Ucapan Terima Kasih Keluarga Besar Kornel M. Sihombing

Ucapan Terima Kasih

                          Kami seluruh keluarga dan handai taulan dari kekasih kami:

Kornel Mandagi Sihombing

Menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan simpati dan dukungan, baik moril maupun materil, mulai dari proses pencarian hingga pemakaman sehingga semua berlangsung baik adanya.

Kiranya damai sejahtera Tuhan melingkupi bapak/ibu, seluruh sahabat, Tuhan kiranya yang membalas segala kebaikan saudara/i berlipat kali ganda.

TTD,
Indri, Korin dan Luhut
berserta seluruh keluarga besar Sihombing dan keluarga besar Ayub

 

Terima kasih kami kepada:

Pemerintah Republik Indonesia

Kementerian Perhubungan

Tim Basarnas

Tim DVI

RS Bhayangkara TK.R.Said Sukanto (RS Polri)

GKI Jl. Maulana Yusuf 20, Bandung

GKI Nederland Regio Riswijk – Den Haag Nederland

Ir. Jusman Syafii Djamal, Menhub 2007-2009

Dr. Bambang Susantono, Wamenhub

Ir. H. Lex Laksamana Zaenal Lan Dipl.HE, Sekda Pemprov Jawa Barat

Hotbonar Sinaga SE, Dirut Jamsostek

Bangkit Parulian Silaban SE, Wakil Bupati Tapanuli Utara

Rekan-rekan SC ITB

Ikatan Alumi ITB

Ikatan Alumni Mesin ITB

Alumni ITB 83

Alumni Mesin ITB 83

Himpunan Mahasiswa Mesin ITB

UKSU ITB

Alumni SMAN 7 Bandung

Alumni SMAN 1 Medan

Alumni SMP Budi Murni Medan

Alumni SD St. Yoseph Medan

Pramuka Gudep 19 Yos Sudarso

Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang

Fokal.info

Institut Teknologi Harapan Bangsa

GMKI Cabang Bandung

GMNI Cabang Sumedang

Segenap Guru, Orang Tua Murid dan Siswa SDK Yahya

Alumni Mesin ITB 82 dan Keluarga Teknik Mesin ITB

Punguan Silaban Boru Bere se Bandung Raya

Keluarga Besar Tulang Sinagabariang Sukabumi

Seluruh Warga Jl. Gempol Wetan dan Gempol Kulon

Borsak Junjungan Silaban – Indonesia- Dunia

GKP Bekasi Seroja

Gembala Sidang dan Pengurus GRII Gading, Jakarta

Pimpinan dan Staff serta Anak-Anak Panti Asuhan Putri William Booth

Kel. Besar Aris Bangalino – Jaya Pura

Kel. Tigor Sinaga

PT Dirgantara Indonesia

Directorate Aero Structure PT DI

PT NTP

Spirit Aerosystem

Airbus Military

Eurocopter – EADS Company

Ditjen IJBT Kementerian Perindustrian RI

Direktorat Restrukturisasi & Revitalisasi PT. PPA (Persero)

Alumni TU Delft, Nederland

PT. ANSTEL

PT. Bina Potensia Indonesia

BANK BNI 46

BANK BRI

PT. Danamartha Sejahtera Utama

PT. DHL Global Forwarding Indonesia

PT. Duta Wisata Mandiri

Gapura Group

PT. GENTS

Indonesia Eximbank

PT. Logam Jaya Abadi

PT. Mats Expres Jakarta

PT. Nusantara Secom Infotech

PT. On Time Express

PT. Schenker Petrolog Utama

PT. Speedmark Logistik Indonesia

PT. Sumalindo Lestari Jaya, Tbk

PT. Tricada Intronik

PT. Rekayasa Industri

PT. Jabar Rekind Geothermal

Kel. Besar Binawarga GKI SW Jabar

BRAMATALA

Dana Pensiun IPTN

IADS Lawfirm

INTIMATE

SAMARPALA

Dan semua pihak yang tidak kami sebutkan satu persatu

 

Abang yang Cerdas dan Sederhana

Di salah satu sudut tempat parkir motor, terlihat seorang pria dengan jaket hitam bersiap-siap mengendarai motornya. Sambil mempersiapkan motor, ia terlihat berbincang dengan beberapa orang kawan dengan asiknya. Parasnya yang ceria dan bersemangat menutup kelelahannya setelah hampir seminggu bekerja. Ketika saya mendekat, dengan senyum ramah ia menyapa dan menanyakan kabar.

Itulah saat-saat terakhir saya bertemu dengannya di Bandung. Kornel Mandagi Sihombing atau yang akrab dipanggil Bang Onye. Seorang petinggi PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI) yang bervisi memajukan industri pesawat terbang di Indonesia.

Sosoknya yang sederhana walaupun ia seorang Vice President Bussines Integration membuatnya disukai banyak orang termasuk keluarga, rekan kerja, mahasiswa bimbingannya, bahkan rekan-rekannya di gereja dan kegiatan lintas agama.

Keceriaan dan semangatnya seakan bisa menular kepada orang-orang disekitarnya dikala rekannya menghadapi kesulitan. Salah satunya ketika bisnis BUMN itu pernah dinyatakan bangkrut sewaktu bernama IPTN. Ia meminta saya membantu dalam doa agar bisnis tersebut bisa bangkit lewat kerja kerasnya bersama teman-teman.

