakan opsi spin-off bagi unit Aerostructure yg relatif “lebih bisa” jualan, dibandingkan unit-unit usaha PTDI yg lain. Sampai sekarang, gagasan ini belum terlaksana.

Memoar Seorang Sahabat

Bagi saya, persahabatan dan pendampingan kepada seorang teman yang menghadapi persoalan berat adalah hal baru tapi menarik. Pada waktu itu, kami sering berdiskusi dengan makan malam, ditemani kopi atau bir sampai lewat tengah malam. Saya lebih sering langsung kembali ke Jakarta karena paham ritme Onye di pagi hari yang sibuk.

Suatu saat, saya pernah menerima tawarannya untuk menginap di rumahnya. Ketika pagi hari dia mau menyediakan air panas, saya bilang tak usah karena zaman kita masih culun mandi pagi dengan air dingin sudah biasa.

Onye adalah mitra yang baik dalam diskusi tentang pemikiran atas kehidupan. Bagi saya, Onye juga adalah teman untuk uji kewarasan. Di tengah-tengah pertempuran paham di dunia ini, kami perlu menguji apakah kami masih waras.

Analoginya, Onye adalah pemain kungfu dan saya pemain silat. Kami tidak pernah mempraktekkan ilmu di arena “pertandingan” resmi, karena peraturannya yang berbeda, tetapi kami saling mengisi dalam jurus-jurus.

Dia pernah menceritakan kegusarannya ketika ditawari pekerjaan dengan kompensasi tinggi. Saya sarankan dia untuk mengambil kesempatan itu, walau hanya sementara, untuk perbaikan ekonomi dan reputasi dia sebagai profesional. Tetapi, Onye mengkhawatirkan orang-orang yang bekerja dalam tanggung jawabnya di PTDI.

Akhirnya, Onye tidak jadi menerima tawaran itu. Dapat saya bayangkan, bagaimana peranan Indri sebagai istri dalam pengambilan keputusan, yang sepintas mengabaikan persoalan ekonomi keluarga. Jadi, bagi saya, Indri adalah juga pahlawan kemanusiaan dan dia menjadi pasangan yang tepat bagi Onye dari Sang Pencipta.

Kesetiaan pada misi di dunia yg “dipilihkan” oleh Sang Pencipta kepada kita manusia bisa saja kita pahami dengan cara yang salah. Tetapi, Onye tetap percaya bahwa Sang Pencipta akan selalu membawa manusia ke jalan yang sesuai dengan misi yang sesungguhnya. Saya agak melankolis dalam melihat pilihan Onye, berbanding dengan dia yang tegar dalam pilihannya.

Onye juga adalah sahabat saya yang toleran dan sudah tentu rendah hati. Dia seorang yang tekun dalam ibadah pribadinya dan hal itu tercermin dalam perilakunya sehari-hari. Namun, dia tetap nyaman dengan perbedaan agama.

Dia mengambil bagian penting dalam diskusi lintas agama untuk kerukunan dan menjembatani pengertian. Sikap demikian perlu kita kembangkan di tengah-tengah persoalan bangsa Indonesia saat ini, yang sebagian anggota masyarakatnya sulit menerima keberadaan keyakinan orang lain yang berbeda.

Saya yakin bahwa Onye telah dipakai oleh Sang Pencipta untuk menyebarkan benih-benih damai di antara orang-orang yang pernah bertemu dengannya.

Sahabat Onye, layar pertunjukan sudah diturunkan. Semoga para penonton mengingat peran yang engkau jalankan. Tetapi, seperti yang engkau katakan, lebih penting bagi penonton untuk mengingat Sang Penulis cerita dan ceritanya. Kita hanya kebetulan dipilih sebagai pemeran dalam cerita itu

Adios Amigo, sampai jumpa di seberang sana.

*Artissa Panjaitan, M83.

 

 

Alumni ITB Lari 10K Kenang Onye

Di hari Kebangkitan Nasional tahun ini, kota Jakarta menyelenggarakan acara Jakarta International 10K Run yang sudah menjadi tradisi sejak tahun 2004. Pada hari Minggu (20/5), sekitar 35.000 peserta lari menjajal rute Monas-MH. Thamrin-Bundaran Hotel Indonesia-Sudirman-berputar di Jembatan Semanggi-kembali ke Monas.

