Abang yang Cerdas dan Sederhana

Di salah satu sudut tempat parkir motor, terlihat seorang pria dengan jaket hitam bersiap-siap mengendarai motornya. Sambil mempersiapkan motor, ia terlihat berbincang dengan beberapa orang kawan dengan asiknya. Parasnya yang ceria dan bersemangat menutup kelelahannya setelah hampir seminggu bekerja. Ketika saya mendekat, dengan senyum ramah ia menyapa dan menanyakan kabar.

Itulah saat-saat terakhir saya bertemu dengannya di Bandung. Kornel Mandagi Sihombing atau yang akrab dipanggil Bang Onye. Seorang petinggi PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI) yang bervisi memajukan industri pesawat terbang di Indonesia.

Sosoknya yang sederhana walaupun ia seorang Vice President Bussines Integration membuatnya disukai banyak orang termasuk keluarga, rekan kerja, mahasiswa bimbingannya, bahkan rekan-rekannya di gereja dan kegiatan lintas agama.

Keceriaan dan semangatnya seakan bisa menular kepada orang-orang disekitarnya dikala rekannya menghadapi kesulitan. Salah satunya ketika bisnis BUMN itu pernah dinyatakan bangkrut sewaktu bernama IPTN. Ia meminta saya membantu dalam doa agar bisnis tersebut bisa bangkit lewat kerja kerasnya bersama teman-teman.

Kata-kata yang paling mengena dan diingat sampai sekarang, Kalau Tuhan mengijinkan saya menjadi orang nomor satu dalam bidang bisnis aero-structure atau buka bisnis disitu, saya akan mempersiapkan diri ketika amanah itu diberikan.” Kata-kata ini terlontar saat sedang diwawancarai untuk dimuat dalam salah satu media internet.

Bang Onye memiliki cita-cita besar untuk membangun bisnis kedirgantaraan. Ia juga sangat mencintai Indonesia, hal ini dibuktikan dengan bertahan dan justru terus mengembangkan bisnis aero-stucture di PT DI saat banyak temannya yang memilih untuk keluar.

Keberhasilannya dalam pekerjaan juga tidak lepas dari kerja keras, kecerdasan, dan komitmen yang diembannya. Ia mendasarkan kehidupannya pada SHAPE yang diutarakan oleh Rick Warren. SHAPE adalah singkatan dari spirituality, heart, ability, dan experience.

Teori ini menjelaskan bahwa setiap orang harus mengetahui tujuan hidupnya yang bisa terlihat dari kegemaran yang dicocokan dengan kemampuan lalu mengembangkannya agar bisa mewujudkan visi. Beranjak dari itulah, ia menjadi sosok yang tekun dan bertanggung jawab.

“Saya memilih jadi apa dan mau kemana dilihat dari kontribusi saya terhadap orang lain. Kalau kontribusi saya semakin signifikan, berarti saya merasa di tempat yang benar. Kalau saya ada di suatu posisi dan terus bertumbuh, saya percaya itu tempatnya. Nah misi yang saya inginkan saat ini adalah membuat industri pesawat terbang dan menjadikan PT DI sebagai salah satu industri yang bisa diandalkan di Indonesia.” Ungkapnya dengan penuh semangat saat saya wawancarai tahun lalu.

Selain aktif dalam pekerjaannya, ia juga dikenal sebagai sosok yang berperan penting dalam dunia pendidikan, pluralisme, dan keagamaan. Kegemarannya dalam membagikan ilmu dan pengalaman yang ia dapatkan telah mengantarnya untuk mengajar di Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB), Bandung.

Bukan hanya itu saja, ia juga pernah menjadi pembicara dan pelatih pada tujuh Leadership Training di GKI Maulana Yusuf, Bandung. Salah satu ilmu yang selalu ia tekankan kepada anak didiknya adalah plan, do, check, action .Karena ia sendiri menggunakan dalam pekerjaan dan kegiatannya sehari-hari. Ia tidak pernah membagikan ilmu maupun pengalaman yang didapatkannya setengah-setengah. Ia bahkan seringkali memotivasi anak didiknya.

Bang Onye juga adalah orang yang memiliki pikiran terbuka dan mendukung adanya pluralisme. Tidak heran jika ia bergabung bersama dengan rekannya, Jeffrey Samosir dalam mendukung Deklarasi Sancang. Semenjak tahun 2007, ia aktif mendukung kegiatan-kegiatan lintas agama.

Tidak hanya hubungannya dengan orang-orang di luar saja yang terjalin dan berjalan dengan baik. Hubungan dalam keluarganyapun dapat dikatakan sangat baik. Sebagai anak ke-4 dari 6 bersaudara, Bang Onye kerap kali membantu saudaranya dan mengumpulkan mereka saat event keluarga tertentu. Misalnya Natal. Bang Onye juga sangat menyayangi keluarganya dan rindu untuk berkumpul dengan anak-anaknya setiap pulang kerja.

“Saya senang sekali saat ini, akhirnya bisa pulang kerja cepat dan bisa bertemu anak-anak lebih lama. Kan biasanya kalau saya berangkat kerja, baru bertemu sebentar, dan kalau saya pulang anak-anak pasti sudah tidur. Ternyata membawa kerjaan ke rumah dan mengerjakan bersama anak justru lebih menyenangkan walaupun mereka suka tanya-tanya,” ungkapnya dengan penuh kebahagiaan saat berbincang ringan dengan saya.

Kini, sosok Bang Onye menjadi kenangan terindah bagi setiap orang yang mengenalnya. Tragedi Sukhoi mengingatkan akan segala kiprahnya dalam bisnis kedirgantaraan, kesukaannya terhadap pesawat terbang, dan sosok pria sederhana serta cerdas yang dimiliki bangsa ini.

Indonesia patut berbangga dan mengenang seorang Onye yang sudah berperan penting dalam kemajuan industri pesawat di Indonesia. Kini anak-anak didikannyalah yang akan melanjutkan visinya kedepan.

| Contasia Christie |