Kata-kata yang paling mengena dan diingat sampai sekarang, Kalau Tuhan mengijinkan saya menjadi orang nomor satu dalam bidang bisnis aero-structure atau buka bisnis disitu, saya akan mempersiapkan diri ketika amanah itu diberikan.” Kata-kata ini terlontar saat sedang diwawancarai untuk dimuat dalam salah satu media internet.

Bang Onye memiliki cita-cita besar untuk membangun bisnis kedirgantaraan. Ia juga sangat mencintai Indonesia, hal ini dibuktikan dengan bertahan dan justru terus mengembangkan bisnis aero-stucture di PT DI saat banyak temannya yang memilih untuk keluar.

Keberhasilannya dalam pekerjaan juga tidak lepas dari kerja keras, kecerdasan, dan komitmen yang diembannya. Ia mendasarkan kehidupannya pada SHAPE yang diutarakan oleh Rick Warren. SHAPE adalah singkatan dari spirituality, heart, ability, dan experience.

Teori ini menjelaskan bahwa setiap orang harus mengetahui tujuan hidupnya yang bisa terlihat dari kegemaran yang dicocokan dengan kemampuan lalu mengembangkannya agar bisa mewujudkan visi. Beranjak dari itulah, ia menjadi sosok yang tekun dan bertanggung jawab.

“Saya memilih jadi apa dan mau kemana dilihat dari kontribusi saya terhadap orang lain. Kalau kontribusi saya semakin signifikan, berarti saya merasa di tempat yang benar. Kalau saya ada di suatu posisi dan terus bertumbuh, saya percaya itu tempatnya. Nah misi yang saya inginkan saat ini adalah membuat industri pesawat terbang dan menjadikan PT DI sebagai salah satu industri yang bisa diandalkan di Indonesia.” Ungkapnya dengan penuh semangat saat saya wawancarai tahun lalu.

Selain aktif dalam pekerjaannya, ia juga dikenal sebagai sosok yang berperan penting dalam dunia pendidikan, pluralisme, dan keagamaan. Kegemarannya dalam membagikan ilmu dan pengalaman yang ia dapatkan telah mengantarnya untuk mengajar di Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB), Bandung.

Bukan hanya itu saja, ia juga pernah menjadi pembicara dan pelatih pada tujuh Leadership Training di GKI Maulana Yusuf, Bandung. Salah satu ilmu yang selalu ia tekankan kepada anak didiknya adalah plan, do, check, action .Karena ia sendiri menggunakan dalam pekerjaan dan kegiatannya sehari-hari. Ia tidak pernah membagikan ilmu maupun pengalaman yang didapatkannya setengah-setengah. Ia bahkan seringkali memotivasi anak didiknya.

Bang Onye juga adalah orang yang memiliki pikiran terbuka dan mendukung adanya pluralisme. Tidak heran jika ia bergabung bersama dengan rekannya, Jeffrey Samosir dalam mendukung Deklarasi Sancang. Semenjak tahun 2007, ia aktif mendukung kegiatan-kegiatan lintas agama.

Tidak hanya hubungannya dengan orang-orang di luar saja yang terjalin dan berjalan dengan baik. Hubungan dalam keluarganyapun dapat dikatakan sangat baik. Sebagai anak ke-4 dari 6 bersaudara, Bang Onye kerap kali membantu saudaranya dan mengumpulkan mereka saat event keluarga tertentu. Misalnya Natal. Bang Onye juga sangat menyayangi keluarganya dan rindu untuk berkumpul dengan anak-anaknya setiap pulang kerja.

“Saya senang sekali saat ini, akhirnya bisa pulang kerja cepat dan bisa bertemu anak-anak lebih lama. Kan biasanya kalau saya berangkat kerja, baru bertemu sebentar, dan kalau saya pulang anak-anak pasti sudah tidur. Ternyata membawa kerjaan ke rumah dan mengerjakan bersama anak justru lebih menyenangkan walaupun mereka suka tanya-tanya,” ungkapnya dengan penuh kebahagiaan saat berbincang ringan dengan saya.

Kini, sosok Bang Onye menjadi kenangan terindah bagi setiap orang yang mengenalnya. Tragedi Sukhoi mengingatkan akan segala kiprahnya dalam bisnis kedirgantaraan, kesukaannya terhadap pesawat terbang, dan sosok pria sederhana serta cerdas yang dimiliki bangsa ini.

Indonesia patut berbangga dan mengenang seorang Onye yang sudah berperan penting dalam kemajuan industri pesawat di Indonesia. Kini anak-anak didikannyalah yang akan melanjutkan visinya kedepan.

| Contasia Christie |

Distinguished Speech of a Great Lady

Tulisan ini saya buat sekitar 5 hari setelah musibah terjadi. Saat harapan mulai sirna, saya meminta hikmat Tuhan untuk tahu apa yang ingin dinyatakan-Nya melalui peristiwa ini.

Untuk PT DI

23 tahun sudah Kornel berada di tempat ini. Dimulai sebagai karyawan kontrak pada saat masih kuliah, hingga jabatan terakhirnya saat ini sebagai Kepala Divisi Integrasi Usaha.