Sekitar 60 orang alumni ITB plus simpatisan—termasuk seorang anak lelaki bernama Francesco Manuel yang usianya diperkirakan tidak lebih dari 10 tahun—membuat acara resmi kota Jakarta tersebut menjadi lebih gegap-gempita.

Tanpa promosi berlebihan, sekian puluh orang tersebut menjadi aksen di antara ribuan peserta lari. Alih-alih menggunakan seragam kaus hijau pembagian Milo selaku sponsor, mereka menggunakan kaus kutung berwarna putih, bergambar wajah Kornel M. Sihombing alias Onye di bagian depan, plus tulisan solidarity forever yang merupakan semboyan Himpunan Mahasiswa Mesin ITB.

Sementara pada bagian belakang kaus mereka tertulis kata-kata “Profesional | Peduli | Sederhana” yang merupakan tiga kata yang dianggap paling tepat menggambarkan citra seorang Kornel M.Sihombing.

Agar kharisma para pelari berkaus putih ini tidak meredupkan cahaya lautan hijau manusia yang mengikuti acara Jakarta 10K Run, maka mereka pun berbagi tugas. Hotasi Nababan SI83, Heru Setiawan MS83, dan beberapa orang lain yang dirahasiakan namanya diutus untuk mengikuti acara lari 10K tersebut dengan target: jangan sampai menang, karena ini adalah operasi senyap yang tidak boleh ditengarai sebagai yang dapat mengooptasi agenda pemerintah.

Sebagian lain dibagi ke dalam beberapa regu yang ditugaskan untuk berjalan santai namun siaga guna mengamankan jalur Monas hingga Bundaran HI. Segelintir lainnya diposisikan sebagai pasukan penyapu dengan menggunakan sepeda.

Tanpa banyak membuang waktu, operasi pun dilangsungkan bersamaan dengan saat dibunyikannya sinyal berlari pada pukul 06.30. Sesuai dugaan, semua berlangsung lancar sesuai skenario. Tidak ada satu pun aparat Pemerintah yang mengendus kehadiran pasukan istimewa berkaus putih tersebut.

Namun aura mereka yang penuh kharisma ternyata tetap mengundang perhatian, sehingga beberapa Polisi Wanita bersepatu roda pun menyempatkan diri untuk berfoto dengan mereka. (Rekan Mamo MS83 atau Ardjuna TI83 atau Bobby Maengkom MS83 sila menyampaikan foto-foto tersebut sebagai bukti otentik).

Sekitar pukul 08.15, seluruh gerombolan berkaus putih berhimpun kembali di Patung Arjuna Jalan MH. Thamrin. Setelah pasukan khusus pelari melepas lelah sejenak, maka semua anggota gerombolan kaus putih membentuk formasi khas: foto bersama.

Di sini hadir pula Chandra Sihombing MS82, abang dari Onye. Tercatat salah satu relawan pemotret adalah Arya Sinulingga SI89, yang mengerahkan tim pemberita terbaiknya untuk mendokumentasi kegiatan gerombolan kaus putih.

Tuntas berfoto, semua peserta mengheningkan cipta dan berdoa bagi Onye dipimpin oleh Hardianto Darjoto MS83. Selanjutnya seluruh anggota gerombolan melakukan parade penghormatan sambil membentangkan spanduk “Selamat Jalan, Onye” memutari Jalan MH. Thamrin sejak Patung Arjuna hingga Jalan Kebon Sirih, dan akhirnya berbelok ke Jalan Sabang 16, menuju Restoran Sere Manis yang menjadi titik akhir operasi.

Di sini, gerombolan kaus putih langsung dielu-elukan oleh tim penyambutan yang dikomandani oleh Basar Simanjuntak SI83 dan Edward Sihombing PL85 yang tampak asyik ngopi-ngopi sambil merokok.

Setelah saling bersilaturahmi sejenak, semua anggota gerombolan langsung menuju lantai 2 yang sudah disterilkan. Hanya ada satu orang yang tampaknya agak cuek, sehingga masih saja asyik makan cemilan di situ. Untunglah dia segera sadar untuk angkat kaki sebelum tim perusak mengangkat kursi plus meja dan cemilannya ke luar ruangan.

Minuman dan makanan ringan segera dilayankan dengan sigap oleh para petugas restoran bagi para anggota gerombolan yang tampak sekali gairah haus dan laparnya.

