Eulogi: Onyek, Sahabat yang Luar Biasa

Banyak hal yang ingin keluar dari kepala untuk menceritakan siapa Onyek tapi sulit menuturkan dengan teratur. Saya mengenal dekat Onyek hampir sepanjang masa di ITB di tahun 80-an. Dia ada di aula Barat untuk  belajar bersama. Dia ada di lapangan basket saat kami unjuk kekuatan. Dia  selalu hadir tepat waktu saat rapat di ruang ujung student centre. Dia ada di unit kegiatan Sabtu malam dan Minggu pagi. Dia selalu ada di tengah pelatihan kepemimpinan untuk mahasiswa baru. Dia juga ada di dunia olahraga, mau bola atau basket.

Onyek hadir dengan kacamata, senyum, kernyit berpikir, rokok, dan jaket biru himpunan Mesin yang selalu dia banggakan. Dalam diskusi, dia menjadi pendengar dahulu, menunggu dengan sabar ucapan pencetus. Kemudian bertanya untuk validasi dan menempatkan pendapat dalam konteks.

Dia jarang terjebak dengan retorika atau emosi kami untuk melakukan aksi. Segala hal dipikir kritis, bukan karena ragu, tapi dia ingin yakin dahulu. Sekali dia yakin, dia akan bersikap keras, tanpa memaksakan kehendak. Salah satunya, waktu kami forum ketua himpunan akhirnya memutuskan untuk demo menentang dominasi militer ke MPR tahun 1988 dengan resiko tinggi.

Di tengah ‘gerakan’, dia sangat menghormati ‘akademis’. Kebanyakan kami termasuk saya menganggap ‘gerakan’ adalah pembebasan, sedangkan ‘akademis’ adalah kungkungan sistem pendidikan yang memaksa. Bagi dia, hal itu terbalik. ‘Akademis’ adalah jalan menuju pencerahan, yang kemudian menginspirasi ‘gerakan’.

Dia tidak percaya seorang aktivis baik dapat bergerak tanpa intelektualitas yang terasah akademis. Tidak heran tutur katanya dalam dialog sangat terstruktur, sangat ‘sekolahan’. Dia tidak pernah teriak untuk berpidato. Sering kami tidak sabar. Tapi di saat aksi, dia selalu pegang janji untuk membagi selebaran di waktu subuh, sementara sebagian kami datang terlambat ketiduran.

Apa aliran Onyek? Tidak mudah memberi stempel untuknya. Lebih mudah menggambarkan dari hal-hal “bukan”. Dia bukan ‘kanan’ walaupun sangat religius. Dia juga tidak percaya ‘kapitalisme’, karena dia menganggap dirinya jauh di atas akumulasi materi. Dia juga bukan ‘kiri’ karena tidak percaya perjuangan kelas.

Dia bukan ‘ultra nasionalis’, walau dia percaya kekuatan bangsa ini masih bisa membuat pesawat siapapun yang memerintah. Dia bukan ‘teknolog’ buta, karena dia percaya kekuatan sosial menentukan teknologi. Dia bukan ‘politisi’, karena dia tidak bisa bermain di dalam intrik organisasi. Dia bukan ‘moralis’ yang menganggap paling benar, walaupun semua kita tahu dia sangat bermoral.

Baginya dunia ini sederhana, sebuah proses pembentukan yang tidak pernah selesai. Semua berhak membawa kepercayaan dan aliran masing-masing. Dia ingin di tengah arus itu semua tanpa menjadi hanyut. Semua konflik selalu ada jembatan. Dia tunjukkan itu sejak di kampus.

Banyak kawan menjadi saksi di saat konflik antar himpunan, dia jadi jembatan. Di saat konflik tajam antara management dan serikat karyawan di PTDI, dia ada di kedua belah pihak. Dia tidak putus mencari titik temu. Baginya, setiap orang punya keinginan sama, ingin dihormati. Demikian juga dalam agama. Baginya, agama adalah rumah yang seharusnya nyaman, dan rumah-rumah Kristen, Islam, Hindu, Budha harus saling berbagi iman dan membentuk solidaritas satu sama lain.