Banyak hal yang sudah Kornel lakukan dan banyak pula yang sudah dia dapatkan. Kenangan-kenangan tentang dia ada di benak rekan-rekan kerja yang pernah bekerja bersama-sama. Rasa kehilangan kita rasakan bersama.

Kornel sangat mencintai PT Dl, tempat dia bekerja dan berkiprah. Di tengah adanya pandangan yang kurang baik terhadap industri pesawat di Indonesia, ia dapat berkata dengan penuh kebanggaan, “Adalah suatu kekayaan bangsa Indonesia memiliki industri pesawat dan layaklah kita berjuang mempertahankan eksistensinya.”

Karena itu yang ingin saya sampaikan bagi setiap anak buah dan rekan kerja yang selama ini bekerja bersamanya, “Teruslah berjuang untuk mempertahankan eksistensi industri kedirgantaraan di Indonesia. Kornel sudah mentransfer fighting spiritnya pada setiap anak buahnya, seperti dia juga lakukan itu pada saya dan anak-anak kami. Harapan kita semua, PT Dl dapat struggle dan survive, terus exist di Indonesia bahkan juga untuk dunia internasional.

Biarlah semangatnya ada terus bersama-sama dengan kita. Berjuanglah terus mencapai visi yang juga Kornel sering sampaikan.

Allah yang maha besar mengasihi PT Dl. la akan menolong setiap staff dan karyawan yang bekerja dengan kesungguhan hati.

Dalam kesempatan ini, ijinkanlah saya menyampaikan pesan pada Bapak Presiden Republik lndonesia yang saya hormati, kiranya pemerintah memberi perhatian yang lebih lagi untuk PT DI, karena inilah asset bangsa yang sangat berharga, di mana putra-putra terbaik bangsa bekerja untuk mengharumkan nama bangsa Indonesia.

Permohonan maaf juga saya sampaikan, apabila ada hal-hal yang tidak berkenan yang dilakukan almarhum semasa hidupnya.

Terimakasih.

Indriati Ayub

Foto pemakaman klik: Kebaktian Pemakaman Kornel M. Sihombing

Eulogi: Onyek, Sahabat yang Luar Biasa

Banyak hal yang ingin keluar dari kepala untuk menceritakan siapa Onyek tapi sulit menuturkan dengan teratur. Saya mengenal dekat Onyek hampir sepanjang masa di ITB di tahun 80-an. Dia ada di aula Barat untuk  belajar bersama. Dia ada di lapangan basket saat kami unjuk kekuatan. Dia  selalu hadir tepat waktu saat rapat di ruang ujung student centre. Dia ada di unit kegiatan Sabtu malam dan Minggu pagi. Dia selalu ada di tengah pelatihan kepemimpinan untuk mahasiswa baru. Dia juga ada di dunia olahraga, mau bola atau basket.

Onyek hadir dengan kacamata, senyum, kernyit berpikir, rokok, dan jaket biru himpunan Mesin yang selalu dia banggakan. Dalam diskusi, dia menjadi pendengar dahulu, menunggu dengan sabar ucapan pencetus. Kemudian bertanya untuk validasi dan menempatkan pendapat dalam konteks.

Dia jarang terjebak dengan retorika atau emosi kami untuk melakukan aksi. Segala hal dipikir kritis, bukan karena ragu, tapi dia ingin yakin dahulu. Sekali dia yakin, dia akan bersikap keras, tanpa memaksakan kehendak. Salah satunya, waktu kami forum ketua himpunan akhirnya memutuskan untuk demo menentang dominasi militer ke MPR tahun 1988 dengan resiko tinggi.

Di tengah ‘gerakan’, dia sangat menghormati ‘akademis’. Kebanyakan kami termasuk saya menganggap ‘gerakan’ adalah pembebasan, sedangkan ‘akademis’ adalah kungkungan sistem pendidikan yang memaksa. Bagi dia, hal itu terbalik. ‘Akademis’ adalah jalan menuju pencerahan, yang kemudian menginspirasi ‘gerakan’.

Dia tidak percaya seorang aktivis baik dapat bergerak tanpa intelektualitas yang terasah akademis. Tidak heran tutur katanya dalam dialog sangat terstruktur, sangat ‘sekolahan’. Dia tidak pernah teriak untuk berpidato. Sering kami tidak sabar. Tapi di saat aksi, dia selalu pegang janji untuk membagi selebaran di waktu subuh, sementara sebagian kami datang terlambat ketiduran.

Apa aliran Onyek? Tidak mudah memberi stempel untuknya. Lebih mudah menggambarkan dari hal-hal “bukan”. Dia bukan ‘kanan’ walaupun sangat religius. Dia juga tidak percaya ‘kapitalisme’, karena dia menganggap dirinya jauh di atas akumulasi materi. Dia juga bukan ‘kiri’ karena tidak percaya perjuangan kelas.

Dia bukan ‘ultra nasionalis’, walau dia percaya kekuatan bangsa ini masih bisa membuat pesawat siapapun yang memerintah. Dia bukan ‘teknolog’ buta, karena dia percaya kekuatan sosial menentukan teknologi. Dia bukan ‘politisi’, karena dia tidak bisa bermain di dalam intrik organisasi. Dia bukan ‘moralis’ yang menganggap paling benar, walaupun semua kita tahu dia sangat bermoral.

