Onyek Mewarisi Karakter Kepahlawanan Ibunya

Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, tidak serta merta memberikan kebebasan kepada rakyat Indonesia. Tentara Jepang di Indonesia segera dilucuti oleh tentara Sekutu, menyusul kekalahan Jepang terhadap Amerika di Asia Pasifik pada bulan Agustus 1945. Kedatangan tentara Sekutu ke Indonesia dimanfaatkan oleh tentara Belanda untuk menguasai Indonesia yang ditinggalkannya pada tahun 1942. Tentara sekutu segera menempati kota-kota strategis di Jawa dan Sumatera seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan.

Konsolidasi pasukan Sekutu di Bandung memerlukan logistik, yang dikirim lewat jalur darat dari Jakarta ke Bandung melalui Bogor, Sukabumi, Cianjur. Iring-iringan kendaraan logistik sering mendapat gangguan dari para pejuang tanah air, yang tidak menghendaki kembalinya tentara Belanda. Pertempuran yang terkenal terjadi di Bojong Kokosan, yang terletak antara Cibadak dan Cicurug, Sukabumi. Pertempuran itu menimbulkan korban yang cukup banyak bagi tentara Sekutu.

Untuk mengamankan pengiriman pasukan dan logistik, tentara Belanda yang menjadi bagian tentara Sekutu, menempatkan pasukannya di Sukabumi dan bermarkas di Gedung SOG, yang sekarang menjadi kantor Dinas Pekerjaan Umum Kodya Sukabumi. Gedung SOG ini berbatasan dengan jalur rel kereta api di sebelah selatan dan sungai Cipelang di sebelah barat.

Di sebelah barat daya gedung SOG, ada sebuah kampung bernama kampung Raweuy. Para pejuang kampung Raweuy sering melakukan gangguan terhadap markas tentara Belanda ini melalui serangan “hit and run” pada malam hari. Keesokan harinya, semua kaum bapak, baik pemuda dan orang tua bersembunyi di hutan untuk menghindari razia tentara Belanda.

Tentara Belanda memberikan ultimatum kepada para pejuang untuk menyerahkan diri. Kalau tidak, mereka akan membumihanguskan kampung Raweuy. Sampai batas waktu yang diberikan, tidak ada satupun para pejuang yang menyerahkan diri, dan tentara Belanda kehilangan kesabaran. Segera, pagi-pagi mereka mendatangi kampung Raweuy dengan senjata lengkap.

Untuk masuk ke kampung Raweuy, tentara Belanda harus melewati jalan berbatu, di mana ada satu rumah milik keluarga Jonas Sinagabariang, yang sudah tinggal puluhan tahun di kampung tersebut, merantau dari tanah Batak sejak awal tahun 1900.

Melihat tentara Belanda lewat di depan rumah, seorang anak gadis pak Jonas bernama Lina, yang pada saat itu berusia 18 tahun, menyapa tentara Belanda dengan menggunakan bahasa Belanda. Lina bisa berbahasa Belanda karena mendapat pendidikan di SMP berbahasa Belanda, MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).

Sapaan Lina dalam Bahasa Belanda mengagetkan tentara Belanda, karena mereka tidak menyangka di kampung terpencil seperti itu ada seorang gadis yang bisa berbahasa Belanda. Terjadi dialog dan akhirnya mereka masuk ke rumah keluarga Sinagabariang. Mereka semakin terheran-heran setelah mengetahui bahwa keluarga Sinagabariang adalah perantau dari daerah yang sangat jauh, dari pulau Sumatera bagian utara.

Setelah cukup lama berdialog, akhirnya Lina dengan berani meminta agar tentara Belanda tidak melanjutkan niatnya untuk masuk ke kampung, menangkap para pejuang dan membumihanguskan kampung itu. Pada akhirnya tentara Belanda kembali ke markasnya dan selamatlah seisi kampung itu. Tidak ada yang tahu persis apa alasan tentara Belanda membatalkan rencana mereka, tentunya itu terjadi setelah adanya pembicaraan, perdebatan yang panjang dengan gadis berusia 18 tahun bernama Lina Sinagabariang itu.

Keberanian, keterampilan bernegosiasi, dan kepahlawanan Lina tercermin dalam diri Onyek yang adalah anak keempat dari Lina Sinagabariang. Ya, betul! Onyek mewarisi karakter ibunya yang berani tetapi tetap bisa lembut.

Saat ibunya, Lina Sinagabariang, dipanggil Tuhan di Sukabumi pada tahun 1999, Onyek sedang menjalani tugas belajar program Master di Belanda. Sayang, Onyek tidak sempat kembali ke Sukabumi untuk menghadiri pemakaman ibu yang dikasihinya. Dalam beberapa tahun terakhir, setiap bulan Desember, Onyek dan keluarganya selalu datang ke Sukabumi untuk bertemu dengan keluarga Sinagabariang dan berziarah ke makam ibunya.

Sepertinya Onyek belum puas menyatakan kasih kepada orangtuanya, tetapi kasih yang melimpah itu Onyek berikan dengan tulus kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Onyek meninggalkan warisan yang berharga, yaitu; sikap hidup rela berkorban, peduli, berani bersikap dan hidup sederhana.

Sampai saat ini keluarga Sinagabariang masih tinggal di kampung Raweuy dan hidup berdampingan dengan damai bersama penduduk kampung.

Sumber: cerita lisan dari saksi mata, Bapak Nicolas Sinagabariang (Om Nick), adik dari Lina Sinagabariang.

Perkasa Sinagabariang,
VP Operation di CNOOC