Saya memilih 3 nilai besar dari hidupnya, yaitu profesional, peduli, dan sederhana. Tidak ada yang meragukan kesetiaannya dalam profesi kedirgantaraan. Dia telah membeli mimpi bahwa suatu waktu bangsa ini akan menjadi raksasa pembuat pesawat. Dia telah membayar sangat mahal dengan setia bekerja di PTDI, walaupun ada pilihan di tempat lain.

Dia bersama beberapa pejuang di PTDI terus mencari peluang menjadi pemasok komponen untuk pabrik pesawat seperti Airbus, demi mencari pendapatan perusahaan dan keahlian teknologi. Saya menduga kehadirannya di pesawat Sukhoi itu demi menjadikan PTDI salah satu pemasok komponen Sukhoi. Jika di negara lain, upaya itu dilakukan pemerintahnya untuk membantu industri dalam negeri, tapi di sini, Onyek dan kawan-kawan melakukannya sendiri demi ‘survival’ PTDI.

Dia sangat peduli. Lingkungan perusahaan, gereja, alumni ITB dan tetangganya adalah saksi hidup. Dia memberi kontribusi dengan otak dan tangannya. Kehadirannya ditunggu banyak orang, tanpa menjadi pusat perhatian. Dia selalu ikuti kegiatan yayasan angkatan ITB 83 kami di Jakarta walau harus datang dari Bandung.

Terakhir, tentang sederhana. Kami tidak habis pikir bagaimana dia mampu berada di atas tekanan kebutuhan hidup yang makin mahal. Dia telah memilih jalan yang mulia, bagaimana hidup cukup dengan penghasilan terbatas, baik rumah, kendaraan, penampilan, dan hal-hal remeh lainnya. Saya tidak pernah melihat Onyek ‘entertain’ untuk dirinya, atau pergi ke restoran mahal, atau membeli anggur. Olahraganya pun yang paling sehat dan murah, yaitu lari pagi.

Namun untuk pendidikan anaknya, dia tidak berkompromi. Dia sangat antusias menceritakan bagaimana perkembangan sekolah kedua anaknya, Korin dan Luhut. Dia ingin mereka bebas memilih hidup nantinya tapi dengan dasar hidup kuat dimulai di rumah. Sering dia merasa kurang waktu bersama anaknya. Keluarga adalah harta utamanya. Dan dia telah berhasil mendidik anaknya untuk tetap sederhana di tengah arus besar konsumtif dan hedonistik.

Bagi Indri (istrinya), Korin, dan Luhut, perkenankanlah saya menyampaikan, “Suami dan ayah kalian sangat luar biasa! Hidupnya adalah kotbahnya. Sungguh Tuhan telah memberi banyak melaluinya. Kami sangat beruntung dapat menjadi sahabatnya.”

Sebentar lagi Onyek akan tidur di peristirahatan yang terakhir. Kita semua masih menangis. Namun saya yakin, inilah awal sebuah era baru. Pemikirannya akan digali banyak orang untuk mencari jawab atas konflik horizontal. Semangatnya akan membakar kembali harga diri bangsa Indonesia untuk berdikari dan membuat pesawat sendiri. Nilai hidupnya akan menjadi panutan baru bagi anak muda.

Kita perlu seorang pahlawan. Mungkin Onyek akan menolak jika disanjung seperti ini. Namun saya memberanikan diri mengatakan bahwa Onyek telah berhasil menyelesaikan pertandingannya, dan dia pantas mendapat gelar dari kita semua ……….”our real hero”.

Selamat jalan, Sahabat!

Hotasi Nababan, Sipil ITB 83

Rabu malam 23 Mei 2012 @ PTDI, Bandung

Pahlawan Kemanusiaan dari Gempol 117

Onye adalah pahlawan kemanusiaan yang mengembara di tempat sepi, jalan yang jarang dilalui orang. Dia menjadikan semua manusia istimewa sebagaimana yang diyakininya tentang apa yang dilakukan oleh Sang Pencipta.

Onye tidak pernah lelah dalam meyakini dan menjalankan “misinya di dunia” untuk mengasihi dan mendahulukan orang lain. Sampai saat terakhir, misi itu terlihat jelas. Dia menggantikan posisi orang lain di flight demonstration Sukhoi SuperJet 100. Dia paham benar, untuk menjadikan orang lain istimewa, dia memberi “till it hurts”.