Baginya dunia ini sederhana, sebuah proses pembentukan yang tidak pernah selesai. Semua berhak membawa kepercayaan dan aliran masing-masing. Dia ingin di tengah arus itu semua tanpa menjadi hanyut. Semua konflik selalu ada jembatan. Dia tunjukkan itu sejak di kampus.

Banyak kawan menjadi saksi di saat konflik antar himpunan, dia jadi jembatan. Di saat konflik tajam antara management dan serikat karyawan di PTDI, dia ada di kedua belah pihak. Dia tidak putus mencari titik temu. Baginya, setiap orang punya keinginan sama, ingin dihormati. Demikian juga dalam agama. Baginya, agama adalah rumah yang seharusnya nyaman, dan rumah-rumah Kristen, Islam, Hindu, Budha harus saling berbagi iman dan membentuk solidaritas satu sama lain.

Saya memilih 3 nilai besar dari hidupnya, yaitu profesional, peduli, dan sederhana. Tidak ada yang meragukan kesetiaannya dalam profesi kedirgantaraan. Dia telah membeli mimpi bahwa suatu waktu bangsa ini akan menjadi raksasa pembuat pesawat. Dia telah membayar sangat mahal dengan setia bekerja di PTDI, walaupun ada pilihan di tempat lain.

Dia bersama beberapa pejuang di PTDI terus mencari peluang menjadi pemasok komponen untuk pabrik pesawat seperti Airbus, demi mencari pendapatan perusahaan dan keahlian teknologi. Saya menduga kehadirannya di pesawat Sukhoi itu demi menjadikan PTDI salah satu pemasok komponen Sukhoi. Jika di negara lain, upaya itu dilakukan pemerintahnya untuk membantu industri dalam negeri, tapi di sini, Onyek dan kawan-kawan melakukannya sendiri demi ‘survival’ PTDI.

Dia sangat peduli. Lingkungan perusahaan, gereja, alumni ITB dan tetangganya adalah saksi hidup. Dia memberi kontribusi dengan otak dan tangannya. Kehadirannya ditunggu banyak orang, tanpa menjadi pusat perhatian. Dia selalu ikuti kegiatan yayasan angkatan ITB 83 kami di Jakarta walau harus datang dari Bandung.

Terakhir, tentang sederhana. Kami tidak habis pikir bagaimana dia mampu berada di atas tekanan kebutuhan hidup yang makin mahal. Dia telah memilih jalan yang mulia, bagaimana hidup cukup dengan penghasilan terbatas, baik rumah, kendaraan, penampilan, dan hal-hal remeh lainnya. Saya tidak pernah melihat Onyek ‘entertain’ untuk dirinya, atau pergi ke restoran mahal, atau membeli anggur. Olahraganya pun yang paling sehat dan murah, yaitu lari pagi.

Namun untuk pendidikan anaknya, dia tidak berkompromi. Dia sangat antusias menceritakan bagaimana perkembangan sekolah kedua anaknya, Korin dan Luhut. Dia ingin mereka bebas memilih hidup nantinya tapi dengan dasar hidup kuat dimulai di rumah. Sering dia merasa kurang waktu bersama anaknya. Keluarga adalah harta utamanya. Dan dia telah berhasil mendidik anaknya untuk tetap sederhana di tengah arus besar konsumtif dan hedonistik.

Bagi Indri (istrinya), Korin, dan Luhut, perkenankanlah saya menyampaikan, “Suami dan ayah kalian sangat luar biasa! Hidupnya adalah kotbahnya. Sungguh Tuhan telah memberi banyak melaluinya. Kami sangat beruntung dapat menjadi sahabatnya.”

Sebentar lagi Onyek akan tidur di peristirahatan yang terakhir. Kita semua masih menangis. Namun saya yakin, inilah awal sebuah era baru. Pemikirannya akan digali banyak orang untuk mencari jawab atas konflik horizontal. Semangatnya akan membakar kembali harga diri bangsa Indonesia untuk berdikari dan membuat pesawat sendiri. Nilai hidupnya akan menjadi panutan baru bagi anak muda.

Kita perlu seorang pahlawan. Mungkin Onyek akan menolak jika disanjung seperti ini. Namun saya memberanikan diri mengatakan bahwa Onyek telah berhasil menyelesaikan pertandingannya, dan dia pantas mendapat gelar dari kita semua ……….”our real hero”.

Selamat jalan, Sahabat!

Hotasi Nababan, Sipil ITB 83

Rabu malam 23 Mei 2012 @ PTDI, Bandung

Kornel Sihombing, Penumpang Sukhoi, Si Pemersatu Keluarga

Sosok Kornel Mandagi Sihombing, 48, korban tragedi Sukhoi, dikenal sebagai pemersatu keluarga. “Dia selalu menyatukan kami semua,” kata Erni, 42 tahun, kakak ipar Kornel yang ditemui di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, kemarin.

Erni mengenang Onyek—sapaannya- sebagai orang yang penuh kepedulian. “Kalau Natal, dia selalu berinisiatif mengumpulkan keluarganya,” kata dia yang datang dari Pontianak. Bahkan tak segan membiayai tiket saudara-saudaranya yang tinggal berjauhan di Papua dan Pontianak.