Tanpa harus dipandu oleh protokol, acara berbagi kenangan tentang Onye pun mengalir lancar. Diawali oleh Hotasi Nababan, dilanjutkan oleh Chandra Sihombing, Hardianto Darjoto, Edward Sihombing, Ridwan Djamaludin GL82, Sahat Gunawan Sitorus IF83, Arya Sinulingga, Gembong Primadjaja MS86, Illon BI84, Dwi Larso TI84. (Mudah-mudahan semua sudah saya sebutkan namanya walau urutannya tidak sesuai sekuens faktual.)

Para sahabat Onye menyampaikan beberapa hal yang mungkin tidak diketahui oleh banyak orang. Misalnya tentang kiprah Onye saat masih mahasiswa yang bersedia mengutus dirinya sendiri menjadi juru damai jika himpunan mahasiswa Mesin sedang bertikai dengan Geologi.

Saya ingat satu saat Onye pernah menggunakan jaket kuning Gea ke Mesin sehingga kawan-kawan secara bergurau mempertanyakan, “Nyek, loe tuh anggota HMM atau Gea sih? Yang jelas dong!”

Begitu pun keteguhan Onye untuk bertahan di PT Dirgantara Indonesia (PTDI) ketika tidak sedikit koleganya yang memutuskan keluar dari PTDI dan bekerja di perusahaan lain, termasuk industri dirgantara milik negara lain.

Tawaran posisi dari produsen pesawat terbang kelas dunia ditampiknya dengan tegas karena Onye memilih untuk setia mengusung Merah Putih dan Garuda Pancasila dalam segenap karya-baktinya.

Tidak banyak orang yang tahu bahwa Onye, yang mengemban posisi bergengsi sebagai Kepala Divisi Integrasi Bisnis pada Direktorat Aerostructure PTDI, adalah seorang yang ulet mempertahankan hidup PTDI melalui negosiasi-negosiasi bisnis dengan berbagai industri dirgantara kelas dunia agar PTDI dapat bertahan.

Tidaklah mengherankan jika beberapa kalangan menjulukinya sebagai negosiator ulung. Tampaknya, tidak berlebihan pula jika ada orang yang mengatakan bahwa Onye adalah penyelamat PTDI dan industri dirgantara Indonesia pada umumnya. Tak ketinggalan pula kisah tentang komitmen Onye bagi lingkungannya, khususnya bagi gereja, generasi muda, dan komunitas lintas agama.

Fakta lain yang membuat trenyuh adalah kesederhanaan hidup Onye. Tanpa bermaksud mendramatisasi kenyataan, saya mengutip komentar pendek Bobby, “Bahkan hidup seorang pramugari pun lebih mewah dibanding Onye.” Sila dimaknai sendiri

Genap sudah semboyan “Profesional | Peduli | Sederhana” mengejawantah dalam diri seorang Kornel M. Sihombing. Dia adalah contoh par excellence seorang manusia, yang punya kejelasan visi dan misi, serta kegairahan penuh daya dalam menyublimasikan dirinya dalam tindakan.

Itulah sosok Onye dalam berbagai potongan yang dituturkan secara ringkas oleh para sahabat Onye dari berbagai jurusan dan angkatan. Dalam hati saya hanya bisa bergumam, “Betapa besar makna hidupmu bagi banyak orang, kawan. Saya kehilangan dirimu. Kami kehilangan engkau.”

Sekitar jam 12, satu demi satu anggota gerombolan kaus putih meninggalkan lokasi untuk meneruskan hidup masing-masing.

Onye sudah pergi namun jejaknya dalam hidup kita mungkin masih lama akan terukir abadi karena dia sudah menyentuh relung terdalam hidup kita dengan kesungguhan dan totalitas dirinya.

Selamat jalan, Onye. Semoga kau tadi tersenyum tatkala kami, kawan-kawanmu dari Jurusan Mesin, mengumandangkan seruan kebanggaan kita di bawah komando Gembong, Ketua Ikatan Alumni Mesin ITB kita:

Yell, boys! Yeah!

Yell, boys! Yeah!

Yell, boys! Yeah!

Union, union, machine strong!

Union, union, machine strong!

Union, union, machine strong!

Solidarity forever

Solidarity forever

Solidarity forever

For union machine strong!

Yell, boys! Yeah!

 

*Oret-oret di saat ngopi sendiri @Pacific Place

*Rudolph Damanik