Sebagai sahabat, berita kecelakaan yang disampaikan oleh kawan Sonny Ibrahim, hingga masa penantian pengumuman, adalah masa yang sulit bagi saya. Di satu sisi, nalar saya mengatakan ada yang jelas terpampang dalam benak, setelah tim SAR tidak mampu menjangkau para korban dalam tiga hari. Di sisi lain, setelah bertemu langsung, saya paham situasi kebatinan Indri sebagai istri yang terus berharap.

Dari pengalaman di gunung Salak yang dingin dan selalu hujan, rasanya orang yang selamat pun tidak bisa bertahan dengan suhu dingin, tanpa makan dan minum selama tiga hari. Maaf untuk Onye dan Indri, sebagai sahabat, saya memutuskan tak memberi komentar sampai semua dinyatakan secara resmi.

Dengan diumumkannya bahwa seluruh korban yang teridentifikasi cocok dengan manifest penerbangan, semua penumpang pesawat dinyatakan SSJ-100 meninggal dunia. Onye telah mendahului kita untuk menghadap Sang Pencipta karena telah selesai menjalankan misinya di dunia. Semoga misi Onye di dunia telah benar-benar tuntas sehingga dia di sana disambut sebagai pemenang medali emas.

Kenangan Studi dan PTDI

Perjalanan dengan Onye dimulai saat menjadi mahasiswa teknik mesin, Institut Teknologi Bandung, angkatan 1983. Di kampus, pertemanan dengan Onye biasa-biasa saja, bahkan cenderung berbeda warna.

Saya mengutamakan hasil akademis, sementara dia sudah terlihat sebagai calon pahlawan kemanusiaan. Pembicaraan di kemudian hari dengan teman-temannya di SMA dan ketika dia sekolah di Belanda mempunyai kesamaan dalam kesan terhadap Onye.

Sekian tahun setelah lulus dari Bandung, kami bertemu dengan intensitas tinggi dalam situasi persoalan kelangsungan hidup IPTN/PTDI yang berada pada titik kritis. Pada waktu itu, analoginya adalah biduk akan tenggelam, sehingga baik penumpang maupun barang yang tak perlu harus dikeluarkan.

Saya cenderung melihat upaya pemecahan  persoalan IPTN/PTDI pada waktu itu dari sudut manajemen dan keekonomian usaha. Onye, di lain pihak, melihat nasib 6.000 karyawan yang akan diberhentikan. Dia mengatakan memang ada “bad apples” di antara 6.000 karyawan, tetapi dia tetap berupaya untuk menyampaikan solusi bagaimana kalau dilakukan “out placement” dalam proses eksodus paksa itu.

Di tengah kritik terhadap keberadaan PTDI, kami berdua sepakat dan mengagumi gagasan B. J. Habibie untuk membangun industri pesawat terbang di Indonesia yang terdiri dari banyak pulau. Bahkan, di negara-negara yg bersifat kontinental pun, pesawat commuter adalah pilihan yang lebih ekonomis dibandingkan kereta api.

Jadi, bagi Onye mempertahankan PTDI adalah jalan yang harus ditempuh. PTDI bukan pesaing bagi raksasa EADS (Airbus) dan Boeing. PTDI hanya perlu mengambil ceruk pasar pesawat dengan kursi maksimum 100 penumpang.

Persahabatan dengan Onye semakin intensif setelah saya menjadi konsultan manajemen pribadi secara “pro-bono” bagi dia. Kami berdua hanya mesem-mesem ketika seorang Senior Manager dari EADS mengatakan, “Well, that’s not a good proposition for PTDI, is it?

Pada saat itu PTDI hanya mampu jadi tukang jahit bagi pembelinya. Bahan-bahan komponen yang akan diproduksi, dipasok oleh pembeli karena dana PTDI tertahan di BPPN/PPA, dan lagipula sebagai pasien BPPN/PPA, PTDI tak bisa meminjam dari lembaga keuangan.