Onyek anak keempat dari enam bersaudara. Ia merupakan Kepala Divisi Integrasi Bisnis PT. Dirgantara Indonesia (DI), yang diundang joy flight Sukhoi Superjet 100, pada Rabu 9 Mei 2012 lalu. Alumni Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung 1983 dan melanjutkan studi Material di Universitas Teknik Delft, Belanda, pada 1997.

Direktur Aircraft Integration PT DI, Budiman Saleh, yang satu angkatan dengan Onyek mengenalnya sebagai orang yang open minded. Hobinya tenis, main basket dan sepak bola. Dia salah satu pelobi untuk kerjasama dengan perusahaan asing. Sobatnya, Sahat Sitorus mengatakan dia aktif kegiatan lintas agama.

Di mata Chandra Sihombing, 50 tahun, adiknya itu periang dan mudah akrab. Menurut dia, Onyek sangat mencintai dunia penerbangan. “Dia tetap di perusahaan (PT DI) meskipun temannya banyak yang keluar,” kata dia. Sebelum terbang, Onyek pernah menelepon dan minta diajarkan main golf.

Kornel meninggalkan seorang istri, Indriyati Ayub, 48 tahun dan dua anak, Corin, 11, dan Luhut, 8. Onyek adalah penatua di GKI Maulana Yusuf (MY), Bandung dan terlibat pelayanan MY Leadership. Kerabat dan rekan korban berdatangan silih berganti ke rumah duka di Jalan Gempol 117, Bandung.

MARTHA WARTA SILABAN|SUBKHAN| ERICK PRIBERKA
Dimuat di Koran Tempo danTempo.co

 

Cara Onye Mengabdi pada Sang Pencipta

Teman-teman yang tidak mengenal Onye secara personal, terutama angkatan sebelum 1980 dan sesudah 1988, mungkin bertanya mengapa kita merasa perlu mengenang Onye dengan cara yang sedikit lebih istimewa?

Onye secara positif, telah ikut membentuk diri kami, angkatan 80an. Dia telah meninggalkan jejak pada orang-orang yang mengenalnya. Bahkan, bagi saya, dia telah ikut menentukan arah dan sejarah Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM).

Misalnya, soal keberanian untuk bersikap. Dia yakin betul bahwa setiap orang, apalagi sebagai mahasiswa, harus punya sikap. Terlepas dari sikap itu condong ke kiri atau ke kanan, benar atau salah, sekaligus meyakini pilihan sikapnya itu.

Prinsip harus bersikap ini selalu dia sampaikan dalam berbagai kesempatan, baik di angkatan maupun di HMM. Dari interaksi dialektik selama bertahun-tahun, rasanya sikap Onye itu membekas pada banyak teman-teman, termasuk saya.

Contoh lainnya adalah idealisme Onye mengenai profesionalisme dan materi. Profesionalisme tidak harus diiringi dengan materialisme. Dengan kata lain, tenaga profesional tidak selalu harus mengejar gaji besar. Baginya, profesionalisme adalah bagian dari “mengabdi kepada Sang Pencipta”.

Sebagai manusia, kita harus bermanfaat bagi orang banyak. Bersikap profesional membantu kita memenuhi tujuan itu. Idealisme, sadar atau tidak, sepertinya merasuki kita, walaupun pada akhirnya sejalan waktu, banyak di antara kita yang tidak bisa, atau tidak mampu, atau luntur mewujudkannya; namun tetap menjadikannya sesuatu cita-cita.

Tapi Onye mempraktekkannya dengan sukacita sampai saat terakhirnya. Ia tidak pernah bersikap sinis atau nyinyir kepada rekan-rekan yang beralih ke jalur materialisme, semata-mata karena prinsip bahwa setiap orang berhak—malah harus—mengambil sikap dan meyakininya.

Kesetiaannya pada profesi sebagai mechanical engineer dan PT DI juga merupakan hal langka. Sekitar 2001 – 2002, saat PT DI di posisi terbawahnya, dia masih berdiskusi dengan penuh semangat mengenai PT DI; walaupun saya tahu dia harus nyari tambahan di luar untuk nutup kebutuhan dapurnya.

Sekitar 2008, dia juga semangat menceritakan happy problem yang dihadapinya; bagaimana memenuhi tenggat delivery komponen Airbus—pada saat itu PT DI sudah menjadi salah satu the best vendor dari Airbus—di tengah situasi internal PT DI yang masih banyak tantangan dan hambatan.

Dia menceritakan, sebelum ada film Laskar Pelangi, dia selalu kesulitan menjelaskan kenapa dia masih bertahan di PTDI. Setelah film itu keluar, maka dia selalu bertanya balik: “Sudah liat film Laskar Pelangi? Sudah mengerti kenapa Ibu Guru Mus memilih bertahan di SD reyot itu? Ya kira-kira begitulah kenapa saya masih di PTDI”. Luar biasa, ini suatu sikap profesional yang Merah Putih.

Walaupun Onye itu tegas berprinsip, tapi dia tidak keras kepala; pun tidak menyakiti lawan bicaranya. Gayanya yang khas bila dia sedang memilih kata yang baik, tapi sebenarnya ingin mengatakan lawan bicaranya keliru adalah “senyum-senyum-sambil-garuk-garuk-kepala”.

Karena itulah, kami merasa kehilangan teladan, kehilangan panutan, kehilangan tokoh ideal. Tapi di sisi lain kami juga sadar bahwa kematian itu pasti. Cara Onye pergi seakan-akan menegaskan bahwa pilihan hidupnya direstui Tuhan. Dia meninggal dalam tugas. Karena itulah, kami merasa perlu mengenang dan menghormatinya dengan cara yang agak istimewa.

Selamat jalan Onye. Bagi kami, kamu sudah tuntas/paripuna. You have fulfilled your purpose.

*Hardi M83

 

Alumni ITB Lari 10K Kenang Onye

Di hari Kebangkitan Nasional tahun ini, kota Jakarta menyelenggarakan acara Jakarta International 10K Run yang sudah menjadi tradisi sejak tahun 2004. Pada hari Minggu (20/5), sekitar 35.000 peserta lari menjajal rute Monas-MH. Thamrin-Bundaran Hotel Indonesia-Sudirman-berputar di Jembatan Semanggi-kembali ke Monas.

Sekitar 60 orang alumni ITB plus simpatisan—termasuk seorang anak lelaki bernama Francesco Manuel yang usianya diperkirakan tidak lebih dari 10 tahun—membuat acara resmi kota Jakarta tersebut menjadi lebih gegap-gempita.

Tanpa promosi berlebihan, sekian puluh orang tersebut menjadi aksen di antara ribuan peserta lari. Alih-alih menggunakan seragam kaus hijau pembagian Milo selaku sponsor, mereka menggunakan kaus kutung berwarna putih, bergambar wajah Kornel M. Sihombing alias Onye di bagian depan, plus tulisan solidarity forever yang merupakan semboyan Himpunan Mahasiswa Mesin ITB.

Sementara pada bagian belakang kaus mereka tertulis kata-kata “Profesional | Peduli | Sederhana” yang merupakan tiga kata yang dianggap paling tepat menggambarkan citra seorang Kornel M.Sihombing.

Agar kharisma para pelari berkaus putih ini tidak meredupkan cahaya lautan hijau manusia yang mengikuti acara Jakarta 10K Run, maka mereka pun berbagi tugas. Hotasi Nababan SI83, Heru Setiawan MS83, dan beberapa orang lain yang dirahasiakan namanya diutus untuk mengikuti acara lari 10K tersebut dengan target: jangan sampai menang, karena ini adalah operasi senyap yang tidak boleh ditengarai sebagai yang dapat mengooptasi agenda pemerintah.

Sebagian lain dibagi ke dalam beberapa regu yang ditugaskan untuk berjalan santai namun siaga guna mengamankan jalur Monas hingga Bundaran HI. Segelintir lainnya diposisikan sebagai pasukan penyapu dengan menggunakan sepeda.

Tanpa banyak membuang waktu, operasi pun dilangsungkan bersamaan dengan saat dibunyikannya sinyal berlari pada pukul 06.30. Sesuai dugaan, semua berlangsung lancar sesuai skenario. Tidak ada satu pun aparat Pemerintah yang mengendus kehadiran pasukan istimewa berkaus putih tersebut.

Namun aura mereka yang penuh kharisma ternyata tetap mengundang perhatian, sehingga beberapa Polisi Wanita bersepatu roda pun menyempatkan diri untuk berfoto dengan mereka. (Rekan Mamo MS83 atau Ardjuna TI83 atau Bobby Maengkom MS83 sila menyampaikan foto-foto tersebut sebagai bukti otentik).

Sekitar pukul 08.15, seluruh gerombolan berkaus putih berhimpun kembali di Patung Arjuna Jalan MH. Thamrin. Setelah pasukan khusus pelari melepas lelah sejenak, maka semua anggota gerombolan kaus putih membentuk formasi khas: foto bersama.

Di sini hadir pula Chandra Sihombing MS82, abang dari Onye. Tercatat salah satu relawan pemotret adalah Arya Sinulingga SI89, yang mengerahkan tim pemberita terbaiknya untuk mendokumentasi kegiatan gerombolan kaus putih.

Tuntas berfoto, semua peserta mengheningkan cipta dan berdoa bagi Onye dipimpin oleh Hardianto Darjoto MS83. Selanjutnya seluruh anggota gerombolan melakukan parade penghormatan sambil membentangkan spanduk “Selamat Jalan, Onye” memutari Jalan MH. Thamrin sejak Patung Arjuna hingga Jalan Kebon Sirih, dan akhirnya berbelok ke Jalan Sabang 16, menuju Restoran Sere Manis yang menjadi titik akhir operasi.

Di sini, gerombolan kaus putih langsung dielu-elukan oleh tim penyambutan yang dikomandani oleh Basar Simanjuntak SI83 dan Edward Sihombing PL85 yang tampak asyik ngopi-ngopi sambil merokok.

Setelah saling bersilaturahmi sejenak, semua anggota gerombolan langsung menuju lantai 2 yang sudah disterilkan. Hanya ada satu orang yang tampaknya agak cuek, sehingga masih saja asyik makan cemilan di situ. Untunglah dia segera sadar untuk angkat kaki sebelum tim perusak mengangkat kursi plus meja dan cemilannya ke luar ruangan.

Minuman dan makanan ringan segera dilayankan dengan sigap oleh para petugas restoran bagi para anggota gerombolan yang tampak sekali gairah haus dan laparnya.