Onye dengan gusar mengatakan bahwa PTDI perlu mengambil nilai tambah yang “easy money” dari penyediaan bahan-bahan. Bukan hanya dari biaya atas pemakaian jam mesin (orang). Sebagai “tukang jahit”, juga ada masalah dengan limbah PTDI yang harus diekspor ulang atau membayar bea masuk.

Hasil diskusi kami pada waktu itu, PTDI perlu mengupayakan opsi spin-off bagi unit Aerostructure yg relatif “lebih bisa” jualan, dibandingkan unit-unit usaha PTDI yg lain. Sampai sekarang, gagasan ini belum terlaksana.

Memoar Seorang Sahabat

Bagi saya, persahabatan dan pendampingan kepada seorang teman yang menghadapi persoalan berat adalah hal baru tapi menarik. Pada waktu itu, kami sering berdiskusi dengan makan malam, ditemani kopi atau bir sampai lewat tengah malam. Saya lebih sering langsung kembali ke Jakarta karena paham ritme Onye di pagi hari yang sibuk.

Suatu saat, saya pernah menerima tawarannya untuk menginap di rumahnya. Ketika pagi hari dia mau menyediakan air panas, saya bilang tak usah karena zaman kita masih culun mandi pagi dengan air dingin sudah biasa.

Onye adalah mitra yang baik dalam diskusi tentang pemikiran atas kehidupan. Bagi saya, Onye juga adalah teman untuk uji kewarasan. Di tengah-tengah pertempuran paham di dunia ini, kami perlu menguji apakah kami masih waras.

Analoginya, Onye adalah pemain kungfu dan saya pemain silat. Kami tidak pernah mempraktekkan ilmu di arena “pertandingan” resmi, karena peraturannya yang berbeda, tetapi kami saling mengisi dalam jurus-jurus.

Dia pernah menceritakan kegusarannya ketika ditawari pekerjaan dengan kompensasi tinggi. Saya sarankan dia untuk mengambil kesempatan itu, walau hanya sementara, untuk perbaikan ekonomi dan reputasi dia sebagai profesional. Tetapi, Onye mengkhawatirkan orang-orang yang bekerja dalam tanggung jawabnya di PTDI.

Akhirnya, Onye tidak jadi menerima tawaran itu. Dapat saya bayangkan, bagaimana peranan Indri sebagai istri dalam pengambilan keputusan, yang sepintas mengabaikan persoalan ekonomi keluarga. Jadi, bagi saya, Indri adalah juga pahlawan kemanusiaan dan dia menjadi pasangan yang tepat bagi Onye dari Sang Pencipta.

Kesetiaan pada misi di dunia yg “dipilihkan” oleh Sang Pencipta kepada kita manusia bisa saja kita pahami dengan cara yang salah. Tetapi, Onye tetap percaya bahwa Sang Pencipta akan selalu membawa manusia ke jalan yang sesuai dengan misi yang sesungguhnya. Saya agak melankolis dalam melihat pilihan Onye, berbanding dengan dia yang tegar dalam pilihannya.

Onye juga adalah sahabat saya yang toleran dan sudah tentu rendah hati. Dia seorang yang tekun dalam ibadah pribadinya dan hal itu tercermin dalam perilakunya sehari-hari. Namun, dia tetap nyaman dengan perbedaan agama.

Dia mengambil bagian penting dalam diskusi lintas agama untuk kerukunan dan menjembatani pengertian. Sikap demikian perlu kita kembangkan di tengah-tengah persoalan bangsa Indonesia saat ini, yang sebagian anggota masyarakatnya sulit menerima keberadaan keyakinan orang lain yang berbeda.

Saya yakin bahwa Onye telah dipakai oleh Sang Pencipta untuk menyebarkan benih-benih damai di antara orang-orang yang pernah bertemu dengannya.

Sahabat Onye, layar pertunjukan sudah diturunkan. Semoga para penonton mengingat peran yang engkau jalankan. Tetapi, seperti yang engkau katakan, lebih penting bagi penonton untuk mengingat Sang Penulis cerita dan ceritanya. Kita hanya kebetulan dipilih sebagai pemeran dalam cerita itu

Adios Amigo, sampai jumpa di seberang sana.

*Artissa Panjaitan, M83.