Tanpa harus dipandu oleh protokol, acara berbagi kenangan tentang Onye pun mengalir lancar. Diawali oleh Hotasi Nababan, dilanjutkan oleh Chandra Sihombing, Hardianto Darjoto, Edward Sihombing, Ridwan Djamaludin GL82, Sahat Gunawan Sitorus IF83, Arya Sinulingga, Gembong Primadjaja MS86, Illon BI84, Dwi Larso TI84. (Mudah-mudahan semua sudah saya sebutkan namanya walau urutannya tidak sesuai sekuens faktual.)

Para sahabat Onye menyampaikan beberapa hal yang mungkin tidak diketahui oleh banyak orang. Misalnya tentang kiprah Onye saat masih mahasiswa yang bersedia mengutus dirinya sendiri menjadi juru damai jika himpunan mahasiswa Mesin sedang bertikai dengan Geologi.

Saya ingat satu saat Onye pernah menggunakan jaket kuning Gea ke Mesin sehingga kawan-kawan secara bergurau mempertanyakan, “Nyek, loe tuh anggota HMM atau Gea sih? Yang jelas dong!”

Begitu pun keteguhan Onye untuk bertahan di PT Dirgantara Indonesia (PTDI) ketika tidak sedikit koleganya yang memutuskan keluar dari PTDI dan bekerja di perusahaan lain, termasuk industri dirgantara milik negara lain.

Tawaran posisi dari produsen pesawat terbang kelas dunia ditampiknya dengan tegas karena Onye memilih untuk setia mengusung Merah Putih dan Garuda Pancasila dalam segenap karya-baktinya.

Tidak banyak orang yang tahu bahwa Onye, yang mengemban posisi bergengsi sebagai Kepala Divisi Integrasi Bisnis pada Direktorat Aerostructure PTDI, adalah seorang yang ulet mempertahankan hidup PTDI melalui negosiasi-negosiasi bisnis dengan berbagai industri dirgantara kelas dunia agar PTDI dapat bertahan.

Tidaklah mengherankan jika beberapa kalangan menjulukinya sebagai negosiator ulung. Tampaknya, tidak berlebihan pula jika ada orang yang mengatakan bahwa Onye adalah penyelamat PTDI dan industri dirgantara Indonesia pada umumnya. Tak ketinggalan pula kisah tentang komitmen Onye bagi lingkungannya, khususnya bagi gereja, generasi muda, dan komunitas lintas agama.

Fakta lain yang membuat trenyuh adalah kesederhanaan hidup Onye. Tanpa bermaksud mendramatisasi kenyataan, saya mengutip komentar pendek Bobby, “Bahkan hidup seorang pramugari pun lebih mewah dibanding Onye.” Sila dimaknai sendiri

Genap sudah semboyan “Profesional | Peduli | Sederhana” mengejawantah dalam diri seorang Kornel M. Sihombing. Dia adalah contoh par excellence seorang manusia, yang punya kejelasan visi dan misi, serta kegairahan penuh daya dalam menyublimasikan dirinya dalam tindakan.

Itulah sosok Onye dalam berbagai potongan yang dituturkan secara ringkas oleh para sahabat Onye dari berbagai jurusan dan angkatan. Dalam hati saya hanya bisa bergumam, “Betapa besar makna hidupmu bagi banyak orang, kawan. Saya kehilangan dirimu. Kami kehilangan engkau.”

Sekitar jam 12, satu demi satu anggota gerombolan kaus putih meninggalkan lokasi untuk meneruskan hidup masing-masing.

Onye sudah pergi namun jejaknya dalam hidup kita mungkin masih lama akan terukir abadi karena dia sudah menyentuh relung terdalam hidup kita dengan kesungguhan dan totalitas dirinya.

Selamat jalan, Onye. Semoga kau tadi tersenyum tatkala kami, kawan-kawanmu dari Jurusan Mesin, mengumandangkan seruan kebanggaan kita di bawah komando Gembong, Ketua Ikatan Alumni Mesin ITB kita:

Yell, boys! Yeah!

Yell, boys! Yeah!

Yell, boys! Yeah!

Union, union, machine strong!

Union, union, machine strong!

Union, union, machine strong!

Solidarity forever

Solidarity forever

Solidarity forever

For union machine strong!

Yell, boys! Yeah!

 

*Oret-oret di saat ngopi sendiri @Pacific Place

*Rudolph Damanik

Kepak Sayap Sang Insinyur

Kritik terhadap miskinnya kepemimpinan inspiratif di Indonesia oleh banyak orang, mungkin dikarenakan luputnya perhatian mereka atas sosok Kornel Mandagi Sihombing. Pria Batak kelahiran Ambon, 15 Juni 1964 ini, dikenal sebagai salah satu putra terbaik di PT Dirgantara Indonesia (PTDI), karena kepemimpinannya di sektor industri penerbangan itu.

Onye, begitu ia biasa dipanggil, memulai karirnya di industri penerbangan pada akhir dekade 1980an, ketika PTDI masih bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), dan ia masih berstatus sebagai pegawai kontrak.

Visi kepemimpinannya sudah bisa dilihat ketika bergabung secara permanen di IPTN pada tahun 1992, karena ia sendiri mengatakan, “Setelah selesai kuliah saya ingin bekerja di PTDI karena selain ilmu saya terpakai, visipun terakomodasi walaupun saya tahu gaji di sana kecil.”

Tak banyak orang memiliki spirit seperti itu ketika mendapat pekerjaan dan mulai meniti karir. Biasanya, pertimbangan meniti karir tak jauh-jauh dari gengsi dan faktor finansial semata. Kesederhanaan serta spirit Onye ketika bergabung di industri penerbangan itu, membuatnya berhasil menduduki posisi kepala biro, satu tahun setelah ia bekerja di sana.

Karirnya tak berhenti sampai di posisi kepala biro. Setelah mendapat pelatihan di Amerika Serikat, alumnus teknik mesin Institut Tekonologi Bandung angkatan 1983 ini, dipercaya sebagai kepala bidang di tahun ketiga ia meniti karir. Kepandaian dan sosoknya sebagai pekerja keras, membuat ia diberikan beasiswa dari IPTN pada tahun 1997.

Melalui beasiswa itu, ia menempuh studi di Technische Universiteit Delft, salah satu perguruan tinggi terbaik di Belanda untuk jurusan teknik. Setelah mendapatkan gelar M.Sc dalam bidang material science, ayah dua anak ini kembali ke Tanah Air untuk kembali mengabdi di PTDI, khususnya lingkungan aerostructure.

Krisis ekonomi hebat yang menerpa Indonesia di akhir dekade 1990an, mau tak mau berdampak pada keberlangsungan IPTN. Ketika IPTN hampir dinyatakan bangkrut dan ditinggalkan insinyur-insinyurnya, Onye justru memilih untuk bertahan di IPTN dengan modal pendidikan dan pengetahuannya.

Harapan industri penerbangan Indonesia nampaknya harus pupus, ketika IPTN—yang kemudian diubah menjadi PTDI di tahun 2000—harus merumahkan sebagian besar karyawannya, akibat dampak krisis ekonomi. Tetapi keterpurukan ini tidak membuat Onye menyerah.

Keterbatasan PTDI untuk kembali membuat pesawat terbang nasional, tak membuat kesempatan tertutup total. PTDI justru mampu bertahan secara perlahan, dengan derasnya pesanan komponen pesawat terbang dari industri penerbangan luar negeri. Banjir order ini menjadi bukti kiprah kepemimpinan Onye, yang menjabat sebagai Vice President Business Integration di PTDI.

Misalnya, berkat peranan Onye, PTDI berhasil menjalin kontrak antara lain dengan Airbus untuk memproduksi inboard outboard fixed leading edge; dengan Eurocopter untuk memproduksi fuslage dan tail boom; dan juga kontrak dengan EADS Casa (Spanyol), Bombardier (Jepang), Korean Air Line (Korea Selatan), CTRM (Malaysia), dan SMEA (Malaysia). Rekan-rekan sekerjanya menjuluki ia sebagai “negosiator ulung”.

Kepemimpinan dan pengabdian Onye tak berhenti di sektor penerbangan saja. Meski berlatar belakang sebagai seorang engineer, Onye masih tetap berkegiatan di sektor sosial seperti pengembangan kepemudaan dan lintas agama.

Komitmennya untuk pengembangan kualitas pemuda, dibuktikan dengan keterlibatannya sebagai instruktur dalam pelatihan kepemimpinan pemuda dan pembicara dalam berbagai seminar. Antara lain: Leadership Development Program (LDP) yang digagasnya bersama rekan-rekanya sejak tahun 2005, telah memfasilitasi 7 angkatan dan melahirkan ratusan pemimpin muda Indonesia. Ia juga giat mengisi Leadership Training di organisasi-organisasi kemahasiswaan seperti GMKI, UKSU ITB, dan yang lainnya.

Tak hanya itu, ia juga berperan besar sejak tahun 2009 lalu membentuk serta mengembangkan Fokal.info, media berbasis internet yang menjadi wadah pengembangan kemampuan menulis pemuda di Bandung. Terbukti, gemblengan Fokal.info dan peranan Onye, telah melahirkan sejumlah penulis muda di tingkat nasional, hingga jurnalis di media terkemuka.

Dalam dunia lintas agama, beliau juga aktif mendukung berbagai kegiatan Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang (FLADS) Kota Bandung. Sejak berdiri tahun 2007 lalu, FLADS telah menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti: buka puasa bersama, aksi damai Natal, pemberian beasiswa kepada yang tidak mampu, diskusi-diskusi, dan sebagainya.

Kiprah Onye yang inspiratif ini, hendaknya bisa menjadi panutan bagi kita bersama. Onye memimpin bukan dengan sekedar retorika dan perkataan saja. Ia menjadi sosok pemimpin yang memberi contoh konkret dengan kepandaiannya, kesederhanaannya, dan kemampuannya untuk berkomunikasi dengan semua kalangan.

Nusantara yang sedang mengalami krisis kepemimpinan, bisa berkaca pada pengalaman kepemimpinan Onye di bidang penerbangan dan juga sektor sosial. Kerja kerasnya untuk mempertahankan eksistensi PTDI dan pengabdiannya di sektor sosial, menjadi bukti bahwa Onye sangat mencintai Merah Putih. Masa mendatang, pemuda-pemudi binaannya akan meneruskan model kepemimpinan yang sudah ia teladankan, dan itu pertanda bahwa Indonesia masih memiliki harapan.

Basar Daniel | Pirhot Nababan